Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
A Vow


__ADS_3

"Kenapa buru-buru sekali sih, Lex!" protes Ayu setelah memasuki mobil Alex.


Alex hanya diam, dia terus memandangi setir dengan tatapan kosong. Ayu yang bingung karena lelaki itu terus terdiam padahal sudah berkian kali dia memanggil namanya, memutuskan untuk memukul pelan lengan lelaki itu.


"Ada apa?" tanya Alex dengan penuh akan kagetnya.


"Niat jemput tidak? Melamun terus," omel Ayu.


"Maaf!" Alex membalas singkat kemudian beralih pada kemudi untuk melakukan mobil.


Mereka terdiam sepanjang perjalanan -- tenggelam dalam pikiran masing-masing. Alex tidak menyangka akan bertemu Tamara di rumah Ayu. Dia masih ingat wajah perempuan yang selalu menjadi impiannya, senyum tipis dan ucapan selamat. Kata selamat yang tidak ingin didengar oleh Alex, karena sampai sekarang dia masih berharap Tamara yang menjadi pendampingnya.


"Alex!" teriak Ayu kencang membuat Alex kembali dari lamunannya.


Seorang anak lelaki yang membawa ransel dan di tangannya ada beberapa tisu yang sepertinya dia jual berdiri tidak jauh di depan. Alex segera menginjak rem kencang. Sontak tubuh Ayu dan Alex sedikit terguncang meskipun telah mengenakan seatbelt. Sementara sang  anak terjungkal karena kaget dengan decitan mobil Alex.


"Kamu gila, ya! Aku nggak mau mati bodoh," pekik Ayu.


Alex menatap ke lampu jalan yang sedang berwarna merah.


"Maaf, aku tidak liat tadi," jawab Alex masih kaget.


"Tidak liat? Orang bis ...." Omongan Ayu terpotong karena pukulan keras di kaca mobil di sampingnya. Seketika Ayu melonjak karena kaget. Dia berbalik dan melihat pengendara motor yang tampak marah dan teriak.


" Woi, bisa nyetir nggak, Lu!" teriak orang itu. Sementara orang yang dibonceng olehnya turun dan membantu anak yang jatuh tadi.


Tanpa membuka kaca mobil Ayu menunduk dan meminta maaf. Lantas berbalik ke arah Alex yang siap membuka pintu mobil.


Ayu menahan lengan Alex. "Jangan turun!"


"It's okay."


"Bagaimana kalo kamu dipukuli?" ucap Ayu khawatir.


"Tidaklah, anak itu tidak ketabrak," kata Alex dan melanjutkan, "that's my responsibility, right?"


Ayu melepas pegangannya di lengan Alex. Dia duduk dan hanya memandangi Alex yang tampak berbincang dengan beberapa orang di depan mobil, dia juga tampak mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Dasar!" cela Ayu.


Suara klakson dari mobil di belakang mulai bersahutan karena lampu jalan sudah berwarna hijau. Anan lelaki tadi terpincang menuju ke trotoar, pengendara motor tadi sudah kembali ke motornya, begitupun dengan Alex yang telah masuk ke dalam mobil.


"Ini!" Alex menyodorkan tiga bungkus tisu pada Ayu.


Kampung Ayu mengerut. "Kamu beli tisu? Sempat-sempatnya."


"Tidak, pemberian anak tadi."


"Loh, kamu yang nabrak malah dikasi tisu?"


"Dia baru mau ambil uangku kalo tisunya diambil. Tadi malah mau dikasi sama tasnya, mau diapain juga tisu sebanyak itu."


Ayu meletakkan tisu itu di dashboard.


"Gimana tadi, bapak yang tadi nggak marah-marah?" tanya Ayu sedikit ngeri karena mengingat bagaimana wajah pengendara motor yang tampak emosi.


Alex tertawa kecil sebelum berbicara. "Gimana mau marah, aku pura-pura tidak mengerti dia ngomong apa."


"Masa? Dia percaya kamu nggak bisa bahasa Indonesia?".


"Iyalah, aku kasi Mandarin tadi."


"Jangan bercanda, ah, aku serius. Kalo ngantuk ngapain jemput segala, tadi tuh kamu hampir bunuh anak orang!" omel Ayu.


"Maaf," ucap Alex, "tapi tadi bapak itu benar-benar bikin kaget, ngapain coba pukul kaca mobil segala."


"Masih baik yang dipukul kaca mobil, bukan kamu."


"Iya juga, masa aku babak belur di pesta pernikahanku," cetus Alex tertawa kecil.


***


Suara musik dan sorakan mengiringi langkah Ayu dan Alex yang melangkah di atas karpet sambil bergandengan tangan. Gaun silver gray dengan bahan brokat dan Tulle terlihat indah dan anggun di tubuh Ayu. Sementara Alex mengunakan Two toned tuxedo berwarna dark blue.


Senyum seakan tak ingin terlepas dari bibir mereka. Bukankah mereka pantas mendapat piala Oskar untuk lakon mereka yang sangat sempurna? Hati Ayu ikut tersenyum mengejek dirinya sendiri. Sesekali Ayu melirik Alex, mencuri pandang pada wajah tampan itu.


"Gimana, cantik kan?" bisik Alex di samping telinga Ayu.


Ayu berbalik dan tersenyum pada Alex. Entah sejak kapan suara Alex terdengar indah di telinga Ayu. Pernikahan ini sama sekali tidak diinginkan oleh Ayu, namun melihat betapa sempurna Alex mempersiapkan segalanya, dia merasa sangat bahagia. Seakan pernikahan impian Ayu menjadi nyata.


Musik romantis dan dekorasi sempurna di atas rooftop. Tidak begitu banyak undangan, benar-benar pesta yang sangat intim. Belum lagi gaun yang Alex persiapkan untuknya, bukan gaun putih yang biasa digunakan oleh pengantin wanita, namun Ayu merasa lebih cantik daripada seluruh pengantin wanita yang pernah dilihatnya.


Melihat semua undangan yang menatap mereka takjub, juga bisikan memuji yang samar terdengar oleh Ayu -- membuat hatinya mengembang. Ya, dia harus berterimakasih pada Alex yang susah paya mewujudkan resepsi sempurna itu.


"Kamu suka?" bisik Alex


Ayu mengangguk. "This is amazing."


"Aku senang kalo kamu suka," ungkap Alex.

__ADS_1


Alex terus menggandeng tangan Ayu -- menuntun isterinya itu menuju tamu undangan satu-persatu. Tidak banyak orang di peta itu, mungkin tak sampai tiga puluh orang. Sehingga, mereka bisa berbincang dengan para undangan dan berfoto bersama, bahkan membuat video pendek kocak dengan gembira.


"Aku nggak nyangka kalian akan menikah, with no dating," ungkap Richard.


"Ya, aku juga tidak menyangka," ucap Alex setelah menyesap habis minuman di gelasnya.


Tatapan Alex tertuju pada Ayu yang berdiri tidak jauh darinya bersama beberapa orang temannya, termasuk Tamara. Mereka tampak tertawa kecil dan bahagia.


"Aku ikut senang atas pernikahanmu," ucap Richard tulus, " Ayu is one of my favorite person, so don't you dare to play with her."


Alex bisa mendengar nada mengancam di setiap kata Richard. Entah mengapa dia dan Richard memang tak pernah akur, mungkin karena dia benci dengan kenyataan bahwa Tamara lebih bahagia bersama lelaki itu.


"Aku suka bermain-main, Richie. Tapi, pernikahan bukan mainan, kan."


Richard mengangguk pelan. Dia tersenyum kecil menatap gelas yang dia goyangkan pelan, lantas meneguk habis isi gelas itu dalam satu tegukan.


"Ya, bukan permainan," kata Richard lagi. Dia melangkah mendekat menuju Tamara.


Mata Alex mengekor pada Richard yang langsung melingkarkan lengannya di punggung Tamara, juga memberi kecupan singkat di kening perempuannya. Alex mendengus kesal, dia pun meletakkan gelas kosongnya di meja terdekat dan mengikuti langkah Richard. Pikiran bodoh pasti telah menguasai pikirannya saat ini.


Alex tersenyum pada Tamara dan Richard kemudian mendekat pada Ayu yang berada di samping Richard. Dia melingkarkan lengan di punggung Ayu dan memberi kecupan di kening Ayu. Dia memang tidak memiliki Tamara, namun dia memiliki Ayu, Ayu yang manis.


"Ho-ho, pengantin baru emang beda, ya," ejek Sheilla sepupu Alex yang kebetulan teman seprofesi Karin.


"Jelaslah, tidak minat mencoba?" canda Alex.


"Tapi, gimana rasanya menikah nggak pake pacaran?" tanya Sheilla.


"Lebih lengket katanya," jawab Karin, lalu tertawa kecil.


"Eneng iya, Sayang?" Alex bertanya pada Ayu berdasarkan pernyataan Karin.


"Ehm." Ayu melongo pada Alex. Dia tidak menyangka Alex akan menyerangnya seperti itu. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alex.


Ayu memberi senyum termanisnya pada Alex, sementara jemarinya mencubit keras pinggang Alex yang dia peluk.


"See!" ucap Alex memamerkan kedekatannya dengan Ayu, "lengket."


Mereka tertawa berbarengan.


"Aku ke sana dulu," pamit Tamara setelah Reina membisiknya.


Suara sorakan dan ketukan piano mulai terdengar. Ayu dan Alex menatap ke arah mini stage, di sana ada Tamara Yang sedang duduk memainkan piano dan Marissa berdiri memegang mic.


"Aku sudah lama Tidka menyanyi, jadi harap dimaklumi!" pinta Marissa dengan senyum terukir di wajahnya.


Sorakan girang terdengar lagi.


I'd give anything and everything and I will always care


Through weakness and strength


Happiness and sorrow


For better, for worse


I will love you with every beat of my heart


Hanya suara lembut dan merdu milik Marissa yang terdengar mengisi udara. Semua undangan dan mempelai hanyut dalam nyanyian.


From this moment, life has begun


From this moment, you are the one


Right beside you is where I belong


From this moment on


Alex mengeratkan rangkulannya pada Ayu. Mulai saat ini dia telah memiliki hidup yang baru, di mana Ayu menjadi satu-satunya dan akan selalu mendampinginya.


From this moment, I have been blessed


I live only for your happiness


And for your love, I'd give my last breath


From this moment on


Meskipun semua orang akan berkata bahwa malam itu adalah kesalahan, bagi Alex, Ayu dan calon anaknya adalah anugerah. Dia akan selalu membahagiakan dan menyanyi mereka hingga nafas terakhirnya.


I give my hand to you with all my heart


I can't wait to live my life with you, I can't wait to start


You and I will never be apart


My dreams came true because of you


Hari ini Alex dan Ayu telah bersama. Tidak akan ada yang memisahkan mereka, Alex tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Ayu adalah isterinya yang akan menemani Alex mewujudkan mimpinya.

__ADS_1


From this moment as long as I live


I will love you, I promise you this


There is nothing I wouldn't give


From this moment on, oh…


Alex melirik Ayu yang masih hanyut dalam nyanyian. Mulai saat ini dan selamanya, Alex akan menyayangi Ayu dan keluarga kecilnya kelak. Memastikan mereka mendapatkan apa yang tak pernah dia dapatkan.


Suara tepukan tangan terdengar meriah setelah Marissa dan Tamara selesai dengan penampilan mereka. Setelah Tamara meninggalkan panggung, Marissa masih memegang mic dan ikut turun mendekat pada Alex dan Ayu.


"I know I was failed as a wife as a Mom, perrnikahan Mami dan Daddy-mu tidak patut menjadi contoh," ungkap Marissa menatap Alex dalam.


Marissa mengalihkan pandangan pada Ayu. "I didn't rise him well, but he grow alot. He developed him self alone with scars that I made, and I should say thanks to you for your love that you give to my precious one."


Atmosfir ceria dan bahagia, mengharu biru mendengar pengakuan Marissa.


"You know that I love you so much, both of you," ungkap Marissa sambil memegang tangan Ayu dan Alex.


Alex memeluk ibunya dan bisa merasakan getaran tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu karena tangis. Ini pertama kali setelah sekian tahun lamanya, dia tidak pernah memeluk ibunya. Bukan hanya itu, ini juga pertama kali Alex mendengar kata cinta dari ibunya sejauh yang bisa diingat olehnya.


Usai dengan adegan penuh haru tadi, Karin mengambil alih mic yang dipegang oleh Marissa tadi. Satu tangan Karin memegang mic, sementara yang satunya memegang gelas berisi vodka.


"Okay, aku rasa kita sudah cukup dengan adegan sedih. First, aku minta maaf kalo kata-kataku agak rude. But, that b*tch!" Telunjuk Karin mengacung pada Ayu.


Para undangan saling bertatapan mendengar ucapan Karin.


"Temanmu sepertinya teler," bisik Alex.


Ayu menggeleng sambil meringis. "Kamu kenal Karin, kan. Tidak mabuk pun mulutnya tidak bisa dikontrol."


Sementara Tamara langsung mendorong Richard pelan. "Bawa Karin turun, Richie. Dia selalu saja merusak suasana."


"Tidak, tenang saja." Richard menenangkan Tamara.


Karin mendesah kasar sambil menggeleng-geleng. "Aku dan Tamara sudah sering berusaha mempertemukan mereka. Atur sana dan atur sini. Sialnya, mereka selalu bilang 'No, Im not interested by him, by her'. Masih ingat waktu kalian bilang gitu, huh?"


Alex menahan senyumnya, sementara Ayu menatap Karin dengan mata melotot.


"Look at them! Benar-benar pengkhianat, bilangnya tidak mau, padahal bertemu bahkan menikah diam-diam." Karin melanjutkan dengan nada kesal.


"Tapi, tidak apa-apa. It's called destiny, right. Kisah mereka sedikit menyadarkan aku kalo bagaimanpun kalian menolak, jodoh takkan kemana." Tambah Karin lagi.


Senyum mulai terukir di wajah kedua belah pihak keluarga.


"Buat kamu, My best traitor friend, aku berdoa untuk kebahagian kalian. Sebagai permintaan maaf karena pengkhianatan besar kalian, aku harus secepatnya menggendong Alex junior atau Ayu junior, okay!"


Tawa dan tepuk tangan bergemuruh.


"Thank you!" ucap Karin, kemudian turun dan menyodorkan mic itu pada Alex. Satu alisnya terangkat, seakan menantang Alex.


Alex menarik Ayu menuju panggung. Tepuk tangan dan sorakan terdengar lagi.


"Ehm, ini benar-benar di luar rencana. Aku tidak tau ada acara semacam ini, karena sama sekali tidak ada agenda apa pun. But, I'll give it a try," ungkap Alex.


Alex berbalik dan menatap Ayu, satu tangan Ayu masih berada di genggaman Alex.


"I'll promise you nothing cause promises would be broken. Aku hanya ingin kamu tau kalo selamanya kami akan menjadi satu-satunya ibu dari anak-anakku nanti. Aku mungkin tidak bisa memberikan apa pun yang kamu inginkan, tapi aku akan berusaha memberikan segala yang kumiliki." Alex mencium punggung tangan Ayu.


Dalam hati Ayu memuji kemampuan berlakon Alex yang semakin terasah. Tatapannya sangat meyakinkan. Lihat, Ayu bahkan bisa saja salah sangka menangkap tatapan itu sebagai tatapan penuh cinta dan ketulusan.


"From very beginning, we knew that it wouldn't be easy, but we have each other. Kita akan selalu hidup bersama saling mengasihi, saling berpegang teguh pada alasan kita bersatu."


Alasan kita bersatu, anak mereka, itu terkaan Ayu.


"I love you to the moon and back, Sayang," ungkap Alex dan mencium punggung tangan Ayu lagi.


Tepuk tangan bergemuruh lagi. Beberapa pujian terdengar untuk Alex yang ungkapannya sangat manis.


"Say something, Sayang!" pinta Alex


Ayu menatap Alex dengan alis terangkat. Dia menatap mic yang terus disodorkan oleh Alex. Dengan terpaksa, Ayu meraih mic itu.


"Ehm, terimakasih untuk ungkapan manisnya tadi, Hubby," ucap Ayu pada Alex dengan senyum lebar.


Orang yang melihat mungkin menyangka itu senyuman bahagia, namun Alex tahu bahwa itu ancaman bahwa dia tidak akan selamat setelah ini.


"Tidak ada kata yang bisa aku ungkap saat ini. Aku, aku hanya bahagia karena memiliki kamu sebagai suamiku. Suami yang sejauh ini selalu melakukan dan memberikan yang terbaik untukku. Kita tidak berjanji seperti pasangan lain, tapi kita saling mempercayai, juga saling menjaga."


Meskipun Ayu memiliki kebencian pada Alex, namun tentu saja dia tidak akan memungkiri bahwa selama ini Alex selalu memberikannya hal terbaik untuknya. Lelaki itu pun bisa dipercayai oleh Ayu bahwa dia akan tetap menjaga rahasia kecil mereka.


"Thank you for blessing gift that you gave me. I love you."


Meski kehamilannya karena sesuatu yang tak benar, namun anaknya tetaplah anugerah yang diberikan Tuhan untuknya.


"So, may I kiss my bride?" tanya Alex yang dibalas sorakan girang.


"Oh, thank you," ucap Alex dan Tanpa tunggu lagi dia mendaratkan bibirnya di bibir Ayu pelan.

__ADS_1


****


__ADS_2