Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
When We Are Together


__ADS_3

Si Kembar sedang berlarian di ruang tamu, mereka menghampiri Alex yang berbincang dengan orang tua dan kakak-kakak Ayu. Keduanya langsung merengek untuk bermain bersama paman barunya itu, mengingat terakhir kali permainan mereka harus terhenti karena Alex harus pulang. Pandu sempat menegur kelakuan dua anaknya itu, tetapi tidak berkata apa-apa lagi setelah Alex menyetujui keinginan sepasang kembar itu.


"Om, kita Mabar lagi, ya. Mumpung aku bisa begadang sampai jam 10 karena besok hari Minggu," rengek Nara yang memegang tangan kiri Alex.


"Ingat ya, Na, jangan bikin kalah!" Tara mengingatkan adiknya.


"Iya, aku udah latihan tadi. Lagian ada Om Alex yang bisa bantu, ya 'kan, Om."


Alex mengangguk dan mengiyakan.


Mereka naik ke lantai dua, di mana Ayu terlihat sedang mengobrol dengan kedua kakak iparnya. Si kembar melepas tangan Alex dan berlari menuju ibunya.


"Bunda, HP! Aku mau main sama Om Alex," minta Tara.


"Nara juga, Bun!" Sang adik ikut meminta.


Ira menyodorkan dua tablet pada anaknya.


"Habis main, sikat gigi dan tidur!"


Dua anak itu berlari lagi pada Alex dan segera duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat mengobrol ibunya.


Awalnya, mereka tidak banyak bicara, tetapi langsung heboh saat di pertengahan permainan Nara mulai tertembak.


"Kakak udah bilang, kalo ada musuh jangan sok jago!" marah Tara.


"Ih, diam! Aku belum mati, kok!" Nara terfokus memencet-mencet tabletnya.


"Ada musuh dekat kamu, Tar!" Alex menginfokan, meskipun mata dan tangannya terpusat pada HP.


Mata Tara terbuka lebar dan langsung memencet dengan cepat. "Ahh, gara-gara Nara ini."


Alex dan Nara tertawa melihat Tara yang marah-marah karena kalah.


"Udah, Kakak nonton aja," ejek Nara.


Ayu melirik sekilas pada Alex dan si Kembar yang bermain tidak jauh darinya. Kemudian berbalik lagi pada kedua kakak iparnya yang sibuk mengobrol.


"Kamu kasi makan apa di suamimu, Yu?" tanah Dita.


Ayu mengerutkan kening tidak mengerti.


"Kamu ini, Ta, ngomongnya sembarangan."


"Ih, emang bener, Mbak," pungkas Dita, "liat gimana Alex udah kayak orang gila nurutin Ayu. Mas Pandu sama Mas Bima mana pernah kayak gitu," rutuk Dita.


"Mungkin karena mereka nggak pacaran lama," bantah Ira.


Ayu mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia pun bingung melihat perlakuan Alex padanya, kadang dia merasa sangat dicintai oleh lelaki itu, tetapi dia tidak ingin menggantung harapan terlalu tinggi pada sesuatu yang tak jelas.

__ADS_1


"Lelaki kayak Alex itu udah jarang banget, Yu. Mesti dijaga dengan baik," saran Ira.


"Iya, kenapa juga Mas Bima nggak kayak Alex. Nggak usah uangnya, perhatian udah cukup. Nah, ini udah sibuk nggak tau manjain isteri," keluh Dita.


"Ih, Mbak, aku aduin sama Mas Bima loh," ancam Ayu.


Ira tertawa melihat ekspresi Dita yang langsung berubah.


"Janganlah, kamu tau kakakmu itu gimana! Nanti Mbak tidak dapat jatah bulanan?" decak Dita.


"Kamu juga ...," tutur Ira yang langsung diam saat mendengar langkah kaki mendekat.


"Ta!" panggil Bima yang langsung membuat Dita berbalik dengan senyum.


"Iya, Mas. Ada apa?"


"Zahra nangis di bawah, Ibu udah mau tidur!" desis Bima saat mendekat pada Dita.


"Ih, kenapa nggak diambil?" keluh Dita. Meskipun mengomel, dia tetap bangkit dan berjalan untuk mengambil anaknya.


"Mbak juga sudah ngantuk, Yu!" ujar Ira, "Nak, sudah dulu mainnya. Kalo Ayah naik, bisa marah."


"Bentar lagi, Bun!" teriak Tara.


"Kalo udah selesai, langsung gosok gigi terus tidur!" Ira mengingatkan lagi.


"Sayang, masih lama?"


Alex menggeleng, meski wajahnya hanya menatap layar HP.


"Cepat! Aku mau dibuatin susu," bisik Ayu.


Alex melirik sekilas, lantas tersenyum.


"Ya, Om kok gitu mainnya!" protes Tara setelah karakter Alex mati tertembak.


"Iya, nih, Om kok cepat banget kalahnya," timpal Nara.


Alex mengelus rambut kedua anak itu. "Mainnya di kamar aja, Om udah ngantuk."


Lara dan Nara berdiri dan berjalan menuju kamar, meskipun mereka masih sibuk bermain. Tipikal anak pecinta permainan daring.


"Aku buatin susu dulu kalo begitu." Alex beralih pada Ayu yang masih menggelayut manja.


"Aku tunggu di kamar," ucap Ayu, lantas memberi kecupan di pipi Alex.


***


Ayu duduk sembari bersandar di kepala ranjang setelah mencuci muka dan gosok gigi, dia tinggal menunggu Alex selesai di kamar mandi. Dia membuka pesan dan membalas satu-persatu, mulai mengirim permintaan data untuk laporan penjualan dan beberapa data terkait. Dia harus mengolah data itu dan mengirim ke atasannya lagi.

__ADS_1


"Sibuk sekali," ujar Alex yang sudah berbaring duduk di samping Ayu.


"Iya, aku bukan bos yang tinggal tunggu data selesai," balas Ayu yang berpusat pada HP.


Alex merebut HP Ayu. "Kamu harus istirahat!"


Ayu tidak peduli pada pesan-pesan itu lagi, dia sudah selesai meneruskan pesan dari store menuju atasannya. Dia akan beristirahat sekarang, tetapi ada yang mengganggu benaknya, Tamara selalu rutin mengiriminya pesan. Sudah seminggu ini, dia tidak pernah mendapat pesan satu pun.


"Sini!" Alex menarik Ayu dalam pelukannya.


Ayu langsung membalas pelukan Alex. "Kamu pake parfum apa?"


"Aku tidak pake parfum," jawab Alex sehabis mengendus aroma tubuhnya, "kamu mual?"


Ayu menggeleng dan mengeratkan pelukannya. "Kamu harum sekali. Aku suka."


"Aku juga suka kamu," ungkap Alex, lantas meletakkan kedua tangannya ke wajah Ayu. Dia memberi kecupan kecil pada kening, kedua pipi, hingga terakhir di bibir Ayu.


Ayu tidak tahu mengapa, tetapi dia merasa tenang setiap kali berada di samping Alex. Setiap sentuhan dan ciuman lelaki itu memberikan sensasi yang berbeda di dalam dirinya, perasan senang yang tidak terkira hingga dia sendiri tidak mampu mengungkapkannya.


"Kamu cantik sekali," puji Alex yang kembali memeluk Ayu dengan erat.


Alex ingin terus seperti ini dengan Ayu. Kalau saja perempuan itu mau menurut dan tinggal bersamanya, sehingga mereka bisa bersama setiap hari. Memiliki seorang isteri yang menyambutnya setiap kali pulang bekerja adalah impian Alex. Bayangan tentang anak mereka yang akan lahir membuat Alex tersenyum kecil, keluarga kecilnya nanti akan menjadi keluarga bahagia.


"Kamu suka dipeluk sepeti ini?"


Ayu mengangguk.


"Kalau kamu ikut bersamaku di Singapura, aku bisa memelukmu seperti ini setiap saat."


Ayu menengadah menatap Alex. "Aku suka di sini."


Alex mengerti bahwa Ayu tidak ingin terpisah jauh dengan keluarganya. Perempuan itu tumbuh dengan penuh kasih sayang dari keluarganya, sementara Alex hanya orang asing yang kebetulan berjodoh dengannya.


"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Alex.


Ayu terdiam, mungkin dia memang belum bisa mempercayai Alex sepenuhnya.


"Aku tau, aku masuk dalam kehidupan kamu dengan cara yang salah, tapi aku janji akan selalu menjagamu," ungkap Alex.


Ayu mengeratkan pelukannya, sehingga wajahnya pun menempel erat di dada Alex. Air matanya mulai menetes, dia pernah mendengar janji yang sama, tetapi berakhir dikhianati. Dia tidak ingin terjatuh lagi, bayka. Arya yang begitu mencintainya bisa pergi, bagaimana dengan Alex yang bertahan hanya karena tanggung jawab.


Bagaimanapun, Ayu sangat menghargai semua perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Alex. Namun, untuk mempercayai lelaki itu, dia belum bisa. Dia tidak mau patah hati lagi.


"Alex, kita udah sepakat untuk menjalani pernikahan kita dengan pelan," ucap Ayu dengan suara serak, "aku minta kamu bisa tunggu sebentar sampai aku benar-benar bisa menerima keadaan kita."


Alex terdiam dan hanya memeluk pelan punggung Ayu. Dia tahu Ayu pasti menangis lagi. Selain itu, Ayu benar, mereka tidak perlu tergesa-gesa karena trauma lama perempuan itu pasti masih ada. Kata orang sekali dikecewakan, perempuan akan susah untuk percaya lagi. Dia akan menunggu dan berusaha untuk membuktikan bahwa dia tulus.


***

__ADS_1


__ADS_2