Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Wish


__ADS_3

"Yu, Bu RT bilang kalo dia pernah ketemu sama kamu di kantor kelurahan, emang iya?"


Ayu mengangguk kikuk menjawab pertanyaan ibunya. Ini pertama kali Ayu berani datang ke rumah orang tuanya setelah mengetahui dia hamil. Minggu lalu dia sudah menemui seorang dokter kandungan. Bagaimana dia harus berbohong saat si Dokter bertanya tentang suaminya. Dan sekarang, dia juga harus berbohong pada keluarganya.


"Ngapain kamu ke kelurahan, Dek?" Mas Pandu bertanya membuat orang-orang yang berada di meja makan mengalihkan pandangan pada Ayu. Mereka tampaknya memiliki pertanyaan yang sama.


"Buat kantor, Mas. Biasa keterangan status, gitu," jawab Ayu menunduk menatap makanannya.


"Kirain kamu lagi ngurus kelengkapan pernikahan," ujar Mas Bima asal.


Napas Ayu tercekat, bagaimana bisa Mas Bima menebaknya. Keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya. Khawatir dan takut bercampur jadi satu. Bagaimana jika keluarganya tahu dia memang akan menikah tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu?


Pandangan Ayu mengedar, menatap anggota keluarganya satu persatu. Ayahnya tampak menegur Bima karena mengucapkan pernikahan di depan Ayu, sementara sepengetahuan mereka Ayu masih trauma.


Keponakan kecilnya, anak Mas Bima dan Mbak Dira terlihat rewel saat disuapi. Si kembar Lara dan Tara, anak Mas Pandu dan Mbak Ita, anteng melahap makanannya.


Rasa mual dan pusing kembali menyerang Ayu. Dia meletakkan alat makannya dan segera meninggalkan meja makan tanpa kata. Langkah Ayu berhenti di depan westafle di kamar mandinya. Semua makanan yang tadi dia telan, keluar lagi.


Setelah membasuh mulut dan wajah, Ayu menatap pantulannya di cermin. Dia berdiri tegak dan mengelus perutnya yang masih rata.


'Benarkah ada kehidupan di dalam sana?'


Mengingat orangtuanya, Ayu mulai ragu dengan keputusan yang telah dia buat dengan Alex. Hati Ibu dan Ayahnya pasti hancur saat tahu bahwa dia telah menikah. Tetapi, Ayu tidak mau menunggu waktu sampai perutnya membuncit. Mengurus pernikahan di Indonesia sangat sulit, mengingat Alex tidak tercatat sebagai WNI.


Berdasarkan penuturan Alex, saat berusia 18 tahun, dia memilih ikut kewarganegaraan Ayahnya. Selain itu, di Passport lelaki itu tertera agama yang berbeda dengan Ayu. Sehingga, mustahil mendaftarkan pernikahan mereka di KUA ataupun di kantor Catatan Sipil.


Menikah di Singapura adalah jalan termudah dan tercepat. Mereka tinggal membuat alibi, kebetulan Alex sepertinya sangat ahli dalan hal itu.


Sebuah ketukan menyadarkan Ayu. Dia segera keluar dari kamar mandi. Saat pintu kamar terbuka, Ayahnya berdiri dengan senyum.


"Boleh Ayah masuk?"


Ayu tersenyum dan memberi jalan untuk Ayahnya.


"Jangan dengar apa yang Bima tadi bilang, kamu tahu kalo Mas-mu itu memang suka asal bicara!"


"Aku tau, Yah. Aku cuma capek," kata Ayu sembari bersandar di pundak ayahnya. "Tapi, Yah, kalo aku emang ngurus pernikahan di kantor kelurahan."


Pak Dwiki, Ayah Ayu, mengerutkan kening. "Maksudnya?"


"Menikah tanpa restu, Ayah sama Ibu."


Pak Dwiki mengelus rambut putri bungsunya. "Restu Ayah selalu bersamamu, Nak. Pokoknya asal kamu bahagia."


Ayu menarik kedua sudut bibirnya.


"Tapi, kamu tidak mungkin melakukannya, kan?" tanya Pak Dwiki.


Napas Ayu tercekat. Keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya.


"Kamu istirahat, biar cepat baikan!"


Ayu mengangguk.


Belum beberapa langkah, Ayu mencegat Ayahnya yang hendak keluar.


"Aku mau teh jahe, Yah!"

__ADS_1


"Ayah bilang ke Ibu, biar kamu dibikinin."


"Ogah, maunya buatan Ayah!" rengek Ayu.


"Tunggu, di sini."


Dengan senyum di bibirnya, Ayu melompat dan menjatuhkan pantatnya kasar di ranjang. Seketika Ayu mengelus perut sambil mendesis. Dia lupa kalau ada kehidupan di dalam sana yang harus dia jaga.


Sebuah pesan dari seseorang yang bernama 'Brengsek', membuat Ayu menaikkan satu sudut bibir atasnya.


[ Hai, calon isteri ]


Setelah memutar bola matanya, Ayu membalas pesan itu dengan emotikon marah.


[ Wow, cantik *emotikon hati*]


Tangan Ayu mengetik pesan dengan kasar.


[Dasar gila]


Sebuah pesan masuk lagi.


[Gila karenamu, Sayang.]


[Namaku bukan Sayang, salah sambung, Mas]


Tidak mau menggubris pesan dari Alex lagi, Ayu memutuskan untuk melempar HP-nya asal. Dia mengomel sendiri mengenai tingkah menyebalkan lelaki yang mungkin akan dia nikahi itu.


"Kok cemberut, Yu?" Ayahnya yang tiba-tuba datang membuat Ayu kaget.


"Ini teh jahe yang kamu minta," lanjut pak Dwiki memberikan secangkir teh jahe kepada Ayu.


Sementara Ayahnya mengeluh, "dan kami adalah puteri paling manja sedunia."


Hp Ayu berdering keras disertai getaran. Dia layarnya ada muncul gambar close-up seorang lelaki.


"Nggak diangkat, Yu?" tegur Pak Dwiki.


"Nggak penting, Yah."


Pak Dwiki berdecak melihat nama yang tertera di layar. "Lah, namanya kok begitu, Yu? Nggak ada nama lain?"


Ayu meraih cepat HP-nya. Lelaki menyebalkan itu melakukan panggilan video.


"Ya diangkat, dong. Nanti penting itu." suruh pak Dwiki sembari mengulur-ulurkan kepala untuk mengetahui tampang lelaki yang menghubungi anak perempuannya.


"Ya ampun, Yah. Ini itu cuma temannya Tamara."


"Teman Tamara yang mana namanya Brengsek?"


"Dia itu nyebelin, makanya dipanggil Brengsek."


Pak Dwiki mencibir puterinya. "Tamara itu anak baik, lembut, mana bisa dia panggil temannya kayak gitu. Pasti kamu yang buat."


"Apaan, kok aku."


"Siapa lagi, kalo gitu? Pandu kamu panggil Kriwil, Bima kamu panggil Tiang listrik."

__ADS_1


Ayu terdiam. Ayahnya memang sangat tahu kebiasaan buruk yang tidak bisa dia hilangkan.


"Jangan-jangan yang itu pacarmu, biasanya kamu itu cuma buat panggilan sayang sama orang terdekat."


Ayu memajukan bibirnya. "Aku capek, mau bobo."


"Ayah bercanda, Yu," ucap Pak Dwiki.


"Itu teh-nya diminum, udah dingin."


"Iya, tapi keluar dulu."


Pak Dwiki melirik pada HP Ayu yang tidak berhenti bergetar.


"Salam sama pacar kamu itu," kata Pak Dwiki sebelum melenggang keluar. Dia tertawa puas mendengar Ayu protes.


Ayu menghembuskan napas berat meraih gawainya. Lelaki pengganggu itu tidak menyerah juga.


"Ada apa lagi?" Suara Ayu keras menggema.


"Jangan galak-galak, nanti cepat tua!" Suara lelaki yang tak ingin Tau dengar menggaung dari speaker HP.


"To the point, aja."


"Tidak sabaran! Ngobrol dulu boleh, kan?"


"Aku matiin, nih!"


"Masa sama calon suami ngomongnya kayak gitu, tidak sopan."


"Bisa serius, nggak?" Ayu mulai hilang kesabaran. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri panggilan.


Rasa hangat mulai menjalar di mata Ayu. Dadanya mulai sesak, bahunya naik turun. Isakan demi isakan mulai lolos. Sesekali dia memukul-mukul pelan dadanya yang semakin sesak. Ada rasa sakit tak tertahan di hatinya, namun dia pun tidak mengerti kenapa.


Saat HP-nya berdering lagi, Ayu segera mengusap air mata yang terus mengalir. Pun mengatai dirinya bodoh karena menangis untuk alasan yang tidak jelas.


"Kenapa dimatikan?"


Tidak ada jawaban, Ayu hanya diam.


"Aku serius, sekarang. Ngomong dong."


Hanya isakan tertahan yang menggema di udara.


"Kamu kenapa? Menangis lagi?"


Ayu mulai mengusap air matanya lagi sembari merutuk dirinya yang menjadi aneh.


"Maaf, Aku salah. Jangan menangis, ya!"


Sambungan telepon itu diputus oleh Ayu. Dia menggenggamnya dan mulai terisak. Deringan singkat membuat Ayu mengusap layar itu lagi.


[Aku cuma mau bilang, pendaftaran pernikahan kita Senin depan]


Layar persegi itu terjatuh dari pegangan Ayu. Dia memeluk lututnya, menangis sambil mengatupkan mulut karena tidak ingin ada yang mendengar tangisannya.


Kali ini dia memiliki banyak alasan untuk menangis; dia tidak ingin menikah dengan Alex, dia tidak ingin hamil, dia tidak ingin Arya menikah dengan orang lain, dan yang dia inginkan hanya bersama Arya.

__ADS_1


***


Tbc 😊


__ADS_2