Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Alex's Past (part2)


__ADS_3

"Alex!"


Sebuah panggilan menghentikan langkah Alex. Dia berbalik dan mendapati ibunya sedang berdiri di samping tangga.


Wanita berusia kepala lima itu masih terlihat muda sepuluh tahun dari usianya. Senyum mengembang di wajahnya, terlihat sangat bahagia menyambut anak sulungnya yang sudah lama tidak mengunjunginya.


"Kamu sendiri? Istrimu mana?"


Dalam hati Alex merutuk diri sendiri karena sempat berpikir untuk segera berlari pada Tamara. Tamara hanya sekedar cinta monyet yang seharusnya dia lupakan sekarang. Mereka hanya teman, dan selalu seperti itu.


Alex mengikuti langkah Ibunya menuju ke teras belakang, tepat di depan sebuah kolam berenang.


Ibunya duduk di sebuah kursi rotan dengan alas duduk bantalan empuk berwarna toska. Alex mengambil tempat di kursi sebelah.


Mata Alex menatap kolam renang yang luas itu. Dulu dia suka berenang, saat punya waktu dia sering di bawah oleh orang tuanya untuk berenang di kolam maupun di pantai.


Dia masih ingat hari itu saat dia masih sekitar usia empat tahun, ibunya sedang menerima telepon sementara Ayahnya sedang duduk menikmati kopi dan majalah -- tiba-tiba dia terjatuh dari kolam anak ke kolam orang dewasa yang memang bersebelahan. Alex kecil yang saat itu tidak mengenakan pelampung tenggelam beberapa menit sebelum diselamatkan oleh poolguard yang berjaga, bahkan sampai sekarang dia masih ingat rasa sesak setiap kali melihat kolam.


"Kamu nggak mau ngenalin isterimu sama Mami?"


"Dia kerja, Mi. Nanti siang aku bawa ketemu sama Mami."


"Daddy kamu tau?"


Alex menggeleng. "Tidak, cuma beberapa orang dekat aja."


***


Marissa Helena, ibu Alex -- adalah seorang penyanyi terkenal era 90-an. Sebelum mulai berkarir di dunia tarik suara, dia adalah seorang model sampul dan menikah dengan seorang model berkewarganegaraan Australia. Setalah melahirkan Alex, dia mulai merambah dunia tarik suara yang akhirnya membesarkan namanya.


Karir Marissa yang meroket membuat dia kurang waktu untuk keluarganya. Selain itu, suaminya, Samuel Jones memulai sebuah agensi model di Australia.  Mereka jarang menghabiskan waktu bersama, namun sesekali masih tetap meluangkan waktu untuk Alex.

__ADS_1


Marissa memutuskan untuk berhenti dari dunia keartisan setelah menikah dengan suami keduanya, Ayah dari Reihan dan Reina yang merupakan pengusaha yang mewarisi sebuah grup besar. Alasan itulah yang juga selalu membuat Alex iri pada saudara tirinya, ibunya berhenti dan memilih untuk meluangkan waktu untuk keluarga barunya, namun tidak untuk dia dan ayahnya.


Alex menatap singkat ibunya, kemudian beralih pada lantai. Setelah hampir dua puluh tahun, dia belum bisa melupakan semua kehancuran yang terjadi dalam keluarganya.


Saat perceraian orang tuanya usia Alex baru 7 tahun, Alex  menyalahkan diri sendiri -- menganggap dialah penyebab mereka bercerai. Setelah bertumbuh menjadi anak remaja, dia membenci mereka, mulai nakal dan bersikap tidak bertanggungjawab. Usia yang bertambah membuat dia belajar menerima, meskipun dia tidak akan pernah lupa pada semua lebam dan goresan di hatinya karena perpisahan mereka.


Alex masih ingat malam-malam sepi yang dia lalui. Tidak ada nyanyian atau dongeng pengantar tidur. Teman Alex di rumah hanya mainan baru yang hampir setiap saat dibelikan untuknya.


Setelah Ibunya berhenti berkarir dan fokus mengurus Reihan, Alex kadang membuat adiknya itu menangis. Dia bahkan pernah membuat Reihan terjatuh dari ranjang ke lantai sampai-sampai adiknya itu harus dirawat intensif. Karena kenakalan Alex itu, dia diambil oleh Ayahnya dan diasuh oleh neneknya di Melbourne.


Usia Alex saat itu baru 13 tahun, usia di mana dia mulai menanjak menuju remaja yang pemberontak. Kadang dia menyesali perbuatannya itu, namun sesal tidak berarti apa-apa. Mungkin itu sebabnya sehingga Alex terkesan selalu menuruti keinginan Reihan. Misalnya saat adiknya itu meminta salah satu koleksi barang kesayangannya; pernah juga Alex berbohong bahwa Reihan sedang bersamanya, padahal Reihan sedang pergi berlibur dengan temannya.


Alex tersenyum getir mengingat masa lalunya. Betapa bodoh dan gila kelakuannya hanya untuk mencari perhatian ibunya.


"Kenapa kamu menikah dengan cara begini?" Marissa menatap Alex yang masih menatap lantai.


"Cuma mau unik sedikit, anti-mainstream!"


Marissa memijit pelan dahinya. "Kamu ini, udah segede sekarang masih saja belum berubah. Hubungi Daddy-mu! Bukan begitu caranya menikahi anak perempuan orang. Harus ada upacara dan persetujuan keluarga, bukan seenaknya seperti itu."


Kadang Alex ingin memperlakukan ibunya seperti Reihan dan Reina. Alex juga ingin saat pulang, dia bisa berlari memeluk dan mencium pipi ibunya. Terkahir kali menyentuh jemari ibunya saja sudah dia lupa. Kadang dia bertanya bagimana rasanya memiliki ibu, karena dia tak.merasa memilikinya.


"Menikah bukan tentang upacara dan perayaan, Mam. Tapi bagaimana bertahan dan menjaga pernikahan itu sendiri!" kata Alex sambil menatap ibunya dengan senyum. Sebuah ungkapan sarkasme yang sudah lama ingin dia utarakan pada ibunya.


Alex bisa menangkap perubahan ekspresi di wajah ibunya. Dia tidak bermaksud melukai perasaan ibunya, namun itu adalah rangkaian kata yang ingin dia katakan sejak dulu. Dia ingin ibu dan ayahnya tahu, bahwa pernikahan tidak hanya sekedar mengucapkan janji pernikahan, tetapi  melaksanakan janji itu sendiri; bahwa   menikah itu bukan hanya sekedar berkata bahwa akan bersama dalam suka dan duka, melainkan membuktikan dengan merawat dan menjaga.


"Nanti siang, aku bawa Ayu ke sini kalo Mami tidak sibuk," kata Alex kemudian melanjutkan, "aku pergi dulu, Mi. Ada urusan."


Alex tersenyum singkat kemudian meninggalkan ibunya duduk sendiri.


***

__ADS_1


Marissa hanya bisa menatap kepergian Alex. Mendengar perkataan Alex tadi membuat dia yakin bahwa anaknya itu belum bisa memaafkan keputusannya untuk bercerai.


Meski Tidak pernah dia katakan, tetapi dia sangat mencintai Alex seperti mencintai anak-anaknya yang lain. Tetapi, karena dulu dia sibuk dengan karirnya saat Alex masih kecil membuat mereka tidak memiliki hubungan emosional yang baik sebagai ibu dan anak.  Ada rasa canggung untuk menyampaikan dan menunjukkan kasih sayang pada Alex, berbeda dengan Reihan dan Reina yang dia rawat sendiri sejak bayi.


Kadang Marissa merasa menyesal dan bersalah karena sudah menelantarkan Alex. Dulu dia masih sangat muda dan dibutakan oleh ketenaran, sehingga dia kehilangan masa-masa perkembangan Alex yang baru dia sadari sangat berharga.


Saat Alex diasuh oleh Ayahnya, sementara dia membesarkan kedua anaknya yang lain, Marissa kadang bertanya-tanya tentang bagaimana kelucuan Alex saat bayi karena tidak ada banyak kenangan yang dia lalui dengan Alex. Dia sering pergi pagi dan pulang larut malam. Dia tidak pernah bangun tengah malam untuk bermain dan menyusui Alex karena terlalu lelah. Semua dilakukan oleh pengasuh Alex. Dia bahkan sering meninggalkan Alex beberapa hari saat dia harus tampil di luar kota.


Saat Marissa belum bercerai dengan ayah Alex, Alex adalah anak ceria. Dia masih ingat bagaimana wajah bahagia Alex saat dia pulang. Wajah bahagia dan pelukan Alex bisa menjadi obat lelahnya, meski sering kali dia mendorong anaknya itu menjauh karena ingin istirahat. Masa itu tidak akan terulang, dan dia telah menghancurkan hati Alex sejak kecil.


Setelah perceraian yang menghancurkan hatinya, Marissa semakin menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dengan tetap sibuk, Marissa bisa melupakan patah hatinya. Namun, dia lupa bahwa Alex juga membutuhkannya. Dia egois; menganggap bahwa hanya dia yang terluka. Alex ternyata lebih terluka, dan dia justru semakin melukainya.


Marissa menyeka air matanya. Entah bagaimana caranya agar Alex bisa melupakan masa lalu dan memaafkannya. Marissa ingin Alex mengerti bahwa untuk mengambil keputusan bercerai juga sangat sulit baginya, namun pilihan itu adalah pilihan terbaik. Dia harap ada waktunya Alex mengerti bahwa janji kadang memang harus dihancurkan.


***


Alex mengendarai mobil menjauh dari rumah ibunya. Dia akan membuktikan perkataannya, dia akan memiliki sebuah pernikahan yang tidak terikat pada janji namun terjaga, karena janji tidak berarti tanpa aksi. Dia sama sekali tidak peduli pada janji kosong upacara pernikahan, karena yang membuat pernikahan bertahan bukan perjanjian tetapi komitmen dan tanggung jawab.


Tangan Alex memutih di setir mobil karena pegangannya sangat erat. Dia marah, namun entah pada siapa, mungkin pada dirinya sendiri karena belum bisa berhenti hidup di masa lalu, karena tidak bisa berhenti berharap waktu mengembalikan waktu bahagianya.


Mobil Alex berhenti karena lampu merah. Sebuah mobil mini sport merah melintas di samping Alex menerobos lampu merah, membuat kendaraan di arah lain menggila dengan klakson-klaksonnya. Kata-kata kasar juga samar bisa Alex dengar dari luar.  Dia pernah menetap di beberapa negara, namun tidak pernah mendapati kejadian ajaib semacam ini. Ah, itu yang membuatnya selalu merindukan lalu lintas Jakarta.


Alex menaikkan satu alisnya mengingat kendaraan yang menerobos tadi. Dia suka body mini mobil itu. Sepertinya jenis mobil itu sangat cocok untuk Ayu, kecil tetapi imut dan mewah.


Senyum di bibir Alex mengembang. Pikirannya mengembara membayangkan bagaimana raut wajah Ayu jika melihat mobil baru itu. Alex banting setir, dia tahu dealer mobil yang menjual mobil itu.


***


Masih pendek ya, soalnya sambungan yang kemarin.


Aku Up spesial karena tadi proposal udah ACC. Terimakasih untuk dukungannya 🤩

__ADS_1


Jangan capek nunggu, ya.


Besok mau pulang kampung karena cuti, mungkin aku UP lagi kalo pulang ke kota. Sinyal GSM-ku jelek di sana, nggak bisa online 😁


__ADS_2