Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Special Date


__ADS_3

Alex sudah menandai kalender yang ada di ponselnya. Dia tidak sabar menunggu esok, di mana dia akan membawa anak dan istrinya ke Jakarta. Semua sudah dipersiapkan dengan harapan Ayu akan semakin mencintainya.


Dia berjalan setengah berlari sambil bersiul-siul menuju Ayu yang sedang sibuk mencuci buah. Dia mencium pipi istrinya, lalu meninggalkan tanpa kata. Dia sempat mengedipkan satu mata pada perempuan itu. Tidak lama datang lagi dengan aroma segar dan rambut yang agak basah.


"Cepat banget mandinya?"


"Sebenarnya mau lama-lama, tapi kurang kamu," jawab Alex terkekeh. Dia lantas berlari saat Ayu berniat untuk memukulinya.


Sepiring salad yang terdiri dari beberapa buah tersaji di meja. Sementara, Ayu asyik menonton salah satu film hasil adaptasi dari novel Dan Brown. Alex sendiri sedang berbaring dengan kepala berada di paha Ayu. Di tangan lelaki itu ada buku dan di hidungnya bertengger kacamata. Sesekali dia disuapi sepotong buah.


"Baca sambil tiduran itu gak baik, Lex!" Ayu mengingatkan untuk ke sekian kali. Lelaki yang ditegur hanya tersenyum dan melanjutkan bacaan.


"Besok, pagi-pagi kita udah harus berangkat ke Bandara. Cleo udah urus tiket." Alex membahas hal lain. Tidak mau Ayu melanjutkan bahwa matanya akan cepat tidak karena membaca sambil tiduran.


"Iya, iya, tau, kamu pasti tidak mau kelewat ulang tahun Tamara."


Alex mengangguk. Dia mulai bercerita bahwa sejak kecil dia tidak pernah melewatkan sekali pun ulang tahun Tamara. Dia selalu jadi untuk memberi kejutan, meski tahun lalu, dialah yang mendapat kejutan.


"Spesial banget, ya," rutuk Ayu, menjejalkan sepotong apel di mulut Alex kasar. Parutan keju yang menempel di buah itu tersebar di bibir lelaki itu. Gumaman tidak jelas dilontarkan oleh Alex. Mungkin protes karena tingkah kasar Ayu.


"Pokoknya, spesial banget, Sayang," ungkap Alex. Mulutnya masih belepotan karena keju dan Fla khusus yang dibuat Ayu berbahan mayones dan yogurt. Ia membuka mulut lagi, meminta untuk disuap. Terlanjur kesal, Ayu melempar garpu dan bergeser, membiarkan kepala Alex jatuh di sofa.


Tidak peduli dengan wajah kesal istrinya, Alex bangkit. Meletakkan buku di meja. Dia duduk tanpa cela di samping Ayu. Tangannya melingkar di pinggang kecil perempuan di sampingnya. Meraba dengan mata terpejam. Menghidu aroma manis di cekungan leher jenjang itu.


Ayu sempat meronta. Berniat untuk mendorong lelaki yang kini memainkan jemari di punggungnya. Mengelus dan mencium setiap Senti wajahnya. Keduanya merasa tidak pernah cukup, meski seluruh malam-malam puncak yang indah mereka rengkuh bersama. Setiap elusan dan embusan pelan yang menerpa kulit Ayu membuatnya meremang. Mengingat semua keindahan yang diberi lelaki itu.

__ADS_1


Setiap inci tubuh Ayu dihafal baik oleh Alex. Bahkan dengan mata terpejam, dia bisa mengetahui seakan melihat semua yang ada di balik kaos istrinya itu. Bibirnya melaju, dari kening, kedua pipi, hidung, dagu, dan terkahir di bibir penuh yang merekah itu. Merasa kelembutan dan keberingasan bersamaan.


Kepala Alex kini hanya dipenuhi oleh Ayu, oleh embusan napas yang terengah-engah oleh perempuan itu. Hal yang sama dirasakan oleh perempuan yang kini telah dicumbunya lagi. Dengan tak sabar, melahap hingga tidak ada ruang. Namun, tiba-tiba terpisah dengan napas memburu.


Alex mengumpat pelan sambil mengacak rambut, setelah Ayu segera berlari menuju kamar. Tangisan Aleeya membuat mereka harus menahan diri. Dalam hati dia merutuki keterlambatannya mengambil tindakan.


Dengan berat, dia menyeret dirinya masuk ke kamar. Hanya bisa menatap saat bayinya sedang lahap mengisi perut. Wajar saja Aleeya kelaparan, sudah dua jam bayi cantik itu tertidur.


"Harusnya kami bangun lima belas menit lagi, Nak," biak Alex dengan nada frustasi. Ayu yang ikut mendengar tertawa.


"Anak pintar," puji Ayu mencubit pelan pipi gembul putrinya.


***


Wajah gusar ditampakkan oleh Ayu. Dia cepat-cepat mengambil koper yang sudah dikemas. Barang-barang Aleeya, termasuk susu yang akan dikonsumsi bayinya selama di pesawat. Meski hanya memakan waktu dua jam, tetapi dia tidak mau sampai bayi itu rewel hingga membutuhkan susu ekstra.


"Aku juga bilang apa, kita keteteran kayak gini, 'kan!" omel Ayu. Dia sudah menggendong Aleeya saat Alex baru selesai berganti pakaian.


Pagi-pagi sekali, Ayu sudah ingin bangun dan bersiap-siap. Alex terus menahannya. Katanya lima menit saja. Namun, lima menit itu seperti tidak ada akhir. Minta dipeluk terus. Jadilah, mereka bangun kesiangan.


Alex menerima telepon salah satu asistennya di kantor yang juga kadang merangkap jadi sopir saat dibutuhkan. Dia menarik koper dan dua tas bertengger di pundaknya. Biasanya, saat pulang ke Jakarta, mereka tidak membawa banyak barang. Alex tidak suka repot, lebih memilih membeli pakaian dan barang perlengkapan begitu di sana, daripada harus membawa barang. Namun, karena kini sudah ada Aleeya, banyak barang yang wajib dibawa untuk bayi itu.


Selama di pesawat, Aleeya cukup rewel. Bayi itu terus merengek. Saat disodorkan dot, dia terus menolak. Mau tidak mau, Alex berpidah dari tempat duduknya. Membawa bayinya menjauh dari penumpang lain. Menggendong dan menimang.


"Ini karena Mommy-mu," rutuk Alex. Dia mencium Aleeya. Saat memesan tiket, dia ingin first class, tetapi ditolak oleh Ayu. Perempuan itu lebih memilih kelas bisnis, katanya hanya dua jam.

__ADS_1


Entah apa yang membuat Aleeya rewel kali ini, padahal sudah dua kali naik pesawat bayi itu tidak serewel sekarang. Lama menunggu Alex, Ayu memutuskan untuk menghampiri Alex yang sedang berada di koridor yang menghubungkan ke arah dapur pesawat.


"Sini!" Ayu mengambil Aleeya yang menguap dan mengusap wajah berkali-kali dari gendongan Alex. Bayi mungil itu menyandarkan kepala di pundak Ayu saat punggungnya dielus pelan.


Setelah setengah jam berusaha menenangkan tangis Aleeya, akhirnya Ayu dan Alex bisa duduk dengan tenang.


Siang tadi, begitu sampai mereka langsung ke rumah orang tua Ayu. Membiarkan Aleeya bermain bersama kakek dan neneknya. Kebetulan Zahra dan ibunya juga berkunjung. Namun, Aleeya yang selalu riang, lebih pendiam hari itu. Mungkin bayi itu masih lelah akibat di pesawat tadi.


Ayu dan Alex berencana akan tinggal sekitar tiga hari di Jakarta. Mereka akan menginap di rumah Ayu. Sejak lahir, Aleeya belum pernah menginjak rumah itu.


Sudah larut Alex belum pulang. Lelaki itu berkata akan keluar untuk menyiapkan kejutan, entah untuk siapa. Ayu menebak untuk pesta ulang tahun Tamara besok. Apalagi, temannya itu tidak membuat pesta seperti tahun-tahun sebelumnya. Entah kenapa? Mungkin karena perempuan itu belum bisa melupakan duka atas kematian Opa Surya.


Aleeya tidak tidur sedari tadi. Bayi itu makin rewel, sering menangis seakan ada yang sakit. Ayu yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya terus menimang atau menyusui untuk menenangkan. Lagi, bayinya selalu menolak.


Ayu sudah menelepon Alex berkali-kali. Awalnya terhubung, tetapi di telepon selanjutnya hanya ada suara operator. Kalau tahu begini, dia tidak akan memberi izin pada Alex.


Kepala Ayu mulai pening. Dia belum makan malam berkat Aleeya. Rasa berdenyut di kepala disertai mual. Dada dan lengannya juga sudah pegal karena menggendong selama berjam-jam. Sesekali ia memijat lengan. Mulai berbaring di samping Aleeya yang sudah pulas. Entah kenapa anaknya itu rewel sepanjang hari.


Tangisan Aleeya membuat Ayu yang baru tidur beberapa menit terbangun lagi. Dia segera meraih bayinya. Matanya membulat begitu merasakan tubuh panas bayi yang digendongnya. Matanya bertemu dengan jam dinding. Sudah dini hari.


Rasa panik menyerang Ayu. Anaknya demam tinggi, pantas saja dari tadi rewel. Dia keluar kamar menggendong Aleeya. Mencari siapa tahu Alex sudah pulang. Nihil. Lelaki itu belum pulang juga. Saat mencoba ditelepon, masih tidak bisa dihubungi. Jadilah Ayu memesan taksi online yang ternyata masih ada meski sudah dini hari.


Bersama kantuk yang tidak mau hilang, Ayu berlari masuk ke salah satu rumah sakit. Hanya bisa menangis saat melihat anaknya diperiksa boleh dokter di rumah khusus anak.


Setelah diberi obat pereda demam berbentuk puyer dan dicampur air putih, Aleeya sudah bisa tidur lagi. Meski kadang merengek, hingga Ayu tetap harus terjaga hingga pagi. Sesekali dia menatap layar ponsel, menunggu telepon dari Alex. Namun, tidak ada sama sekali.

__ADS_1


Ada sesak di hati Ayu. Dia sendiri di rumah sakit menjaga anaknya. Entah apa yang dilakukan oleh Alex sekarang. Bagi lelaki itu Tamara selalu lebih penting. Kejutan macam apa yang membutuhkan waktu semalaman.


***


__ADS_2