Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
This Is A War


__ADS_3

Gio dan Jonny sedang menikmati anggur yang mereka ambil di lemari penyimpanan Alex. Mereka sedang berbincang saat Alex keluar dari kamar Aleeya dengan wajah gusar. Jonny yang melihat wajah menyeramkan Alex langsung menendang kaki Gio.


"Ayo cabut! Malaikat pencabut naywa udah dekat," bisik Jonny.


Gio yang tidak mengerti apa-apa tidak peduli dan tetap menikmati minumannya.


"Aku pulang duluan, Bro!" ucap Jonny cepat saat Alex semakin mendekat.


"Tetap di tempat!" desis Alex dengan penuh penekanan.


Sungguh bodoh jika Jonny berani tinggal. Dia segera berlari kecil sambil berteriak, "see ya!"


Gio yang sedang asyik minum pun mengumpat, "sial, aku masih ingin minum. Ini enak." Dia meletakkan gelas di meja dan beralih pandang pada Alex. "Sebenarnya dia kenapa?"


Alex hanya mendengkus kesal. Entah kenapa dia tidak memiliki satu teman pun yang normal. Gio itu orang cerdas jika kecerdasan diukur dari kemampuan aritmatik, tetapi untuk masalah membaca situasi lelaki itu sangat lamban.


"Kami tidak pulang?" tanya Alex. Dia menatap tajam pada Gio.


"Aku pinjam mobil, tadi ke sini nebeng si Jonny."


Alex tidak menjawab dan masih memasang wajah gusar. Gio pun menggosok rambutnya asal. Dia tidak mengerti ada apa dengan temannya itu.


"Sudahlah, aku pulang kalau begitu. Jonny pasti belum jauh." Gio bangkit dan menepuk celana. "Ah, besok aku akan datang dengan Ben. Sepertinya aku jatuh cinta pada putrimu," ungkap Gio dengan dua sidut bibir yang ditarik.


"A-apa?" Alex merasa tak percaya dengan perkataan Gio. Dia berkacak pinggang, dengan urat tercetak jelas di kening.


"Memangnya tidak boleh?" Gio keheranan.


Alex mulai menggeram. "Kamu sudah gila, ya! Jangan berani dekati anakku!"


Kening Gio mengerut makin dalam. Padahal, dia merasa Aleeya sangat lucu. Mana mungkin ada orang yang tidak jatuh cinta pada bayi lucu itu.


"Loh, kenapa?"


Alex maju dan mendorong Gio. "Sana keluar, sebelum kupukul!"


Bersama tanya, Gio pun keluar. Dia memijat tengkuknya pelan karena kebingungan. Namun, dia tidak heran lagi, Alex sejak menikah memang sedikit aneh. Mungkin karena tak pernah menerima jatah sejak isterinya melahirkan.


Alex mendengkus lagi. Dia hanya memiliki tiga teman dekat dan ketiganya sama-sama gila. Jangan-jangan dia selama ini juga gila seperti mereka. Dia menggeleng keras, lantas masuk menyusul Ayu dan Aleeya.


Tatapan Ayu tajam mengarah pada Alex yang baru masuk. Perempuan itu meletakkan bayinya di atas box.


"Aleeya udah tidur?" tanya Alex yang mendekat pada Ayu. Dia melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu. Namun, langsung ditepis.


Ayu meninggalkan Alex. Dia melewati pintu yang menghubungkan kamarnya dengan Kamar Aleeya. Dia tahu bahwa Alex mengejar. Sudah tak sabar dia mengeluarkan segala umpatannya. Kalau tidak mengingat keberadaan dua teman Alex, juga Aleeya, dari tadi sudah dicecar suaminya itu dengan berjuta kata.


"Kamu tidur duluan! Biar aku yang di sebelah jaga Aleeya," ucap Alex.


Ayu bersedekap. "Aku tidak mau nama mantan kamu jadi nama anakku!"


Alex mendesis pelan. Ini semua gara-gara Jonny. Bagaimana bisa temannya itu mengingat mantannya, sementara di sendiri lupa?

__ADS_1


Alex membuat gerakan menghitung di jari-jarinya. "Alice, Beth, Carol, Emma, Gaby ... Ehm ... siapa lagi, ya?" Alex terus berpikir untuk mengingat apa benar dia memiliki mantan pacar bernama Aleeya.


Ayu yang menyadari bahwa suaminya sedang menghitung barisan mantan-mantannya, naik pitam. Perempuan itu meraih banyak yang ada di ranjang di belakangnya, lantas melempar Alex penuh emosi.


"Dasar ...!" umpat Ayu menahan kata lain yang ingin terucap. "Aku tidak suruh kamu hafal nama mantan!"


"Aku tidak punya mantan namanya Aleeya, Sayang."


Ayu berkacak pinggang. "Bohong!"


Melihat Ayu yang dipenuhi amarah, Alex segera mendekat dan merangkulnya. "Aku tidak bohong. Lagipula, kalaupun ada aku tidak peduli. Sebagian besar sudah kulupa rupa dan namanya."


Mulut Ayu terbuka sedikit seakan tak percaya pada ucapan Alex. Semudah itu.


"Aku tidak mencintai satu pun dari mereka, sungguh."


Ayu mendelik dan melepas tangan yang berada di pundaknya. Dia mencebik, tentu saja dia tahu bahwa Alex tidak mencintai satu pun dari barisan mantannya yang berderet seperti antrian bantuan sembako.


"Cintamu cuma satu, Tamara 'kan?" sinis Ayu.


Alex berpikir sejenak. Saat itu dia memang hanya mencintai Tamara. Dia lantas mengangguk mengiyakan.


"Aku tidur di sebelah bareng Aleeya, kamu di sini saja," rutuk Ayu sebal. Dia melangkah untuk masuk ke ruangan sebelah, tetapi berbalik lagi. "Awas kalau berani ke sebelah!"


Alex mengerutkan kening tak mengerti. Mungkin Ayu masih marah karena nama 'Aleeya' tadi. Dia langsung mengejar Ayu untuk memberi penjelasan.


"Sayang!" Dia meraih lengan Ayu. "Aku memberi nama Aleeya karena suka dengan artinya, mulia, agung. Aku sempat membaca artikel nama bayi dan aku pikir itu yang aku inginkan. Dengan menggabungkan nama kita bertiga, artinya sangat bagus."


Alex menyedihkan bahu tak mengerti. Dia akan tidur nyenyak kalau begitu. Berhubung besok dia tidak masuk kerja, maka mungkin dia akan kebagian menjaga Aleeya besok saja.


Ayu berdiri di samping box Aleeya. Tatapannya terus tertuju pada bayi yang pulas itu. Terukir senyum di wajahnya. Bahkan, jika waktu bisa diputar, dia akan tetap memilih melahirkan bayinya itu. Setidaknya, dia memiliki Aleeya sebagai penghibur lara di hatinya.


Dia mungkin tak bisa mendapatkan cinta dari Alex, tetapi dia memiliki Aleeya. Anak yang sangat dia cintai lebih dari apapun. Dia mengelus lembut pipi bayinya.


"Sayangnya Mommy," ucap Ayu dengan air mata yang mulai menetes. Ada rasa sedih di hatinya bercampur haru melihat Aleeya. "Daddy-mu mungkin tidak cinta sama Mommy, tapi dia sangat menyayangimu, Nak."


Aleeya tadi sempat terbangun karena popoknya sudah penuh. Setelah mengganti popok dan menyusui bayi itu, Ayu berbaring di sofa bed. Faktor lelah dan mata yang agak bengkak karena menangis, dia pun lelap. Dia bahkan tidak menyadari saat Alex masuk ke ruangan itu.


Alex sempat tidur, tetapi tidurnya tidak nyenyak. Itu sebabnya, dia memutuskan untuk masuk melihat kondisi anak dan isterinya. Dia menggeleng pelan melihat Ayu yang tidur dengan posisi duduk. Segera dia membaringkan isterinya itu dan menyelimuti dengan selimut yang ada di kursi malas.


Kalau sampai Ayu masih marah karena nama Aleeya, dia kan pastikan Jonny mendapatkan pelajaran setimpal. Dia duduk di karpet depan sofa dan memandang lama wajah perempuan itu. Dia tersenyum kecil, lalu mencium beberapa kali. Semakin hari, perempuan itu semakin cantik di mata Alex.


Dia membaringkan kepala di sofa tepat di depan wajah Ayu. Hidung mereka saling menyapa, begitupun sapuan napas hangat yang mengusap setiap permukaan wajah. Alex memajukan wajah dan merasakan manis bibir Ayu yang sedikit terbuka.


Alex terkikik sendiri, menyadari betapa dia menggila karena perempuan yang pulas itu. Dia tidak menyangka bisa memberi hatinya pada si manja yang kadang cukup menyebalkan.


Suara rengekan terdengar dari box. Alex pun langsung bangkit untuk melihat keadaan Aleeya. Bayi cantik itu terbangun. Tangan Alex meraih bayinya. Dia menggendong Aleeya dan menciumnya sesekali.


"Anak Daddy udah bangun, mau main, 'kan?" ucap Alex dengan suara kecil agar tidak membangunkan Ayu. "Lapar, ya? Mommy lagi tidur. Nanti ya, mimi-nya."


Aleeya menguap, mulut mungilnya terbuka lebar. Alex pun tersenyum semakin lebar. Hidupnya kini semakin sempurna. Dia harap bisa terus melihat Aleeya tumbuh, bersama dengan Ayu tentunya.

__ADS_1


***


Ayu sudah selesai memandikan Aleeya. Alex yang tidak diizinkan untuk mendekat hanya menatap dari jauh. Perempuan itu masih marah karena semalam dan makin marah saat Alex tidak sengaja membuat Aleeya menangis. Saat itu Aleeya masih pulas dan dia datang mencium tiada henti. Merasa terganggu, bayi itu sontak bangun dan menangis. Padahal, Ayu masih di kamar mandi.


"Biar aku yang ganti bajunya, Sayang!" pinta Alex dengan dua tangan terjulur ingin meraih Aleeya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri."


"Aku tadi cuma gemas, Sayang. Maaf, ya!" ucap Alex.


"Minta maaf sama Aleeya, jangan sama aku!"


Alex meraih jemari Aleeya. Telunjuknya di genggam bayi itu dengan erat. "Maaf ya, Nak. Daddy cuma mau cium saja, bukan mau mengganggu."


Ayu pun membiarkan Alex mengambil Aleeya dan mengganti pakaiannya. "Jangan lupa, usap minyak telon!"


Ayu meriah gawai dan mulai membuka pesan. Dia membalas ucapan selamat dari keluarga dan teman dekatnya. Membagikan beberapa foto lucu Aleeya di grup keluarganya. Dia melirik pada Alex dan Aleeya yang sedang asyik bermain. Dia akan bersantai sedikit kalau begitu, seperti pinta Alex bahwa hari Minggu adalah hari libur Ayu dari merawat Aleeya.


Ayu mulai membuka sosial media untuk sekadar mengecek notifikasi. Dia melihat foto cantik Aleeya dengan mahkota bunga yang dipasang oleh Alex di Instagram-nya. Dia memuji kecantikan putrinya itu sambil tersenyum. Namun, dia menjadi marah begitu membaca komentar-komentar para netizen.


@yuukRumpi: Udah lahiran aja. Anak perbuatan haram doong.


@laraStellaLovers: pantas nikahny buru-buru. Btw, kalo nikah Ama Stella anaknya pasti lebih cantik.


Masih banyak lagi komentar jahat yang langsung ditujukan pada Ayu juga Aleeya. Bahkan, ada aku yang mengatakan bahwa Ayu murahan dan anaknya juga sama saja. Dia memegang erat gawainya. Itu sebabnya kenapa dia tidak ingin orang lain tahu tentang kelahiran Aleeya, dia tidak mau anaknya menjadi sasaran komentar jahat dari netizen kurang piknik. Padahal, hidup Ayu bukan urusan mereka.


"Ada apa?" tanya Alex ketika melihat raut Ayu berubah.


Ayu melempar HP di samping Alex seakan benda itu terbuat dari gabus. Untung saja ada case silikon, sehingga benda pipih itu tidak hancur.


"Astaga," rutuk Alex begitu menggulir layar. "Tidak usah dipusingkan, Sayang. Mereka paling barisan pengangguran yang gila urusan."


"Iya, tapi aku nggak suka mereka sampai menghina Aleeya!" protes Ayu.


Alex menggendong Aleeya yang sibuk menendang. Dia mendekat pada Ayu dan mengelus paha perempuan yang sedang duduk di kursi malas.


"Jadi, kamu mau bagaimana? Mau ambil jalur hukum biar mereka jera?"


Ayu berpikir sejenak. "Gimana kalau mereka ibu yang juga punya anak?"


"Ya, terserah kamu, Sayang. Permintaan maaf lagi tren, mau kayak gitu?"


Ayu sebenarnya mau saja. Namun, dia takut bahwa orang yang akan mereka perkarakan justru mendapat bully dalam bentuk lain, dan dia tidak mau itu terjadi.


"Komentarnya dinonaktifkan saja, biar mereka tidak mengomentari Aleeya. Selebihnya, biarkan saja. Nanti mereka juga capek," putus Ayu.


Alex tersenyum dan mengangguk pelan. Dia menatap Aleeya yang menggerakkan mulut. " Mommy sudah dewasa sekarang, Nak."


***


udah dekat tamat 🤭 di NT ditamatkan, ya. untuk baca season 2 bisa di *******

__ADS_1


__ADS_2