Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Baby Sitting


__ADS_3

Alex menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Ayu. Perempuan itu sudah pulas beberapa menit yang lalu setelah menangis. Mungkin karena pengaruh hamil, sehingga dia tiba-tiba menangis tanpa sebab saat mulai berbaring.


Alex yang tadi tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memberi dekapan. Saat dia bertanya kenapa Ayu menangis, perempuan itu hanya menggeleng dan berkata tidak tahu. Aneh, kan?


Tadinya Ayu memang menolak untuk menginap di hotel itu lagi. Namun, dia terlalu lelah hingga setuju dengan Alex untuk menginap lagi.


Alex masuk ke kamar mandi untuk bebersih sekalian mengganti pakaiannya. Setelah selesai dia berbaring di samping Ayu. Melingkarkan lengannya di pinggang perempuan itu, menempelkan dagunya di cekungan lehernya. Dia suka aroma tubuh Ayu, manis dan adiktif. Dia melengkungkan senyum sambil memejamkan mata. Tidurnya pasti pulas malam ini.


Ayu menggeliat, matanya terbuka sedikit dan tertutup kembali karena tak terbiasa dengan cahaya yang menyilaukan. Dia menggeliat lagi merasakan beban di beberapa bagian tubuhnya serta rasa hangat yang tak biasa. Dia ingin berbalik namun tidak bisa bergerak. Dia menatap ke bawah setelah kesadarannya utuh. Tangan Alex sedang melingkar di pinggangnya dan kaki lelaki itu berada di atas betisnya.


Ayu menyikut Alex dengan sisa tenaganya berharap lelaki itu segera bangun. Dia harus ke kamar kecil untuk menuntaskan hajatnya, dan pelukan Alex menghalanginya.


"Alex!" pekik Ayu, namun tidak ada respon. Yang bisa Ayu rasakan hanya hembusan napas teratur darinlekaki itu.


Biasanya Alex selalu bangun lebih awal, sudah jam 7 pagi dan lelaki itu belum bangun juga. Kalau saja dia tidak bernapas, mungkin Ayu akan menyangka Alex sudah mati.


"Alex!" ucap Ayu frustrasi, "aku kebelet, Alex!"


Alex merasakan tubuh Alex mulai menjauh. Lelaki itu berbalik dan memeluk kekosongan. Ayu segera memanfaatkan kesempatan itu untuk segera ke kamar mandi.


Dengan perasaan lega, Ayu keluar dan mendapati Alex telah duduk di pinggir ranjang. Lelaki itu mengucek kedua matanya, berusaha menyatukan tubuh dan jiwanya setelah semalam mengembara.


"Mor-ning!" sapa Alex dengan suara lemah.


"Ehm," balas Ayu singkat.


Alex melangkah menuju kamar mandi dengan langkah sempoyongan. Dia harus segera mencuci muka agar segar.


Ayu mulai mengemas barang-barangnya lagi, semalam saat mencari pakaian ganti dia membongkar koper itu lagi. Baju kotor Alex tersampir di kursi, baju itu yang Alex kenakan kemarin. Sebelum mengemas semuanya, dia mengeluarkan satu set pakaian yang akan digunakan oleh Alex untuk pulang.


Untung saja Lelaki itu menyiapkan banyak pakaian, jadi mereka tidak bingung harus mengenakan yang mana. Sebuah tangan melingkar di pinggangnya diikuti oleh tangan yang satu lagi, dagu lancip bertengger di pundaknya, tentu saja itu Alex sehingga dia tidak kaget lagi.


"Aku masih ngantuk," ucap Alex, "bagaimana kalo kita tidur lagi."


Ayu melepas tangan Alex. "Tidur saja sendiri, aku mau pulang."


"Aduh!" Alex meringis saat dia mencoba memeluk Ayu namun disikut keras.


"Aku harus jaga Zahra hari ini," kata Ayu membuat Alex membelalak.


"Maksudnya?"


"Aku sudah janji sama Mas Bima buat jaga Zahra, dia ada acara kantor sama Mbak Dita,"


"Ya sudah, kita pulang."


"Kamu di sini saja dulu, Zahra itu rewel. Takut kamu terganggu, apalagi nanti malam kan kamu harus kembali ke Singapura," ucap Ayu menarik koper untuk keluar dari kamar, "aku bisa pulang pake taxi."


Alex melingkarkan lagi kedua tangannya di pinggang Ayu.


"Sebagai calon ayah yang baik, mana mungkin aku ngeluh menjaga anak bayi. Sekalian belajar buat jaga anak kita nanti," bisik Alex di samping telinga Ayu.


Ayu melepas kedua tangan Alex lagi. Dia berbalik dan menatap Alex.


"Terserah kamu kalo begitu. Awas kalo kamu mengeluh!"


Alex menggeleng. "Asal kamu tau aku Reyhan lahir saat aku berumur 12 tahun, aku dulu sering ikut menjaganya. Reina lahir saat aku berusia 15 tahun. Saat usia 20 tahun, Ben-- adikku dari Daddy lahir, dan bukan lalu aku punya adik perempuan lagi, Eden."


Ayu menaikkan satu alisnya. Dia sudah mendengar kerumitan keluarga Alex, namun mendengar dia menyebut satu persatu adik-adiknya membuat itu terdengar semakin rumit.


"Apa kamu yang mengasuh mereka?"


Alex menggeleng. "Tentu saja tidak."


Ayu mendengus kesal. "Jadi untuk apa kamu mention satu-satu kalo ternyata kamu emang nggak pernah urus bayi."


"Supaya kamu tau kalo saudara iparmu masih kecil-kecil semua," jawab Alex dengan senyum lebarnya.


"Jangan-jangan salah satu dari mereka sebenarnya anak yang kamu sembunyikan, Ben, misalnya!"


Alex berjalan keluar menarik koper yang telah dikemas oleh Ayu. Ayu mengekor di belakangnya.


"Kalo aku punya anak untuk apa disembunyikan, aneh-aneh saja," celetuk Alex, "kan aku sudah bilang, aku cuma mau punya anak dari satu orang perempuan. Keluargaku sudah cukup rumit, aku tidak berniat untuk menambah kerumitan itu."


Tatapan Ayu terkunci pada wajah rupawan yang sedang tersenyum, namun matanya menyimpan luka. Dia sangat tahu bahwa sampai sekarang lelaki itu masih terluka. Entah dorongan dari mana, dia melangkah mendekat dan memeluk Alex dari belakang.


"Apa sesakit itu?" tanya Ayu di balik punggung Alex.


"Ya, dulu," jawab Alex mengelus tangan Ayu yang berada di pinggangnya, "sekarang tidak lagi."


Tidak, Ayu tidak percaya bahwa pengakuan Alex. Kalau memang dia tidak lagi merasa sakit, mengapa Ayu melihat luka di matanya?

__ADS_1


"Let it go? Tidak ada gunanya terus mengingat masa lalu," lirih Ayu, "bahkan jika mereka masih bersama, tanpa ada cinta lagi, apa kalian akan bahagia. Kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti itu."


Alex melepas tangan Ayu dan berbalik menatap perempuan itu. Tangannya menggenggam tangan Ayu sambil menggeleng.


"Pernikahan tidak sellau tentang cinta, Sayang," ucap Alex, "jika hanya mengandalkan cinta, tidak akan ada pasangan yang bertahan, bukan?"


Sejenak Ayu berpikir, dia mengangguk pelan setuju pada ucapan Alex. Dia menatap Alex dengan bibir bawah yang digigit.


"Pernikahan adalah ikatan yang sangat suci bagiku, bukan sesuatu yang harus berpatokan pada cinta," tambah Alex, "tidak ada yang menjamin apa yang terjadi jika orang tuaku tidak bercerai. Tapi satu yang pasti, aku tidak akan merasa iri sehingga memupuk dendam setiap hari. Kalau saja merek tidak bercerai, aku tidak perlu merasakan sepi yang kadang aku pikir tidak berujung."


Ayu merasakan genggaman Alex mengerat. Lelaki yang dia kenal penuh semangat, jail, kuat, tampak hilang. Di balik senyum indahnya ada luka dalam yang mungkin tidak bisa terobati.


Selama ini Ayu diberkahi dengan keluarga harmonis yang membuatnya tidak pernah merasa kesepian. Air matanya mulai menetes, dia seakan bisa merasakan luka itu.


"Tidak apa-apa," ucap Alex menarik Ayu dalam pelukannya, "aku sudah memilikimu dan anak kita sekarang."


Ayu mengangkat tangannya dan ikut melingkarkannya di punggung Alex. Dia menempelkan pipinya yang basah di dada Alex. Ya, tidak apa-apa sekarang, dia ada di sampingnya.


***


Alex berlari cepat membuat susu formula untuk Zahra. Bayi itu baru bangun dan dia lupa membaut susu untuknya. Dia tadi berbaring karena lelah menggendong bayi cantik itu, dan ketiduran.


"4 sendok susu, airnya 200 gram," gumamnya sambil membuat susu.


Alex tadi menyuruh Ayu untuk beristirahat karena tidak ingin isterinya yang sedang hamil muda itu kelelahan. Saat Zahra mulai rewel, dia tidak enak membangunkan perempuan itu.


Suara tangis Zahra membesar, sehingga Alex cepat berlari lagi menuju bayi itu berbaring. Dia mengangkat bayi itu di gendongannya  dan mulai memberi dot. Sayang, bayi itu justru semakin menangis.


Alex panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Untung saja Ayu muncul dengan cepat dan meraih Zahra.


"Zahra Sayang, cup-cup, Sayang," Ayu menimang Zahra di gendongannya, "kenapa dia nangis kayak gini?"


Alex menggeleng pelan. "Ini susunya!"


Ayu menggeram saat meneteskan susu buatan Alex di kulitnya. "Susunya panas Alex, pantas Zahra menangis!" omel Ayu.


Alex memiringkan wajahnya sedikit. "Perasan tadi sudah tidak panas."


Ayu mendesis jengkel mendengar ucapan Alex. Dia terus mencoba menangkan Zahra agar diam.


"Kulitmu sama kulit bayi beda, Alex!" geram Ayu setelah tangis Zahra mereda, "susunya rendam air dingin di mangkok, Zahra udah kelaparan."


Alex meraih botol susu itu dan masuk untuk mengikuti perintah Ayu. Dia mengambil mangkuk dan mengisinya dengan air, lantas meletakkan botol susu itu di dalamnya. Dia kembali keluar membawa mangku itu.


Ayu mengangguk.


Setelah sekitar sepuluh menit, Ayu meraih botol itu dan mulai menyusui Zahra. Alex hanya memperhatikan bayi yang lahap menyapi.


"Kamu hampir bunuh anak orang!" rutuk Ayu, "katanya jago? Calon ayah yang baik? Batu setengah hari aja kayak gini. Aku kan tadi bilang, kalo Zahra udah tidur buatin susu, buat kalo bangun susunya udah dingin dan siap untuk diminum."


"Tadi aku capek, Zahra minta gendong terus, jadi aku baring di sofa dan ketiduran," aku Alex.


"Intinya kamu belum bisa jadi ayah yang baik, belum bisa urus anak!" imbuh Zahra.


"Namanya Barus belajar, Sayang. Sekarang kan aku sudah tau, jadi sudah bisa kasih ayah yang baik," tutur Alex.


Alex mengambil Zahra dari gendongan Ayu setelah bayi itu kembali ceria. Dia bermain dengan bayi yang mulai berdiri itu.


"Kamu kentut, huh?" tanya Alex pada Zahra dan dibalas tawa riang bayi itu.


Alex mencium pantat bayi itu dan langsung menjauh saat mencium bau tak enak. Alex menatap Ayu yang sedang berbaring menonton televisi. Dia sendiri yang maksa Ayu untuk beristirahat, maka dia harus menerima konsekuensinya. Dia tadi sudah mengganti popok Zahra dengan dampingan Ayu, karena popok bayi itu sudah penuh. Kali ini lebih parah.


"Ayo kita bersihkan," ucap Ayu pada Zahra yang sudah dia baringkan di atas baby bed berbahan plastik.


Alex membuka popok Zahra dan langsung menutup hidung saat aroma kotoran bayi itu menguar. Meskipun jijik, dia tetap melipat popok kotor itu dan meraih tisu basah untuk membersihkan sisa kotoran Zahra. Bayi itu menggeliat sambil tertawa riang. Alex menatap Zahra yang sedang memencet-mencet boneka kecil.


"Kamu asyik bermain setelah membersihkan isi perut, ya? Bayi pintar," celoteh Alex. Zahra tertawa dan bergumam tak jelas khas bayi.


Usai mengganti popok Zahra, Alex juga memutuskan untuk mengganti pakaian bayi itu. Dia juga tadi memberi minyak telon di dada, leher, dan punggung Zahra.


"Ayo kita latihan!" ajak Alex sambil membantu Zahra berdiri.


Alex melepas pelan pegangan tangan Zahra. Dia membiarkan bayi itu berusaha untuk tetap berdiri tanpa bantuan. Alex kegirangan saat melihat Zahra mulai bisa berdiri, sayang, sekitar lima detik dia langsung terjatuh. Bayi itu tertawa dan mulai merangkak mendekat pada Alex.


"Merangkak lebih mudah, kan?" kata Alex, "tapi kamu tidak boleh menyerah, oke!"


Alex  membantu Zahra untuk berdiri lagi, dan melepasnya dengan pelan. Kali ini Zahra langsung menjatuhkan dirinya ke depan, sehingga lututnya mendarat lebih dulu. Untungnya lantai sudah dilapisi dengan busa yang ramah untuk bayi, sehingga jatuh berkali-kali pun tidak akan menyakiti Zahra.


Bayi itu tertawa dan merangkak lagi. Alex tidak mau menyerah, dia sudah bertekad agar Zahra berdiri.


"Ayo kita coba sekali lagi!" ucap Alex, "Zahra pasti bisa."

__ADS_1


Alex terus memberi semangat pada Zahra, seakan bayi berumur 8 bulan itu mengerti ucapannya. Sekali lagi, Zahra langsung menjatuhkan tubuhnya dan mulai merangkak lagi sambil tertawa.


Alex menatap Zahra dengan kepala di miringkan. Dia memanggil Ayu yang asyik menonton.


"Sayang!" panggil Alex, "aku pikir Zahra sedang mempermainkanku," lanjut Alex saat Ayu berbalik menatapnya.


Ayu turun dari sofa dan mendekat pada Zahra yang terus merangkak memutari Alex.


"Maksudnya?" tanya Ayu yang duduk di samping Alex.


"Coba lihat!" Alex membantu Zahra berdiri dan sama seperti tadi saat dilepas bayi itu langsung menjatuhkan diri dan merangkak ambil tertawa.


"Dari tadi dia kayak gini terus," ungkap Alex.


"Namanya juga bayi, dia lagi main itu," tutur Ayu.


"Main?" Alex bingung.


"Iya, pikiran bayi itu cuma makan, tidur, dan main. Nah sekarang, dia lagi main," tambah Ayu.


"Ah, dia ada baby Walker, kan tadi?"


Ayu mengangguk. Sementara, Alex langsung berdiri dan berjalan mengambil kereta yang bakal digunakan bayi untuk belajar berjalan.


"Ayo kita main yang lebih seru!" ucap Alex sambil menaikkan Zahra ke atas baby Walker


Alex berlari-lari kecil dengan Zahra yang mengejarnya menggunakan baby Walker. Alex tertawa sambil menatap Zahra yang juga tertawa riang mengejarnya.


"Hohoho, Catch me of you can!" kata Alex meniru suara kakek-kakek.


Zahra semakin tertawa dan terus mengejar dengan semangat.


"Hohoho, you've to be faster!" canda Alex lagi.


Ayu yang melihat kedua orang itu bermain tersenyum puas. Dia memang sedang orang enak badan, mungkin bawaan hamil, padahal sudah beberapa hari dia sudah bebas dari morning sick dan rasa lelah. Sepertinya tubuhnya baru bereaksi setelah beberapa hari sibuk mengurus pernikahan.


Suara bel berbunyi, membuat Ayu melangkah untuk membuka pintu. Dia menatap Bima dan Dita yang sudah datang untuk menjemput Zahra.


"Kenapa cepat sekali datangnya?" tanya Ayu heran karena mengira mereka baru pulang saat malam.


"Aku nggak enak ganggu pengantin baru," aku Dita, "wah, Zahra sepertinya senang main sama Alex," lanjut Dita menatap Alex dan Zahra yang kejar-kejaran.


"Papa datang!" seru Bima mendekat pada bayinya.


Zahra berbalik untuk melihat siapa yang datang. Bayi itu mengenali ayahnya, dia langsung putar balik dan  melangkah dengan baby walker-nya menuju Bima. Bayi itu tertawa sambil menekuk lututnya berkali-kali dengan semangat melihat Bima.


"Oh, anak papa," ucap Bima mengangkat Zahra.


"Kamu sudah tidak mau main sama Papa Alex?" tanya Alex dengan wajah murung palsunya.


Zahra tertawa dan melompat-lompat di gendongan Bima. Dia memukul-mukul di udara.


"Maaf ya, sudah merepotkan," ucap Bima pada Alex.


"Tidak apa-apa, aku senang menjaga Zahra," balas Alex.


"Selama inj Mas nggak pernah bilang terimakasih sama aku, padahal aku sering jaga Zahra," sergah Ayu.


"Kamu kan digaji," ujar Bima.


Ayu menatap Alex. "Minta gaji juga, Lex!"


"Waduh, digaji pake apa?" Dita membalas dengan wajah bingung.


"Dengan uang lah, Mbak," ucap Ayu.


Alex memilih tidak berkomentar, karena tahu itu hanya candaan.


"Dompetku malu kalo harus gaji bos besar kayak Alex," ujar Bima.


Alex menggeleng-geleng tak enak mendengar perkataan Bima.


"Nggak usah di kasi ke Alex-nya. Alex tidak suka digaji, isterinya yang suka," celetuk Ayu.


"Isterinya Alex matre, maksudnya?" ejek Bima.


Alex tertawa. Mereka sempat bercanda singkat, sebelum mengantar  keluarga kecil itu sampai di teras. Alex mencium pipi Zahra yang bersandar di pundak Bima.


Alex dan Ayu melambai pada Zahra. Alex tidak pernah dekat dengan bayi, tetapi, dia sangat menyukai Zahra. Bayi itu sangat ceria dan mudah tertawa. Dia jadi membayangkan selucu apa anaknya kelak.


**

__ADS_1


😊😊😊


Aku lambat Up-nya, semoga bisa lebih cepat.


__ADS_2