
Alex menatap Ayu yang sudah baikan. Perempuan itu tidak menangis lagi. Bagaimanapun, Ayu sedang mengandung sehingga tidak boleh terlalu banyak pikiran.
"Sayang, boleh aku minta satu hal?"
Ayu mendongak pada Alex dan mengangguk.
"Kalo kita ada masalah, aku mau kita bicarakan dengan baik. Bukan diam, lalu kamu pulang ke rumah orang tuamu seperti sekarang," jelas Alex.
Alex mengerti bahwa selama ini Ayu selalu memiliki keluarga di belakangnya yang selalu mendukung, juga menjaganya. Namun, sekarang mereka sudah menikah dan Alex mau menjadi orang pertama yang dibutuhkan oleh Ayu dalam segala hal. Bukankah tujuan menikah untuk saling berbagi dan mengasihi dalam suka dan duka.
"Bukannya aku tidak ingin kamu berbagi dengan keluargamu. Tapi, ini masalah kita bukan mereka," tambah Alex.
Ayu hanya menunduk karena merasa bersalah. Dia sadar bahwa dia telah bersikap egois, tetapi dia juga kadang tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia yakin bahwa semua keinginannya ini hanya pengaruh hormonal.
"Aku mengerti dengan penolakan kamu untuk ikut ke Singapura karena keluarga, pekerjaan, dan sahabatmu di sini. Aku sadar betul bahwa aku tidak punya hak untuk memaksa kamu karena aku hanya pendatang baru di kehidupan kamu." Alex terus menumpahkan hal yang mengganjal di benaknya. Dia ingin memperjelas semuanya. Apa yang dia lakukan, bukan karena Ayu dan anaknya tidak penting. Namun, dia tidak akan bisa memilih antara Ayu atau pekerjaannya. Mereka sama-sama tanggung jawab Alex.
"A-aku cuma nggak mau kamu pergi. Aku juga nggak tau kenapa." Ayu kembali tersedu-sedu.
Alex mengelus rambut Ayu. "Jangan menangis! Aku bilang ini agar kamu bisa mengerti keadaanku juga."
Ayu melepas pelukan Alex, dia mengusap sisa air mata di pipinya.
"Maaf, aku ...."
Alex menempelkan jari telunjuknya di bibir Ayu, sehingga kalimat perempuan itu terpotong.
"Cukup! Aku tau itu karena kamu sedang hamil saja, 'kan?"
Ayu mengangguk mengiyakan.
"Tidak apa-apa, aku mengerti." Tangan Alex mengusap pelan pipi Ayu, "hanya saja jangan pernah bilang tidak ingin menemuiku lagi!"
"Iya," ucap Ayu pelan sembari memegang tangan Ayu yang ada di pipinya.
"Ya udah, kamu istirahat sekarang! Kasihan Aleeya, dia pasti sudah lelah dan sedih melihat kamu kayak gini."
Ayu menurut. Dengan dibantu Alex dia pun berbaring. Alex menyelimuti tubuh Ayu sebelum dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia bahkan tidak sempat berganti baju. Dari kantor dia langsung menuju bandara untuk kembali pada Ayu.
Alex tersenyum menatap pantulan wajahnya yang sudah sangat kusam dan rambut acak-acakan. Dia tidak menyangka akan melihat wajah tampannya sehancur ini. Tak apa, selama Ayu baik-baik saja. Sebenarnya, dia tidak menyangka akan segila ini pada Ayu yang merupakan perempuan asing. Mungkin karena perempuan itu adalah isterinya, perempuan yang sedang mengandung anaknya.
Selesai membersihkan diri, Alex membuka lemari siapa tahu ada bajunya yang terselip di sana. Untungnya, ada satu baju kaos yang dia kenakan saat pertama kali menginap di rumah itu. Setelah itu, dia berbaring di samping Ayu, lantas memeluk isterinya itu. Pelan, dia mengecup kepala Ayu sembari mengucapkan selamat tidur.
Ayu memegang tangan Alex yang melingkar di pinggangnya. Dia mau Alex tetap di sisinya. Dia tidak bermaksud egois, tetapi itulah keinginan hatinya.
***
Pagi-pagi sekali Alex mengantar Ayu kembali ke rumah. Ayu harus berganti pakaian, sehingga dia harus kembali ke rumah. Perempuan itu sebenarnya punya baju di rumah Dwiki, tetapi dia tidak ingin memakai baju itu karena mengaku terlalu kecil dan takut kehamilannya terlihat.
"Ini susunya minum dulu, dari kemarin nggak minum." Alex menyodorkan segelas susu.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Ayu setelah selesai meneguk susunya.
"Nanti malam, minum susunya lagi. Ingat, jangan kerja terlalu keras!" Alex mengingatkan.
Ayu hanya mengangguk.
"Kalo sudah sampai aku pasti telepon," ucap Alex setelah mengecup kening Ayu.
"Kamu pulang lagi kapan?" tanya Ayu sebelum keluar dari mobil.
"Hari Kamis," jawab Alex. Dia melambaikan tangan pada Ayu yang sudah keluar dari mobil. Minggu lalu, Ayu marah-marah karena Alex selalu menelepon, tetapi Minggu ini perempuan itu terus memaksa untuk tinggal dan terus menelepon. Entah apa lagi Minggu depan?
Alex datang ke bandara lebih awal, dia memilih untuk meminum kopi di salah satu kedai. Daripada tinggal sendiri di rumah, ada baiknya minum kopi.
"Alex!" Suara seorang perempuan membuat Alex berbalik. Di samping mejanya duduk Karin dan seorang temannya.
"Oh, hai!" sapa Alex yang membuat Karin pindah meja.
"Pengantin baru!" ejek Karin, "mau balik atau baru datang."
"Mau pulang," jawab Alex.
"Loyo banget, semalam nggak dapat jatah!"
Alex hanya tertawa menanggapi ucapan Karin. Dia sudah sering bertemu dengan Karin berkat Tamara, sehingga tidak heran lagi mendengar mulut perempuan berwajah hispanik itu yang blak-blakan.
Alex tertawa kecil mendengar nada curiga di suara Karin. "Kenapa kamu tidak menghubungi Ayu untuk lebih jelasnya."
Karin terbahak-bahak, lantas membalas, "jangan bilang Ayu ngambek!"
"Apa dia memang selalu seperti itu?" Alex merasa harus bertanya pada yang lebih mengenal Ayu.
"Hanya kadang-kadang, itu pun tidak pada semu orang. Biasanya hanya sama keluarganya," ungkap Karin, "since you're her husband, wajar sih."
"Parah," ujar Alex yang langsung menarik kedua sudut bibirnya.
"Ayu memang begitu, tapi aslinya penyayang banget. Aku lebih suka jalan sama Ayu dibanding Tamara sebenarnya," ungkap Karin, "ini rahasia loh, ya. Jangan dibilang sama Tamara."
Alex mulai mendengar penjelasan Karin, bahwa Ayu itu kadang bersikap lembut, tetapi perempuan itu juga tahu cara bermain kasar jika perlu. Menurut Karin, Ayu itu perpaduan dirinya dan Tamara, selalu tahu cara mengambil sikap. Namun, satu hak yang memang kadang menjengkelkan pada Ayu, manja dan suka ngambek.
"Hebat sih, kamu bisa buat dia menikah. Padahal, dia dulu udah bilang nggak aku nikah karena si Brengsek itu," jelas Karin.
"Maksud kamu Arya?"
Karin mengangguk. "Ayu sudah bicara tentang lelaki itu?"
"Ya, kami bahkan sudah ketemu," ungkap Alex setelah meneguk kopinya.
"Hebat!" Karin menepuk-nepuk pundak Alex, "setelah gagak menikah, Ayu bahkan tidak bisa mendengar nama lelaki itu. Eh, dia pasti cinta banget sama kamu."
__ADS_1
Senyum terukir di bibir Alex. "Aku juga sangat mencintai isteriku."
Karin bergidik negeri menatap Alex. "Menjijikkan!"
"Kamu akan tahu kalo sudah menikah. Memang merepotkan, tapi sangat menyenangkan," jelas Alex.
Karin menggeleng tak setuju dnegan pendapat Alex. Dia heran melihat Alex yang langsung berubah begitu menikah. Sejauh yang dia ketahui lelaki itu sering berganti perempuan tajk jelas, seorang cassanova sejati.
"Aku benar-benar nggak tau kalo pas ultahnya Tamara yang membawa Ayu pulang itu kamu."
Alex menatap gelasnya yang sudah dia kosongkan. Dia kembali teringat malam itu, saat dia melakukan kesalahan bodoh yang membuatnya terjebak bersama Ayu. Namun, jika dia pikir ulang dia Tidka menyesal sama sekali, setidaknya dia bisa mengenal Ayu juga keluarga perempuan itu. Lebih dari semua itu, dia akan menjadi seorang Ayah.
"Kami ketemu dan berbincang sebentar, lalu pulang. Kamu dan Tamara terlihat asyik menikmati pesta, jadi kami tidak pamit," bohong Alex.
"Ah, kalo begitu kamu bawa dia pulang ke mana? Aku datang ke rumahnya selesai pesta dan dia tidak di sana." Karin masih ingat betapa dia khawatir saat melihat rumah Ayu kosong, ditambah tidak ada orang yang bisa dia hubungi. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan Ayu. Dia baru bisa bernapas lega setelah menghubungi telepon kantor Ayu dan mengetahui bahwa dia sedang ada rapat.
"Kami menginap di hotel," balas Alex jujur karena tidak tahu harus berkata apa.
Satu alis Karin terangkat mendengar pengakuan Alex. "Kamu yakin Ayu tidak mabuk saat ikut denganmu?"
Alex menggeleng dan membalas dengan gugup, "ti-tidak, dia sa-dar!"
"Aku bercanda," ucap Karin, "mana mungkin dia mabuk, orang nggak pernah cicipi alkohol."
Alex mengembuskan napas lega.
"Kamu mau ke mana?" Alex mengalihkan pembicaraan.
"Aku baru take off, mau pulang ke rumah," jawab Karin.
"Kamu ada acara nanti malam?"
Karin menggeleng, diantidka tahu untuk apa Alex menanyakan perihal jadwalnya.
"Ayu sendiri di rumah. Bisa tidak kamu temani dulu?" pinta Alex. Jika ada Karin yang menemani Ayu, rasa khawatirnya akan sedikit berkurang.
"Ide bagus, aku juga sudah lama tidak memakan pasta buatan Ayu."
"Ayu? Membuat pasta?" tanya Alex dengan mata membesar, "aku bahkan tidak pernah melihat dia menyentuh kompor."
"Pasta buatan Ayu itu enak loh, ya meskipun instan," tutur Karin, "seingatku dia dulu sering buat sandwich untuk si Arya waktu kuliah."
Masalah pasta itu Karin berkata jujur, tetapi untuk sandwich yang dibuat oleh Ayu itu hanya bualan saja. Dia ingin melihat wajah Alex yang sedang cemburu. Dia tersenyum sekilas saat melihat Alex terdiam dan tampak berpikir keras.
"Kalian pesan atau makan di luar saja, jangan buat isteriku capek!"
Karin mencibir ke arah Alex. Dia tidak menyangka Bakan mendengar perkataan semacam itu dari Alex. Ayu pasti tidak akan menyesal pernah ditinggal boleh Arya karena mendapat lelaki yang begitu mencintainya seperti Alex.
***
__ADS_1