Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Feeling


__ADS_3

Ayu melepas flat shoe yang dia kenakan dan menggantinya dengan sendal yang tersedia di hotel itu. Lantas menjatuhkan tubuhnya di sofa. Di pesta tadi, dia sama sekali tidak merasa lelah. Mungkin karena dia bersenang-senang dengan sahabat dan keluarganya. Sekarang badannya pegal-pegal.


Alex keluar kamar dan menatap Ayu yang memejamkan tak nyaman di sofa. Terdengar suara mengeluh perempuan itu karena lelah.


"Capek?" tanya Alex.


Ayu mengangkat kepala, kemudian mengangguk pelan.


"Mau aku pijit?"


Mendengar perkataan Alex, Ayu langsung meraih bantalan kursi dan melemparnya ke arah Alex. Meskipun bantal kecil berwarna abu-abu itu jatuh jauh sebelum menyentuh Alex.


"Dasar mesum gila!" bentak Ayu


"Mesum apanya? Aku mau pijit karena kamu capek," bantah Alex. "nah kan, ketemu siapa yang mesum."


Ayu mengatupkan mulutnya dan membuang muka sambil berlipat tangan.


"Jangan-jangan dulu kamu nggak mabuk ya?" todong Alex.


Bantal yang di sebelah Ayu melayang menuju Alex lagi.


"Maksud kamu apa?" teriak Ayu mulai terpancing.


Alex melangkah ke belakang sofa, tepat di belakang Ayu.


"Bercanda, Sayang," ujar Alex, "lagian kamu pikirannya selalu buruk. Tapi, aku senang sama pikiran buruknya itu, Yang, apalagi kalo diwujudkan."


"Apa? Coba ulangi!" bentak Ayu.


"Bukan apa-apa, Sayangku. Sini kupijit!"


Alex mulai memijat pelan pundak Ayu. Isterinya itu sedang hamil, tentu saja sangat mudah kelelahan.


Sembari dipijat, Ayu menyandarkan kepala sambil menatap ke atas. Dia menatap wajah Alex yang tampak serius dengan pekerjaannya.


"Kenapa? Suka sama pemandangannya?" goda Alex karena terus ditatap oleh Ayu.


"Dagumu lancip," puji Ayu.


"Memangnya harus bagaimana lagi, rata?" canda Alex sambil tertawa kecil.


Ayu ikut tertawa membayangkan Alex berdagu rata. "Kamu pasti jelek sekali, mukamu kayak kotak."


"Jadi aku ganteng, kan?" tanya Alex, "daguku kan lancip."


Ayu tertawa dan mengangguk. "Iya, iya, ganteng."


"Gitu dong, kalo dipuji kan jadi semangat mijitnya."


Ayu memejamkan mata untuk menikmati pijatan Alex, tanpa merespon lelaki itu sama sekali.


"Lex!" panggil Ayu yang masih memejamkan mata dan melanjutkan, "yang pegal betisku, bukan pundak."


Alex melepas tangannya dari pundak Ayu dan berjalan menuju sisi depan sofa. Jelas saja pundak Ayu sudah tidak pegal, Alex sudah memijatnya lima belas menit.


Alex duduk di sofa dan memberi senyum terpaksa pada Ayu. Dia menepuk pelan pahanya sebagai tanda agar Ayu menaikkan kakinya.


Dengan puas Ayu meletakkan kedua betisnya di atas paha Alex setelah mengangkat sedikit gaunnya. Sementara Alex mulai memijat betis dan kaki Ayu.


"Alex ganteng, aku mau bantal," minta Ayu dengan suara manis dan senyum lebar.


Tatapan Alex terkunci pada wajah Ayu. "Kalo ada maunya kamu manis sekali, eh."


Ayu hanya mengedip-ngedipkan matanya. "Bantal, ganteng. Aku mau bobo sambil dipijit."


Melihat ekspresi dan suara Ayu, Alex langsung menunduk dan menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia menahan tawanya sekian detik, dan gagal.


"Kenapa ketawa?" tanya Ayu heran.


"Jangan kayak gitu lagi, Yu. Aku lebih suka kalo kamu mencak-mencak," aku Alex.


Bibir Ayu manyun, kemudian berteriak, "ya udah, sana ambil bantal cepat!"


"Siap, Nona manisku!" ucap Alex.


"Dasar, dimanisin nggak ada syukur-syukurnya!" Ayu menggerutu.


Ayu meraih bantal yang disodorkan oleh Alex dengan kasar. Dia mengatur posisi banyaknya dan menjatuhkan kepala di benda lembut dan empuk itu.


"Manyun terus, nanti bibirmu nggak bisa senyum lagi loh."


"Bodoh amat!"


"Bodoh amat lagi, sih. Tidak ada kata lain apa?"


"Bodoh amat!"


"Tuh, ngambek lagi?"


Ayu memutar bola matanya. "Boodoh aamaat!"


Alex hanya tertawa kecil dan melanjutkan memijat betis Ayu. Untuk sepersekian menit suasana di ruangan itu hening.


"Kanan terus, yang kiri juga dong!" pinta Ayu.


"Baik, Nona manis." Alex menurut dan berpindah ke betis satunya lagi.


Sebenarnya tangan Alex sudah sangat pegal, namun dia belum berhenti karena Ayu belum memintanya berhenti. Selain itu, Ayu sedang hamil, wajar kalau perempuan itu sangat lelah.


Alex memperhatikan wajah Ayu yang sedang memejamkan mata. Perempuan itu tampak pulas dengan tarikan napas pendek dan cepat.


"Ayu!"


"Sayang!"


"Nona manis!"


"Hei, bodoh amat!"


Alex memanggil Ayu dengan nama-nama panggilan yang dibuat olehnya, namun tidak ada respon sama sekali. Sepertinya Ayu sudah terlelap.


Akhirnya, Alex bisa beristirahat. Dia bersandar dan merentangkan tangannya di lengan sofa. Sayang, belum lama beristirahat Ayu menggeliat.


"Kenapa berhenti?" keluh Ayu dengan suara parau.

__ADS_1


"Capek, Yang," aku Alex.


"Capek apaan? Badan aja yang gede," ejek Ayu.


"Mengantuk, Sayang. Ini sudah jam dua belas."


Mata Ayu langsung terbuka. "oh ya?"


Alex mengangguk.


Ayu menurunkan kakinya dan memaksakan dirinya bangkit.


"Kenapa nggak dibangunin dari tadi?"


"Masa aku tega ganggu tidur kamu, Sayang."


Ayu tidak membalas karena masih berusaha melawan kantuknya.


"Tunggu di sini!" pinta Alex.


Alex meregangkan badan singkat, kemudian melangkah menjauh. Tidka lama dia muncul lagi dengan segelas susu hangat.


"Minum susu dulu," kata Alex semakin menyodorkan gelas pada Ayu.


"Ini susu apaan?"


"Susu sapi lah, masa susu itik, Sayang!" canda Alex.


"Tau Alex, tapi apaan. Susu hamilku, kah?"


"Iya, ini susu yang harus kamu konsumsi selama kehamilan."


Ayu meraih gelas itu dan meminumnya, lantas memberi gelas kosong pada Alex.


"Kok bisa susunya ada di sini?" tanya Ayu heran, karena tadi dia tidak membawanya.


"Aku bawa tadi siang, aku ini suami siaga, tau." Alex memuji diri sendiri.


Ayu tersenyum kecil. "Iya, tau."


*****


Ayu menggeliat di atas ranjang setalah seberkas cahaya berhasil lolos di sela-sela gorden dan mengenai sebagian wajahnya. Dia masih ingin tidur, kalau bisa dia ingin tinggal di tempat di mana waktu malamnya lebih lama.


Aroma manis menusuk Indra penciuman Ayu, sehingga mau tidak mau dia perlahan membuka mata. Dia menatap ke samping, tempat Alex tidur. Kosong, Alex tampaknya sudah bangun, dan tidak heran ada bau enak yang tercium oleh Ayu. Dia bangkit dan duduk sambil meregangkan punggung dan lengannya.


"Sudah bangun?" tanya Alex yang tampaknya Beru keluar dari kamar mandi.


Ayu mengangguk. "Kamu pesan sarapan?"


"Ya, di luar ada pancake, suka?"


Ayu mengangguk lagi.


"Aku ganti baju dulu, kami bisa pake kamar mandi."


Ayu menurut dan langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, dia keluar. Untung Alex yang sepertinya memang sudah merencanakan segala hal dengan baik, membawa banyak baju ganti untuk Ayu. Alasannya, Alex tidak tahu baju mana yang ingin Ayu kenakan.


"Ayo makan!" ajak Alex yang sedang duduk di kursi yang di depannya ada dua pancake dan jus.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Alex yang selesai menelan suapan ke-tiganya, sementara Ayu masih memandangi piring.


"Suka," jawab Ayu mulai mengambil potongan strawberry di piringnya.


Ayu memakan makanannya tanpa menatap Alex lagi. Ada rasa hangat di pipinya melihat lelaki di depannya topless. Tidak mau lama-lama berhadapan dengan Alex, dia pun makan cepat-cepat.


"Pelan-pelan, Yang. Nanti tersedak." Alex mengingatkan.


"Ini enak," ucap Ayu terus menjejali mulutnya dengan pancake dan buah.


"Kalo masih mau kita pesan lagi, tidak usah takut kehabisan."


Ayu hanya tersenyum, namun sama sekali tidak mengindahkan perkataan Alex. Dia hanya ingin segera memutar badan menjauh dari Alex.


"Aku mau beresin pakaian dulu," pamit Ayu cepat setelah meneguk habis jusnya.


Ayu bernapas lega setelah masuk ke dalam kamar. Dia meraih koper kecil dan mulai memasukkan pakaian. Dia mendesis dan memukul pelan kepalanya, mengingat pikiran aneh saat menatap Alex tadi. Sial, dia sepertinya mulai tertular kemesuman Alex.


Sontak saja Ayu kaget saat Alex datang entah dari mana dan melempar diri di ranjang. Lelaki itu telentang sambil menatap Ayu yang sedang beberes.


"Bikin kaget, tau!" protes Ayu.


"Memangnya lagi ngapain sampai kaget?" tanya Alex menggulingkan badan, kemudian bertopang dagu.


"Ini baju kamu kotor?" tanya Ayu tanpa menjawab pertanyaan Alex.


"Ya, aku pake kemarin pagi," jawab Alex.


Ayu melanjutkan aktivitasnya tanpa peduli Alex yang terus memandanginya.


"Kalo yang ini?" tanya Ayu lagi sambil memegang kaos polos berwarna putih.


"Bersih," jawab Alex singkat.


Baju putih itu tadi langsung dilempar Ayu pada Alex. "Pakai baju sana!"


"Aku pikir kami suka kalo aku nggak pake baju," kata Alex melempar bajunya ke belakang.


"Memangnya kamu manusia purba, nggak pake baju!" omel Ayu, "pake cepat!"


Alex terkekeh dan mengambil kaosnya. "Cepat sekali beberesnya, Yang. Kita kan check out besok."


"Kamu aja yang check out besok, aku sih mau pulang sekarang," ketus Ayu.


"Aku reservasi sampe besok, Yang. Biayanya tidak murah loh," ucap Alex.


"Bodoh amat," ucap Ayu tidak peduli, "yang pesan kamu, ya yang nginap kamu lah."


Alex turun dari ranjang dan memeluk Ayu dari belakang. "Aku kan sudah punya rencana buat kita malam ini, Yang."


Spontan Ayu menyiku perut Alex. Alex pun meringis kesakitan, kali ini bukan pura-pura karena Ayu memang menyikunya dengan kencang.


"Sakit, Yang," keluh Alex sambil memegangi perut kirinya.


"Siapa suruh kamu ngomong sembarangan!"

__ADS_1


"Maksud aku, kita belum dinner berdua di luar. Aku udah pesan soalnya." Alex beralasan.


Ayu gelagapan dan pipinya memerah. "Ka-kamu sih kalo ngo-mong ambigu."


"Memangnya kamu pikir apa? Kamu tidak berpikir mesum kan, Yang?" goda Alex meski masih memegang perut sakitnya.


Ayu menggeleng. "Ng-nggak lah, emang kamu."


"Iya, iya, percaya."


Ayu tidak membalas dan langsung menutup koper. Setelah selesai, dia langsung keluar dari kamar. Dia benar-benar sudah gila, pasti Alex sedang menertawakannya sekarang.


Lantaran malu, Ayu keluar menuju balkon. Dia harus menenangkan diri dan menjauh dari Alex untuk sekarang. Sambil menarik napas dalam, dia mengangkat wajah untuk menatap langit biru. Kemudian menghembuskan napas dan berbalik menatap sekeliling balkon. Dekorasi balkon itu sudah berbeda dari semalam.


Tempat itu tak semeriah saat pesta semalam, hanya ada bar, pepohonan rindang, dan beberapa tumbuhan menjalar di setiap sisi balkon. Pemandangan kota terlihat jelas di sana. Ayu mendekat menuju tembok, lalu menatap jauh ke depan.


"Kenapa keluar?" tanya Alex yang tiba-tiba muncul.


Ayu berbalik dan melihat Alex yang sedang bersandar di salah satu tiang yang dipenuhi dengan tanaman menjalar.


"Cari angin segar, di dalam sumpek."


"Ah, aku sudah hubungi dokter kandungan. Nanti sore aku antar kamu check up."


Ayu mengerutkan kening. "Ini belum waktunya aku check up," kemudian melanjutkan, "dan aku punya dokter sendiri."


"Tidak, kamu harus temui dokter pilihanku. Dia dokter kandungan terbaik di sini, dan aku mau tau kabar anak aku."


Ayu mendengus kesal. Dia berjalan dengan cepat meninggalkan Alex sendiri. Lelaki itu berani memerintahnya, dia pikir siapa dia, Ayu tidak akan pernah menuruti keinginan Alex.


***


Alex senyam-senyum melirik Ayu yang sedang duduk di kursi tunggu sebuah klinik. Meski harus sedikit dipaksa, akhirnya Ayu menurut dan ikut ke dokter yang diinginkan oleh Alex.


Setelah menyelesaikan pengisian formulir, Alex menghampiri Ayu.


"Ayo kita masuk!" ajak Alex sambil menjulurkan tangan pada Ayu.


"Nggak antri, Lex?" tanya Ayu, "kita baru datang."


"Aku sudah buat appointment dua hari yang lalu. Aku tidak mau kamu menunggu, nanti kecapean."


Ayu meraih tangan Alex sambil tersenyum. Sejenak dia merasa kagum pada Alex yang begitu perhatian. Alex bahkan sudah merencanakan semuanya dengan detail, pernikahannya, waktu konsultasi, dan segalanya. Ayu adalah perempuan, tetapi dia tidak mungkin bisa memanajemen semuanya secara bersamaan dan dengan hasil yang sangat baik.


Tatapan Sayu terus tertuju pada Alex yang tampak kegirangan.


"Aku tidak sabar melihat anakku," ungkap Alex sambil menggenggam tangan Ayu.


Mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Seorang dokter berkacamata dengan jas putih menyambut mereka dengan senyum.


"Silahkan duduk!" pinta dokter yang di name tag-nya tertulis 'Dr. Gracia Elena, Sp.Og'.


Dokter Gracia mulai bertanya, mulai dari umur, riwayat penyakit, merokok atau tidak, serta pertanyaan-pertanyaan dasar lainnya.


"Saya sudah pernah melakukan pemeriksaan di dokter kandungan sebelumnya," ungkap Ayu.


"Bagaimana hasil pemeriksaan terakhir kali?"


Ayu mencoba mengingat sejenak. "Ehm, kata dokter kondisi janin sehat dan kuat. Tapi, dulu saya sedikit lemah karena morning sickness. Saya diberi beberapa multivitamin dan disarankan untuk mengonsumsi susu kehamilan dan teh jahe untuk menghilangkan mual. Sudah beberapa hari sudah berkurang, bahkan tadi pagi sama sekali tidak mual."


"Baik, kita cek tekanan darah dan denyut nadi Ibu dulu, silahkan ikut saya," ucap Dokter Gracia sambil mengarahkan Ayu menuju ruangan sebelah yang berisi ranjang dan beberapa alat pemeriksaan."Suster, boleh dibantu."


Setelah melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan. Dokter Gracia mulai mengoles gel untuk prosedur USG. Alex yang juga ikut masuk terus menyaksikan jalannya pemeriksaan. Dia menatap takjub pada monitor saat Dokter Grace menunjukkan kondisi janin di rahim Ayu.


"Sudah masuk minggu ke-lima ya, Bu," kata Dokter Grace menatap monitor. "Di sini mulai terbentuk jaringan jantung dan ginjal. Di jantungnya mulai terbentuk sekat dan serambi, jadi sebentar lagi sudah bisa memompa darah sendiri. Lihat yg kecil ini, ini daun telinga yang mulai terbentuk, fitur wajah juga mulai terbentuk."


Alex dan Ayu terpaku pada monitor sambil mendengar penjelasan dokter.


"Nah, empat bagian kecil ini nanti akan berkembang menjadi tangan dan kaki." Dokter Grace malanjutkan.


"Ukurannya kecil sekali," ucap Alex.


"Ya, 1,2 mm dan berat 1,1 gr, tapi akan terus berkembang," jawab Dokter Grace.


Setelah menyelesaikan semua rangkaian pemeriksaan, mereka kembali ke ruang konsultasi.


Dokter Grace mulai membacakan hasil pemeriksaan. "Janinnya sangat sehat, perkembangannya sangat baik. Hanya saja tekanan darah Ibu rendah, harus bentak istirahat dan konsumsi sayur dan buah ya, Bu."


"Dengar kan, Sayang. Harus banyak konsumsi buah dan sayur," sela Alex.


"Umumnya di Minggu ke-lima morning sickness akan bertambah. Selain konsumsi teh jahe, mual bisa disiasati dengan tidak makan terlalu banyak tapi sering. Kalau bisa sediakan biskuit." Lanjut Dokter Gracia, kemudian menambahkan. "Olahraga juga harus tetap jalan yq, Bu, tapi yang ringan-ringan saja. Biar tetap fit."


"Ah, Grace, maksud saya Dokter, misalnya di trisemester awal apa boleh berhubungan suami-istri?" tanya Alex yang langsung membuat Ayu menginjak kaki Alex.


"Pertanyaan apa itu, Sa-yang?" ucap Ayu sambil melorotkan mata pada Alex.


Dokter Gracia tersenyum. "Tidak apa-apa, itu pertanyaan lumrah yang semua suami selalu tanyakan."


Ayu menggeleng keras pada Dokter Grace. "Tidak! Jangan dijawab, Dok!"


"Baiklah, tidak akan dijawab sekarang. Nanti saya DM saja ya, Pak," kata Dokter Grace pada Alex.


Alex mengacungkan jempol. Ada bagusnya membawa Ayu periksa di dokter kenalannya.


"Kamu apa-apan sih, Lex!" protes Ayu sambil memukul lengan Alex begitu mereka keluar dari ruangan dokter.


Alex tidak menjawab dan hanya tertawa kecil. Dia menatap hasil USG anaknya.


"She's miracle," ucap Alex sambil memperlihatkan gambar janinnya.


"She? Tau dari mana kamu, jenis kelamin janin baru bisa kelihatan di bulan ke-empat Alex."


"Firasat seorang ayah, tentunya."


"Maksud kamu ayah sok tau?"


"Serius Ayu sayang, aku terus berpikir anak kita itu sepertinya perempuan," ungkap Alex.


Ayu terus melangkah, dia tidak peduli dengan imajinasi Alex. Baginya, lelaki atau perempuan tidak masalah asalkan bayinya nanti lahir dengan selamat dan sehat.


***


Awalnya aku hampir batal UP gara-gara nonton BTS BangBangCon, tetapi aku paksain begadang demi menunaikan janji yang sudah saya buat.


Semoga kalian suka, ya. Oh, ya aku curhat dikit, aku lagi senang soalnya bisa nonton old konser BTS dengan kualitas gambar jernih dan tanpa ada potongan. Semoga habis nonton lanjutan konser Oppa besok idenya lebih ngalir, ya 😊😍💜

__ADS_1


(Beberapa data bersumber dari google, aku nggak ngerti masalah kehamilan soalnya. Dulu pernah ke dokter kandungan bareng teman yang lagi check up, tapi udah lama, udah lupa dokter kandungannya ngomong apa aja)


__ADS_2