
Ayu sedang menyusui bayinya yang berusi dua hari, saat Alex masuk ke dalam kamar suite rumah sakit itu. Alex baru saja datang dari mengurus administrasi. Mereka berencana pulang hari ini, meski Alex mengambil paket hingga lima hari di sana. Dia sudah tidak sabar membawa anaknya pulang ke rumah. Dia ingin segera memperkenalkan dunia pada Aleeya.
"Anak Daddy lagi makan," ucap Alex yang langsung mengecup pipi puterinya. Kecupan itu beralih lagi pada pipi Ayu. Dia tadi sempat berdebat kecil dengan Ayu mengenai panggilan. Awalnya, mereka sepakat untuk memanggil Papa dan Mama. Namun, setelah melihat Aleeya yang tidak memiliki wajah Melayu sedikit pun membuat Alex memutuskan untuk dipanggil Daddy.
"Kelas laktasi tadi gimana?"
Tadi pagi Ayu menemui seorang konselor laktasi untuk berkonsultasi mengenai teknik menyusui yang baik. Konsultasi itu sangat penting bagi Ayu, apalagi dengan segala kekhawatirannya, baik untuk fisik dan emosional.
Mata Alex tidak pernah lepas dari bayi mungil yang terus mengisap sari-sari makanan dari ibunya. Dadanya mengembang setiap kali melihat wajah kecil itu. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini.
"Ini bukan mimpi, 'kan?" tanya Alex yang langsung tersenyum lebar. "Aku masih tidak percaya sudah menjadi ayah."
Aleeya yang sudah tidur dilepas oleh Ayu. Bayi itu memejamkan mata dengan mulut terbuka sedikit. Alex semakin gemas dan langsung mencium pipi yang masih merah itu. Dia menowel hidung anaknya lagi, hingga bayi itu menggeliat di gendongan Ayu.
"Ih, nanti Aleeya bangun!" protes Ayu memukul tangan Alex yang berniat untuk menyentuh pipi anaknya.
"Gemes, Sayang," ungkap Alex yang langsung mencium bayi itu.
"Kasian, dia ini butuh tidur."
"Parasaan tidur terus, Sayang. Kalo bangun paling nyusu, atau buang air. Aku mau main, mau cium, mau jalan, pokoknya banyak."
Ayu tertawa melihat ekspresi Alex yang seperti anak kecil. Dia menggoyangkan Aleeya setelah bayi itu menangis sebentar.
"Dedek 'kan newly born, emang gini. Nanti kakao udah tiga bulanan baru deh bisa aktif," papar Ayu yang cukup pengalaman menjaga si Kembar. Dia selalu digaji sebagai pengasuh sewaktu belum bekerja.
"Lama sekali," rutuk Alex. Dia beralih pada bayinya. "Daddy kan mau main sama Aleeya-nya."
Bayi itu menarik satu sudut bibirnya. Alex langsung kegirangan. "Liat, Aleeya senyum. Cepat besar, Sayangnya Daddy."
Ayu tersenyum kecil. Dia bisa melihat betapa suaminya itu menyayangi Aleeya. Namun, dia jadi merasa bersalah pada orangtuanya, karena tidak segera menginformasikan mengenai kabar bahagianya. Kelahiran Aleeya hanya diketahui oleh Dia dan Alex, juga Cleo.
"Ada apa?" tanya Alex yang menangkap perubahan mimik Ayu.
"Apa kita tidak sebaiknya menelepon Ayah?"
"Kalau kamu mau, aku telepon Ayah sekarang. Mereka pasti akan sedih kalau tahu."
Ayu berpikir sejenak. "Tunggu dua minggu lagi tidak apa-apa, 'kan?"
Alex menyentuh pipi Ayu dan mengangguk. Ayu melahirkan blebih cepat dari jadwal, perempuan itu semakin khawatir jika keluarganya tahu bahwa dia telah berisi sebelum menikah.
***
Aleeya sudah menangis sejak pagi tadi. Bayi berusia dua Minggu itu memang rewel setiap kali Alex pergi bekerja. Awalnya, dia selalu menghubungi lelaki itu. Namun, dia tidak ingin membiasakan bayinya manja, cukup dia saja yang manja.
"Sabar ya, Sayang. Nanti kalo Daddy pulang, baru manjanya. Mommy mau istirahat," ucap Ayu sembari menggoyangkan Aleeya dalam gendongan.
Bu Ina tadi sudah mencoba menggendong Aleeya. Namun, bayi itu tidak biasa dipegang oleh orang lain kecuali orang tuanya. Sehingga langsung menangis ketika diambil oleh Bu Ina.
"Saya telepon Pak Alex saja, Neng?" Bu Ina merasa kasihan pada bayi yang terus menangis itu. Padahal, Ayu sudah mencoba menyapi.
"Alex tadi bilang ada meeting. Dia pasti menelpon kalo sudah selesai," ucap Ayu. Dia berjalan menuju kamar Aleeya. Dia terus berusaha menghibur bayinya. Dia membaringkan Aleeya di box DNA memutar mainan yang memutar dia atasnya. Mungkin Ayu lupa bahwa bayinya belum sempurna penglihatannya. Bayi itu pun menjerit begitu dilepas.
Tak tega, Ayu meraihnya kembali ke dalam gendongan. Bayinya memerah dan menjerit keras. Air matanya mulai luruh. Dia ikut menangis, tak tega melihat bayinya, tetapi tak tahu pula bagaimana agar ia diam.
__ADS_1
Sambil terisak, Ayu mulai menghubungi Alex. Anehnya, Aleeya lebih tenang begitu mendengar suara ayahnya meski via suara. Setelah Aleeya berhasil disapi oleh Ayu hingga tertidur, bayi itu diletakkan di atas box.
Masih terhubung dengan Alex, tetapi Ayu tidak bicara. Perempuan itu terus menangis.
"Sayang, kenapa menangis?"
Ayu hanya terdiam. Dia menangis lagi, kini disertai isakan keras.
"Cup, cup, kasihan Aleeya kalo kamu sedih begini. Nanti dia makin cengeng loh," hibur Alex.
"Aku ibunya Aleeya, tapi ...," keluh Ayu yang terpotong karena tangis, "aku bukan ibu yamg baik, 'kan."
"Eh, Sayang, jangan ngomong begitu! Dia cuma lagi rewel, nanti pasti baikan."
Ayu mengangguk pelan. Dia mencoba menenangkan diri, mengikuti instruksi Alex untuk mengatur napas sambil memejamkan mata. Dia mencoba membayangkan wajah anaknya yang tersenyum dan tumbuh, terus tumbuh hingga dewasa.
Tiga hari yang lalu, Ayu dan Alex menghadiri kelas untuk orang tua baru. Mereka memang rutin mengikuti kelas parenting sejak usia kandungan Ayu di trisemester kedua. Di sana mereka mulai diajar untuk mengatasi baby blues yang banyak dialami oleh ibu. Menurut Dokter, Alex harus banyak berperan dalam membantu Ayu merawat bayi mereka.
"Aku balik kerja, ya. Aku pasti pulang lebih awal."
Ayu mengangguk dan memberi seulas senyum pada Alex sebelum sambungan panggilan video mereka terputus. Dia menuju samping box Aleeya, menatap bayi yang pulas itu. Dia pun memutuskan untuk berbaring di sofa bed dan beristirahat.
Entah berapa lama dia tertidur di sana. Saat dia terbangun, Aleeya sudah tidak ada di box. Panik menyerangnya, dia langsung berlari keluar untuk mencari keberadaan bayinya. Dia bernapas lega begitu melihat di sofa Alex sedang bermain dengan Aleeya.
"Udah bangun?"
"Kenapa tidak bangunin?"
"Kamu pulas banget tidurnya."

(Penampakan Aleeya, cantik kan?)
"Kamu lagi ngapain?"
"Mau pamerin Aleeya sama dunia. Biar semua orang tau, anakku cantik."
Ayu menggeleng-geleng. Dia langsung meraih Aleeya, dikecup beberapa kali dengan sayang.
"Aku sudah telepon Ayah, ibu, sama Mama. Aku bilang kalau kamu lahiran kemarin, lebih cepat dari perkiraan."
Ayu menggigit bibir. Dia mulai berpikir apa yang akan dikatakan oleh orang tuanya. Dia beralih pandang pada Alex yang kini menggenggam jemarinya.
"Jangan dipikirkan, Sayang! Mereka senang, bahkan tidak sabar ketemu Aleeya. Mama mau datang besok, mungkin sama Ibu. Ayah tidak bisa datang, mau tunggu kamu bawa pulang cucunya katanya."
Ayu tertawa kecil. Dia mulai menciumi Aleeya, lantas meraih baju yang tadi dilepas oleh Alex. Dia memakaikan minyak telon pada dada bayi itu sebelum memasang pakaian lagi.
Saat mereka asyik bermain dengan Aleeya yang sedang bangun dan terus membuat gerakan menendang, bel berbunyi. Alex segera bangkit dan membuka pintu. Dia luar, sudah ada Jonny dan Gio yang berdiri dengan paper bag masing-masing di tangan. Tanpa menunggu persetujuan pemilik rumah, mereka langsung masuk melewati Alex.
"Wah, keponakan baru!" ucap Gio begitu melihat Aleeya.
Ayu yang tidak tahu mereka datang langsung melongo. Dia memaksa senyum dan langsung menggendong bayinya.
"Jahat kamu, Bro!" Jonny meninju lengan Alex. "Masa anak cantik begini disembunyikan!" Dia duduk di samping Ayu dan berniat untuk menyentuh bayi itu, tetapi Ayu langsung menjauhkan bayinya.
__ADS_1
Jonny membelalak, menatap Ayu dan Alex bergantian.
"Cuci tangan dulu!" pinta Ayu.
"Ingat, jangan dicium! Bibirmu banyak kuman." Alex menambahkan saat Jonny dan Gio sudah berniat menuju westafle.
Sekembali dua orang itu, Aleeya sudah berada di gendongan Alex. Anak perempuan itu sedang menggoyangkan tangan seakan ingin meraih wajah Alex.
"Tahu dari mana Ayu udah lahiran?" tanya Alex yang masih menolak untuk membiarkan dua temannya menyentuh Aleeya.
"Dari Jonny," jawab Gio berhasil menyentuh Aleeya dengan kedua tangannya.
"Dari Cleo," jawab Jonny setelah mendapat tatapan tajam Alex. Meski terkesan sangat ramah, dia tahu bahwa Alex sangat berbahaya jika menyangkut hal privasi. Sebenarnya, dia sudah berjanji pada Cleo untuk tidak membocorkannya pada Alex. Namun, dia penasaran pada rupa keponakan barunya.
"Ben dan Clara paling datang besok. Katanya si Kembar mau ketemu sama adek bayi," papar Gio.
Alex hanya bisa mendengkus kesal. Dia berharap Arini dan Marissa datang tidak bertepatan dengan kedatangan Clara. Mulut isteri Ben itu tidak bisa direm kadang-kadang.
"Ayolah, Bro! Aku mau cium sekali saja,' pinta Jonny.
"Aku mau gendong, Lex. Aku ini berpengalaman jaga bayi." Gio membanggakan diri. Dia memiliki banyak keponakan, sehingga sering menggendong bayi.
Alex yang percaya pada Gio langsung menyodorkan Aleeya pada Gio.
"Jangan-jangan kamu punya dendam pribadi padaku!" cecar Jonny yang merasa mendapat sentimen dari Alex.
"Tidak, aku cuma tidak mau anakku kenapa-napa," rutuk Alex.
Ayu keluar dengan nampan berisi jus untuk kedua tamunya.
"Aku minta wine di ruang sana, Baby!" Jonny menatap Ayu, lantas menunjuk ke arah lemari penyimpanan wine dan beberapa jenis alkohol lain milik Alex.
"Kenapa kamu repot segala. Mereka bisa ambil minum sendiri," kata Alex pada Ayu. Sebenarnya, dia ingin protes. Selama menikah, tidak sekali pun Ayu mengambil minum untuknya.
"Namanya siapa?" tanya Gio yang dari tadi sibuk bercakap tak jelas dengan Aleeya, meski tidak ada respon kecuali senyum sesekali.
"Aleeya," jawab Alex.
"Ah, bukannya Aleeya itu nama pacarmu dulu?" Jonny bertanya dengan wajah tak berdosa.
Alex melotot pada Jonny.
"Ah, pacarmu waktu SMA. Kamu pernah bilang," tambah Jonny.
"Eh, bukan!" seloroh Gio. "Aleeya itu yang model. Waktu pertama tinggal di Singapura," tambahnya.
Jonny menatap tajam pada Gio sembari menggeleng. "Yang itu pacarmu, Yo. Masa lupa, yang pernah menamparmu setelah ketahuan selingkuh. Masa lupa!"
Gio tampak berpikir dan langsung mengangguk. "Benar juga." Dia menunduk pada Aleeya dan tersenyum pada bayi itu. "Uncle sudah pikun."
Alex tidak lagi peduli pada pembahasan keduanya. Dia sudah lupa dengan sebagian besar mantan pacarnya, sangking banyaknya. Dia tidak tahu kalau ada nama Aleeya di salah satunya. Kini, dia hanya mengulas senyum pada Ayu yang memasang wajah tegas.
Baiklah, kalau sampai Ayu mengamuk setelah ini. Ingatkan Alex untuk mencincang temannya itu.
***
__ADS_1