
****
Alex mengacak rambut Ayu. "Tidak usah dijawab, I'll show you!"
Tidak suka rambutnya diganggu, Ayu memukul tangan Alex.
"Yu, aku sebenarnya mau minta maaf," ucap Alex sambil menggenggam satu tangan Ayu dengan kedua tangan.
"Lepas!" Ayu menarik kasar tangannya.
Dia bukannya tidak suka tangannya digenggam oleh Alex, hanya saja ada sesuatu yang aneh dalam dirinya setiap kali kulitnya menyentuh kulit Alex. Dia tahu perasaan itu bukan pertanda yang baik dan hanya akan meninggalkan kecewa dalam dirinya.
Ayu harus selalu sadar bahwa Alex bukan miliknya. Dia tidak boleh terbiasa dengan sentuhan adiktif lelaki itu. Alex hanya sementara di hidupnya, mereka akan berpisah cepat atau lambat.
"Maaf? Apa itu bisa merubah keadaan?" tanya Ayu sarkastik.
Kata maaf bukanlah hal penting lagi untuk Ayu, karena maaf tidak bisa mengembalikan apa yang telah Alex renggut darinya.
"Jangan salah paham! Aku tidak akan pernah meminta maaf untuk malam indah yang kita lewati," ungkap Alex sambil mengedipkan satu mata pada Ayu.
Perempuan itu bergidik ngeri, dan spontan meraih bantalan kursi untuk dilemparkan ke wajah Alex.
"Dasar brengsek!"
"Brengsek, kamu bilang?" tanya Alex dengan suara berat. "Aku bisa lebih brengsek lagi, kalau mau." Alex melanjutkan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu.
Mata Ayu membesar. Jarak wajah Alex yang sangat dekat dari wajahnya membuat dia seakan kehilangan oksigen. Dadanya bergemuruh beradu dengan retakan jantungnya. Hembusan napas Alex mengacaukan inderanya. Mata hazel yang melumpuhkan saraf Ayu -- membuat betisnya seperti jeli.
Tidak tahan dengan penglihatannya, Ayu menundukkan sedikit tatapan. Sialnya, dia terpaku pada bibir merah Alex sehingga semakin melemas. Dia masih ingat beberapa malam yang lalu, saat dia menempelkan bibirnya di bibir itu -- sangat lembut dan sejujurnya Ayu sangat suka.
Ayu benar-benar merasa sebagian sukmanya telah melayang setelah Alex meletakkan kedua tangannya di pipinya.
"Apa yang kamu pikirkan, huh?" tanya Alex dengan suara pelan yang hampir bisa disebut sebagai bisikan.
Ayu terdiam dan berusaha membuat napasnya normal kembali.
"Jangan bilang kamu juga sedang berpikiran brengsek sepertiku?" Lanjut Alex.
Meski pikiran Ayu sedang kacau karena pesona Alex, tetapi dia masih memiliki sedikit perisai untuk bertahan. Dengan cepat dia mendorong Alex menjauh, meski kekuatannya tak seberapa.
"Ini your dream!" bentak Ayu.
Alex menarik diri menjauh dari Ayu. Dia menyandarkan kepala, satu alisnya dinaikkan untuk berpikir sejenak.
"Sepertinya hal brengsek itu memang menghantui mimpiku beberapa malam terkahir ini," ungkap Alex dengan santai.
Mulut Ayu terbuka sedikit, tidak menyangka akan mendengarkan pengakuan gila Alex.
"Euww, jorok tau!"
Alex mencibir. "Jorok apanya? Hal itu wajar bagi lelaki yang sangat normal sepertiku."
"Normal? Yang ada mesum."
"Eh, aku masih ingat kamu sangat menikmati hal mesum itu, Sayang!" goda Alex.
Ayu mulai geram dengan perkataan Alex. Lelaki itu benar-benar sesuatu, setelah melakukan kesalahan tanpa penyesalan sedikit pun. Dia berdiri dan berlipat tangan.
"Jangan pernah berani mendekat dariku lebih dari dua meter!" Ayu menekankan.
Daripada terus berdebat dengan Alex, Ayu lebih baik beristirahat mengingat besok dia akan sangat sibuk -- mengurus kerjaan dan juga untuk pernikahannya yang harus dia lakukan demi keluarganya. Dia melangkahkan kaki dengan cepat, dan berhenti setelah mendengar langkah kaki yang mengikutinya.
Ayu berbalik dan menatap tajam ke arah Alex yang berdiri dengan senyum dihadapannya. Telunjuknya terangkat dan bergoyang-goyang di udara. "Jangan pernah menginjakkan kaki di kamarku! Atau aku bakal tendang kamu keluar dari rumahku."
Rumah itu adalah milik Ayu, dia yang memegang kendali. Lelaki itu tidak bisa mengintimidasi Ayu di area kekuasaannya.
****
Alex tersenyum puas sambil melirik tumpukan bantal sebagai batas yang tidak boleh Alex lewati. Setidaknya dia berada di ranjang yang sama dengan Ayu. Berbalik sedikit saja, dia bisa melihat punggung perempuan itu. Meluluhkan hati Ayu memang sudah, tetapi bukan hal yang mustahil. Setelah sedikit berusaha dengan sedikit kebohongan dan permohonan, Alex berhasil naik di ranjang wanita itu. Ya, walau harus menerima makian, bahkan kalau saja bisa Ayu sepertinya akan membangun tembok Cina di ranjang itu.
Tidak apa, cepat atau lambat Ayu sendiri yang akan melempar diri untuk Alex.
"Yu, Ayu!"
"Ayu Sayang!"
__ADS_1
Alex terus memanggil dan tak dihiraukan oleh Ayu. Perempuan itu hanya terus merutuki dirinya sendiri yang membiarkan Ayu tidur di sampingnya.
"Udah tidur ya?"
Ayu menggeram frustasi di dalam selimutnya.
"Benar udah tidur?"
Alex tidak menyerah, karena dia tahu Ayu belum tidur.
Ayu menendang selimutnya. Dia bangun dan memilih duduk setelah mencoba menutup mata namun terus dihantui oleh suara Alex.
"Gimana mau tidur kalo kamu ngoceh terus!"
"Aku mau bicara," kata Alex ikut duduk. "Aku belum selesai dengan permintaan maafku tadi."
Ayu mendesah kasar. "Tidak usah, maaf kamu nggak penting!" Kemudian melanjutkan, "biarin aku tidur, aku capek."
"Dengar dulu, ya. Hanya sebentar, nanti aku tidak bisa tidur karena terus kepikiran."
"Bodoh amat Alex! Aku ngantuk," keluh Ayu.
"Ini masalah kesalahpahaman tentang kamu dan Richard."
Kening Ayu mengerut. "Aku dan Richard?"
"Awalnya aku kira kamu dan Richard punya hubungan spesial. Malam itu kamu terus mengeluh dan menyebutku lelaki brengsek pengkhianat."
Ayu mulai mengingat-ingat apa saja yang dia katakan malam itu. Sayang, Tidak satu pun yang tersangkut dalam ingatannya.
"Kamu pikir aku mengkhianati Tamara, begitu?"
Alex mengangguk. "Ya, sempat, setelah kita ketemu di hotel waktu itu."
Ayu menggeleng-geleng tak percaya. "Really?"
"Teman makan teman bukan hal baru. Aku bahkan pernah mengencani pacar temanku saat kuliah dulu," ungkap Alex.
"Apa aku tampak semurahan itu?" tanya Ayu dengan suara keras karena tak terima disamakan dengan Aalex dan perempuan pengkhianat.
Ayu mengelus dadanya untuk menenangkan diri, karena saat ini dia sedang memikirkan bagaimana cara untuk melenyapkan Alex dari muka bumi.
"Setelah kamu merebut pengalaman pertamaku, kamu berani menyamakanku dengan perempuan murahan yang rela merangkak di ranjangmu!" geram Ayu dengan seringai di bibirnya.
"Itu sebabnya aku merasa harus meminta maaf, Ayu." Jelas Alex. "Aku membawa kamu keluar dari pesta Tamara karena mengira kamu akan merusak malam indah Tamara dan Richard."
Ayu memejamkan mata dan mulai memeluk lututnya. Seharusnya dia tidak meminum alkohol, sehingga tidak mengoceh sembarangan. Ah, kalau saja waktu bisa diputar kembali.
"Oh, ya, yang tadi di supermarket Arya, calon suamimu dulu, kan?" tanya Alex.
Ayu terdiam dan masih memeluk lutut sambil menggenggam mengumpat dalam hati.
"Ah, untunglah kamu tidak jadi menikah dengannya. Hampir saja kamu tidak mendapatkan lelaki sempurna sepertiku." Lanjut Alex dengan penuh percaya diri.
Ayu mengangkat kepalanya dan memberikan Alex tatapan horor. Kenarsisan Alex sepertinya sangat akut, sehingga Dia mengatakan hal omong kosong.
"Sempurna ndas-mu!"
"Aku bicara fakta, Yu. Coba sebutkan apa yang kurang dari wajah dan tubuhku!" tantang Alex.
Ayu memalingkan pandang. Dia tidak mau menghabiskan waktu dan memberikan alasan lain pada Alex untuk membanggakan diri.
"Tapi, aku penasaran berapa lama kamu pacaran sama Arya itu?"
"Bukan urusanmu!"
"Setahun? Dua tahun?" Alex terus bertanya.
"Hampir tujuh tahun," jawab Ayu akhirnya.
"Wow, kami harus berterimakasih padaku kalau begitu."
Ayu menatap Alex dengan kedua alis terangkat. Entah alasan apa yang mengharuskan Ayu berterimakasih pada seorang yang telah menghancurkan hidupnya.
"Kalau kamu menikah dengan Arya, kemungkinan besar kamu tidak akan pernah mengandung."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Come on! Kamu tau maksudku apa," kata Alex. "Buktinya selama tujuh tahun kamu masih virgin."
"Arya bukan lelaki brengsek kayak kamu Alex!" bela Ayu.
"Tega sekali kamu, Yang!" ucap Alex dengan suara dibuat mirip seperti anak kecil. "Bagaimana bisa kamu membela mantan kekasihmu daripada suamimu sendiri."
"Suami? Bangun Alex! Aku Tidak akan pernah menganggap kamu suamiku."
Alex tertawa kecil. "Faktanya aku suami kamu dan ayah dari janin yang kamu kandung. Dianggap atau tidak!"
Ayu terdiam. Dia hanya menatap Alex dengan tatapan marah.
"Dia mungkin tidak sebrengsek aku, tapi yang pasti dia pengecut yang lari dari tanggungjawab." Alex melanjutkan dengan suara yang mulai kasar.
"Dia punya alasan," bela Ayu.
Ayu sama sekali tidak berniat untuk membela Arya. Baginya Arya hanya masa lalu yang telah terkubur dalam dalam memorinya. Dia terus membela Arya karena tidak ingin mengalah dengan mudah pada Alex.
"Dia anak broken home," ungkap Ayu "dan dia punya trauma karena kegagalan pernikahan orang tuanya."
Ayu kembali mengingat saat Arya bercerita tantang Ayahnya yang seringkali berbuat kasar padanya dan ibunya -- tentang bagaimana Ayahnya mengkhianatinya dan ibunya. Bagaimana Arya takut akan berakhir seperti Ayahnya.
Alex mencibir, "Kamu pikir aku berasal dari keluarga yang bagaimana Ayu?"
Ayu menelan ludah dengan berat. Sepertinya dia mengangkat topik yang salah.
"Aku memiliki ikatan keluarga yang sangat rumit, dan itu tidak membuatku takut. Justru aku bertekad membuktikan bahwa aku bisa memiliki keluarga yang bahagia, tak seperti orang tuaku."
Ayu bisa melihat tekad di setiap kata yang keluar dari bibir Alex. Dia bisa merasakan bahwa lelaki itu tidak main-main.
"Just say that Im an *******, player or whatever! But im not a coward like your Ex."
"Aku tau," ucap Ayu pelan sambil tertunduk.
Mereka terdiam beberapa saat dan menciptakan suasana hening. Mereka sedang hanyut dalam pikiran masing-masing.
Alex mulai membuka pertanyaan lagi, menghilangkan keheningan di kamar itu. "Melihat kamu terus membelanya, apa jangan-jangan kamu masih sangat mencintainya?"
Alex mencoba untuk tidak peduli dengan perasaan Ayu yang masih mencintai Arya atau tidak, tetapi ada perasaan tidak rela jika Ayu masih memikirkan lelaki lain. Ayu adalah isterinya, dan Alex sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadikan Ayu yang pertama dan satu-satunya dalam hidupnya. Dia ingin mewujudkan impian utamanya dengan Ayu, sebuah keluarga utuh yang bahagia.
Sementara Ayu yang mendengar pertanyaan Alex berpikir sejenak. Sejak dua tahun yang lalu, dia selalu menghindari semua kemungkinan untuk bertemu dengan Arya. Dia bahkan masih merasa sesak setiap kali mendengar nama lelaki itu. Sampai pagi tadi, Ayu masih mengira dia mencintai Arya. Setelah bertemu di supermarket tadi, Ayu meragu.
"En-tah," jawab Ayu ragu.
"Kamu masih marah atau benci karena di meninggalkan kamu?"
Tidak ada rasa sesak, semua sangat biasa, seakan bertemu dengan kenalan lama. Ayu sama sekali tidak merasa marah atau benci saat bertemu lagi dengan Arya.
Ayu menjawab dengan gelengan.
"Sama sekali tidak benci?" tanya Alex untuk lebih meyakinkan jawaban Ayu.
"Tidak, biasa saja. Justru rasanya sangat lega bisa ketemu lagi. Apa karena aku masih mencintai Arya jadi aku tidak bisa membencinya?"
Alex mulai tersenyum. "Kurasa tidak, kamu sudah tidak mencintainya."
Mata Ayu membesar menatap Alex penuh tanya.
"Cinta dan benci itu bukan kata yang berlawanan, mereka itu sejalan. Itu sebabnya aku suka kamu membenciku, karena bisa saja kamu akan mulai bersimpati dan beralih mencintaiku." Alex menjelaskan dengan kedua sudut bibir tertarik ke samping.
"Cukup! Kamu mulai bicara omong kosong lagi." Ayu berbaring lagi dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ayu memejamkan mata, dengan satu tangan di dada kirinya. Dia bisa merasakan jantungnya yang berdetak kencang tak seperti biasanya. Dia memang sangat membenci Alex, dan beberapa terakhir ini mulai timbul simpati pada lelaki itu. Apa mungkin dia mulai menjatuhkan hati pada Alex? Tidak, hal itu tidak boleh terjadi.
Alex menatap selimut yang menutupi tubuh Ayu dengan senyum lebar. Tanpa cinta pun tak mengapa, hal itu bukan hal yang penting dalam pernikahan. Menurut Alex, cinta hanya salah satu ornamen yang menghiasi sebuah pernikahan, tanpanya ikatan yang terjalin bisa tetap indah dan kokoh.
****
Finally, aku bisa UP meski harus begadang sampe jam 3 subuh. Semoga tidak mengecewakan karena sangat pendek. Semoga bisa diberi kekuatan dan kesehatan sehingga bisa UP lebih cepat.
Jujur saja aku juga kadang sebal pada diri sendiri yang selalu Tidak tepat waktu UP cerita ini.
Terimakasih atas dukungan dan kesetiaannya menanti kehadiran Babang Alex dan Ayu. 🤗
__ADS_1