Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
So, This is family


__ADS_3

Sejak awal datang sore tadi, Alex sudah duduk menemani ayah mertuanya bermain catur di teras. Sepenjang permainan dia sudah menang sekali, menurut Dwiki, dia belum pernah dikalahkan dalam bermain catur. Pandu yang terkenal tenang dan cerdas saja, belum bisa mengalahkannya. Kenyataan bahwa Alex bisa membuatnya kalah, lumayan hebat.


"Ayah hebat!" puji Alex setelah kalah untuk kedua kalinya.


"Tentu, ini permainan Ayah sejak kecil," puji Dwiki, dia menerawang sebentar, "sudah lima puluh tahun Ayah main catur. Sepuluh tahun terakhir Ayah tidak pernah kalah, baru kamu yang skak mat tadi."


Alex terkesima mendengar pengakuan Dwiki, bukan karena menganggap mertuanya itu hebat, melainkan memuji dirinya yang ternyata pandai bermain catur. Padahal, Alex tidak begitu menekuni olahraga otak itu.


"Ya iya tidak pernah kalah, kan Tidka pernah main," ledek Ayu yang muncul dari balik pintu, "sekali main, mainnya sama Mas Pandu dan Mas Bima yang nggak tau main sama sekali."


Dwiki terbahak-bahak mendengar ucapan Ayu. Dia suka main catur, tetapi berbeda dengan anak-anaknya yang sampai sekarang tidak pernah suka main catur. Untung dia punya menantu seperti Alex yang ternyata suka main catur.


"Sayang, sini!" panggil Ayu yamg melambai-lambaikan tangannya pada Alex.


Alex mendekat pada Ayu setelah berpamitan pada Dwiki.


Ayu masuk menuju ruang tamu yang diikuti oleh Alex. Alex yang sudah merasa pegal duduk terlalu lama, merasa senang karena memiliki alsan untuk meninggalkan Dwiki yang seakan tidak kenal lelah duduk sambil bermain catur.


"Aku nggak bisa bantu ibu masak di dapur," tutur Ayu dengan mata yang mulai berkaca-kaca, "baunya nggak enak. Aku mual terus," adunya sambil menggelayut di lengan Alex.


Ayu dari tadi membantu ibunya memasak di dapur bersama dengan Ira, dan dia tidak bisa menahan mualnya. Ibunya sedang menggoreng ikan tuna dengan sambal kesukaannya, entah kenapa dia justru sangat terganggu dengan aroma makanan itu. Begitupun dengan aroma rempah di dapur, dia takut jika mual apalagi muntah di depan keluarganya. Bagaimanapun usia pernikahannya masih sangat baru, sehingga tidak mungkin dia langsung hamil.


"Jadi, maunya bagaimana?" tanya Alex mengelus rambut Ayu.


"Kamu yang bantuin ibu sama Mbak Ira di dalam," balas Ayu, "paling cuma disuruh potong sayuran sama cuci-cuci aja."


"Baik, Sayang. Kamu istirahat saja kalo begitu, jangan capek!" ucap Alex, kemudian mengecup kening Ayu yang masih menggelayut manja di lengannya.


Alex berjalan menuju dapur. Di sana Ira terlihat sibuk menggoreng, dan Arini yang sedang memotong ayam. Samar terdengar olehnya Arini yang sedang mengeluh karena Ayu yang tiba-tiba pergi, juga Ira yang membalas bahwa mungkin Ayu serang ada urusan pekerjaan, pasalnya Ayu memang harus siap 24 jam untuk toko yang dibawahinya.


"Bu, Mbak, butuh bantuan?"


Arini dan Ira berbalik ke arah Alex yang sedang berdiri di dekat sink cuci piring. Kemudian, mereka saling bertatap singkat dengan kening berkerut.


"Ayu ada pekerjaan, biar aku yang ganti bantu Ibu masak," kata Alex berbohong.


"Ih, tidak usah. Mbak sama Ibu bisa kok, tinggal sedikit juga," timpal Ira tak enak.


Alex mencuci tangan sebelum mendekat pada Arini. "Biar aku yang potong, Bu."


Arini tersenyum dan meletakkan pisaunya. "Potongnya jangan terlalu kecil, jangan besar juga. Tidak baik kelihatan, harus pas!"


"Siap, Bu!"


Ibu lanjut menghaluskan rempah untuk campuran Ayam.


"Kamu pintar motong ayam," puji Ira yang melirik Alex memotong ayam.


"Ia, suamimu mana bisa, potong sayur saja tidak sama besar," omel Arini.


"Mas Pandu bisa masak kok Bu," -Ira membalik ikan yang dia goreng, "masak air." Dia tertawa diikuti oleh Alex dan Arini.


"Masak air saja, pernah hangus!" omel Arini, "heran Ibu sama anak-anak Ibu, tidak bisa masak semua. Ayu juga sama, taunya cuma makan. Itu gara-gara Ayah, terlalu manjain anak."


Alex membawa ayam yang sudah dipotong pada Arini. Kemudian lanjut mencincang bawang bombai.

__ADS_1


"Wah, kamu kayak koki saja," puji Ira lagi yang sudah selesai menggoreng, "kamu pengalaman masak, ya?"


"Duku waktu kuliah, aku pernah jadi cook helper di restoran," ungkap Alex.


"Kamu pernah kerja part time?" tanay Ira dengan suara yang melengking karena tidak menyangka Alex yang merupakan anak yang terlahir di keluarga kaya bekerja sambilan.


"Iya, dari high school udah kerja part time," jawab Alex yang memindahkan bawang ke wadah.


"Ayu harus belajar banyak dari kamu, anak manja itu kerjanya minta ini, minta itu," rutuk Arini sambil menggeleng-geleng.


"Dari kecil Ayu memang tidak dibiasakan kerja, Bu," timpal Ira.


"Itu juga salah suamimu, adiknya selalu dimanja," tutur Arini, "ah, Bima juga sama saja, Ayu mau ini dituruti terus. Sampai sekarang dia jadi susah kerja sendiri. Untung dia dapat suami kayak Alex, mandiri dan perhatian."


Alex tersenyum kecil, lantas menyodorkan bawang bombai tadi pada Arini.


"Ayu sebenarnya bisa masak, tapi gitu, malas, tidak biasa kerja." Ira menimpali.


"Gimana mau kerja, ayahnya marah kalo Ayu disuruh. Dulu Bima pernah kena jewer waktu maksa Ayu buat menyapu," ungkap Arini.


Alex terus mendengar keluhan Arini dan Ira tentang Ayu. Dia mencoba mengingat kebiasaan Ayu sepanjang mereka tinggal bersama. Ayu termasuk orang yang lambat bangun, saat bangun pun hanya langsung mandi dan bersiap untuk pergi bekerja, tidak beberes ataupun membuat sarapan. Ya, Ayu memang pemalas.


"Tapi, Ayu sejak tinggal sendiri sudah mulai mandiri 'kan, Bu?" tanya Alex.


Arini menggeleng. "Dia itu punya gaji, tapi tidak cukup buat beli satu tasnya. Gaya hidupnya mahal, gajinya kecil."


Alex berpikir sejenak tentang Ayu yang pergi berbelanja dengan Marissa, tetapi tidak membeli barang mahal. Kalau memnag Ayu gemar berbelanja, seharusnya perempuan itu memanfaatkan kartu kredit Alex yang no limit.


"Yang!" Suara Ayu terdengar memanggil Alex, sontak ketiga orang di dapur itu terdiam dan berfokus pada pekerjaannya.


"Ah, iya," balas Ayu yang mengerti kode yang diberi oleh Alex, "sudha selesai."


"Ya sudah, sini aduk ayamnya!" panggil Arini yang sedang mengaduk ayam kecapnya.


Alex yang sedang senggang, langsung bergeser ke dekat Arini. "Biar aku saja, Bu."


Tangan Arini bergoyang di udara menolak tawaran Alex. "Eh, jangan! Masak itu tugas isteri."


"Ini zaman emansipasi, Bu. Suami juga harus bisa masak buat isteri."


Arini terdiam dan melepas spatula di tangannya saat Alex meminta. Di mundur dan mencolek lengan Ira, keduanya bertatapan sebentar.


"Ayu nggak salah pilih suami 'kan, Bu!" Ayu tersenyum lebar pada Arini.


***


Bima beserta anak dan isterinya datang saat masakan sudah disajikan. Bima ada pekerjaan, sehingga tidak sempat datang lebih cepat.  Usai makan malam bersama, Alex ikut duduk dengan ayah mertua serta kedua kakak iparnya di ruang tengah. Dia ikut mendengar tentang tender baru Bima di Makassar untuk pembangunan jembatan layang yang akan dimulai awal tahun depan.


"Yang di Kalimantan udah selesai berarti?" tanya Pandu.


"Dua bulan lagi rencananya, tinggal perampungan," jawab Bima, "usaha kamu apa?" Bima beralih pada Alex.


"Chemical," balas Alex.


"Di bidang apa?" Dwiki antusias.

__ADS_1


"Ada beberapa, tapi paling besar produksi untuk pruduk oleochemical," jawab Alex.


"Kelapa sawit?" tanya Pandu, "lahan basah." Pandu terkekeh.


"Basah banget itu, Mas,"timpal Bima, "sektor oleokimia itu investasi paling tinggi di Indonesia."


"Memang pabriknya di mana?"


"Untuk pengolahan bahan dari sawit, ada di Riau, tapi memang kantor pusat di Singapura," jawab Alex lagi.


Jika tadi Alex menjadi pendengar setia, kini dia harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Dia mirip diinterogasi saja, tetapi dia suka berbincang seperti itu. Dia tidak pernah berbicara panjang lebar mengenai pekerjaannya dengan siapapun, kecuali saat di depan para investor.


"Nah, Yah, Ayu udah punya suami yang dompetnya tebal, nggak usah lagi diladeni kalo minta uang," ucap Bima pada Dwiki.


"Lah, uang Ayah buat siapa kalo begitu?"


Arini yang datang membawa puding menimpali, "buat Ibu dong, Yah."


Dwiki bergeser sedikit memberi tempat pada Arini yang hendak duduk.


"Memangnya uang belanja Ibu tidak cukup?"


"Cukup buat makan, Yah. Ibu kan juga mau pergi belanja," kata Arini, "kemarin katanya Ayu habis jalan sama Mamanya Alex. Iya, 'kan, Lex?"


Alex mengangguk mengiyakan.


"Nah, kalo Ayah kasi uang belanja lebih, Ibu bisa nge-mall sama besan," tambah Ibu.


Bima tertawa mendengar perkataan ibunya. "Ibu kalo jalan sama Tante Marissa, nanti dikira ibu-anak."


Dwiki ikut menambahkan, "iya, Bu. Yakin mau jalan sama Mamanya Alex."


Alex tersenyum melihat Arini yang mengomel setelah diejek anak dan suaminya. Tentu saja pernyataan Bima tidak benar, meskipun Arini sudah tua, menurut Alex wajahnya masih cantik dengan tubuh berisi.


Ruang tengah itu riuh karena tawa setelah mendengar omelan Arini. Samar Alex juga mendengar suara tawa ceria dari dalam, tawa itu milik kedua anak Pandu dan tentu saja Ayu. Dia sangat senang dengan atmosfir hangat di rumah mertuanya, dia seperti memiliki keluarga yang sangat dia impikan sejak kecil.


"Si putri manja pasti senang habis belanja kemarin," ujar Pandu dengan bibir melengkung.


"Kamu ini, masa panggil adikmu dengan sebutan begitu di depan suaminya," tangkas Dwiki.


Alex segera menggeleng. "Dia memang sedikit manja."


"Lah, 'kan kalian yang manjain," sungut Arini, "sekarang tambah Alex, bisa-bisa dia makin tidak bisa ngapa-ngapain, makin manja."


Alex tersenyum kecil pada Arini. Dia merasa iri pada Ayu, sejak kecil dia dilimpahi banyak kasih sayang dari keluarganya. Dia kini punya beban tugas yang berat karena harus bisa mengimbangi kasih sayang yang didapat Ayu oleh keluarganya.


Ada satu hak yang mengganggu pikiran Alex, tentang kegemaran Ayu berbelanja. Berdasarkan penuturan keluarga Ayu, perempuan itu gemar dan kuat berbelanja. Tadi, Pandu bahkan berkata bahwa adik bungsunya itu tidak bisa menyimpan uang serupiah pun karena selalu ingin membeli barang yang mahal. Namun, sudah sering mereka keluar berbelanja, perempuan itu tidak pernah memilih barang satu pun. Kemarin pun dia hanya membawa pulang satu sepatu yang harganya tidak seberapa.


Alex merasa berkecil hati. Dia ingin Ayu memperlakukannya seperti kedua kakak dan ayahnya, di mana dia bisa meminta dan bermanja sesukanya. Dia masih ingat tadi sore saat dia baru datang dan Ayu langsung memeluk ayah dan ibunya, mengeluh dan bercanda bersama keduanya. Alex tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berlaku seperti itu pada orang tuanya.


Hari ini hati Alex terus mengembang, dia seakan sedang melayang di awan karena bahagia. Sejak pagi tadi, dia bisa bercumbu dengan Ayu, kini dia sedang bersama dengan orang-orang penuh kehangatan yang bisa dia sebut keluarga.


Inilah cerminan keluarga yang seharusnya. Mungkin mereka tidak menetap di rumah mewah, tetapi ada cinta dan tawa. Alex senang bisa dipertemukan dengan Ayu, sehingga dia bisa merasakan kehangatan keluarga yang sebenarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2