
Sepanjang jalan Ayu tidak berhenti menggerutu; bibir manyun dan mata melotot setiap kali menatap Alex. Namun, raut wajah itu langsung diganti dengan senyum yang ramah. Tangannya digandeng oleh Alex memasuki sebuah restoran. Setelah Alex menyebutkan namanya sebagai pemesan, seorang server memandu mereka memasuki sebuah ruangan.
Ruangan itu cukup luas, ada meja berbentuk lingkaran dengan beberapa kursi berwarna perak di sekelilingnya. Taplaknya berwarna putih polos menjuntai ke bawah, dan ada bunga mawar tiga warna di atasnya.
Ada sebuah panggung kecil dengan grand piano dan seorang pianis yang lihai memainkan tuts demi tuts dan melahirkan nada yang begitu lembut. Ayu suka lagu itu, meskipun tidak tahu judul dan penciptanya. Ayu menyukai musik klasik, tetapi dia tidak tahu satu lagu pun.
Di sana tidak ada orang selain sang Pianis. Ayu menatap ke arah Alex untuk mencari tahu, namun wajah lelaki itu juga nampak keheranan.
"Sepertinya cuma ada kita berdua."
Mata Ayu mulai melotot. "Jangan main-main lagi, lex!"
"Sayangnya, kali ini aku serius."
Ayu menghembuskan napas lega sambil melepas pegangannya di lengan Alex. Dia bersyukur tidak ada teman Alex yang datang, setidaknya dia bisa langsung memaksa lelaki itu untuk mengantarnya ke bandara.
"Aku boleh pulang sekarang?"
Alex mengangguk pelan. "Ya, tapi setelah makan, kamu pasti lapar, kan?" kata Alex dengan suara lemah.
Ayu menatap Alex yang mengulas senyum tidak seperti biasanya. Meski bibirnya melengkung, tetapi tidak ada binar bahagia di matanya. Ayu sangat tahu ekspresi macam apa itu, ternyata lelaki yang selalu menjahilinya itu juga bisa kecewa.
"Atau kamu mau menunggu temanmu itu, mungkin mereka terlambat." Tidak tahu kenapa Ayu justru mencoba menghibur Alex, padahal seharusnya dia senang melihat lelaki itu tidak berdaya seperti sekarang.
"Tidak usah, bukannya kamu harus bekerja besok pagi."
"Ya!" Ayu mengangguk pelan, kemudian melanjutkan, "tapi, pulang tengah malam juga tidak masalah. Penerbangan cuma 2 jam."
Wajah Alex kembali berseri. "Ada baiknya mereka tidak datang. Tinggal usir pianis itu dan kita bisa berduaan, kan."
"Aku mau pulang kalo begitu, dasar otak mesum!" kata Ayu sembari berbalik, namun di tahan oleh Alex.
"Berduaan main piano, jangan pikir yang macam-macam! Aku masih tau kalo ini tempat umum." Alex membela diri. "Nah, sekarang terbukti siapa yang punya otak ngeres." Lanjut Alex.
Ayu mengangkat satu sisi bibir atasnya, mencibir ke arah Alex. Lelaki itu selalu saja pandai memutar kata.
"Kamu suka musik klasik?" tanya Alex setelah mengambil alih tempat pianis tadi.
Ayu yang sedang berdiri sambil menyenderkan punggungnya di badan piano menjawab singkat. "Ya!"
"Suka Mozart, Hydyn, atau Beethoven?" tanya Alex lagi.
Ayu mencoba mengingat-ingat tiga nama yang disebutkan oleh Alex. Kalau saja dia tidak pernah membaca sebuah novel yang menjelaskan tentang Mozart dan Beethoven, mungkin dia tidak akan menebak kalau ketiganya adalah nama komponis. Sementara Hydyn, ini kali pertamanya mendengar nama itu.
"Entah? Aku tidak terlalu mengerti musik mereka."
"Apa kamu mau bilang kalo kamu suka musik klasik, tapi tahunya cuma Taylor Swift sama Ed Sheeran?" sindir Alex.
Ayu menggeleng. "Tidak! Aku lebih suka Camila Cabello dan Charlie Puth sebenarnya."
Alex meniru gerakan bibir Ayu saat mencibir dan berkata, "bodoh amat!"
Ayu terkikik pelan melihat wajah Alex, dia mendorong pelan dahi lelaki itu. "Amat adalah milikku, kamu tidak boleh mengatainya bodoh!"
Mereka berdua tertawa, mungkin menertawai Amat yang bodoh. Bisa juga menertawakan diri mereka sendiri.
"Ah, aku pernah dengar Moonlight Sonata, bisa mainkan itu?" minta Ayu.
Kening Alex berkerut. "Kamu mau aku memainkan simfoni itu di malam pernikahanku!"
Ayu mengangguk mantap, sementara Alex menggeleng dengan raut wajah tak percaya.
Alex tahu lagu gubahan Beethoven itu. Moonlight Sonata atau Piano Sonata no. 14 yang terdiri dari tiga bagian itu konon dibuat Beethoven untuk murid sekaligus kekasihnya Contess Giulietta Guicciardi. Kisah cinta tak sampai karena usia dan kelas sosial yang berbeda. Lagu yang mengisahkan perpisahan dan kehilangan. 'Quasi Una Fantasia' atau 'hampir seperti fantasi', begitulah Beethoven menamainya. Ah, orang gila macam apa yang memainkan lagu semacam itu di hari yang seharusnya disambut dengan suka cita.
"Aku pernah dengar lagu itu di salah satu film horor, dan sangat menyentuh." Ayu menjelaskan dengan riang, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kamu mau suamimu ini memainkan soundtrack film horor di malam pertama, heh!"
"Kenapa? Jangan-jangan kamu tidak tau, yah?"
Alex mendesis pelan, kemudian berpikir sejenak. Mungkin lagu itu Memang yang paling tepat, karena malam ini dia telah kehilangan cintanya. Dia tidak berhak menyimpan Tamara di hatinya, atau berfantasi tentang masa depan yang akan dilaluinya bersama perempuan itu.
Mulai besok seluruh pikiran dan hatinya hanya boleh tertuju pada Ayu, perempuan yang dia nikahi dan sedang mengandung anaknya. Dia telah kehilangan -- kehilangan cinta yang diam-diam dia jaga sejak masih belasan tahun.
"Baiklah, aku akan memainkan lagu mengerikan itu." Alex menyetujui dan mulai menekan beberapa tuts piano.
Tiba-tiba sebuah suara menghentikan jemari Alex.
"Permisi Tuan, Nyonya!"
Server yang tadi mengantar mereka ke ruangan itu muncul.
"Maaf, saya teledor sehingga mengantar Tuan dan Nyonya di ruangan yang salah."
Alex dan Ayu saling bertatapan.
"Tidak! Aku memang memesan ruangan ini, bukan ruangan lain," bantah Alex.
"Maaf, Tuan, tapi ruangan Anda ada di lantai atas. Tamu-tamu Anda sudah ada di atas."
Mau tidak mau, Alex bangkit dna menggandeng Ayu mengikuti si server. Padahal seingat Alex di memesan ruangan bawah itu, kenapa sekarang dia dialihkan ke lantai atas.
Mereka menaiki sebuah tangga yang meliuk dengan rail berwarna emas dan hiasan kain merah di atasnya. Kelopak mawar merah bertaburan di anak tangga, membuat Alex tersenyum getir. Sementara Ayu menatap takjub pada kelopak merah itu.
__ADS_1
"Kamu suka mawar?" tanya Alex sembari melirik ke arah perempuan yang dia gandeng.
Ayu mengangguk sekilas dengan senyum dan mata yang masih tertuju pada kelopak segar di bawah kakinya.
"Kalo suka harusnya dijaga dan dirawat, bukan dihamburkan untuk diinjak seperti ini!" kata Alex.
Ayu ingin membela diri bahwa bukan dia yang menghamburkan bunga-bunga itu. Namun, mengingat dia bahagia saat melihat kelopak itu, dia pun urung.
Sejenak Ayu berpikir keras tentang perkataan Alex. Lelaki itu benar, apa yang disukai pasti akan diperlakukan dengan baik.
Suasana mendadak hening sepanjang perjalanan mereka menaiki tangga. Mereka sedang berkutat dengan pikiran masing-masing.
Setelah melewati tangga dan melangkah menuju ruangan yang ditunjukkan oleh Server, Ayu berhenti. Dia juga menarik lengan Alex untuk ikut menghentikan langkah.
"Apa karena aku bukan orang kamu sukai, sampai kamu tega hancurin hidupku!" kata Ayu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Alex menelan ludah. Sepertinya butuh waktu yang sangat lama untuk membuat Ayu melupakan kesalahannya malam itu. Jangankan Ayu, dia sendiri pun masih membenci dirinya karena kesalahan bodohnya. Namun, dia harus meyakinkan perempuan itu bahwa dia tidak pernah bermain-main.
Alex meraih kedua tangan Ayu dan menghentikannya erat. "Ayu kalo kamu mawar, tidak hanya aku rawat, tapi juga aku akan budidayakan sampai memenuhi semua tamanku. Jadi, bunga lain tidak akan punya tempat untuk bertumbuh."
Jika biasanya Ayu hanya akan tertawa mendengar kata-kata yang terkesan berlebihan dan lebih mirip bualan itu, kali ini dia terdiam. Jantung Ayu berdetak lebih kencang dari biasanya, napasnya pun memberat saat menatap mata Alex yang tampak mengatakan kejujuran.
"Aku tidak membenarkan malam itu, tapi aku mau kamu mendampingiku masuk ke ruangan itu sebagai isteriku," Alex menatap sekilas ke arah pintu, sebelum kembali memusatkan pandangannya pada Ayu. Lalu melanjutkan, "dan tetap mendampingiku sebagai isteriku sampai kehidupanku berakhir."
Entah karena dihipnotis oleh mata yang terus Ayu tatap, atau karena kata-kata Alex yang mengandung mantra -- yang membuat Ayu mengangguk begitu saja. Sebagian diri Ayu mengutuk anggukannya, Sebagian lagi tersenyum setuju.
***
"Silahkan masuk!"
Setelah drama kecil mereka, si Server mempersilahkan mereka masuk ruangan berpintu besar dengan gagang emas di kedua sisi pintu.
Alex mendorong gagang pintu itu. Alunan lembut sebuah piano terdengar bersamaan dengan pintu terbuka. Cahaya ruangan itu redup, seorang anak lelaki berdiri di hadapan mereka dengan mengenakan topi yang menyala di kegelapan. Alex mengenal anak itu, dia adalah anak tertua Ben, Josh.
Alex dan Ayu bertatapan sekilas. Mereka saling tersenyum sambil menggeleng. Mereka menatap ke depan, kemudian melangkah mengikuti Josh yang berjalan sambil menabur bunga.
Di depan mereka ada anak kecil perempuan yang memegang buket bunga yang berdiri dikelilingi lilin berbentuk hati. Anak perempuan itu adik Josh, Jessy, yang lahir hanya beberapa menit setelah Josh.
Josh berhenti di depan lilin, dia berbalik menatap pasangan pengantin sambil tersenyum lalu melambaikan tangan sebelum melangkah menjauh dan hilang di kegelapan.
"Uncle, Aunty, sini!" panggil Jessy saat melihat Alex dan Ayu heran dan saling bertatapan singkat.
Ayu mengerat kan pegangannya di lengan Alex. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pesta kejutan seperti ini dari teman Alex. Mereka masuj dalam lingkaran lilin dan mendekat pada Jessy.
"Bunga buat Aunty!" Jessy menyodorkan buket bunga itu dan diraih dengan senyum dan senang hati oleh Ayu.
Ayu melepas pegangannya pada Alex dan mencubit pipi Jessy dengan gemas. Meskipun samar melihat wajah anak karena minim pencahayaan, Ayu yakin dia sangat imut dan cantik.
"Bye-bye!" Jessy melambaikan tangan, lalu pergi dan menghilang di tempat yang sama dengan kakaknya.
Hanya tinggal Ayu dan Alex dalam lingkaran. Satu tangan Ayu memegang bunga, dan yang lain memegang lengan Alex lagi. Dengan lembut Alex mengecup puncak kepala perempuan itu.
"Mereka berusaha sangat keras!" gumam Alex di sela rambut Ayu.
Tulisan 'Welcome to our newly Weds, Mr. And Mrs. Jones' menyala di depan mereka. Tulisan itu berpendar di udara -- hasil permainan cahaya laser berwarna-warni.
Lampu menyala terang bersama alunan lagu yang diiringi piano dan cello yang indah.
Here we stand today
Like we always dreamed
Starting out our life together
Light is ini your eyes
Love is on our hearts
I can't believe you really mine forever
Mungkin karena lagu itu, atau bagaimana teman-temannya menyiapkan sebuah pesta kecil yang sangat indah -- Alex menitikkan air mata. Lengannya melingkar di punggung Ayu secara spontan, lantas satu tangannya naik mengelus pelan rambut perempuan itu.
On this day
I promise forever
On this day
I surrender my heart
Here I stand, take my heart
And I Will honor every word that I say
On this day
Ayu bisa mendengar detak jantung Alex dengan jelas, juga hembusan dan tarikan napas lelaki itu. Nada itu terdengar jauh lebih indah daripada musik komposer yang sedang bermain. Dia tersenyum dalam pelukan Alex, bahkan hal sekecil ini bisa membuatnya terbang tinggi.
Perasaan kehilangan terasa oleh Ayu, setelah Alex melepas pelukannya. Namun, dia terenyuh kembali saat tangannya dielus lembut dan diletakkan dengan lembut di bibir lelaki itu.
Suara tepuk tangan dan sorakan kecil terdengar dari beberapa pasangan di sudut ruangan.
"Cium! Cium! Cium!" sorak bahagia lelaki dan perempuan yang sepertinya kompak mengenakan pakaian berwarna putih.
__ADS_1
Alex mengalihkan pandangan pada Ayu yang juga sedang menatapnya. Dia menaikkan satu alisnya pada Ayu meminta pertimbangan pada perempuan itu. Melihat Ayu hanya terdiam, bisa Alex tebak bahwa dia menolak gagasan itu. Dan, dia tidak akan memaksa.
Senyum Ayu memudar melihat bekas air mata yang jelas di pipi Alex. Dia tidak menyangka lelaki yang selalu dia anggap brengsek bisa terharu sampai meneteskan air mata. Tangannya menjulur ke pipi Alex, dengan pelan dia mengusap sisa air mata itu.
Dunia seakan berhenti berputar, tidak ada musik, tidak ada sorakan, hanya ada mereka berdua di sana. Saling bertatapan dalam dengan jantung berdetak kencang dan darah berdesir, memberi sensasi aneh dalam perut mereka.
Perkataan Alex sore tadi mengenai paham monogami yang dia anut; pengakuan indah sebelum mereka masuk ke ruangan ini, serta tangis haru yang menyimbolkan ketulusan. Katiganya bercampur menimbulkan gejolak aneh dalam diri Ayu.
Mungkin itu pula yang menyebabkan Ayu mulai mengambil langkah aneh itu. Dia menjinjit mencoba meraih lelaki itu diketinggian, lantas menempelkan pelan bibirnya di bibir Alex.
Oksigen seakan menghilang di sekitar Alex. Yang tadi bukanlah ciuman, bahkan tidak bisa dia kategorikan sebagai kecupan. Ayu hanya sekedar menempelkan bibir mungilnya sekitar sedetik di bibir Alex, namun ada perasaan aneh yang membuat dadanya kembang kempis
Sorakan keras teman-temannya, membuat Alex tersadar. Dia melirik Ayu yang sedang menunduk dengan pipi memerah. Dia tersenyum puas dan menarik perempuan itu dalam rangkulannya.
***
Ayu menatap satu persatu teman-teman Alex. Yang bertubuh gempal itu adalah Gio, sementara gadis yang dibawanya adalah Armita, seorang gadis yang jika dilihat sekilas dan mendengarkan namanya dapat disimpulkan dengan jelas bahwa gadis berkulit sawo matang itu keturunan India.
Sementara lelaki yang tinggi dan agak kurus adalah Ben, di sampingnya adalah Clara, isterinya. Anak kembar Ben tadi sudah dijemput oleh pengasuh nya. Berdasarkan cerita Alex, Clara adalah seorang perempuan dengan tempramen yang buruk, dan posesif. Namun, sejauh yang Ayu lihat, perempuan berwajah oriental itu sangat ramah dan ceria. Apalagi dialah yang menjadi dalang dalam kejutan ini.
"Aku tau kamu mau pernikahan yang sederhana. Tapi, sebagai sesama perempuan aku tau sekali apa yang menjadi impian perempuan yang menikah, sebuah pesta romantis." Begitu kata Clara tadi pada Ayu saat mengucapkan selamat tadi.
Tidak ada kata yang bisa Ayu ucapkan pada Clara selain terima kasih
"Aku kira kamu tidak datang, Cleo?" tanya Alex pada sekretarisnya Yang sedang berdiri di samping Jonny.
"Lumayan Pak Bos, dapat tiket ke Maldives gratis," jawab Cleo cengengesan.
Ayu seketika menatap Cleo dengan mata membesar. Hanya menemani Jonny ke acara seperti ini dan Cleo mendapat tiket ke Maldives. Ayu yang setiap hari juga bekerja keras; banting tulang, tidak pernah diberi cuti seminggu, apalagi tiket liburan.
Kalau saja Ayu tahu, dia tidak akan membuat dirinya tampak bodoh dan memohon agar Cleo tidak dipecat. Ah, harusnya dia meminta agar perempuan itu dipecat saja.
Ayu menggeleng pelan, menghapus angan jahat di kepalanya. Dia sepertinya terlalu iri, padahal Cleo Tidak salah apa-apa.
Suara dentingan gelas mengalihkan perhatian Ayu. Di sana Gio berdiri sambil memegang gelas.
"Ayo bersulang untuk kebahagiaan sahabat Brengsekku!" ucap Gio sambil mengangkat gelas wine-nya di udara.
Semua orang di meja itu mengangkat gelas dengan suka cita. Mereka meneguk cairan marun, kecuali Ayu. Untungnya sebelum menolak server menuangkan minuman untuknya, Alex sudah terlebih dahulu menghentikan si Server.
Ayu sudah berjanji tidak akan pernah mencoba setetes minuman alkohol pun sejak malam mengenaskan itu.
"Ini adalah botol wine yang sudah kujaga bertahun-tahun," kata Gio dengan sebotol wine yang dihias pita merah. Di botol itu tertera tahun 1945.
"Aku tau kamu sudah sering mengincar botol ini, Buddy!" Gio melanjutkan sambil melirik sekilas pada Alex.
"Sebagai janjiku, aku akan memberi botol kesayanganku ini!" Gio menyodorkan botol yang merupakan produksi salah satu perkebunan anggur ternama di Perancis.
Alex bangkit dan meraih botol itu dengan senyum puas. Tidak ada yang tidak tahu wine yang sangat ingin dikoleksi oleh setiap pecinta minuman klasik itu. Sudah sering Alex berusaha agar Gio mau menjual nya, namun selalu gagal. Tidak dia sangka hanya dengan menikah, dia bisa mendapatkannya secara gratis.
Dengan keras, Alex Manarik botol itu dari tangan Gio, namun tidak berhasil. Gio menahan botol itu lebih keras, tidak rela jika minuman kesayangannya berpindah tangan.
Melihat temannya berebutan, Jonny bangkit dan menarik tangan Gio.
"Ayolah, ini hari pernikahan Alex! Ini kado yang sudah kamu janjikan." Jonny membujuk Gio, sehingga lelaki gempal itu melepas botolnya.
"Lelakiku sungguh berhati besar!" Armita memuji, kemudian terkikik bersama Jonny dan Alex.
"Tenang, aku akan menelepon kalian semua untuk menikmati wine ini," kata Alex mengelus-elus botol wine yang kini miliknya. "Kecuali Gio tentunya."
"Jangan pelit, Lex. Kasihan dia!" Ben membela Gio.
"Lah, kan ini dia yang kasih. Pamali kalo diambil lagi, biar cuma seteguk." timpal Alex sambil mengedipkan matanya pada Gio.
Sementara ketiga lelaki itu asyik dengan perdebatan mereka tentang sebotol anggur yang seusia dengan kemerdekaan Indonesian, Clara yang duduk tidak jauh dari Ayu terlihat komat-kamit pada Ayu yang hanya tersenyum.
"Mereka memang seperti itu." Itu yang ditangkap Ayu dari gerakan mulut Clara.
Suasana kembali tenang, mereka sudah berhenti membahas tentang waktu janjian untuk menikmati hadiah Gio.
Gio masih berdiri dan mulai berdoa untuk pernikahan Ayu dan Alex. "Aku turut bahagia, Buddy. Aku harap pernikahan kalian semakin lama semakin nikmat, seperti wine itu. Berusia panjang melebihi usia wine yang mungkin akan kalian bagi-bagi dalam gelas, Minggu depan." Kemudian, dia melanjutkan lagi, " Red Wine memiliki filosofi tersendiri! Warna merah berarti gairah, kamu tau maksudku, Bud!"
Giliran Gio yang mengedipkan satu mata pada Alex.
"Pak Gio romantis sekali!" pekik Cleo memuji.
Sementara Ben mencibir pada Gio. "Aku tidak ingat kamu memberi doa apa pun saat aku menikah, Gi. Kado saja tidak ada, cuma datang makan gratis di pestaku."
"Ah, kamu tidak perlu doa untuk usia pernikahan, mengingat kamu sangat takut pada Clara membuat aku yakin usia pernikahan kalian tidak akan goyah sampai maut memisahkan."
Mata Clara memicing ke arah Gio. "Takut apa?"
"Takut kehilanganmu, dong, takut apa lagi?" Gio membela diri.
Sekilas Clara memandang suaminya dengan tatapan membunuh.
"Tentu saja, kalo dia berani macam-macam, aku patahin lehernya."
Ayu tertawa kecil bersama dengan beberapa orang yang menatap kelakuan aneh suami-isteri itu. Melihat interaksi Alex dan teman-teman nya, Ayu bisa tahu bahwa lelaki itu memiliki lingkungan pertemanan yang sangat baik.
***
😘 With love.
__ADS_1
(Maaf, lama update. HP habis dirumahsakitkan 😉)
***