Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Divorced


__ADS_3

Sudah tiga minggu Ayu menetap di rumah orang tuanya. Rencananya, ia akan pindah ke rumah yang baru ia beli bulan depan. Masalah perpisahannya dengan Alex sudah dibicarakan dengan orang tuannya.


Dwiki lebih banyak diam mendengar pengakuan Ayu. Ia tidak tahu harus berkata apa saat mendengar pengakuan putri kesayangannya itu. Tentu saja awalnya, ia merasa heran dengan pernikahan yang serba dadakan itu. Namun, lelaki itu tidak pernah menyangka bahwa putri yang selalu pandai membawa diri bisa hamil di luar tali pernikahan.


Sementara itu, Arini yang biasanya cerewet dan mengomel hanya bisa memeluk Ayu saat perempuan itu mulai sesegukan. Ia menepuk-nepuk pundak anaknya itu sayang. Perceraian adalah hal yang tabu di dalam keluarga mereka. Namun, ia tidak tahu harus menyarankan apa agar Ayu mempertahankan pernikahannya.


"Ayu minta maaf Yah, Bu," mohon Ayu lirih dalam pelukan ibunya.


Dwiki menggeleng tiga kali dengan wajah memerah. Ia berdiri dan langsung masuk ke kamarnya. Rasa kecewa itu bertumpuk di dalam dirinya. Masih ia ingat percakapan terakhirnya dengan Alex. Tidak tahu kenapa, ia sudah menganggap menantunya itu seperti anak sendiri, begitu baik dan penurut.


Ayu tadi berkata pada Dwiki bahwa Alex tidak pernah mencintainya. Mereka menikah hanya untuk menutupi kehamilan Ayu. Lelaki paruh baya itu tidak percaya, ia bisa melihat ketulusan di mata menantunya. Namun, tidak heran jika ia salah menilai. Dengan Arya pun dulu ia salah.


Di gendongan Ayu ada Aleeya. Sudah seminggu anak itu menjadi lebih pendiam. Di minggu awal Alex kembali ke Singapura, bayi itu agak rewel. Di minggu kedua barulah ia agak ceria. Namun, setelah memasuki minggu ketiga, bayi cantik itu menjadi pendiam. Suara ocehan-ocehan khas bayinya pun hilang. Sudah sering Ayu memeriksa suhu badan anaknya itu, tetapi masih normal.


Ketukan di pintu kamarnya mengalihkan pandangan Ayu. Ia segera beranjak dan membuka pintu. Tampak Ira yang berdiri di sana. Ayu tersenyum dan mempersilakan kakak iparnya itu untuk masuk.


"Wah, Aleeya makin gede," puji Ira. "Sehat-sehat ya, Nak." Ia mengelus kepala Aleeya.


"Mbak datang sendiri?" tanya Ayu yang menyandarkan kepala Aleeya di pundak.


Ira mengangguk. Ia kini sudah duduk di kursi yang ada di samping box Aleeya. Perempuan itu menatap Ayu dalam.


"Ibu bilang ... kamu dan Alex mau cerai?" Ira agak ragu bertanya.


Ayu mengatupkan bibir, lantas menjawab dengan anggukan. Ia mengelus punggung Aleeya yang mulai bergerak.


"Kami akan mengurus segera, Mbak."


Ira terdiam lama. Ia pernah menaruh iri pada adik iparnya yang menikah dengan lelaki yang penuh perhatian seperti Alex. Ia sempat berpikir bahwa Alex adalah figur suami yang sempurna.


"Bagaimana dengan Aleeya, Yu?"


"Aku bisa membesarkan Aleeya sendiri, Mbak."


"Aku dari kecil dibesarkan oleh mama sendiri, Yu. Aku bahagia, tapi kadang masih ada rasa iri pada mereka yang memiliki papa," jelas Ira. Ia mulai menyarankan pada Ayu untuk memikirkan kembali perceraiannya demi masa depan Aleeya. Sebagai anak yang dibesarkan oleh ibu tunggal, ia tidak mau keponakan cantiknya ikut merasakan sakit karena tidak memiliki ayah di sampingnya.


"Ini keputusan terbaik yang bisa Aku dan Alex ambil, Mbak. Untuk apa kami terus bersama kalau memang kami tidak memiliki perasaan sama sekali," bela ayu. Ia sadar betul bahwa cinta adalah hak penting dalam sebuah pernikahan. Mempertahankan pernikahan tanpa cinta menurutnya seperti bom waktu, yang mungkin akan meledak kapan saja. "Ini berat buat Ayu, Mbak. Tapi, tidak ada pilihan lain. Lagipula, aku yakin Alex pasti akan tetap rajin mengunjungi Aleeya. Dia sayang sama Aleeya."


Ya, Ayu yakin Alex akan mengunjungi Aleeya. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri, meski kenyataannya sejak kepergian Alex, lelaki itu tidak pernah menelepon sama sekali.


***


Suasana ruangan itu mencekam selama berminggu-minggu. Senyum dari pemilik ruangan itu tidak pernah tampak. Tidak banyak kata yang keluar dari Alex. Hanya sesekali meminta data dan beberapa dokumen. Saat menghadiri rapat dan pertemuan dengan beberapa klien pun, lelaki itu berusaha untuk tetap bersikap profesional.


"Malam ini, Pak Bos ada janji dengan Bu Renata." Cleo membacakan jadwal Alex.


"Siapa Renata?" tanya Alex yang memutar kursinya menuju kaca besar dengan pemandangan teluk dan keramaian kota.


"Saya juga tidak tau, Pak Bos. Semalam Pak Bos sendiri yang bilang."


Alex memutar kursinya menghadap Cleo. Tatapanya tajam pada sekretarisnya itu. "Jadi, untuk apa aku menemui Renata itu! Sudah, malam ini aku tidak mau diganggu."


Cleo menunduk sebentar, lalu berbalik untuk keluar menuju mejanya. Padahal, Alex sendiri yang meneleponnya semalam bahwa ia menjadwalkan pertemuan dengan Renata jam tujuh malam. Perempuan berkemeja khaki itu menggaruk kepala yang tidak gatal.


Tidak salah lagi, pasti ada masalah dengan atasannya itu. Masalah itu pasti ada hubungannya dengan anak dan istri Alex. Kemarin, Cleo pulang lebih awal. Namun, ia kembali lagi ke kantor karena ponselnya tertinggal. Saat itulah ia tidak sengaja mendengar tangisan Alex. Lelaki itu tampak mencium bingkai yang ada di pegangannya. Bingkai yang Cleo tahu berisi gambar Alex, Ayu, dan bayi Aleeya yang cantik.


Kening Cleo terangkat saat ia duduk di kursinya. Nama Renata tidak asing di kepalanya. Seperti nama yang sudah sering ia dengar sebelumnya. Ia langsung berdiri begitu mengingat Renata yang mungkin dimaksud Alex.


"Pak Bos, Pak Bos, Pak Bos!" panggil Cleo setengah berlari saat masuk di ruangan Alex.


Alex saat itu sedang memegang bingkai yang ada di meja kerjanya. Hampir saja bingkai itu terjatuh kalau saja satu tangan Alex yang lain tidak sigap menangkap benda itu.


"Cleo! Kamu bisa mengetuk dulu!"


"Maaf, Pak Bos. Saya terlalu bersemangat," ucap Cleo cengengesan. "Saya sudah tau Bu Renata. Dia ketua tim legal perusahaan, Pak. Oh iya, memangnya Pak Bos ada masalah hukum?"


Mulut Alex terbuka sedikit. Ia lupa kalau sudah membuat janji dengan Renata untuk membahas masalah perceraiannya dengan Ayu. Sudah tiga minggu, ia tidak menghubungi perempuan itu. Sesekali, ia memantau perkembangan Aleeya dari foto yang di-posting oleh Ayu dan keluarganya. Kadang pula, di media sosial milik ibunya. Sepertinya, Ayu sering membawa Aleeya ke rumah Marissa. Melihat banyak sekali gambar Aleeya berada di rumah besar itu. Bahkan, ada beberapa gambar saat Marissa berkunjung ke rumah Ayu.

__ADS_1


"Pak Bos, kok diam. Memangnya perusahaan ada masalah?" Cleo terus bertanya. Setahunya, perusahaan itu baik-baik saja, jadi untuk apa Alex menghubungi tim legal.


***


Mobil Alex berbelok ke salah satu kantor advokasi. Tempat di mana ia akan bertemu dengan Renata, seorang advokat yang kebetulan juga bekerja sama dengan perusahaannya. Ia tidak memiliki kenalan pengacara, hingga memilih untuk berkonsultasi dengan pengacara perusahaannya.


Ia naik di lantai tiga, kemudian masuk di salah satu ruangan setelah dipersilakan. Seorang perempuan bercelana abu-abu dan kemeja putih tanpa lengan menyambut Alex ramah.


"Silakan duduk!" Perempuan berambut bob itu mempersilakan.


Alex mulai mengungkapkan masalahnya begitu Renata meminta. Pengacara itu mendengarkan secara seksama. Tentu saja, Alex hanya mengungkapkan sebagian kecil. Ia hanya bercerita mengenai usia pernikahan, bayi yang ia miliki, alasan gugatan yang akan Ayu layangkan. Tidak lupa ketidakinginannya untuk bercerai.


Renata mengangguk mengerti mendengar penjelasan Alex. Ia meminum teh hangat sebelum mulai berbicara. "Baik, karena pernikahan Anda didaftarkan di Singapura. Maka, untuk perceraian pun harus diselesaikan di sini juga. Di Singapura sendiri pengurusan perceraian sangat susah," jelas Renata. Ia berdiri dan mulai membuka pintu salah satu lemari. Ia mengeluarkan satu berkas, lantas kembali duduk bersama.


"Aturan perceraian di Singapura bisa membantu Anda. Pernikahan yang kurang dari tiga tahun tidak akan diproses gugatannya. Selain itu, prosedurnya pun tidak asal. Tapi, maaf, apa ada alasan yang mungkin memberatkan Anda dalam gugatan?"


Alex menggeleng. Ia bertanya tentang hal yang mungkin memberatkannya. Jika hal itu tentang bagaimana mereka menikah karena keterpaksaan, maka itu sangat memberatkan.


"Hal yang memberatkan maksud saya misal, perlakuan yang tidak masuk akal. Yang dimaksud di sini adalah alkoholisme, kekerasan fisik, kekerasan verbal secara berkelanjutan, menolak untuk berkontribusi dalam pengeluaran, perilaku obsesif, homoseksual, sakit mental parah, dan perjudian komplusif."


Alex terus menggeleng di sepanjang penjelasan Renata. Ia memang bukan lelaki baik, tetapi tidak satu pun dari perbuatan berengsek itu yang akan ia lakukan. Lelaki macam apa yang tega menyakiti istri sendiri. Sepertinya banyak, dan itu sudah pasti bukan dirinya.


"Poin kedua adalah Perzinahan atau perselingkuhan. Kalau ...," sambung Renata yang langsung dipotong oleh Alex, "Tidak, tidak ada hal bodoh macam itu di pernikahan saya. Alasan hanya satu, istri saya tidak mencintai saya."


Alex tentu saja tidak suka mengakui hal itu. Egonya terlalu tinggi untuk mengungkapkan bahwa lelaki yang memiliki segalanya seperti dirinya tidak bisa membuat istrinya sendiri jatuh cinta. Sekeras apa pun ia mencoba, tidak ditemui alasan yang membuat Ayu tidak mencintainya.


"Alasan itu sebenarnya bisa digunakan. Namun, mengingat ada anak, akan sangat susah," papar Renata.


Satu alis Alex terangkat. "Jadi gugatan apa yang bisa diajukan istri saya?" Ia merasa perlu tahu, agar bisa menahan Ayu lama-lama. Siapa tahu, masih ada kesempatan untuk mereka bersama.


"Masih ada tiga poin agar gugatan perceraian dikabulkan. Desersi selama dua tahun, dan benar-benar harus tidak ada kabar dari pihak yang meninggalkan. Perpisahan selama tiga tahun, itupun harus dengan persetujuan kedua belah pihak. Yang terakhir, perpisahan selama empat tahun, yang ini tidak perlu persetujuan dari yang tergugat."


Ada senyum kecil di wajah Alex. Tidak salah ia memilih Singapura sebagai negara untuk mendaftarkan pernikahannya. Mendengar syarat perceraian itu, hanya satu yang mungkin Ayu tempuh, perpisahan selama tiga tahun. Itu pun kalau Alex setuju. Sayangnya, lelaki itu akan bersikeras untuk mempertahankan pernikahan. Opsi satu-satunya adalah opsi terakhir.


Empat tahun adalah waktu yang cukup lama. Dalam beberapa bulan saja, Alex berjanji akan membuat Ayu kembali ke dalam pelukannya.


"Berhasil di pemberkasan pengajuan tidak menjamin akan cepat selesai. Kecuali ada penyederhanaan perceraian dari penggugat dan tergugat. Hal ini menyangkut properti dan pengasuhan anak."


"Baik, terima kasih. Saya akan berdiskusi lagi dengan istri saya."


"Iya, baik. Saya berharap yang terbaik untuk rumah tangga Anda."


Sebelum keluar dari ruangan itu, Alex berbalik dan bertanya, "Kira-kira apa yang kurang dariku hingga istriku ingin berpisah?" Alex mengarahkan tangan dari kepala ke bawah.


Renata yang berdiri masih terdiam. Matanya membulat tidak menyangka pertanyaan itu akan dilayangkan oleh Alex.


"Tidak usah dijawab! Aku tau kamu bingung, aku saja bingung. Permisi."


Alex keluar dari ruangan itu. Kalau dipikir-pikir lagi, ia telah melakukan banyak hal untuk Ayu. Menurutnya, tidak ada alasan hingga perempuan itu tidak merasa bahagia hidup dengannya. Sesibuk apa pun, ia selalu menyempatkan Ayu dan Aleeya sebagai hal utama. Ia akui malam saat berkunjung ke rumah Tamara adalah salahnya. Namun, ia tidak tahu bahwa Aleeya sakit. Ah, itu semua karena salah ponselnya yang lowbat. Untung ponsel itu sudah ia lempar dan hancur.


***


"Cleo, kosongkan jadwalku besok. Aku mau pulang ke Jakarta," suruh Alex.


Cleo hanya menurut. Alex ada pertemuan dengan salah satu dewan direksi. Namun, Cleo tidak berani melawan perintah atasannya itu. Seharian wajah lelaki itu dipenuhi senyum tidak seperti biasa. Kalau dipancing emosinya, Cleo takut Alex akan kembali dingin seperti kemarin-kemarin.


Usai berkerja, Alex langsung mengambil penerbangan tercepat untuk pulang ke Jakarta. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Aleeya. Sudah lama ia tidak menghubungi Ayu, entah bagaimana keadaan perempuan itu sekarang.


Alex sempat berdiri lama di depan pintu rumah orang tua Ayu. Ada rasa tidak enak di hatinya yang ia pun tidak tahu untuk apa. Mungkin karena tadi ia berkunjung di rumah Ayu dan ada papan berisi iklan penjualan dari salah satu agen properti. Ia tidak tahu untuk apa Ayu menjual rumah itu.


"A-Alex," sebut Arini dengan mata yang agak membesar. "A-yao masuk!"


Alex menurut. Namun, ada hal aneh yang tidak biasa dari perlakuan Arini padanya. Dulu, tiap kali Alex datang z ibu mertuanya itu selalu menyambut dengan hangat.


"Ayu ada, Bu?" tanya Alex. Ia merasa seakan bukan suami Ayu saja. Harusnya sebagai suami, ia tahu keberadaan istrinya.


"Ayu ada di rumah barunya, sedang mengurus perabot yang baru datang," jawab Ibu menatap Alex dengan kedua alis terangkat seakan bertanya, "Memangnya kamu tidak tau."

__ADS_1


"Ayu pindah?"


Arini mengangguk. Ia berkata bahwa Ayu memilih tinggal di rumah yang dekat, agar bisa lebih sering berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Ayu sudah cerita tentang perceraian kalian."


Ada lempengan yang tiba-tiba menutup tenggorokan Alex. Ia sesak dan hanya terdiam. Kepalanya sedikit menunduk, tidak berani menatap Arini.


"Meskipun bercerai, kamu tetap menantu kesayangan Ibu," ucap Arini.


Tangisan dari dalam mengalihkan pandangan keduanya. Mereka lantas masuk ke kamar Arini, di mana Aleeya sudah bangun dan merengek.


"Kamu pasti tau, ayahmu datang ya, Cantik," kata Arini yang sudah menggendong Aleeya. Bayi itu bergerak-gerak, matanya tertuju pada Alex. "Dia kangen sepertinya."


Alex mengangguk. Ia mulai maju untuk mengambil Aleeya. Rasa rindu itu begitu kuat hingga seperti Bakan meledak saat Aleeya telah berada dalam dekapan Alex.


Alex dan Aleeya kini berada di ruang tamu. Mereka mengobrol banyak, seakan Alex mengerti apa yang dikatakan oleh bayi itu.


"Iya, Daddy juga kangen. Iya, maaf, nanti Daddy Bakan lebih sering datang."


Aleeya terus berceloteh. Kaki dan tangannya bergoyang-goyang di udara.


"Apa? Kamu mau kita tinggal sama-sama lagi? Daddy juga mau. Bujuk Mommy, ya, Sayang."


Melihat senyum dan tawa putrinya membuat Alex membulatkan tekad. Ia tidak akan melepaskan Ayu. Mereka baik-baik saja dan bahagia, kenapa harus bercerai? Jika beralasan tidak saling mencintai, Alex mencintai Ayu. Ia hanya perlu meminta waktu agar perempuan itu bisa mencintainya.


Alex mendongak saat derit pintu terdengar. Dari pintu itu ada Ayu dan Dwiki yang baru saja masuk. Senyum canggung terpasang di wajah kedua orang itu.


"Ha-hai!" sapa Alex. Ia sendiri tidak tahu kenapa ada guguo saat menyapa Ayu. Mereka suami-istri, dan akan tetap seperti itu.


"Kapan datang?"


"Tadi," balas Alex yang langsung beralih pada Aleeya yang bergumam tak jelas. "Masih mau main," tutur Alex. Ia meletakkan wajahnya di perut buncit Aleeya, bermain dan membuat bayinya tertawa riang.


"Oh, kamu lagi senang, ya?" tanya Ayu pada Aleeya. Ia sudah duduk di lantai, tepat di samping sofa tempat Aleeya dibaringkan.


Tawa ketiganya memenuhi ruangan, membuat dua orang yang sedang mengintip geleng-geleng kepala.


"Mereka benar mau bercerai atau tidak? Sepertinya baik-baik saja, aneh," celoteh Arini.


"Ya, semoga saja tidak, Bu. Ayu kan tukang ngambek. Siapa tau waktu bilang cuma emosi."


Arini mengangguk dan menarik suaminya untuk masuk. Bukankah tidak baik ikut campur dalam pernikahan anak sendiri. Menurut Dwiki, Ayu dan Alex sudah dewasa, harusnya sudah tahu mengambil keputusan yang bijaksana.


"Jadi, kamu sudah menemui pengacara?" tanya Ayu.


Mereka sudah ada di kamar Ayu. Aleeya sudah tidur dari tadi. Alex dan Ayu pun sudah siap untuk beristirahat.


"Iya, hanya konsultasi. Dan, sepertinya akan susah kalau kita mau bercerai," balas Alex berusaha menyembunyikan seringai.


"Kenapa?"


Alex mulai bercerita tentang syarat perceraian di Singapura seperti yang dijelaskan Renata kemarin. Ia sengaja membuat suara seakan sedih karena tidak bisa menuruti keinginan Ayu. Namun, dalam hati ia kegirangan.


"Memangnya kita harus bercerai di sana?"


Alex mengangguk. "Ya, aturannya seperti itu. Karena pernikahan kita didaftarkan di sana."


Mereka terdiam cukup lama. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga, hening dipecah oleh Ayu.


"Kalau begitu, kita tidak usah bercerai," putus Ayu.


Alex langsung mengatupkan bibir, menahan agar teriak girangnya tidak lolos. Ini bukan rumahnya, selain itu ia tidak mau Aleeya terbangun.


"Setidaknya, sampai syaratnya terpenuhi. Tidak apa-apa, kan?" lanjut Ayu.


"Tentu saja. Tidak bercerai selamanya juga tidak masalah."

__ADS_1


Alex meraih tangan Ayu, menggenggam lama dan tersenyum. Ayu adalah istrinya, dan selamanya akan tetap seperti itu. Ia berjanji akan membawa Ayu dan Aleeya ke rumahnya lagi. Persetan dengan rumah baru yang dibeli Ayu, satu-satunya rumah Ayu dan Aleeya adalah dirinya.


***


__ADS_2