
Mobil Ayu yang dikendarai oleh Alex memasuki pelataran parkir sebuah gedung perkantoran.
"Ingat jam 11 aku mau ke cabang, jangan telat!" Ayu mengingatkan jadwalnya.
"Siap, Bos. Nanti saya jemput kalo urusan udah kelar." Alex membalas dengan tangan di letakkan di ujung kening menyerupai orang yang sedang hormat. Hu
"Emang mau kemana?"
"Mau ke rumah ibu mertuamu, Sayang. Aku bukan tukang selingkuh, kok."
Ayu hanya memutar bola mata sembari melepas seat belt. Dia mencoba membuka pintu mobil, namun dikunci otomatis oleh Alex.
Ayu berbalik ke arah Alex DNA berkata, "Alex, aku udah telat!"
"Pipiku kering, mau dikecup basah kayaknya," kata Alex menunjuk pipi kirinya.
"Aku siram yang ada. Cepat buka!" Suruh Ayu.
Alex melirik keluar. "Banyak orang, Sayangku. Masa buka-bukaan di sini."
"Bodoh amat!" ketus Ayu.
Meski menolak untuk mencium pipi Alex, Ayu tidak menghindar sama sekali saat lelaki itu memajukan kepala dan mendaratkan bibir di kening Ayu. Dia terdiam dan merenung -- bingung atas dirinya yang sangat bahagia saat berdekatan dengan Alex. Bagaimana bisa dia berubah sedrastis itu dalam semalam.
***
Mobil yang dikemudikan oleh Alex memasuki pagar besar berwarna hitam. Halaman rumah itu sangat luas yang didominasi oleh rumput hijau. Beberapa pohon rindang dan bunga berwarna-warni. Seorang lelaki tampak merapikan rumput. Beberapa mobil terparkir begitu saja di luar garasi.
Alex menghentikan mobilnya tepat di belakang BMW 320i berwarna light blue. Dia keluar kemudian berhenti sejenak, memperhatikan dua mobil yang berderet. Toyota Yaris milik Ayu seperti rongsokan di antara semua mobil yang terparkir.
Alex beralih pada rumah bergaya Victoria dengan paduan warna cokelat dan putih. Entah kenapa Ibunya begitu menyukai rumah sebesar itu, menurut Alex tidak esensial sama sekali. Rumah yang baik bukan rumah besar dan megah, melainkan sebuah rumah dengan penghuni utuh dan bahagia.
Alex menaiki anak tangga yang diapit pilar putih besar dengan ukiran emas. Lantas masuk dan mendapati ruang tamu yang diisi begitu banyak perabot mewah. Ada juga perapian di ujung ruangan yang fungsinya sebagai penghias tentunya. Lagipula siapa yang butuh perapian di negara dengan cuaca panas seperti Indonesia, kecuali tinggal di gunung jaya wijaya sepertinya.
Dia masuk lebih dalan lagi, namun tak mendapat seorang pun selain salah seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan salah satu guci besar yang tadi menatapnya singkat. Rumah besar yang terasa sangat kosong. Dia hanya menetap sekitar dua tahun di rumah itu sebelum akhirnya pindah di Melbourne bersama Ayahnya.
Setiap kali memasuki rumah itu, Alex selalu merindukan rumah masa kecilnya yang bertetangga dengan Tamara. Bukan Tamara yang dia rindukan, melainkan kenangan saat kedua orangtuanya masih bersama. Meskipun rumah itu juga sepi karena Alex lebih sering bersama perawat atau di day care, tetapi dia tetap bisa merasakan kebersamaan dengan dua orang yang sangat berarti untuknya.
Sebuah pigura besar terpajang di ruang keluarga. Pigura berbingkai emas berisi empat orang yang tampak sangat bahagia. Dulu saat masih kecil Alex pernah memiliki foto keluarga berisi tiga orang, sebelum foto itu dimasukkan di gudang dan entah di mana sekarang. Terakhir kali Alex mengambil foto keluarga adalah saat berusia enam tahun, tepat di hari ulang tahunnya. Ulang tahun terakhir yang dia rayakan dengan kehadiran lengkap orang tuanya.
__ADS_1
Alex menghembuskan napas berat, bahkan sampai sekarang dia tidak bisa menyingkirkan rasa iri pada dua saudara tirinya di dalam pigura itu. Keluarga kecilnya memang bukan keluarga hangat yang bahagia, ibunya selalu sibuk, ayahnya pun begitu. Sering kali dalam sehari dia tidak bertemu dengan mereka, tetapi Alex lebih memilih untuk jarang bertemu selama mereka masih bersama, daripada bertemu secara terpisah-pisah seperti sekarang.
Alex menggeleng pelan, berusaha menghilangkan kilasan-kilasan balik memori pahit menurutnya. Kali ini dia akan membuktikan bahwa dia bisa lebih baik daripada orang tuanya. Dia tidak akan pernah mengambil langkah egois yang akan melukai anaknya dengan alasan tidak lagi cocok. Jika saja mereka bijaksana, masalah apa pun masih bisa diselesaikan selama ada keinginan menyelesaikan.
Perceraian orang tuanya membuat Alex berikrar untuk tidak pernah bercerai. Dia hanya akan menikahi satu perempuan. Dia juga akan selalu berusaha memberi waktu lebih untuk menyaksikan pertumbuhan anaknya, karena dia tahu waktu tidak bisa terulang.
"Hai, Bro!" sapa anak lelaki yang berada di tangga. Dia mempercepat langkah menuruni anak tangga untuk cepat-cepat tiba di dekat Alex.
"Hai, Rei!" Alex balas menyapa adiknya.
Reihan adalah adik Alex dari Ibunya. Meski satu ibu, wajah mereka sangat berbeda karena Alex mewarisi wajah Kaukasus milik Ayahnya, sementara Reihan berwajah Melayu-oriental.
"Bukannya kamu di London?" tanya Alex setelah mengingat bahwa Reihan sedang melanjutkan kuliahnya di Inggris.
"Lagi kangen. Minggu depan baru balik lagi."
Alex mengangguk mengerti. "Kangen pacar, kan?"
Reihan tertawa. "Tidaklah, kangen sama Mama. Lagi single aku Bro, cariin satulah biar bisa double."
"Aku kenal banyak Tante-tante, mau?"
Walaupun terpaut usia sekitar 12 tahun dan jarang bersua, tidak membuat kakak-beradik itu canggung. Mereka sangat akrab, selayaknya saudara pada umumnya.
Seorang anak perempuan berlari mendekat lalu memeluk Alex. "Kak Alex!"
Alex menyentuh puncak kepala Reina, adik perempuannya. "Kamu sudah tinggi sekarang."
"Ia dong, masa kecil terus!" kata Reina.
"Selama ini kamu emang bantet, Nana," ejek Reihan.
Reina mencibir pada kakak kandungnya itu. "Balik ke London sana!"
Alex sangat menyayangi adik-adiknya itu, namun tidak bisa dipungkiri bahwa sering kali dia berharap mereka tidak pernah ada. Dalam hati kecilnya dia ingin Mami dan Daddy-nya tetap bersama, dan jika dia memiliki saudara maka dia ingin saudara yang mirip dengannya, saudara dari benih dan rahim yang sama.
"Aku udah liat di IG tentang pernikahan Kak Alex. Congrats!" Reina melanjutkan dengan wajah cerianya.
"Ah, gimana kakak iparmu, cantik kan?" ucap Alex dengan satu mata berkedip.
__ADS_1
"Cantik, sih!"
Reihan yang tidak tahu apa-apa melongok. Dia menatap keduanya bergantian.
"Menikah?"
"Ih, masa Kak Rei nggak tau. Berita nya lagi viral tau di Lambe-lambean!"
"Mana sempat aku follow akun tidak jelas seperti itu, nggak guna!" Nyinyir Reihan.
"Berguna tau!" Debat Reina.
"Gunanya apa, nyebar gosip murahan!"
"Kalo bukan karena Lambe-lambean, mana bisa kita tau kalo Kak Alex udah nikah."
Alex yang mendengar kabar viral pernikahannya sampai masuk di IG Lambe-lambean, kaget. Memang semalam dia melihat beberapa orang sudah mulai mengomentari dan menandai akunnya, namun dia tidak menyangka bisa masuk ke postingan biang gossip itu.
"Coba aku liat beritanya!" minta Alex pada Reina yang memang sedang mengantongi HP.
Foto Alex berdua dengan Ayu di kelilingi lilin terpasang di beranda akun gosip itu dengan caption, 'Happy wedding Mr. And Mrs. Jones, setelah perlombaan maraton sama mantan, akhirnya Babang Jones finish duluan.'
Ada hal lain yang menarik perhatian Alex. Nama akun salah satu pengguna Instagram yang tercetak di atas caption itu membuatnya seakan kehilangan oksigen.
'@TamaraDtara and 987.345 others like it'
Tamara pasti sudah tahu. Alex meraih HP-nya, dia membuka pesan yang tadi dikirim oleh Tamara bersamaan dengan pesan yang dikirim ibunya.
'I thought we're friends'. Begitu bunyi pesan Tamara.
Tadi Alex tidak mengerti arti pesan itu, sekarang dia sudah yakin bahwa Tamara sedang marah.
Kalangan kabut, Alex segera balik kanan dan mengambil langkah. Dia harus cepat-cepat menuju tempat Tamara dan memperjelas semua. Perempuan itu tidak boleh marah. Persetan dengan niatan awalnya datang ke rumah ibunya, bahkan jika semua orang membencinya, selama Tamara tidak ada dalam barisan itu tak mengapa.
***
Baru datang dengan eps. Yang sangat pendek. Maaf, author sangat sibuk dan masih berduka.
Thank's for your patient 😘
__ADS_1