Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
This Is Us


__ADS_3

Richard mengaduk espresso-nya. Dia bersandar di meja, sesekali mengembuskan napas kasar. Pagi tadi dia menghadiri salah satu meeting dengan seorang investor. Dia sebenarnya tidak ingin Tamara ikut, terlebih karena mereka sedang di Singapura. Entah kenapa perkataan Tamara kemarin masih membekas di ingatannya.


Sudah dua tahun menjalin kisah dengan perempuan itu, dia sangat mengenalnya. Tamara tidak pernah bercanda, bukan tidak mau, tetapi dia memang tidak bisa. Perempuan itu terlalu kaku untuk bisa bercanda.


"Babe, kalau ternyata aku mencintai orang lain bagaimana?" Begitu kata Tamara kemarin. Sontak saat itu Richard merasa jiwanya seketika meninggalkan raganya. "Aku bercanda," sambung Tamara yang dilanjut dengan tawa, sementara Richard masih tercengang.


Entah di mana tunangannya itu belajar bercanda, tetapi Richard rasa itu bukan sekadar candaan. Ada ragu yang menyusup dalam hatinya. Pertanyaan lama yang sering mengganggu tidurnya kembali menyerang. Pertanyaan itu sudah meredup sejak Alex menikah, tetapi setelah perkataan Tamara, hal itu terang kembali.


Dia berdiri dan tersenyum menyambut Alex. Dia tak akrab dengan Alex, selama ini lelaki itu adalah satu-satunya teman Tamara yang ia hindari. Dia tidak suka jika tunangannya itu sering bertemu dengan Alex. Dia masih ingat bagaimana dia begitu amarah begitu tahu bahwa perempuan yang sangat ia cintai menginap bersama Alex.


"Tumben kamu ajak ketemu," ucap Alex yang kini sudah duduk di depan Richard.


"Tamara masih menemani Ayu. Aku bosan, sedang butuh teman," balas Richard.


Mereka terdiam lama, sibuk dengan pikiran masing-masing. Richard berkutat pada kebingungan untuk mulai bertanya. Alex sendiri sedikit bingung karena seorang Richard mengajaknya bertemu berdua. Padahal, selalu ada ketegangan antara mereka.


Semua ketegangan itu bersumber dari Alex tentunya. Dia selalu sengaja mengusik Richard, berusaha memancing emosi lelaki itu sekadar menguji. Namun, pertahanan lelaki itu sangat kuat. Tidak seperti kekasih Tamara yang lain, Richard mampu membuat dia bisa mempercayakan perempuan yang ia cintai itu.


Namun, meski tidak begitu dekat, Alex tahu bahwa ada hal yang mengganjal dalam benak Richard. Selama ini, lelaki itu selalu tampak percaya diri. Alex tidak melihat binar di wajah oriental itu.


"Aku tau kamu mengajakku bertemu untuk mengatakan sesuatu," ungkap Alex. "Apa kamu ingin memintaku menjauhi Tamara lagi?" tanya Alex dan tertawa kecil.


Richard menggeleng. "Tidak, aku memang ingin mengatakan sesuatu, tetapi bukan itu. Lagipula, kamu sudah beristri sekarang."


Alex mengangguk pelan.


"Kamu dan Tamara sudah mengenal sejak kecil, 'kan?"


Alex mengangguk lagi. "Kami sangat dekat." Dia menempelkan kedua jari telunjuknya. Entah kenapa, dia masih gemar memantik emosi Richard, meski cukup sudah karena lelaki itu sangat tenang. Kalau saja posisi mereka dibalik, dia pasti sudah memukul lelaki itu sejak dulu. Alex tak suka kekerasan, tetapi jika menyangkut dengan miliknya, dia mungkin bisa membunuh--mungkin.


Richard masih tersenyum, seperti tebakan Alex. "Kamu berarti tahu kalau Tamara bukan orang yang suka bercanda."


"Ya, dia kaku. Tapi, kami sering bercanda, maksudku aku sering bercanda dan membuat di tertawa."


Alex kembali mengingat masa-masa kecilnya dengan Tamara. Perempuan itu dididik dengan keras, sehingga pemikirannya cepat dewasa.


Richard terdiam sesaat. "Aku tidak tahu kenapa kalian bisa bersahabat sangat dekat, padahal kalian sangat berbeda."


"Siapa bilang? Aku dan Tamara memiliki banyak kesamaan, kami menyukai banyak hal yang sama," timpal Alex. "Musik, teater, makanan, pola hidup, olahraga. Kupikir aku tidak bisa menyebutkannya satu-persatu. Kami sangat mirip."


"Maksudku, Tamara pendiam dan serius. Sementara, kamu ... Semua orang tau kamu seperti apa."


Alex dan Richard saling menatap.


"Aku tidak percaya pada persahabatan perempuan dan lelaki itu murni sahabat," ucap Richard lagi.


Alex berdeham dan berkata, "aku tidak mengerti arah pembicaraan kita."


"Bagaimana jika Tamara menganggapmu lebih dari sahabat?" rutuk Richard dengan tatapan tajam. Dia tidak pernah marah setiap kali Alex mengatakan bahwa dia akan merebut Tamara. Dia selalu bersikap tenang saat lelaki itu terus memancingnya. Namun, dia tidak bisa menahan diri jika ternyata perasaan itu bersumber dari Tamara.


Alex tertawa. Dia yakin Richard sedang bercanda. "Kamu tidak cocok bercanda, Richie. Kamu pikir bisa masuk dalam kehidupan Tamara kalau saja dia menyukaiku?" tukas Alex yang melanjutkan tawa. Dia tahu Tamara dan dia yakin bahwa perempuan itu hanya mencintai satu lelaki--Richard.


"Secara tidak langsung kamu mengakuinya sekarang," tutur Richard yang langsung menyeringai. Ah, dia tak pernah salah dalam menilai. Melihat semua tingkah Alex, jelas sekali bahwa lelaki itu manarih hati pada Tamara.


"Lelaki macam apa yg tak menyukai Tamara," balas Alex. "Aku sudah punya Ayu, Richie. Aku bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang." Dia melanjutkan dengan senyum.


Richard bisa melihat kejujuran di mata Alex. Lelaki itu memang tampak bahagia.


"Kalau hanya itu yang ingin kamu bahas, tidak usah khawatir. Aku tidak akan pernah merebut Tamara. Aku akan semakin bahagia jika kalian segera menikah. Menjadi isteri dan ibu adalah impian Tamara sejak kecil,"  kata Alex lagi.


Richard hanya tersenyum. Dia tahu impian Tamara. Namun, namanya mungkin tak ada di dalam impian itu.

__ADS_1


Usai berpisah dengan Alex di cafe itu, Richard datang menjemput Tamara di apartemen Alex. Dia sempat berbincang sebentar dengan Ayu, menanyakan kondisi ibu hamil itu. Ayu terlihat bahagia menanti kelahiran bayinya.


Kini, dia dan Tamara sudah berada di atas pesawat untuk pulang ke Jakarta. Dari tadi, Tamara lebih banyak diam. Saat diajak berbincang perempuan itu lebih sering menjawab seperlunya, bahkan kadang hanya menjawab dengan anggukan dan senyum. Alasan itu yang membuat Richard ikut terdiam.


Tangannya tiba-tiba digenggam oleh Tamara, membuat dia berbalik menuju perempuan itu. Wajah cantik Tamara terlihat sendu.


"Kamu tau, aku selalu iri pada Ayu," ungkap Tamara membuat mata Richard langsung membesar. "Dia memiliki segalanya. Keluarga yang selalu memanjakan dan menuruti keinginannya."


Richard terenyak. Bibirnya terus mengatup dan memilih untuk menjadi pendengar.


"Aku sejak dulu ingin berada di posisinya. Setiap kali menginginkan sesuatu, semua orang seperti langsung mengiyakan begitu saja. Semua orang selalu menjadikannya kesayangan, bahkan kamu juga menyayanginya seperti adik kecil," tambah Tamara.


Richard melihat genangan air mata di pelupuk Tamara. Dia ikut menggenggam jemari kekasihnya itu. Perempuan itu pernah mengatakan bagaimana dia dibesarkan dengan banyak aturan, bahkan acap kali mendapat hukuman. Ketakutan Tamara pada ruang gelap merupakan hasil trauma saat perempuan itu dikurung di gudang gelap karena gagal menyabet juara satu di olimpiade.


"Entah kenapa, aku semakin itu padanya akhir-akhir ini. Aku ingin berada di posisinya," lanjut Tamara.


Richard ingin bertanya tentang posisi yang dimaksud oleh Tamara; menjadi isteri dan ibu atau menjadi perempuan di sisi Alex? Namun, urung, karena dia tidak peduli siapa di hati Tamara, selama perempuan itu masih ingin berada di sisinya.


Tangan Richard mengangkat tangan Tanara dan menempelkannya di bibir, lantas berkata, "aku di sini untuk kami, Babe, selamanya."


***


Ayu berdiri di depan cermin. Sudah berkian kali dia menatap pantulannya, setiap itu pula rasa percaya dirinya menurun. Tanpa hamil pun, dia tidak menyukai pipi tembam-nya. Ditambah hamil, dia semakin bulat. Dia berbalik setelah mendengar derap kaki. Alex baru saja selesai mandi, lelaki itu hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.


Tatapan Ayu kembali terfokus pada dua pantulan di cermin, dia dan Alex. Dia mengagumi bagaimana tubuh Alex yang terbentuk begitu sempurna. Dia tak merasa pantas berada di samping lelaki itu. Suaminya itu tampan dengan tubuh yang indah, penyayang, dan serba bisa.


Menurut Ayu, Alex bergan mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya, misalnya Tamara. Seketika dia menyunggingkan semyu begitu bibir lembut Alex mendarat di pipinya.


"Lagi mikirin apa, Sayang?" Tangan Alex melingkar di pinggang Ayu. Lagi, dia mengusap perut buncit perempuan itu.


Ayu menggeleng. Mereka saling menatap melalui cermin, menunjukkan senyum masing-masing. Alex mengecup pipi Ayu lama. Dia memejamkan mata, merasakan kulit lembut isterinya di bibir.


"I love you," bisik Alex sebelum melepas pelukannya dan berjalan menuju walk in closer untuk memakai pakaian.


Jika dibandingkan dengan Tamara, Ayu merasa kerdil. Tidak ada satu pun kebaikan yang bisa ia banggakan jika dihadapkan pada temannya itu. Mungkin takdir yang telah terlalu baik padanya karena mengirim lelaki seperti Alex sebagai suaminya.


"Mereka cantik, ya?" tanya Ayu saat di dan Alex sedang berada di depan teve. Alex mengalihkan pandangan dari bukunya menuju teve yang menunjukkan model-model salah satu brand underwear kenamaan berlenggak-lenggok di atas panggung runway.


"Tentu saja cantik, mereka perempuan," jawab Alex tak terlalu berminat menonton channel fashion itu.


"Mereka makan apa sampai tubuh mereka seperti itu?" Ayu bertanya pada diri sendiri, juga pada Alex.


Alis Alex terangkat. Dia menatap Ayu yang terlihat murung. Dengan sigap dia mengganti siaran dan berhenti pada salah satu siaran yang menunjukkan beberapa hewan di hutan rimba. Dia berpikir bahwa ada baiknya menonton acara fauna daripada perempuan-perempuan yang hanya mengenakan pakaian dalam berjalan dengan penuh gaya.


"Kenapa dipindah?" Ayu memukul lengan Alex.


"Pertanyaan kamu tidak masuk akal," rutuk Alex.


"Aku cuma mau tahu. Liat mereka, cantik seperti Tamara, 'kan?" Ayu memindahkan siaran lagi.


Alex membuka bukunya lagi. "Ya sudah, kamu tanya saja sama Tamara dia makan apa."


"Tentu saja aku tidak bisa seperti Tamara atau mereka, aku tidak punya ras kaukasus," ungkap Ayu, lantas mencebik.


Alex memutuskan untuk meletakkan buku di meja. Kedua tangannya kini melekat pada pipi Ayu. "Aku tidak tau kamu ini kenapa, tapi kamu cantik, Sayang. Bagiku kamu lebih cantik dari siapapun."


"Bohong! Anak kecil juga tau kalau mereka jauh lebih cantik." Ayu melirik tajam ke samping untuk menghindari tatapan Alex.


"Aku tidak peduli pikiran anak kecil, Sayang! Bagiku, kamu yang paling cantik, udah, titik."


Ayu kini menatap Alex. "Tapi ...." Belum sempat memberi alasan, ucapan Ayu dipotong oleh Alex, "katanya kunci bahagia itu bersyukur. Siapa yang dulu bilang kalau rumput tetangga memang selalu tampak hijau. Isteriku yang bijak waktu menceramahiku, mana?"

__ADS_1


Ayu menunduk.


"Udah, kamu nonton yang ini saja." Tangan Alex yang sudah menjauh dari pipi Ayu memindahkan siaran teve pada tayangan hewan. Teve itu menayangkan monyet yang sedang memanjat di puncak pohon, juga beberapa yang melompat dari ranting satu ke yang lain.


"Udah merasa cantik 'kan, Sayang?" Alex mengulas senyum dengan satu mata berkedip pada Ayu. Sontak, perempuan itu memukul lengan Alex. "Ya, kali aku bandingkan diri sama monyet. Jahat!"


"Bukan begitu," sangkal Alex. "Tapi, coba deh, menurut kamu ganteng mana, aku atau monyet jantan?"


Ayu pura-pura berpikir. "Gantengan monyet."


"Aku serius, Sayang!"


"Kamu juga, perbandingannya nggak masuk akal," ketus Ayu. "Di mana-mana juga jelas gantengan kamu."


"Nah, coba deh tanya ke monyet betina, pasti ....." Ucapan Alex dipotong boleh pekikan Ayu. "Emang aku ngerti bahasa monyet! Aku harus uu-aa sama mereka, gitu?"


Alex tertawa dan berkata, "dengar dulu!" Alex menepuk-nepuk lengan Ayu untuk menenangkan perempuan itu sembari tertawa mengingat suara Ayu saat meniru suara monyet. "Kalau saja monyet bisa bicara, mereka pasti bilang kalau monyet jantan lebih ganteng dariku. Intinya apa, cantik atau ganteng tergantung dari mata yang melihat. Coba deh liat, mana ada monyet yang tertarik sama manusia, secantik atau setampan apa pun manusia itu, iya 'kan?" papar Alex.


"Papa kamu jahat, Nak," ucap Ayu pada perutnya. "Masa Mama disamain sama monyet!"


Alex menggeser pantat mendekat pada Ayu. Tangannya ikut memegang perut buncit di sampingnya. "Papa selalu bsalah di mata Mama, Nak. Nasib jadi lelaki," adu Alex.


"Tidak usah ngadu sama anakku!" larang Ayu menahan tawa. Tawanya sudah dia tahan sejak masih membahas monyet tadi.


"Anak kita, Sayang," ralat Alex.


"Siapa tadi yang bandingin aku smaa monyet?"


"Aku cuma menganalogikan, Sayang. Lagipula, aku tadi membandingkan diriku sendiri, kok."


Ayu kini tertawa. "Kamu monyet, ya?"


"Berhenti bahas monyet, kamu lagi hamil, Sayang!"


Ayu tertawa lagi. "Awas ya! Kalo nanti anakku Miro monyet, kamu emang keturunan monyet!"


"Ya kali, Sayang. Lihat dong, wajahku ini sudah tampan, wajah isteriku cantik, masa anakku mirip monyet. Kecuali, ternyata kamu pernah ada hubungan sama monyet," kata Alex dan melanjutkan, "siapa lagi namanya ... ah, si Arya."


Ayu mencubit lengan Alex. "Ih, mulutmu! Ganteng begitu dibilang monyet, enak aja!" protes Ayu tidak terima.


"Mama kamu jahat, Nak. Masih aja ingat mantan." Alex mengusap perut Ayu.


"Kamu masih ingat Om Arya waktu nolong kita di jalan 'kan, Nak?" Ayu ikut berbincang dengan janinnya.


Alex mengerutkan kening dan beralih menatao pemilik perut yang ia usap. "Tolong apa?"


Ayu membulatkan mata. Dia keceplosan. "Bercanda!"


"Ibu hamil tidak boleh bohong!"


Tatapan Ayu megedar ke segala penjuru untuk menghindari atatoan tajam dari Alex.


"Aku haus, minta minum!" Ayu terus mencari alasan untuk menghindar.


"Cerita dulu!" paksa Alex.


"Air dulu!"


Alex mendengkus kesal. Mau tidak mau, dia melangkah menuju pantri mengambil segelas air untuk Ayu. Namun, dia tidak akan berhenti mendesak sebelum Ayu menjawab.


***

__ADS_1


UP-nya pagi-pagi, Yesss. Biar penggemar Bang Alex makin semangat 💪 Aku juga bisa istirahat lebih lama karena udah menunaikan tugas, 🤭💜💜


Oh, ya, pengen tahu pendapat kalian tentang cerita ini, apa sih yang berkesan dan apa pesan yang pembaca dapat, boleh, kan ya? Biar aku makin semangat. 😁😁


__ADS_2