Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Stronger than Before


__ADS_3

Alex mengecup pelan kening Tamara sebelum keluar dari ruangan itu. Orang tua Tamara sudah datang, hingga ia memutuskan untuk pulang. Untuk ponselnya yang terlupa di apartemen Tamara, akan ia ambil nanti saja. Ia butuh istirahat, juga butuh dekapan hangat Ayu.


Baru semalam, dan ia sudah begitu merindukan Ayu dan Aleeya. Senyum terulas di wajah tampan Alex. Mengingat wajah dua perempuan yang memenuhi hatinya membuat ia mempercepat laju mobil. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah. Hak pertama yang akan ia lakukan begitu sampai adalah memeluk Ayu, lalu mencium pipi tembam Aleeya.


Mobil yang dikendarai Alex telah terparkir di depan rumah mungil Ayu. Lelaki itu turun sambil bersiul tidak sabar bertemu anak dan istrinya. Pintu tidak terkunci berarti ada orang di dalam. Namun, kening Alex mengerut begitu mendapati rumah itu kosong.


Tidak ada Ayu, ataupun tawa kecil Aleeya. Langkah Alex sudah sampai di taman belakang yang sudah tidak terurus sejak kepindahan Ayu di Singapura. Nihil. Keadaan rumah itu masih sama seperti saat Alex meninggalkan rumah. Rasa khawatir mulai merayapi Alex. Kalau memang Ayu ke rumah orangtuanya, maka seharusnya pintu rumah itu terkunci. Seprei ranjang pun harusnya sudah rapi.


Alex berlari keluar rumah saat mendengar mobil berhenti tepat di depan rumah. Dari mobil Avanza hitam itu, Ayu turun dengan Aleeya di gendongannya. Lelaki itu bernapas lega, berdiri di depan pintu menunggu Ayu masuk.


"Kamu dari mana, Sayang?" tanya Alex berniat memeluk Ayu, tetapi ditepis oleh perempuan itu.


Ati tidak menjawab. Ia melenggang masuk, meletakkan Aleeya yang pulas di ranjang. Ia menatap anaknya.


"Aleeya lagi tidur," ucap Alex yang sudah melingkarkan lengan di pinggang Ayu.


Setetes air mata jatuh dari pipi Ayu. Ia mulai melepas pelukan Alex. Memilih keluar dari kamar itu.


"Ada apa? Sebenarnya kami dari mana?" Alex terus bertanya merasa bingung dengan sikap Ayu.


"Let's divorced, Alex!"


Jantung Alex seakan berhenti seketika. Rasa dingin yang menyergap begitu aneh. Ayu sering mengatakan perceraian sejak awal mereka menikah. Namun, entah kenapa kali ini Alex gentar.


"Ke-kenapa?"


"Kamu mau tau aku dari mana? Aku dari rumah sakit. Aleeya demam tinggi, dia menangis terus semalaman. Kamu di mana, huh?"


Dunia Alex seakan runtuh seketika. Ia mendekat pada Ayu yang tadi menjauh. Ia menggeleng berharap apa yang dikatakan oleh perempuan itu adalah kebohongan.


***


Pagi itu Ayu masih berusaha menghubungi Alex. Rasa marahnya berganti khawatir. Tidak biasanya Alex tidak bisa dihubungi. Selain itu, jika lelaki itu sudah pulang di rumah harusnya ia menyadari bahwa Ayu dan Aleeya tidak ada. Alex harusnya mencari mereka. Namun, sudah jam berapa dan belum ada informasi dari Alex.

__ADS_1


Ayu mondar-mandir, mengirim pesan berkali-kali. Pesan-pesan itu berakhir centang satu. Aleeya sedang sakit, meski hanya demam dan sudah diperbolehkan pulang siang ini. Namun, Ayu khawatir. Mengingat Aleeya dan Alex yang kadang memiliki kontak batin, Ayu semakin khawatir. Takut jika ternyata suaminya ada apa-apa di luar sana.


Tidak lama ponselnya berdering. Ia langsung menjawab tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Alex," sebut Ayu yang langsung menelan kecewa begitu mendengar suara perempuan. Perempuan itu mengaku sebagai Cleo.


"Pak Alex ada di rumah sakit," ucap Cleo yang langsung dipotong Ayu, "Di rumah sakit? Alex kenapa?" Rasa khawatir Ayu seakan terjawab. Ia rasanya ingin langsung berlari menemui Alex. Pantas saja lelaki itu tidak pulang. Air mata Ayu mulai menetes, khawatir pada anak, juga suaminya.


"Bukan Pak Alex, tapi Bu Tamara. " Jawaban dari Cleo itu membuat Ayu mencelos. Rasa cemburu itu menyusup lagi. Berdasarkan informasi dari Cleo, Tamara dirawat di rumah sakit itu juga. Kalau memang Alex di sana, maka Ayu akan menyusul. Lelaki itu juga belum tahu kalau Aleeya sedang sakit.


Saat Aleeya mulai tertidur usai diberi obat, Ayu memanfaatkan saat itu untuk keluar mengunjungi Tamara. Ia bertanya pada resepsionis. Mulai melangkah menyusuri koridor dan naik lift. Pintu salah satu kamar VVIP di rumah sakit itu terbuka sedikit. Menurut perawat yang ditanyai oleh Ayu, Tamara dirawat di ruangan itu.


Ayu berniat mendorong pintu, saat suara lemah Tamara terdengar olehnya. "Aku cinta sama kamu, Al."


Pengakuan oleh Tamara itu mendadak menggelapkan pandangan Ayu. Seakan ada dengungan di telinganya. Ia mundur sedikit dengan wajah memerah. Air mata tidak lagi bisa ia bendung. Sesak sekali. Bersama penasaran, ia maju lagi. Sedikit mencondongkan tubuh untuk mengintip. Ia bisa melihat Alex yang menatap dalam mata Tamara.tatapan yang coba diartikan sebagai tatapan penuh cinta oleh Ayu.


"Aku juga mencintaimu, Tammy," aku Alex.


Ayu membekap mulutnya, menahan isakan dari dalam. Sakit. Ya, Ayu merasa semua yang telah ia bangun dan perjuangkan sia-sia. Ia lantas berbalik tidak akan sanggup untuk mendengar apa yang mungkin dua orang di dalam kamar itu akan katakan.


Tatapan Ayu terkunci pada Aleeya. Ia ingin egois, mempertahankan Alex demi dirinya yang terlanjur terjatuh oleh pesona suaminya itu. Ia ingin egois dan menahan Alex selamanya, menjadikan bayi yang pulas itu sebagai alasan. Ia ingin egois, memenjarakan Alex dalam ikatan pernikahan itu selamanya. Namun, setelah ini, apa masih mungkin ia mampu menatap lelaki itu tanpa ada bayangan Tamara? Tidak.


Ayu tidak mungkin tega menjadi penghalang kebahagiaan Alex dan Tamara. Jika ada yang harus pergi, itu dirinya. Sejak awal hubungan dirinya dan Alex adalah kesalahan. Sudah saatnya kesalahan itu diakhiri.


Ayu melangkah mendekat pada Aleeya. Mengelus pipi tembam anaknya itu. "Maafin Mommy, Sayang. Mommy janji akan terus menyayangimu. I love you," tutur Ayu, lalu mengecup pipi Aleeya.


***


Alex masih terpaku. Menatap Ayu yang kini mulai menangis. Kalau saja bisa, Ayu tidak ingin berpisah dari Alex. Ia begitu mencintai lelaki yang telah mengisi hari-harinya selama setahun itu.


"Sayang, jangan bercanda begini! Kamu tau aku tidak mau bercerai, sampai kapan pun."


Ayu terguguk. Ia tahu paham monogami Alex. Ia masih ingat saat lelaki itu mengatakan hanya ingin menikah sekali dan hidup bahagia bersama anak dan istrinya. Namun, bagaimana bisa bahagia tercipta tanpa ada rasa cinta?

__ADS_1


"Aku cinta sama kamu, Sayang. Aku cinta sama Aleeya. Aku minta maaf, HP-ku lowbat dan tertinggal di tempat Tamara. Kamu tau kan kalau kamu dan Aleeya adalah segalanya buat aku," mohon Lae meriah jemari Ayu. Ia mencoba meyakinkan Ayu agar tidak meninggalkannya.


Ayu menggeleng. Keputusannya sudah bulat. Ia lelah menjadi bahan obsesi Alex untuk mendapatkan keluarga impian. Selama ini, Ayu mencoba bertahan meski tidak ada cinta dari Alex karena ia tahu bahwa perasaan Alex bertepuk sebelah tangan.namin, mengetahui bahwa cinta milik lelaki itu bersambut, Ayu memutuskan untuk berhenti berjuang. Mungkin jodoh mereka memang hanya sampai di sini.


"Bilang apa yang kurang, Sayang. Aku akan berusaha untuk memberikan semua untuk kamu. Tapi, janji kamu tidak boleh pergi," mohon Alex lagi. Kali ini, ia menarik tubuh Ayu dalam pelukannya. Ia tidak akan sanggup melepas Ayu. Baginya Ayu dan Aleeya adalah seluruh hidupnya.


"Kita bahagia, Sayang. Selama ini kita baik-baik saja. Kenapa harus bercerai," jelas Alex yang memeluk erat


Ayu terisak dalam pelukan Alex. Jika disuruh memilih saat paling membahagiakan dalam hidup, maka kehadiran Alex dan Aleeya adalah momen paling membahagiakan itu. Kilasan balik tentang tawa yang ia bagi bersama Alex dan Aleeya berputar di kepalanya. Membuat air matanya menderas. Senyum di wajah mereka masih jelas di ingatan Ayu. Pun dengan hangat dan obrolan mereka.


Sungguh, Ayu ingin bertahan. Namun, harapan itu telah hilang bersama kecewa. Ia sudah berjuang, tetapi kalah.


"Aku tidak bahagia, Lex," ungkap Ayu dalam pelukan Alex yang tiba-tiba merenggang. Tangan yang tadi berada di punggung Ayu beralih di kedua pundak. Ia mendongak menatap Alex, mengumpulkan tenaga dan melanjutkan, "Aku tidak cinta sama kamu. Bagaimana bisa aku bahagia."


Tenggorokan Alex tercekat. Seakan ada lempengan baja yang membuat napas pun susah untuk masuk. Hari itu adalah tepat setahun saat mereka pertama kali bertemu di ulang tahun Tamara. Hari yang sempat disesali Alex, tetapi kini sangat disyukuri. Hari yang mewujudkan mimpinya, menjadi seorang suami dan ayah.


Sekuat apa pun Alex mencoba mengingat. Kehidupan rumah tangganya bersama Ayu hanya ada bahagia, setidaknya itu yang ia yakini. Namun, mendengar pengakuan Ayu membuatnya seakan jatuh pada jurang yang curam. Di balik senyum Ayu selama ini, adakah luka di dalam hati perempuan itu. Luka yang mungkin tidak sengaja ia torehkan. Atau, mungkin luka karena merasa terpaksa menjalani bahtera rumah tangga bersamanya.


Entah sejak kapan, yang Alex tahu ia begitu mencintai Ayu. Ia rela melakukan apa pun untuk perempuan itu. Ingatan tentang percakapan Alex dan Dwiki berputar di benak lelaki itu. Janji yang pernah ia ucapkan pada mertuanya itu seakan berteriak nyaring di telinganya.


"Jika suatu saat, kamu tidak bisa membahagiakan Ayu, kembalikan dia pada saya dengan baik." Itu ucapan Dwiki yang disanggupi oleh Alex dulu.


"Apa dengan berpisah, kamu akan bahagia, Sayang?" tanya Alex dengan lemah.


Ayu mengangguk, membohongi Alex, membohongi dirinya sendiri. Rasa enggan untuk berpisah begitu kuat dalam hati Ayu. Namun, bertahan pun, ia hanya akan hidup dengan ras bersalah karena telah memisahkan dua hati yang saling terikat. Lebih baik ia menyimpan luka itu sendiri. Satu hati yang tersakiti, jauh lebih baik daripada dua.


Alex akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Ayu. Mungkin selama ini ia terlalu egois. Rencana Alex untuk Ayu dan anak-anaknya kelak menghantam semakin keras. Semua sudah ia persiapkan dengan baik. Sebuah rumah yang hangat dengan tawa dan bahagia. Tangannya dan tangan Ayu yang saling menggenggam hingga kulit mereka telah keriput. Kini, semua itu hanya rencana tanpa realisasi.


"Give me a hug!" pinta Alex merentangkan tangan. Bergerak perlahan mendekati Ayu, lantas memeluk erat perempuan itu. Ia terisak di sana, di dalam pelukan hangat.


Alex berharap waktu bisa berhenti berputar, hingga ia tidak harus melepaskan pelukan Ayu. Ia telah hidup bertahun-tahun dengan kebencian pada perceraian orang tuanya. Kini di daftar kebencian itu harus tertulis namanya sendiri. Sampai kapan pun, Alex tidak akan memaafkan dirinya yang tidak bisa mempertahankan pernikahannya. Ia gagal menjadi suami dan ayah yang baik. Ia berhasil, berhasil menempatkan Aleeya di posisinya saat kecil dulu, bahkan lebih parah.


Pasangan itu berpelukan untuk waktu yang lama. Air mata mereka tidak berhenti. Dengan luka yang sama, mereka mencoba berpura-pura untuk kuat.

__ADS_1


***


__ADS_2