
This isn't goodbye
Even as I watch you leave
This isn't goodbye
I swear I won't cry
Westlife ~ What Makes A Man
*.*.*.
Mata Alex mulai membuka. Kepalanya berat dan tenggorokannya kering. Tangan lelaki itu meraba menuju nakas, di mana ada segelas air putih di nakas. Sudah dua hari, ia tidak enak badan. Namun, tidak ingin berdiam diri di rumah membuat ia tetap kukuh untuk berangkat bekerja.
Terakhir kali Alex terserang demam adalah saat Aleeya masih seminggu. Mungkin karena begadang dan tetap harus bekerja, belum lagi Ayu yang kadang bermanja-manja. Ia seperti mengurus dua bayi. Untungnya, saat ia sakit dulu, Ayu merawatnya dengan baik, membuat bubur, bahkan memeluknya.
Mata Alex memutari kamar. Nyatanya, ia sendiri sekarang. Menggigil dan kesepian. Hangat yang seharusnya ada di sampingnya memilih untuk menetap di tempat yang berbeda.
Setelah berbincang mengenai persyaratan perceraian, Ayu memilih untuk tinggal terpisah selama tiga tahun dengan Alex. Perempuan itu kukuh dengan keputusannya untuk bercerai, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Alex ingin bersikeras untuk bertahan. Namun, bagaimana caranya? Ia tidak ingin memaksa Ayu untuk tetap berada di sisinya. Karena, ia sadari bahwa hubungan tidak bisa ia paksa.
Ayu berhak untuk memilih jalan hidupnya. Alex akan berusaha untuk menghargai keputusan itu. Meski, ia sebenarnya masih ingin berusaha.
Namun, setelah hidup berpisah selama beberapa bulan. Ayu sepertinya mulai sedikit membuka diri. Buktinya, perempuan itu tidak pernah menolak saat Alex ingin menginap di rumahnya. Meski selalu menjadikan Aleeya sebagai alasan, tetapi ia sering mencuri waktu untuk berduaan dengan Ayu. Toh, perempuan itu masih istrinya. Tidak akan ada yang protes apa pun yang mereka lakukan.
Ia sangka dengan tidur lebih awal akan mengurangi pening yang dirasanya. Namun, ia bangun dengan kepala yang sangat berat. Jika melihat jam, Aleeya mungkin sedang sarapan. Susah payah, ia pun meraih ponsel. Mulai mencari nomor Ayu, dan menghubunginya. Gambar yang muncul sama seperti gambar yang menjadi wallpaper dan foto profil di semua media sosialnya.
Dari layar tampak Aleeya yang sedang duduk di atas karpet. Ia tersenyum menyapa gadis mungilnya.
"Good morning, My lil princess!"
Sakit yang seakan meremukkan kepalanya seakan menghilang saat melihat dua perempuan yamg ia cintai dalam layar. Aleeya menikmati setiap suapan makanan yang Ayu katakan berupa pisang dan buah naga. Campuran yang terdengar aneh sebenarnya, tetapi Aleeya sepertinya suka.
Kaki bayi itu bergoyang-goyang. Baru saja Ayu datang membawa boneka kelinci kesukaan Aleeya. Boneka itu sudah dimainkan oleh Aleeya lagi. Dipeluk, dipukuli, ditarik-tarik, mungkin karena terlalu gemas.
"Jangan dipukul, Sayang! Nanti kelincinya nangis, loh."
__ADS_1
Alex tertawa mendengar ucapan Ayu. Ini yang sering ia protes pada perempuan itu. Ia ingin bayinya bisa berekspresi semaunya. Hingga, tidak ingin mendengar kata jangan untuk Aleeya.
"Itu penting agar empati anak berkembang. Bukan hanya kognitif, tapi afektif juga tidak kalah penting." Itu penjelas Ayu saat Alex meminta agar ia membiarkan Aleeya bermain dengan barang apa pun.
Alex lebih menyukai pola asuh barat, sedangkan Ayu kukuh dengan pola asuh timurnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengambil jalur tengah. Menggabungkan keduanya. Itu sebabnya, Ayu selalu memberi penjelasan yang mengikuti kata larangan.
"Ulang tahun Aleeya besok mau dirayakan di mana?" tanya Alex. Ia menatap Ayu, lalu melirik sebentar pada tumpukan kotak yang sudah ia siapkan sebagai kado. Ia bingung harus memberi apa pada Aleeya, itulah kenapa ia membeli banyak jenis barang. Mulai pakaian, aksesoris, hingga boneka.
"Aku sih nggak mau rayain. Ada rencana bawa makanan dan sembako ke panti asuhan. Berbagi sebagai wujud syukur, gitu aja," jelas Ayu setelah menyeka sisa makanan di mulut Aleeya.
"Wah, setelah jadi ibu, kamu jadi makin bijak," puji Alex.
"Haruslah, ibu 'kan panutan anak."
Alex mengakhiri panggilan video setelah hampir satu jam mengamati Aleeya berkeliaran di sekeliling rumah. Kemarin, Alex pun menatap layar lama saat Aleeya berjalan mengitari taman kecil yang berada di perumahan Ayu.
Tubuh Alex yang masih lemas terkulai di atas ranjang. Saat sakit seperti ini, ia makin merindukan Ayu dan Aleeya. Sendiri seperti teman baiknya, selalu melengket. Ia kira setelah menikah akan ada teman yang selalu menemaninya. Siapa sangka ia terjebak dalam pernikahan yang tidak jauh beda dengan pernikahan orang tuanya.
Alex sudah menelepon Cleo bahwa hari ini dan beberapa hari ke depan, ia tidak masuk kantor. Gantinya, ia akan mengerjakan semua kerjaan di rumah. Untuk hari ini, sepanjang hari akan ia habiskan berbaring. Malam nanti, ia berniat untuk memberi kejutan pada Ayu dan Aleeya. Ia akan ada di rumah itu saat hari berganti. Akan memberi kecupan pada bayinya yang sudah bertambah usia. Tidak lupa juga kado dan ucapan selamat dan terima kasih pada Ayu yang sudah melahirkan malaikat tak bersayap mereka. Merayakan setahun kelahiran Aleeya, juga setahun Ayu menyandang status baru sebagai ibu.
*.*.*.
Pusing yang ia rasakan tidak separah pagi tadi. Dengan sopir yang ia pesan, ia berangkat menuju bandara. Untung saja tidak ada Ayu yang protes saat ia mengambil first class di penerbangannya kali itu. Ia butuh kenyamanan untuk istirahat selama perjalanan.
Alex makan malam di pesawat, untung saja ia sudah bangun saat pramugari datang menawarkan makanan. Ia memang sudah sangat kelaparan. Sakit kepalanya membuat ia tidak sempat memasak. Ia juga sedang tidak berselera memesan makanan restoran. Saat sakit, tenggorokannya memang rewel.
Setelah keluar dari gerbang kedatangan, Alex menurunkan semua barang bawaannya dari troli. Ia dibantu oleh sopir taksi untuk memasukkan barang ke bagasi.
Sepanjang jalan Alex menatap kotak beludru merah yang berisi gelang dan kalung. Pada keduanya ada tiga huruf A yang melambangkan nama tiga anggota keluarga Alex. Gelang untuk Ayu dan kalung untuk Aleeya. Alex sendiri tidak suka mengenakan aksesoris selain jam tangan dan cincin kawinnya.
Taksi berhenti di jalanan depan rumah Ayu. Alex baru berniat membuka pintu mobil saat ia melihat seorang lelaki keluar dari mobil yang terparkir di depan rumah Ayu. Pening yang diderita Alex dua hari belakangan seperti menghantam kembali.
Dari kaca mobil, Alex melihat senyum Ayu dan Arya yang baru saja keluar dari mobil. Ia juga melihat bagaimana Arya mengusap lembut kepala anaknya. Demi Tuhan, Aleeya adalah anaknya. Ia tidak rela jika anaknya itu disentuh oleh lelaki lain terlebih oleh mantan kekasih Ayu.
"Jalan, Pak!" Alex memerintah dengan suara datar. Ia menegaskan rahang, berusaha menahan amarah yang semakin memuncak. Pantas saja Ayu terus kukuh untuk bercerai, bukan hanya karena ia tidak mencintai Alex. Namun juga karena perempuan itu masih ingin kembali pada mantan kekasihnya yang tidak tahu diri itu.
"Apa hebatnya dia!" geram Alex yang sudah berada di salah satu bar. Pegangannya pada gelas sangat erat, hingga uratnya kelihatan. Ia menegak minuman, lalu menuang, menegak, tiada henti.
__ADS_1
Lelah duduk di depan meja bar, ia berpindah ke salah satu sofa yang tidak dihuni. Mungkin saat ia sedang meneguk gelas kedua di sofa itu, tiba-tiba datang seorang perempuan menghampirinya. Meminta izin untuk duduk di sampingnya.
Alex tahu betul maksud perempuan dengan pakaian super ketat dan minim bahan itu. Tidak ada salahnya, ia sedang marak dan kesepian malam ini. Perempuan itu cukup cantik, meski ia yakin dagu lancip dan bibir bawahnya yang penuh adalah hasil tangan dokter estetika. Bisa jadi juga hidungnya yang mancung hasil dokter yang sama.
Tidak. Alex tidak peduli sama sekali. Apa pentingnya hal itu.
"Kamu sendiri?" tanya perempuan itu dalam bahasa Inggris dengan aksen Asia yang kental.
"Ya, sendiri dan kesepian," pancing Alex.
Baiklah, jika Ayu berpikir untuk kembali dengan lelaki pengecut itu. Maka, Alex juga bisa kembali pada hidupnya yang dulu. Berganti wanita seperti berganti baju.
Lupakan komitmen untuk hidup dengan satu perempuan. Bukankah Ayu sendiri yang ingin bercerai.
Alex sama sekali tidak menolak saat perempuan di sampingnya mulai mengelus jemarinya. Ia justru balik menatap dengan tatapan yang begitu memesona. Ia sebenarnya tidak tertarik pada perempuan itu. Ia hanya ingin bermain sebentar. Ya, Hanay bermain-main.
Satu tangan Alex meraih pinggang perempuan berbaju cokelat itu. Mendekatkan pada dadanya. Tangannya yang lain memegang ponsel. Ia mengarahkan kamera dan mengambil gambar tepat saat ia menempelkan bibir di rahang si perempuan.
Gambar itu dikirim Alex pada Ayu. Ia mengetuk pesan dengan cepat, meski perempuan yang ia cumbu baru saja masih menggelayut di lengannya.
'I give a best picture for our divorced applicant'
Entah seperti apa ekspresi Ayu nanti. Mungkin sedikit kaget, tetapi Alex yakin perempuan itu akan senang karena memiliki alasan kuat untuk segera mengajukan cerai.
Bukan dirinya yang akan menyesal. Ia yakin Ayu pasti akan menyesal telah membuang dirinya demi lelaki pengecut seperti Arya. Alex meletakkan ponselnya dan menatap perempuan yang ada di sampingnya dengan senyum. Hidupnya sebelum Ayu datang cukup menyenangkan, apa bedanya setelah mereka berpisah.
Alex tidak akan membuang tenaga untuk menangisi Ayu lagi. Juga akan berhenti berusaha meluluhkan hati perempuan itu. Ia mungkin lelaki berengsek, tetapi ia telah mengubah dirinya demi Ayu, demi anak mereka. Apa gunanya? Usaha itu sia-sia, karena selamanya tidak ada tempat untuk Alex di hati Ayu.
*.*.*.
hai, hai, hai, ini part terakhir yang aku posting di sini, ya. part ini sebenarnya bagian season 2. Dan untuk yang ingin lanjut membaca season 2, bisa PO bukunya. Harga normal buku 87.000, tapi khusus yang ikut PO hanya 77.000.
judul season 2 untuk Terpaksa Jodoh adalah 'Renaissancelove'.
so, season 2 hanya ada di buku, ya. Tidak lanjut di sini. maaf, ya, aku nganggur sekarang, jadi butuh uang kuota biar bisa tetap menulis.
untuk ikut pemesanan, bisa hubungi Wa: 0895805207642
__ADS_1
karena masih tahap editting, naik cetak rencananya bulan depan. jadi masih bisa nabung dari sekarang. terima kasih