Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Hakikat Pernikahan (part 2)


__ADS_3

Alex mondar-mandir di depan sofa. Sudah lewat jam sepuluh malam, dan Ayu belum ada di rumah sampai sekarang. Saat dia landing dari pesawat dua jam yang lalu, dia sudah mengubungi Ayu dan perempuan itu mengaku sudah meninggalkan mall dari tadi. Padahal, dia baruvpulanh setelah empat hari, seharusnya Ayu ada di rumah dan menyambutnya.


Tidak lama, mobil Ayu terdengar memasuki halaman rumah. Alex segera keluar. Dia berdiri di depan pintu sambil bersandar di pintu itu. Ayu turun dari mobil dengan satu paper bag dan tas tangan.


Ayu memberi seulas senyum pada Alex dan langsung masuk setelah lelaki itu geser sedikit untuk memberi ruang. Alex mengekor di belakang Ayu, dia sudah mengharapkan sebuah pelukan dari isterinya.


"Aku capek banget," keluh Ayu yang sudah selonjoran di sofa, "katanya tadi mau pijitin."


"Apa sekarang pekerjaanku bertambah jadi tukang pijat?" tanya Alex, dia mencoba mengingat sejak menikah dia bukan hanya menjadi sopir, dia juga koki sekaligus pengasuh Ayu. Namun, tak apa, dia bisa melakukan hal lebih untuk Ayu yang sedang mengandung anaknya. Dia hanya berharap bahwa seorang ayah mendapatkan rekognisi atas kesabaran dalam mengahadapi isteri yang mengandung.


"Kamu 'kan suami serbaguna," jawab Ayu.


"Memangnya bumbu, serbaguna?


"Jadi, kamu tidak mau?" tanya Ayu dengan nada mengancam.


Alex tersenyum sembari duduk di sofa. Dia meletakkan kedua betis Ayu di pahanya. Perempuan itu sedang hamil, setelah berjalan lama di mall pasti kakinya sangat pegal.


"Kamu tidak pake heels lagi, 'kan?"


Ayu menggeleng, di tangannya ada remot TV. Dia menikmati pijatan Alex di kedua betisnya dan juga acara musik di salah satu siaran musik. Acara itu memutar lagu tahun 90-an, salah satu lagu Britney Spears. Ayu suka lagu itu sehingga dia ikut bersenandung.


"Show me how you want it to be


Tell me baby cause I need to know now, oh because...," Ayu iku menyanyi, bahkan sampai di nada tinggi. Alex hanya ikut mendengar sambil teru memijat.


"My lonliness is killing me!" Suara Ayu mengeras.


"And I." Alex ikut bernyanyi menjadi backing vocal.


Ayu terkekeh pelan dan tetap lanjut bernyanyi meski tertinggal beberapa kata. "... I still believe."


"Still believe." Alex sang backing vocal terlihat sangat menghayati lagu itu.


"When Iam not with you I lose my mind. Give me a sign...." Ayu semakin menghayati lagu itu, "hit me, Baby, one more time!"


Alex terkekeh, lantas memicingkan mata pada Ayu. "Penghayatannya sangat bagus, jangan-jangan kamu sedang mengungkapkan perasaan padaku ya, Sayang!"


Ayu yang masih sibuk bernyanyi langsung mengatupkan bibirnya, kantas Satu sudut bibir atasnya terangkat. "Ngareepp!"


"Tidak usah malu. Siapa tau selama beberapa hari ini kamu sangat merindukanku," ujar Alex, "Karena aku jujur saja sangat merindukanmu," ungkapnya.


Ayu langsung tersenyum simpul, tetapi segera dia ganti senyum itu dengan cibiran, "gombal aja terus!"


"Aku jujur, Sayang! Tidak pake gombal-gombalan," sangkal Alex yang tangannya Tidka lagu memijat Ayu.


"Kenapa berhenti!" protes Ayu.


"Maaf," ucap Alex yang meletakkan dua tangannya di betis kiri Ayu, "see, aku bahkan mau memijit meskipun aku masih jetlag."

__ADS_1


"Oh, kamu mulai perhitungan?" todong Ayu.


Alex segera menggeleng. "Ti-tidak!"


"Bagus," puji Ayu, "kamu memang suami siaga."


Ada buku di meja yang menarik perhatian Ayu. Sampul buku itu berisi gambar kemeja kotak-kotak berwarna merah.


"The Expectant Father," baca Ayu, "ini bukumu?" Dia mengangkat buku itu.


"Iya," jawab Alex sembari mengangguk kecil, "aku sudah beli dua buku lanjutnya. Aku harus banyak belajar supaya bisa menjadi ayah yang baik."


Ayu membuka buku yang isinya berbahasa Inggris. Buku itu berisi banyak panduan untuk calon Ayah, bagaimana mendampingi pasangan yang sedang hamil, dari awal mengetahui kehamilan hingga pemilihan tempat bersalin serta prosesnya, bahkan ada panduan tentang biaya-biaya tak terduga. Sangat lengkap.


"Berdasarkan buku itu, aku sudah mutuskan kalo nanti kamu melahirkan di klinik khusus bersalin yang privat," ungkap Alex.


Ayu hanya angkat bahu, dia sama sekali belum berpikir sejauh itu. Kadang, dia hanya berpikir bagaimana caranya agar dia bisa membesarkan anaknya seorang diri.


"Kamu mau breastfeeding atau sufor, Sayang?" tanya Alex.


Ayu berpikir sejenak, memikirkan bahwa dia akan menyusui membuatnya bertanya-tanya tentang bagaimana rasanya menyusui.


"Apa menyusui bakal sakit ato cuma geli?" tanya Ayu yang mulai kebingungan.


"Aku tidak punya pengalaman menyusui, Sayang," tutur Alex, "aku juga tidak berniat untuk berpengalaman dalam menyusui."


"Aku serius, Lex!" pekik Ayu.


"Menikmati? Kamu gila, ya?"


"Bercanda, Babe!"


"Ih, nggak lucu!"


"Ya sudah, kamu mau praktik sekarang?" tanya Alex yang langsung membuat Ayu mendengus kesal, "aku bisa membantu. Pura-pura jadi bayi juga tidak apa-apa."


Ayu menarik kedua kakinya dari pangkuan Alex. Dia bangkit dan berjalan menuju kamar. Dia tidak akan terpancing oleh ocehan tak bermutu dari Alex.


Alex bersandar di sofa setelag meregangkan punggung dan lengannya. Tangannya pegal setelah memijat Ayu selama hampir tiga puluh menit. Jika dia yamg meminta pada Ayu untuk dipijat, perempuan itu pasti akan menolak dengan berbagai alasan. Dasar tidak romantis, untung Alex sayang.


Paper bag kecil yang berisi belanjaan Ayu mengusik pikiran Alex. Berdasarkan jumlah belanjaan yang digunakan Ayu, perempuan itu pasti tidak hanya membeli satu barang saja. Pemberitahuan yang masuk di HP Alex, Ayu berbelanja di dua toko yang berbeda. Kalau untuk makanan, Alex tidak terlalu memusingkan.


Alex mengerutkan kening saat melihat paper bag itu hanya berisi satu flat shoes yang harganya sangat jauh dari jumlah yang digunakan oleh Ayu. Apa mungkin masih ada barang di mobil yang terlupa oleh Ayu?


***


"Apa?" pekik Alex, "kamu bayarin belanjaan Mami, sementara kamu hanya belanja sepatu murah itu?"


"Aku nggak lagi kepengen beli apa-apa. Kebetulan Mami suka sama Sling bag dan sekalian beli buat Reina." Ayu memberi alasan, "lagian pelit banget, sama mami sendiri juga."

__ADS_1


Alex menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Bukan masalah uang, tetapi dia hanya tidak suka saat Ayu membayar untuk belanjaan Mami sementara dia sendiri hanya membeli sepatu biasa. Lagipula, uang segitu bukan apa-apa buat Mami.


"Masalahnya uang suaminya Mami lebih banyak daripada suamimu ini." Alex memberi alasan.


"Kamu mau jadi anak durhaka. Uang segitu saja bisa kamu habiskan dalam sehari, daripada harga jam tanganmu uang yang kupake buat bayar tas Mami dan Reina bukan apa-apa," cecar Ayu.


Alex menatap Ayu dengan gusar. "Pokoknya, aku mau kamu belanja untuk diri sendiri. Mami punya suami sendiri yang bisa memenuhi kebutuhannya."


Ayu tiba-tiba menunduk, dia mengingat pembicaraannya dengan Marissa, saat setelah akad nikah, saat resepsi, juga tadi saat di Mall. Melihat Alex sekarang, dia bisa tahu bahwa lelaki itu tidak hanya takut pada strawbery dan air, dia juga takut pada perceraian.


"Kamu juga antar Mami pulang, 'kan? Kamu ini lagi hamil, kandunganmu masih muda, tidak boleh menyetir terlalu lama. Mami punya sopir," omel Alex.


Rasa iba menyeruak di dalam hati Ayu. Apa Alex begitu sakit saat orang tuanya bercerai sehingga setelah dua puluh tahun berlalu dia belum bisa memaafkan mereka? Kalau Ayu di posisinya, mungkin dia akan marah, tetapi setelah apa yang Ayu lalui, dia mengerti bahwa segala sesuatu tak mesti berjalan sesuai yang diinginkan.


"Apa kamu membenci Mami sama Daddy-mu karena mereka bercerai?" tanya Ayu yang langsung membuat Alex keheranan karena melenceng terlalu jauh dari pembahasan mereka, "itu sebabnya kamu tidak ingin bercerai, 'kan?"


Alex terdiam. Dia memalingkan wajah, tak mau menatap Ayu. Jika dia mengingat kilas balik masa kecilnya, ya, dia masih marah pada orang tuanya yang begitu egois. Namun, dia sudah berdamai dengan masa lalunya, meski ada banyak hal yang tidak bisa diubahnya.


"Bahagia tidak harus bersama, Lex. Untuk apa bersama kalo mereka sudah tidak saling mencintai dan berakhir saling melukai?" terang Ayu dengan harapan Alex akan mengerti, "mereka pasti punya alasan. Tidak akan ada bahagia dan kehangatan di dalam rumah tangga tanpa cinta, 'kan?"


Ayu menjelaskan panjang lebar. Perempuan itu ingin Alex berdamai dengan masa lalunya, menerima kenyataan dan kembali akrab dengan orang tuanya.


Alex tersenyum kecil, bukan senuah senyuman manis tentunya, lebih mirip cibiran. Dia tidak membenci orangtuanya, dia menyayangi mereka, hanya saja dia tidak tahu cara mengekspresikan rasa itu.


"Sayang--," Alex meraih satu tangan Ayu dari dalam selimut, "cinta itu hanya sekedar ornamen dalam sebuah rumah tangga, selama pondasinya kokoh, maka akan tetap kokoh, tidak peduli ada ornamen atau tidak. Benar, aku benci perceraian karena mereka, tapi bukan berarti aku membenci mereka. Membenci perbuatan seseorang tidak mesti membenci orangnya."


Ayu menunduk merasa bersalah atas penilaiannya. Dia tidak mengerti sedikitpun tentang Alex. Dia hanya mencoba menyimpulkan sesuatu dari apa yang dilihatnya.


"Kamu tau kenapa merek bercerai?" tanya Alex yang sebenarnya Tidka meminta jawaban dari Ayu sama sekali, "karena mereka merasa sudah tidak cocok dan merasa terlalu berbeda. Mereka sibuk dengan dunia masing-masing. Kadang saat mereka pulang bersamaan, mereka tidak menyapa sama sekali. Aneh, 'kan?"


Ayu berbalik menatap Alex yang sedang menunduk. Di dalam kamarnya yang minim pencahayaan, dia memang tidak bisa melihat air mata Alex, tetapi dia bisa mendengar suara parau lelaki itu. Luka itu sepertinya masih bersarang di hati Alex.


"Pernikahan tidak berjalan karena cinta, melainkan komitmen. Kira-kira apa yang kamu lakukan saat tanganmu berdarah?"


"Eh?" Ayu mendadak kebingungan mendengar pertanyaan Alex, tetapi dia berusaha menjawab, "bi-biasnya langsung aku isap."


Alex tekekeh, meski suaranya masih parau. "Yang pasti akan menghentikan pendarahannya 'kan?"


"I-iya, tempelin plester luka atau diperban kalo memang parah," tambah Ayu.


"Kalo tangan terluka harusnya diobati, bukan dipatahkan. Sama dengan pernikahan, kalo bermasalah diselesaikan masalahnya, bukan langsung menyerah dan bercerai." Alex menganalogikan, "jalan tidak selalu mulus, Yu, dan kadang disitulah gunanya pasangan. Saling bergantung dan menguatkan satu sama lain."


Alex tahu bahwa orangtuanya bercerai karena satu alasan yang besar. Namun, tetap saja bercerai adalah keputusan yang sangat egois. Mereka lupa bahwa ada Alex di tengah-tengah mereka, bahwa ada Alex yang terluka karena keputusan mereka.


Ayu mendekat pada Alex dan merangkul lengannya. Kepalanya bersandar di pundak Alex. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alex dulu, dia masih kecil dan harus menanggung luka yang sangat dalam.


"Maaf, aku tidak tahu kamu sangat terluka karena perceraian mereka," bisik Ayu.


"Tidak, aku yang minta maaf karena membuatmu ikut masuk dalam kehidupanku yang rumit," balas Alex, "aku harap kamu bersedia terjebak seumur hidup denganku."

__ADS_1


Ayu tersenyum dan mengangguk pelan. Kali ini dia menempelkan kepalanya di dada Alex setelah lelaki itu menariknya dalam pelukan. Alex suka hangat dan aroma tubuh Alex, perlakuan manisnya, masakannya, bahkan sikap jahilnya. Terjebak seumur hidup dengan lelaki seperti Alex bukan ide yang buruk. Lelaki serbaguna sepertinya sudah langka, itu sebabnya harus dibudidayakan dengan baik.


***


__ADS_2