Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
You Are Not Alone


__ADS_3

Ayu merentangkan tangan begitu Alex masuk ke dalam kamar. Lelaki itu baru saja pulang setelah mengantar Marissa ke bandara. Ayu tahu bahwa suaminya sedang butuh pelukan. Banyak anak korban perceraian yang beralih pada hak buruk, menjadi sosok yang tak memiliki semangat hidup. Alex berbeda. Lelaki itu justru bangkit dan membuktikan bahwa dia bisa lebih baik.


Alex langsung masuk dalam peluk Ayu, atau tepatnya dia menahan Ayu dalam pelukannya. Dia mencium puncak kepala Ayu, di sana dia bisa mencium aroma sampo yang sering perempuan itu kenakan, aroma mint. Sebenarnya, itu sampo-nya. Entah kenapa, perempuan itu semakin senang mengenakan barang-barangnya.


"Mami udah pulang?" tanya Ayu yang kini sedang di peluk dari belakang boleh Alex. Sejak perut Ayu mulai membuncit, berpelukan semakin susah. Tangan lelaki itu mengusap perut Ayu beberapa kali.


"Iya," jawab Alex. Dia memutar jemarinya yang ada di atas perut Ayu searah jarum. Dia tertawa kecil merasakan tendangan dari bayi di dalam sana. "Wah, dia lagi main" Alex melakukan hal yang sama dan dibalas lagi oleh calon bayinya.


"Dia semakin aktif," ucap Ayu meletakkan jemari di atas jemari Alex. "Dia suka sama kamu, sepertinya."


"Jelas, dia anakku. Dia pasti tau kalau dia punya ayah tampan dan keren sepertiku," tutur Alex dengan nada bangganya.


Tangan Ayu terangkat dan menepuk-nepuk pelan pipi Alex. "Dasar narsis!" Dia lantas mengangkat kepala dan mengecup leher Alex, karena dengan tinggi badannya hanya leher Alex yang bisa ia jangkau meski sudah berjinjit.


Alex pun menunduk sedikit dan mulai menempelkan bibirnya di bibir penuh Ayu. Dia selalu menyukai bibir itu, manis seperti pemiliknya.


Seperti malam sebelumnya, Alex berusaha untuk tidak tidur cepat. Dia harus memastikan Ayu bisa tidur terlebih dahulu. Perempuan hamil itu sering mengaku tidak nyaman.


"Aku harusnya bawa guling," ucap Ayu yang terus tak nyaman akibat hanya bisa tidur telentang, tetapi Alex bilang bahwa dia dianjurkan untuk tidur miring ke kiri.


Ada bantal yang menahan perutnya, juga kedua tungkai agar bisa tetap nyaman. Sementara, Alex yang tidur di belakangnya terus menggosok punggung dan kadang berpindah ke perut. Ayu mudah lelah, sehingga kadang meminta untuk dipijat. Atas alasan kandungan sudah tua dan harus menghindari pijatan, dia hanya sering digosok punggungnya oleh Alex.


Alex mengangkat kepala untuk melihat wajah Ayu. Perempuan itu memejamkan mata, dia pun menarik tangan dan bersiap untuk tidur.


"Yang! Kenapa berhenti?" protes Ayu dengan suara parau.


"Aku kira kamu udah tidur," balas Alex yang langsung melanjutkan kegiatan gosok punggung.


Alex terkantuk-kantuk dan tak sadar tertidur. Tangannya jatuh begitu saja dari punggung Ayu. Perempuan itu langsung protes, tetapi langsung diam saat mendengar dengkuran pelan dari belakang. Tangannya langsung meraba ke belakang, mencari tangan Alex dan melingkarkan ke perutnya. Meski sudah tidur, alam bawah sadar lelaki itu menuntunnya bergeser mendekat pada Ayu.


***


Ayu mencebik setelah meletakkan gawainya di meja. Dia baru saja mengakhiri panggilan dari Alex. Lelaki itu menelepon untuk mengabarkan bahwa Tamara akan datang menemani Ayu. Menurut Alex tadi, Tamara sedang berada di Singapura bersama Richard. Berhubung Richard memiliki urusan, sehingga Alex meminta Tamara untuk menemaninya. Hari ini Bu Ina baru akan pulang dari Jakarta karena anaknya yang kecil sedang sakit, sehingga sudah dua hari dia tidak menemani Ayu.


Bukannya Ayu membenci Tamara, tetapi dia sedang tidak ingin berjumpa dengan temannya itu. Dia tidak mau justru semakin memikirkan tentang perasaan Alex pada sahabatnya itu. Dia masih menyimpan kecemburuan pada Tamara.


Dia tahu bahwa Tamara tidak memiliki salah apa pun. Dia juga sadar bahwa perempuan itu memang pantas untuk dicintai oleh siapapun. Cantik, anggun, baik, mandiri, sosok sempurna untuk dijadikan isteri.


Menyadari bahwa dia berada jauh di bawah Tamara membuat Ayu mendengkus kesal. Dia tak suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain, tetapi akhir-akhir ini dia selalu merasa rendah diri. Dia menatap tubuhnya yang membengkak, kemudian menyentuh pipinya yang semakin tembam. Alex pasti hanya ingin menyenangkannya saat mengatakan dia masih cantik, karena dia merasa semakin jelek.


Suara bel menyeret Ayu menuju depan pintu. Dia berdiri beberapa detik di sana menatap tak suka pada pintu itu, tepatnya pada orang yang sedang berdiri di baliknya. Setelah menarik dan mengembuskan napas pelan, Ayu membuka pintu. Senyumya merekah menyambut perempuan cantik yang mendadak membuatnya merasa kerdil.


Ayu membalas pelukan singkat dari Tamara. Dia menjawab ungkapan rindu temanya itu seakan benar-benar rindu. Ah, dia menjadi manusia berkepala dua sekarang.


"Baru sebulan Tidka ketemu aku kangen banget," ungkap Tamara yang sedang mengelus perut Ayu. "Wah, tidak kerasa bentar lagi kamu udah mau lahiran. Aku jadi tidak sabar," tambahnya dengan ceria.


Senyum itu membuat Ayu iri. Kalau saja dia memiliki wajah dan senyum itu, pasti Alex akan mencintainya. Dia mengembuskan napas kasar.


"Kenapa?" tanya Tamara setelah mendengar dengkusan Ayu. "Astaga, kamu pasti capek berdiri."


Mereka melangkah menuju sofa. Tamara membantu Ayu dengan terus memegang tangannya.

__ADS_1


"Richie bilang dia tidak sabar melihat anak kamu, pasti cantik seperti kamu," tutur Tamara dengan senyum yang tak pernah luntur.


"Kalau tidak ganteng," timpal Ayu.


"Kata Alex, anak kalian perempuan." Kening Tamara mengerut.


"Itu cuma tebakan Alex," balas Ayu. "Setiap USG, posisinya selalu ditutupi sama paha."


Tamara terkekeh lantas meletakkan tangan di perut Ayu. "Ih, Dedeknya masih malu-malu."


Ayu ikut tertawa kecil. "Sepertinya, dia suka main rahasia-rahasiaan."


Mereka duduk sambil bercerita banyak. Untuk makan siang, Tamara kembali menunjukkan kepiawaiannya memasak. Usai makan siang, mereka masuk ke dalam kamar untuk anak Ayu kelak.


Ayu sedang duduk, sementara Tamara sedang berjalan menuju lemari yang di dalamnya sudah sangat lengang, ada pakaian dan beberapa perlengkapan bayi. Dia langsung memuji bagaimana Alex begitu sigap dengan mempersiapkan bahkan untuk popok.


"Tapi, gimana kalau ternyata baby-nya cowok?" seru Tamara.


"Dia bilang, anak cowok tidak apa-apa pake warna pink," balas Ayu.


"Dia pasti sangat semangat karena akan jadi ayah, Yu." Tamara menarik keluar handuk bayi berwana krim dengan gambar pita lucu di tengah-tengah. "Aku senang dia sudah punya kamu sekarang. Apalagi kalian akan punya baby. Dia tidak kesepian lagi," tambah Tamara yang kini sedang berdiri di samping box bayi. Tatapannya tertuju pada beragam karakter animasi yang menggantung di langit-langit box bayi itu.


Ayu hanya tersenyum. Dalam hati dia menyangkal, karena dia tahu bahwa Alex akan lebih senang jika yang berada di posisinya sekarang adalah Tamara.


"Apa itu belanjaan baru?" Tamara menunjuk pada beberapa paper bag yang tergeletak di lantai.


Ayu mengangguk. Barang-barang itu dibawa Alex kemarin sepulang kerja. Kata lelaki itu, dia sedang pulang bekerja dan tiba-tiba melihat pakaian itu terpajang di etalase salah satu toko. Ayu bahkan belum sempat membuka bungkusan itu.


Ayu membelalak. "Itu untuk anak usia setahun atau dua tahun," ucap Ayu.


Tamara yang sedang duduk melantai di karpet mengangkat pantat beberapa kali untuk mendekat pada Ayu. Dia membawa tiga bungkusan kertas di sampingnya.


"Ini cantik-cantik, loh," puji Tamara yang terus mengeluarkan gaun dari bungkusan itu. Ada sepatu dan kos kaki juga.


"Aku sudah bilang kalau bayi baru lahir belut bisa memakai baju seperti ini," tutur Ayu yang meraih satu gaun.


Tamara tertawa menatap semua belanjaan Alex. "Itu berarti dia snagat bahagia, Yu."


"Oh, ya?"


Tamara mengangguk keras. "Dia itu paling jago mengendalikan amarah. Tapi, tidak kalau sedang bahagia, dia itu senang sedikit saja langsung girang. Suka kalap, kayak gini."


"Apa sih yang kamu nggak tau tentang Alex, Tam? Kadang aku pikir kamu lebih mengenalnya daripada aku," ungkap Ayu dengan nada ceria agar cemburunya tak tampak.


"Banyak," balas Tamara. Dia tertawa kecil dan melanjutkan, "aku tidak tau rasanya tidur dengan Alex."


Ayu tercekat. Kali ini dia tidak bisa menyamarkan wajah kagetnya.


"Kamu tidak nganggap aku serius 'kan, Yu?" tanya Tamara cepat saat melihat perubahan mimik Ayu. "Bercandaku tidak lucu, ya? Semalam aku bercanda pada Richard, dia malah marah."


Ayu segera menggeleng. "Tidak, tidak!" Dia mengenal Tamara sudah lama, dia tidak pernah mendengar perempuan itu melontarkan canda sekali pun. Perempuan itu anggun, kadang terkesan dingin karena tak memiliki humor sama sekali.

__ADS_1


"Maaf, ya. Aku harap kamu jangan pikirin ucapanku tadi. Aku cuma bercanda, biar tidak kaku-kaku banget," tutur Tamara lagi.


Ayu mengangguk lagi. "Aku tau, Alex juga sering bilang kalian sangat dekat, tapi cuma teman," ucap Ayu dan melanjutkan dalam hati, 'teman yang sangat dia cintai'.


"Ya, mungkin karena dari kecil. Tapi, aku belum pernah lihat Alex menatap perempuan lain seperti menatapmu. Dia pasti sangat cinta sama kamu," ungkap Tamara.


Ayu tersenyum miris. Dia juga belum pernah melihat Alex memandang perempuan sedalam memandang Tamara. Kalau saja Tamara tahu bahwa satu-satunya perempuan di dalam hati Alex adalah dirinya.


"Oh ya, kemarin aku ketemu sama Tante Marissa," ujar Tamara.


"Iya, minggu lalu dia berkunjung."


"Iya, dia senang karena sebentar lagi jadi nenek. Katanya, Alex juga sudah mulai membuka diri."


Ayu mengangguk. Usahanya tidak sia-sia, bahkan semalam Alex menelepon Marissa untuk sekedar bertanya keadaan ibunya itu. Kemajuan yang pesat, bukan? Itu memang karena Ayu yang memaksa  tetapi tetap hebat. Siapa tahu Alex bisa terbiasa dan benar-benar bisa dekat dengan keluarganya lagi.


"Kamu tau, Yu," lirih Tamara. "Aku waktu kecil juga membenci Mama yang terlalu banyak aturan. Aku benci Papa yang selalu sibuk. Tapi, melihat bagaimana Alex sisihkan, aku merasa bahwa aku sedikit beruntung karena masih bisa merasakan hangat keluarga."


Ayu memilih diam. Dia terus mendengar Tamara yang bercerita tentang masa kecil Alex. Tentang Alex yang selalu datang ke rumahnya untuk bermain karena tidak dipedulikan. Alex yang kadang menangis dan mengadu merindukan orang tuanya.


"Saat neneknya meninggal, usia Alex baru 17 tahun. Dia sangat hancur saat itu, bukan hanya karena harus tinggal sendiri di rumah neneknya. Dia juga kehilangan satu-satunya sosok hangat yang menyayanginya."


Ayu tahu bahwa Alex pernah tinggal bersama neneknya di Selandia Baru, selebihnya dia tidak tahu. Alex bahkan tak pernah mengatakan bahwa neneknya sudah meninggal.


Tamara menggenggam tangan Ayu. "Aku mohon sama kamu, jangan pernah tinggalin Alex!"


Ayu tidak menjawab dan menatap tangannya bergantian dengan wajah Tamara yang memohon. Jika bisa memilih, Ayu ingin hidup emmjadi isteri seumur hidupnya. Lelaki itu merupakan suami yang diidamkan oleh seluruh perempuan. Namun, dia sadar bahwa hati Alex bukan untuknya.


"Kalau misalnya ternyata Alex menyukai perempuan lain, apa aku harus bertahan?"


Kening Tamara berkerut. Satu alisnya terangkat. "Kupikir Alex tidak mungkin selingkuh. Tapi, kalau berani dia tergoda sama perempuan lain, bilang sama aku."


Ayu tersenyum. "Kalau perempuan itu kamu?"


Senyum di bibir Tamara seketika menghilang. "A-aku?"


Ayu mengangguk mengiyakan.


Tamar memaksakan tawa. "Ti-tidak mungkin!"


"Hanya misalnya, Tam," rutuk Ayu.


Tamara menggeleng-geleng. "Aku tidak bisa membayangkannya, Ayu. Karena itu tidak mungkin, kami sudah seperti saudara."


"Iya, iya, aku tau. Kalian cuma teman, 'kan?"


Tamara mengangguk. Dia melipat pakaian bayi yang tadi ia hambur. Dia tersenyum getir menatap pakaian bayi itu. Dia langsung mengingat ucapannya pada Alex saat masih balita.


"Aku mau jadi Supermom," ucap Tamara kala itu. Dia tidak mengatakan hal itu sekali, tetapi sering kali. Dia selalu berharap bisa menjadi ibu yang membesarkan anaknya dengan penuh cinta dan perhatian. Dia tidak ingin menjadi ibu yang keras seperti ibunya atau ibu yang tak peduli seperti ibunya Alex.


***

__ADS_1


__ADS_2