
Apartemen Alex berada di sebuah gedung tinggi, tepat di sudut gedung. Dua sisinya dibingkai kaca dan menampakkan pemandangan kota yang indah. Ayu memperhatikan ke sekeliling ruangan. Lantainya terbuat dari ubin berwarna krem dengan karpet lembut berwarna cokelat.
Di ruang tamu ada sofa memanjang yang ujungnya terdapat sofa bed berwarna krem, namun lebih gelap dari lantai. Tempat itu terlihat nyaman untuk menikmati film, karena berada tepat di depan sebuah TV dengan layar yang sangat lebar.
Tidak bisa Ayu pungkiri bahwa selera Alex dalan mendesain apartemennya sangat bagus, juga rapih. Dia perempuan, namun rumahnya tidak sebersih dan serapih itu. Lagipula, tidak mungkin Alex membersihkannya sendiri, pasti ada yang membantunya.
Ruang tamu dan balkon hanya dipisah oleh kaca transparan sehingga lampu kota dapat terlihat dari dalam ruangan atau pun dari luar.
Alex sudah terlebih dahulu masuk ke dalam sebuah ruangan. Ayu sudah bisa tebak bahwa tempat itu adalah kamar Alex. Karena bosan, Ayu memilih keluar ke balkon dan duduk di sebuah kursi hitam yang terbuat dari rotan. Di meja kecil yang berada di Samping kursi terdapat kaktus mini dalam pot berwarna cokelat. Mungkin Alex memang menyukai warna cokelat.
Langit jingga, gedung tinggi dan atap; pemandangan modern ciptaan manusia. Ayu selalu takjub akan hal itu, meski keindahannya tidak bisa menyaingi kesejukan alam seperti; gunung, laut dan sunset.
"Ayu!" Sebuah panggilan membuat Ayu mendengus kesal. Dia masih ingin bersantai.
Pintu kaca berderit pelan. Tidak perlu berbalik, karena Ayu tahu siapa yang datang.
"Nanti malam kita pergi dinner bareng temanku," kata Alex berdiri sambil berlipat pinggang dengan punggung bersandar di railing teras.
"Kita? Lu aja kali," cibir Ayu.
"Apa?" Kening Alex bertaut.
"Aku mau pulang ke Jakarta, kalo mau bicara jangan buang waktu."
"Kita bicara sehabis makan malam, aku terlanjur setuju untuk kenalin isteriku sama mereka."
"What? Isteri? Nggak mau!"
Ayu terus menolak. Alex sudah menjelaskan perihal Clara yang tidak percaya penjelasan Ben dan meminta Alex untuk memperkenalkan Ayu padanya.
"Clara itu sangat menakutkan, dia singa berwujud manusia." Alex terus membujuk Ayu.
"Itu urusanmu dan temanmu itu, nggak ada hubungannya denganku."
"Menikah itu harus diumumkan, biar orang tidak pikir macam-macam. Coba pikir kalo tidak ada yang tau kita sudah menikah dan tiba-tiba perutmu membesar?"
Ayu berpikir sejenak. Alex benar, untuk apa mereka menikah dadakan kalau hanya untuk disembunyikan. Semua orang memang harus tahu bahwa mereka telah menikah, sehingga tidak ada yang akan menggunjing mengenai kehamilannya nanti. Tetapi dia pun tidak ingin menyerah dengan mudah pada keinginan Alex. Dia tidak mau lelaki itu terbiasa mempermainkannya.
"Tidak! Aku capek, besok aku juga harus masuk kerja lagi. Aku ini lagi hamil, nggak boleh capek."
"Benar juga, kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak."
"Nah, itu pintar. Jadi sekarang aku mau Ke bandara, pulang ke rumah, lalu istirahat." Ayu mulai tersenyum karena mulai merasa memang atas perdebatannya dengan Alex. Ah, ternyata tidak begitu susah mengalahkan Alex, hanya saja butuh sedikit rasa sabar dan akal.
Alex mengangguk-angguk mengerti, sehingga senyum Ayu semakin lebar. Lelaki itu melangkah mendekat ke arah Ayu.
"Kamu tahu kenapa aku memiliki lengan yang kokoh?" tanya Alex sambil menunjukkan otot lengan hasil olahraganya.
Kening Ayu berkerut, tidak tahu pertanyaan macam akan yang diajukan oleh Alex.
"Ya, untuk gendong kamu." Alex menaikkan alisnya beberapa kali pada Ayu.
Ayu mengepalkan kedua tangannya. Dia berharap tidak hilang kesabaran sehingga menjalankan niatnya untuk membunuh lelaki menyebalkan itu.
"Asal kamu tau aku ini lelaki yang sangat bertanggungjawab," ucap Alex memuji diri sendiri.
Perkataan Alex tidak salah, mengingat dia tidak lari, bahkan mengambil inisiatif cepat untuk menikahi Ayu. Namun mendengar nada angkuh di suara lelaki itu membuat kerongkongan Ayu berdesir sehingga ada rasa mual di perutnya.
"Pokoknya mulai sekarang kamu tidak usah jalan. Aku rela gendong kamu kemana saja." Alex melanjutkan dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Dasar gila!"
"Eh, orang hamil tidak boleh mengumpat!"
"Bodoh amat!" teriak Ayu tidak tahan lagi dengan tingkah Alex.
__ADS_1
Ayu bukan pemarah. Entah karen hormon atau memang Alex yang sangat mengesalkan, sehingga setiap kali berhadapan Ayu selalu saja marah.
Ayu berdiri dengan rahang mengeras, matanya memicing menatap Alex dengan sorot membunuh.
"Aku mau pulang!"
"Ini rumah kamu, Sayang. Mau pulang ke mana?"
"Jangan panggil aku Sayang!"
"Baik, Isteriku."
"Aku bukan isterimu, Brengsek!" Ayu segera meninggalkan balkon. Di berjalan menuju sofa tempat tasnya tadi berada.
Ayu mengedarkan pandangan ke setiap sudut, namun tasnya tidak ada. Dia tidak mungkin salah, tasnya tadi dia taruh di sofa. Selain itu, dia juga tidak pernah ke mana-mana selain sofa dan balkon. Tidak salah lagi, pasti
Alex yang menyembunyikannya.
"Cari apa, Isteriku sayang!"
"Mana tasku?"
"Di tempat yang aman, sangat aman."
Percuma meladeni Alex, lelaki itu tidak bisa diajak serius. Ayu akan mencari tasnya sendiri.
Ayu berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki. Dia mulai menyusuri setiap ruangan. Mulai dari ruang tamu, kemudian masuk menuju meja makan dan dapur. Mengintip dari kaca di ruang olah raga, bahkan masuk ke sebuah ruangan yang kosong melompong -- hanya lantai dan tembok.
Diam-diam Alex tersenyum melihat kerutan di kening Ayu. Ruangan itu dulu adalah kamar kosong, ada ranjang dan beberapa furnitur. Sengaja dia kosongkan agar hanya ada satu kamar di sana. Mungkin nanti bisa dia alihkan menjadi kamar untuk bayinya.
"Alex! Mana tasku?" teriak Ayu frustrasi, setelah mencari-cari dan tidak mendapatkan apa pun.
Alex bersandar di tembok. "Kamarku belum kamu periksa."
Kamar itu cukup luas, dengan jendela besar dan tembok bawah jendela sedikit menjorok. Di tembok itu ada bantal kecil dan kaktus-kaktus kecil. Sepertinya itu tempat yang biasa digunakan Alex untuk bersantai.
Ada beberapa pintu di sana. Pintu sebelah kanan yang dibuka pertama kali oleh Ayu adalah kamar mandi, ada westafle, kloset dan bilik shower yang berdinding kaca. Dalam hati dia bertanya sendiri kenapa bilik dengan kaca itu sangat diminati.
Ada sebuah dinding yang Ayu tahu merupakan pintu penghubung ke ruangan lain. Dinding itu seperti di kamar Tamara, hanya saja berbeda warna. Dia mendorong pelan di tengah-tengah dinding dan secara tiba-tiba dinding itu membelah.
Pintu rahasia itu membawa Ayu melihat koleksi pakaian dan beberapa aksesoris milik Alex. Ada pula tangga penghubung ke sebuah ruangan yang berisi meja kerja dan rak-rak yang berisi buku.
Ayu mencoba menebak bahwa Alex suka membaca buku, karena sebelumnya dia sudah menemukan sebuah ruangan yang berisi banyak buku dan sebuah meja baca. Mengingat tingkah jahil dan aneh Alex, dia jadi bertanya-tanya jenis buku apa yang sering dibaca oleh lelaki itu.
Ayu mendekat ke rak buku dan mulai membaca setiap judul buku yang ada di sana. Dalam hati dia memuji selera buku lelaki itu. Di sana ada banyak buku filsafat, psikologi, science, juga ekonomi bisnis, bahkan ada beberapa sastra fiksi. Entah Alex memang membaca buku-buku itu, atau sekedar hanya menjadikannya pajangan semata.
Sementara Ayu sibuk mengamati setiap buku yang ada di ruangan itu. Alex yang dari tadi tidak berhenti mengikuti langkah perempuan itu, ikut pula menuruni anak tangga. Kalau biasanya beberapa perempuan pasti lebih tertarik melihat koleksi barang mewah di walk-in-closet Alex, Ayu justru lebih tertarik melihat koleksi bukunya, dan itu sangat menarik.
Ayu yang sedang memusatkan diri pada buku The Propeth milik Kahlil Gibran terlonjak kaget saat Alex tiba-tiba muncul.
"Serius sekali," kata Alex dna.merebut buku di tangan Ayu.
"... love one another, but make a not bond of love; let it rather be a moving sea between
The shores of your soul. Fill each other's cup but drink not from one cup. Give one another of your bread but eat not from the same loaf. Sing and dance together and be joyous, but let beach one of you alone.
Even as the string of a lute are alone
though they quiver a same music," lanjut Alex membaca beberapa baris lirik puisi Kahlil Gibran dengan judul On Marriage.
Ayu hanya terdiam mendengar Alex. Dia dulu pernah bermimpi tentang sebuah pernikahan yang indah seperti yang diterangkan oleh Kahlil Gibran. Saling mencintai dan saling melengkapi meski tak selalu bersama; tidak mengekang, bebas dengan penuh tanggung jawab. Kini semuanya hanya mimpi.
"Aku ingin memiliki pernikahan seperti ini, bagaimana?" Tatapan dalam Alex tertuju pada Ayu.
Tidak menyangka akan mendengar pertanyaan semacam itu dari Alex, membuat pipi Ayu merona. Lantaran tidak mau memperlihatkan pipi merahnya, dia mendorong Alex dan melangkah cepat meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Ayu berhenti di kamar Alex. Entah kenapa dia harus merona, padahal bisa saja yang Alex maksud adalah pernikahan dengan perempuan lain setelah mereka bercerai nanti. Ya, Ayu sudah bertekad untuk memutus semua hal-hal menyangkut pernikahannya dengan Alex.
"Tidak capek main kejar-kejaran begini, Sayang?" tanya Alex.
"Cukup, Lex! Berhenti berlagak seakan kita suami-isteri!" pinta Ayu, "aku mau kita buat perjanjian kontrak."
Wajah lembut dan ceria Alex berangsur hilang.
"Jangan kamu pikir aku menganggap pernikahan ini sekedar permainan!" Tatapan garang Alex seketika membuat Ayu menciut.
"Kamu harus tau, Yu, aku penganut monogami. Jadi buang jauh-jauh pikiran tentang perceraian yang ada di kepalamu." Alex melanjutkan dengan suara ditekan.
Napas Ayu memburu, jantungnya pun memompa labih cepat dari biasanya. Selama ini dia hanya sering melihat senyum jahil lelaki itu, melihat wajah marah Alex membuat Ayu ketakutan.
"Ta-tapi ...." Ayu berusaha membela diri, namun langsung terdiam saat Alex mendekatkan wajah ke arahnya.
"Kamu mau kontrak?" Alex berbisik dengan bibir hampir menyentuh telinga Ayu.
Ayu mengangguk pelan. "I-iya."
Alex menarik diri menjauh dari Ayu. Dia berdiri tegap dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya melembut lagi, senyumnya pun telah melengkung indah.
"Ayo buat kontrak seumur hidup. Pasalnya cuma satu, 'tidak ada perceraian', bagaimana?"
Pikiran Ayu dipenuhi tanya, dia tidak pernah menyangka bahwa pernikahannya dengan Alex adalah pernikahan dalam arti yang sesungguhnya. Dari awal dia setuju menikah demi bayinya. Selain itu, dia juga sudah menyerah pada pernikahan sejak Arya meninggalkannya.
"Ko-kontrak macam apa itu?" protes Ayu gugup karena tatapan Alex.
"Mau atau tidak sama sekali?"
Tentu saja Ayu tidak akan pernah menerima kontrak gila itu. Bagaiman jika nanti dia ingin berpisah dengan Alex dan harus terima ya dengan kontrak bodoh itu?
"Kamu pikir aku bodoh, penjahat kelamin kayak kamu mau hidup sama aku, Big No!"
"Penjahat kelamin? I'll make you addict to 'it', Babe!" goda Alex dengan satu mata mengedip.
"Dasar gila!"
Tingkah menyebalkan Alex jumat lagi. Tidak, bagi Ayu dia memang menyebalkan setiap saat. Entah dosa apa yang telah dia perbuat sehingga mendapat hukuman semacam ini? Ah, dosanya hanya dua gelas vodka bodoh itu, dan membuatnya berakhir di neraka dunia yang sepertinya tidak berujung.
Diantara banyaknya kemungkinan yang terjadi malam itu, dia harus berakhir terjebak di dalan ikatan pernikahan dengan lelaki super brengsek dan jahil. Setidaknya, Ayu tidak berakhir di tangan preman yang mungkin akan menjualnya atau memanfaatkannya lebih parah dari Alex.
"Jangan terlalu dipikirkan! Aku tau kamu sudah tidak sabar, tapi tahan dulu, kita masih ada party nanti malam."
"Emang, aku udah tidak sabar mau jadiin kamu lauk. Dasar mesum!" Segala pikiran tentang bagaimana mengolah Alex menjadi makanan terpikirkan oleh Ayu; mulai dari memasukkannya di mesin penggilingan seperti salah satu adegan di film Kingsman: Gold Circle; atau bisa juga memutilasinya dan menjual organ-organnya.
Ayu sama sekali tidak memiliki bakat menjadi psikopat, mengingat dia takut darah. Namun jika itu Alex, dia bahkan mungkin akan meminum darahnya. Lelaki itu selalu berhasil membuat darahnya mendidih dan terpompa naik hingga di ubun-ubun.
Alex terkekeh. Dia tampak puas setelah memancing amarah Ayu. Meskipun tahu bahwa membuat Ayu emosi tidak baik untuk janinnya, Alex tidak bisa menahan diri. Baginya melihat wajah marah Ayu adalah hal yang sangat menyenangkan.
"Brengsek, Penjahat kelamin, Gila, Mesum, aku suka semua panggilan sayangmu itu, Babe!" aku Alex sambil memanjat suaranya selembut mungkin.
"Don't Babe me, aku tidak suka panggilan bodohmu itu!" teriak Ayu.
"Perempuan kalo suka memang selalu bilang tidak suka. I see, gengsi tinggi itu bagus, bikin penasaran." Alex menggoda lagi.
Suara bel mengganggu keseruan. Alex meringis sekilas, padahal dia sedang sangat asyik mengerjai Ayu. Tetapi dia tahu siapa yang datang, sehingga dia memutuskan untuk meninggalkan kesenangannya untuk sejenak.
"Aku tidak akan lama, tahan dulu, yah!" kata Alex sebelum berlalu sambil terkekeh.
"Tidak usah kembali kalo perlu!" teriak Ayu.
Dari luar kamar terdengar teriakan dari Alex, "Itu kamarku, Sayang!"
Tatapan Ayu mengedar ke segala penjuru. Benar, ini kamar Alex, hampir saja dia lupa. Dia juga baru ingat alasan dia masuk ke tempat ini, untuk mencari tasnya.
__ADS_1