
Alex terus mengelus perut Ayu, sejak tadi dia hanya diam, menahan kata kata yang sudah ada di pangkal tenggorokan. Sesekali dia tersenyum pada Ayu yang masih tampak lemah. Dia mengambil sebotol air dan menuangkannya setelah Ayu mengeluh haus.
Satu tangan Alex menahan punggung Ayu dan yang satu memegang gelas untuk membantu Ayu minum.
"Mau makan?" tawar Alex.
Ayu menggeleng pelan.
"Ya udah, istirahat lagi. Kalau butuh sesuatu bilang saja."
Hanya seulas senyum tipis yang muncul di wajah Ayu. Di hatinya masih bersarang cemburu yang sebenarnya tak penting. Dia tahu bahwa Alex tak mungkin mengkhianati pernikahan mereka. Namun, dia tak tahu kenapa setiap kali melihat Alex, hatinya semakin sakit.
"Kamu juga harus istirahat," bisik Ayu saat Alex mengecup pelan keningnya.
"Setelah kamu tidur, aku juga akan tidur." Tangan Alex kembali menggenggam tangan Ayu.
***
Selama tiga hari, Ayu terbaring lemah di rajang pesakitan. Selama itu pula Alex menemaninya. Suaminya itu dengan telaten merawatnya. Dia merasa tersentuh dengan ketulusan Alex. Lelaki itu bahkan tidak pernah mengeluh saat sementara bekerja di depan laptop dan harus membantunya ke toilet.
Ada hal yang terus mengganggu Ayu, kedatangan Tamara. Dia tahu bahwa temannya itu sangat peduli padanya. Dia sudah mencoba untuk menekan emosi di dadanya. Namun, entah untuk alasan apa, dia tidak suka tatapan Tamara pada Alex. Dia merasa ada yang berbeda dari cara temannya itu memandang Alex.
"Kamu sudah baikan?" Tamara berdiri di samping Ayu dengan wajah ramah dan cantik seperti biasa. Betapa dia selalu merendahkan diri tiap kali bersama dengan Tamara, terlebih setelah mengetahui bahwa Alex mencintai perempuan itu.
Setiap kali Ayu terus membanding-bandingkan dirinya dengan Tamara. Tamara yang mandiri, manis, penurut, ramah, ulet, penyayang, pintar memasak, dan banyak lagi kelebihan lainnya. Dia bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan sosok sempurna yang di sampingnya.
"Ada apa, Ay?" tanya Tamara lagi setelah melihat perubahan vraut di wajah Ayu.
"Aku udah baikan, kok, Tam," jawab Ayu memaksakan senyum. "Aku sudah bisa pulang siang nanti."
"Syukurlah, aku panik banget malam itu. Alex juga sangat panik, takut janin kamu kenapa-kenapa."
Senyum Ayu melengkung. Tatapan kosongnya tertuju pada selimut yang menutupi sebagian tubuh. Tamara benar, Alex pasti sangat panik karena mengkhawatirkan calon anaknya. Dia masih ingat bagaimana mata lelaki itu berbinar setiap kali membahas calon bayi mereka. Semua perhatian dan rasa sayang yang dia dapatkan dari Alex semata-mata karena kandungannya, tidak lebih.
"Dia juga khawatir sama kamu," hibur Tamara yang seakan tahu pikiran Ayu. "Alex itu lelaki yang sangat baik, Ay. Aku selalu berpikir kalau perempuan yang menjadi isterinya pasti sangat beruntung. Dan, kamu Perempuan yang beruntung itu. Aku senang sekali."
Senyum di bibir Tamara indah sekali, membuat Ayu merasa bersalah menyimpan cemburu padanya. Dia setuju dengan Tamara bahwa dia beruntung telah mendapatkan Alex. Namun, dia juga setuju pada ucapan ibunya bahwa Alex tidak beruntung memiliki Ayu sebagai isteri.
Jika dipikir kembali, selama tiga bulan resmi menjadi suami-istri, Ayu hanya menjadi beban. Lihat, pekerjaan Alex bahkan sering terganggu karena harus mengurusnya.
"Kalian sangat cocok. Aku dulu selalu berusaha supaya kalian bisa ketemu, tapi gagal terus. Sekarang, kalian justru sudah mau jadi orang tua," seloroh Tamara.
Ayu tertawa kecil, itu pun dia paksakan. Tidak enak jika terus menampakkan kekesalan pada orang yang tak tahu-menahu.
"Ay, aku tau ini bukan ranahku. Ini rumah tanggamu dan Alex, tapi aku sudah menganggap kamu dan Alex seperti saudara sendiri," jelas Tamara dengan nada segan di setiap kata.
Ayu tersenyum, kali ini tulus. Dia senang mendengar pengakuan Tamara bahwa Alex sekadar saudara baginya. Itu berarti tidak akan ada kesempatan untuk Alex menyusup di hati perempuan itu.
"Kamu lagi hamil, tidak baik tinggal sendiri. Kenapa kamu tidak ikut dengan Alex saja? Dia selalu uring-uringan tidak jelas karena memikirkan kabarmu," sambung Tamara.
Ayu tidak menjawab. Dia tidak ingin hidup jauh dari orang tuanya, selain itu entah kenapa selalu ada yang menahan rasa percayanya pada Alex. Dia merasa bahwa hingga kapan pun Alex tidak akan pernah dia miliki.
"Kamu istirahat, jangan banyak pikiran juga kita dokter. Biar ibu dan janinnya sehat." Senyum Tamara terus mengembang. Ayu juga ingin tersenyum seperti itu, tetapi sakit di hatinya terus mengiris.
Mata Ayu terus mengekor pada Tamara yang berhenti di depan pintu untuk mengobrol dengan Alex. Perempuan itu sedang berpamitan. Ayu membuang wajah dengan veoat karena tidak ingin melihat senyum Alex pada perempuan di depannya. Senyum lelaki itu terlihat berbeda bagi Ayu, lebih lebar dan tulus--penuh cinta.
"Sayang, kamu butuh sesuatu?" tanya Alex yang sedang mengemas barang-barang Ayu ke dalam tas.
"Aku mau apel," jawab Ayu yang sebenarnya tidak menginginkan apa-apa.
"Okay." Alex meriah satu buah apel dan pisau untung mengupas kulitnya. Setelah itu, dia menyuapi sepotong demi sepotong pada Ayu.
"Kapan kita pulang?"
__ADS_1
"Tinggal beres-beres, lalu kita bisa pulang."
"Ya udah, ayo pulang sekarang!"
Alex mengambil segelas air dan membantu Ayu minum. "Kalau begitu, aku ambil barang-barangmu dulu."
Senyum yang tadi melengkung di wajah Ayu menghilang saat melihat Alex membereskan beberapa barang bawaan. Dia bisa melihat wajah lelah lelaki itu. Selama tiga hari penuh lelaki itu menemaninya, menjaga dan membantu dalam segala hal, bahkan untuk minum air putih. Selain itu, Alex juga tetao sibuk menerima teley dan mengerjakan beberapa data yang sepertinya tidak bisa dikerjakan oleh orang lain, selain dia.
"Ayo!"
Ayu mengalungkan kedua tangan pada leher Alex saat dibopong oleh lelaki itu dari kursi untuk masuk ke dalam taksi. Suasana dalam taksi hening. Ayu memejamkan mata sembari bersandar di pundak Alex. Sementara, Alex menyandarkan kepala di kepala Ayu. Sesekali dia mengelus pelan pipi isterinya itu.
Sesampainya mereka di rumah, Alex masih terus menggendong Ayu menuju kamar, meski perempuan itu sudah menolak dan ingin berjalan sendiri. Menurut dokter, Ayu harus bed rest, jadi Alex tidak akan mengizinkan di menginjak lantai sedikit pun.
"Maaf," ucap Ayu mulai menangis.
Alex yang baru saja datang sehabis mencuci piring makanan Ayu mengerutkan kening. Dia ikut duduk di ranjang dan menghapus air mata d pipi Ayu. "Maaf untuk apa?"
"Aku selalu merepotkan."
"Sayang," lirih Alex. "Aku ini suami kamu, bukan orang lain."
Ayu meraih tangan Ale di pipinya. Dia meletakkannya di paha. "Tapi, aku memang merepotkan. Aku bahkan hampir saja membunuh ...," timpal Ayu yang dipotong oleh telunjuk Alex yang berada di bibir perempuan itu.
"Jangan bilang begitu, Sayang!" Alex menarik Ayu dalam pelukannya. "Itu salahku karena tidak bisa menjaga kalian."
Ayu mengeratkan pelukannya. Dia menempelkan kepala di detakan jantung Alex. Selain hangat, pelukan itu selalu berhasil menenangkan jiwa Ayu. Berada dalam pelukan itu seakan menghilangkan segala kekhawatirannya tentang Alex yang mungkin akan meninggalkannya.
"Lex!" Wajah Ayu terangkat dan yang dipanggil pun menunduk. Hidung mereka saling bertemu, embusan napas saling menyatu bertemu di pipi masing-masing. Bibir Alex kini merayap menuju rahang Ayu.
"Kalau seandainya ... hanya seandainya, aku keguguran malam itu ... apa kamu akan tinggalin aku?"
Alex Manarik wajahnya yang sudah menyusuri garis rahang Ayu. Kedua alis tebalnya saling bertautan. "Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Kita masih bis apinya sepuluh anak lagi," canda Alex. "Lagipula, aku percaya Aleeya pasti kuat. Jadi, kamu harus kuat juga, ya."
Ayu mengangguk bdan tersenyum biasa Alex. Dia menyandarkan kepalanya lagi di dada bidang suaminya. Dia memutuskan untuk percaya pada Alex. Bagaimanapun, lelaki itu sudah membuktikan bahwa Ayu adalah prioritas dalam hidupnya.
"Kami yakin sekali kalau yangvkahir Aleeya," rutuk Ayu dalam pelukan Alex. "Bagaimana kalau ternyata yang lahir Arya?"
Geraman kecil terdengar keluar dari mulut Alex. Dia menggeleng-geleng, bahkan jika anaknya nanti lelaki, dia tidak akan pernah membiarkan Ayu memberinya nama Arya.
"Tidak, masih banyak nama kerena lain. Pokoknya, jangan ada Arya di antara kita!" tegas Alex. "Lebih baik namanya Ujang atau Udin saja."
Mata Ayu terpejam. Dia terus merasakan detakan jantung Alex, berharap jantung itu bisa berdetak untuknya.
'Bisakah aku meminta jangan ada Tamara di antara kita.' Ayu membatin.
***
Ayu tertawa di atas ranjang dengan tatapan tertuju pada laptop yang ada di depannya. Dia sedang menonton salah satu film komedi Hollywood. Baru saja di selesai berganti pakaian dan mandi denagn bantuan Alex tentunya.
Alex sedang menerima telepon, lelaki itu juga memiliki sedikit pekerjaan. Ayu sebenarnya dari tadi meminta HP-nya untuk memantau situasi toko-tokonya. Namun, Alex tidak membiarkannya berpikir tentang pekerjaan sedikit pun.
"Apa selucu itu?" tanya Alex yang tiba-tiba muncul. Hampir saja Ayu terlonjak karena kaget.
"Kamu mau nonton juga. Ini itu lucu, sudah nonton berkali-kali dan tidak bosan," cerita Ayu. Dia mulai menjelaskan tentang toko kembar perempuan dan lelaki yang diperankan oleh satu orang yang sama.
Alex pun ikut menonton bersama Ayu. Mereka tertawa dan ikut terharu di beberapa adegan film. Alex bukan pecinta film, dia lebih suka membunuh waktu dengan membaca daripada sekedar menonton teve yang menurutnya tak penting.
"Seru, 'kan?" Ayu meminta tanggapan dari Alex.
"Ya, lumayan," ucap Alex.
__ADS_1
"Cuma lumayan!" protes Ayu. "Jelas-jelas kamu ketawa kayak orang gila tadi."
"Ah, masa?" Satu alis Alex terangkat seakan berpikir keras. "Perasaan lebih lucu kamu." Dia mencubit satu pipi Ayu yang langsung membuat Ayu memukul tangannya.
"Aku tau kalau baju itu imut, tapi jangan sering dicubit, nanti melar." Ayu mengelus pelan pipi yang baru saja dicubit oleh Alex.
"Sayang, kamu bisa menulis?"
Ayu hanya mengangguk, meski dengan kerutan di pangkal hidungnya. Alex turun dari ranjang, Kanaya datang lagi dengan selembar kertas kosong dan pulpen.
"Ini untuk apa?" tanya Ayu setelah meraih kertas dan pulpen di tangan Alex.
Alex terdiam dengan wajah dingin. "Surat cerai."
Untuk satu alasan, Ayu tidka bisa merasakan detak jantungnya. Matanya membesar dan senyum di wajahnya menghilang. Tawa dan tangan Alex di pipinya membuat dia langsung melempar pulpen dan kertas itu di lantai.
"Nggak lucu Alex!" pekik Ayu.
"Bercanda Sayang, aku lebih baik mati daripada ninggalin kamu," ucap Alex. "Aku sudah telepon Pak Kurniawan tadi, atasan kamu." Dia meletakkan kertas dan pulpen di depan Ayu.
"Kenapa aku yang tulis, bukannya sudah ada surat keterangan bdari Rumah Sakit."
"Karena surat resign harus ditulis tangan oleh yang bersangkutan secara langsung," jelas Alex membuat Ayu menggeleng-geleng. "Siapa yang mau resign?"
"Aku sudah bilang sama Pak Kurniawan, mulai besok kamu tidak akan masuk kerja untuk selamanya."
"Alex! Aku tidak mau, aku mau bekerja!"
Jemari Alex menggenggam tangan Ayu. "Aku tidak mau terus dihantui ras khawatir karena jauh dari kamu, Sayang. Kalau saja bisa, aku pasti akan ikut tinggal di sini kalau itu yang kamu mau." Dia mencoba memberi Ayu pengertian.
"Aku bilang tidak, ya, tidak, Alex!" tolak Ayu dengan tatapan tajam. Dia tidak suka diatur.
"Aku tidak meminta izin, Sayang. Kalau kamu tidak resign, aku pastikan surat pemecatanmu akan tetap keluar."
"Kamu egois!" pekik Ayu.
"Anggap saja kamu benar, Sayang. Aku egois, aku kejam, atau apa saja. Aku melakukan ini untuk kami dan anak kita."
Ayu membuang wajah dan mukai terisak. Alex dengan cepat merangkulnya, meski di terus mendorong Alex untuk menjauh.
"Aku tidak mau tinggal di tempat asing di mana aku tidak punya siapa-siapa," lirih Ayu di tengah tangisnya.
"Ada aku, Sayang. Aku bisa jadi siapapun yang kamu mau. Aku janji akan menjagamu dengan baik."
"Kalau kamu pergi kerja, aku bagaimana? Tinggal di rumah seperti orang bodoh!"
"Kamu bisa pergi berbelanja dengan Clara. Tidak, kamu bisa belajar merawat bayi dari dia," saran Alex yang sebenarnya hanya spontan. Dia tahu bagaimana selera Clara pada barang yang harganya fantastis. Dia tidak sekaya Ben, sehingga akan susah jika memiliki isteri dengan gaya hidup super mewah seperti Clara.
"Aku tidak mau jauh dari ayah sama ibu," adu Ayu mulai melunak.
"Mereka bisa berkunjung dan kamu juga bisa mengunjungi mereka kapan pun kamu mau. Aku akan mengantarmu, aku janji."
Ayu terdiam. Di benaknya banyak pikiran berkecamuk. Dia tidak ingin berhenti bekerja. Selain itu, dia tidak pernah berada jauh dari orang tuanya. Namun, jika dia tinggal bersama Alex, dia bisa lebih tenang karena tidak perlu kahwatir akan keberadaan Tamara.
"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Alex mengangkat dagu Ayu. "Coba bilang apa yang harus aku lakukan biar kamu percaya!"
Ayu tersenyum sendu dan menatap dalam pada manik Alex. Keinginan Ayu hanya satu agar Alex bisa melupakan Tamara. Namun, dia tahu bahwa hal itu sangat mustahil.
"Aku percaya," ungkap Ayu. Dia meraih kertas dan pulpen. Alex sudah memberinya buku untuk alas tulis.
"Aku harus tetap serah-terima, Alex. Setidaknya satu bulan setelah surat resign masuk," ucap Ayu setelah selesai mendatangani surat pengunduran diri.
"Satu Minggu," desis Alex. "Aku yang akan bicara sama Pak Kurniawan. Kamu sedang sakit, itu bisa jadi alasan."
__ADS_1
***