Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
A days without you (part 2)


__ADS_3

Hari ini Ayu pulang terlambat, dia dan beberapa Area Manager yang lain berkumpul untuk mengadakan rapat mengenai beberapa poin yang berubah pada audit eksternal. Hasil rapat itu akan mereka gunakan untuk rapat bersama GMO yang rencananya akan diadakan Minggu depan.


"Diangkat aja dulu, Bu!" pinta Pak Mario sambil tersenyum kecil, "siapa tau penting."


"Misalnya, suami lagi kangen," tambah Pak Yanuar yang memang terkenal sebagai tukang kelakar.


"Tidak!" Ayu menggoyangkan tangan di udara, "tidak penting itu."


Rapat itu pun kembali dilanjutkan, tetapi Ayu sama sekali tidak bisa fokus karena HP-nya yang masih berdering. Peserta rapat yang lain pun ikut terganggu. Ayu takut mematikan HP itu karena tidak ingin kejadian siang tadi terulang.


"Angkat aja lah, Bu! Nanti Pak Herdi sendiri yang datang buat ngecek," sindir Bu Ratna.


"Iya, dengar-dengar tadi Lia datang khusus untuk melihat Bu Ayu karena HP-nya tidak diangkat," timpal Pak Yuniar.


Ayu hanya terdiam, merasa tak enak. Ini semua gara-gara Alex. Selama karirnya, dia selalu dikenal sangat profesional, sehingga tidak heran dia sudah berada di posisinya sekarang meskipun usianya belum 30 tahun.


"Ya udah, permisi sebentar, aku angkat telepon dulu." Ayu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Dengan kasar Ayu mengusap layar HP untuk menerima sambungan telepon Alex.


"Halo, Sayangku! Udah makan malam? Jangan lupa minum susu! Jangan begadang! Pokoknya istirahat yang cukup. Porsi kerja harus dikurangi!" Alex mulai berbicara sendiri, karena dari tadi Ayu hanya diam dengan rahang mengeras.


Ayu senang bermanja-manja, tetapi dia tidak suka diatur. Dia bukan anak kecil lagi yang bahkan untuk makan dan tidur harus diingatkan. Alex sudah keterlaluan dan dia tidak akan menolerir kelakuannya lagi.


"Sudah? Ada lagi?" Suara Ayu kecil dan penuh tekanan.


"Masih banyak," balas Alex.


"Aku lagi meeting! Bisa tidak kamu jangan ganggu!"


"Ini sudah jam 7, kamu harusnya udah istirahat di rumah." Alex terdengar khawatir dan tidak mengindahkan peringatan dari Ayu.


"Udah hampir selesai, Lex." Suara Ayu melembut setelah berhasil menenangkan diri.


Menurut Ayu, tidak ada gunanya mendebat apalagi mengancam Alex. Lelaki itu tidak akan peduli dan hanya akan menambah susah hidup Ayu. Dia memutuskan untuk mengalah dan mencoba memberi pengertian pada Alex.


"Tidak usah telepon dulu, aku pasti telepon kalo sudah sampai di rumah," tambah Ayu.


"Jangan kelamaan! Kamu juga pasti belum makan malam, 'kan?"


Ingin Ayu meremas atau melempar benda persegi yang berada di tangan kirinya. Namun, dia berusaha untuk tetap menguasai dirinya dengan menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan dari mulut.


"Iya, tidak lama," balas Ayu berusaha mengontrol suaranya agar tetap lembut.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati, ya. Jangan lupa telepon kalo sudah sampai di rumah!" Alex mengingatkan, "ah, aku minta cium dulu!" pinta Alex dengan suara centil.


"Aku tutup," ujar Ayu lantas mengusap layar HP untuk mengakhiri panggilan.


Dua tangan Ayu saling meremas, dia mengatur napas sebelum masuk ke ruangan rapat lagi. Dia pasti akan kena bully di dalam sana, rapat mereka akan semakin alot.


"Pengantin baru emang gitu Bu Ayu, maunya berkabar terus, apalagi kalo LDR. Laki mah dikit-dikit maunya nempel," Sumbar Pak Yanuar yang hanya ditanggapi Ayu dengan senyum kecil.


"Iya, kalo maish baru, kalo udah punya anak dua, dikasi punggung." Bu Kartika yang dari tadi tidak begitu menanggapi ikut bicara.


"Lah, malah curhat!" canda Pak Yanuar.


Benar 'kan, rapat mereka menjadi alot, malah melebar ke masalah tidak penting perihal rumah tangga mereka. Sebelumnya, Ayu selalu menjadi bulan-bulanan karena dia satu-satunya yang belum menikah diantara mereka, sekarang setelah menikah masih sama, mungkin karena dia yang paling muda. Kamu Ayu pikir ulang, mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang lain senang menjadikannya bahan bercandaan, seperti yang dilakukan oleh rekan kerjanya, Bima, juga Alex.


"Besok pagi, kita bisa bahas kendala ini sama QA dulu. Ya, mereka enak tinggal nge-cek doang, kasian anak-anak kalo terlalu kaku sama aturan," ungkap Pak Mario.


Pak Mario memang terkenal selalu mendahulukan kepentingan karyawan di toko, mungkin itu juga sebabnya banyak yang menyukainya. Mereka berlima memiliki kemiripan, tidak heran tim mereka disebut paling solid. Meski usia Ayu terpaut jauh dibawah rekannya yang lain, tetapi dia sudah terbiasa sehingga tidak terganggu dengan pembahasan mereka yang kadang terlalu nyeleneh.


Bu Marta tadi mengusulkan untuk makan malam bersama, sayang Ayu dan Pak Yanuar mengaku untuk pulang terlebih dahulu. Sehingga, mereka terbagi dua, tim pulang dan tim makan malam bareng. Sudah hampir sejam dari terakhir kali Alex menelponnya, dia tidak mau saat ikut makan malam dan HP-nya berdering terus. Membayangkan akan menjadi bulan-bulanan lagi, membuatnya negeri. Kadang saat bercanda ibu-ibu dan bapak-bapak itu terlalu vulgar untuk perempuan seperti Ayu.


Sesampainya Ayu di rumah dia menjatuhkan dirinya di sofa dengan pelan, dia masih harus berhati-hati karena kandungannya masih muda. Kalau sampai janinnya kenapa-kenapa, bisa-bisa Alex mengamukinya.


Ayu menatap layar persegi di tangannya, dia harus menelepon Alex sesuai janjinya. Tidak, dia sangat malas mendengar suara Alex. Mengingat nama Alex saja, membuat Ayu merasa mual dan pusing. Sialnya, HP itu berdering di waktu yang sangat tepat. Mau tidak mau, Ayu segera mengangkatnya.


Ayu tidak menjawab.


"Ini sudah jam berapa, tapi kamu sudah makan, 'kan? Perempuan hamil tidak boleh telat makan, kasian janinnya."


Setiap kali menelepon selalu saja ada 'sudah ini? Sudah itu? Jangan ini? Jangan itu?' dan Ayu tidak suka. Kadang dia tidak tahu apa itu bentuk perhatian atau sekedar keposesifan semata. Dia tidak tahan lagi.


Air mata Ayu mulai menetes. Dadanya mulai sesak dan isakan yang dari tadi ditahannya mulai lolos. Dia tidak ingin berkata apapun, hanya ingin menangis. Tangis yang tadi tanpa suara, kini terdengar meraung-raung.


"Sayang, kamu kenapa?"


***


Tangisan Ayu tidak mereda. Alex sudah berusaha untuk menenangkannya, tetapi nihil. Tangis Ayu justru semakin keras. Entah apa yang terjadi padanya?


"Sayang, bicara? Ada apa?"


Rasa khawatir Alex tidak terbendung lagi. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Ayu, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Ada yang sakit? Perut kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Alex, meskipun tak ada jawaban sama sekali, "atau kamu mau aku ke Jakarta sekarang?"

__ADS_1


Kalau memang Ayu mau Alex kembali ke Jakarta saat ini juga, tentu saja lelaki itu tidak akan berpikir dua kali untuk mengambil penerbangan tercepat. Baginya, Ayu adalah prioritas utamanya. Apapun akan dia lakukan untuk perempuan itu.


"Aku tuh nggak suka diginiin!" Suara Ayu mulai terdengar, meski masih terisak.


Kening Alex berkerut. Dia tidak mengerti maksud ucapan Ayu. Dia berpikir sejenak, apa mungkin selama beberapa hari terpisah ada kesalahan yang dia perbuat. Sepanjang ingatannya, dia tidak melakukan kesalahan apapun, dia bahkan sellau menyempatkan diri untuk menghubungi Ayu.


Di tengah-tengah meeting pun, Alex selalu berusaha untuk mencuri waktu untuk sekedar menanyakan kabar. Pun siang tadi, saat dia mengirim makanan di untuk Ayu. Ah, dengan semua perhatian yang Alex lakukan seharusnya dia sudah mendapatkan predikat suami terbaik, lantas mengapa isterinya menangis?


"Kamu sadar nggak sih, kamu itu sangat annoying!" cecar Ayu.


Annoying? Alex sama sekali tidak merasa mengganggu Ayu, bukankah yang dia lakukan adalah bentuk peduli dan perhatian.


"Kamu tuh terlalu posesif. Aku bisa jaga diri sendiri dan anakku. Aku jadi menyesal nikah sama kamu!"


Kini Alex yang terdiam, meski dalam kebingungan. Dia berpikir bahwa semua yang dia lakukan adalah untuk memastikan Ayu selaku baik-baik saja, benar-benar tidak ada niat untuk mengganggu apalagi memperjelas kepemilikannya terhadap perempuan itu.


"Kamu terus menelepon seakan nggak percaya sama aku. Aku juga butuh ruang untuk diri sendiri dan pekerjaanku."


Ruang, ternyata. Alex tidak tahu kalau selama beberapa hari ini dia terkesan mengekang dan membatasi ruang gerak Ayu. Dia tidka bermaksud sama sekali, tetapi terus-menerus bertanya tentang keadaan Ayu membuatnya tak tenang. Semua yang dia lakukan semata-mata karena khawatir, bukan karena tak percaya.


"Aku minta maaf," ucap Alex tulus.


Mereka terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Aku tidak tau kalau kamu terganggu, aku minta maaf." Suara Alex lembut.


Tangis Ayu sudah mereda, hanya tersisa isakan kecil.


"A-aku suka kalau kamu nelpon," aku Ayu, "tapi, tau waktu. Aku tidak mau diganggu kalo lagi kerja. Terlalu sering juga bikin bosan."


"Iya, maaf. Aku akan atur waktu buat nelpon," balas Alex, "tapi, kamu tau kalau aku itu selalu khawatir. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Aku bisa jaga diri sendiri," ungkap Ayu, "kalo ada apa-apa, kamu apsti orang pertama yang aku hubungi."


Benar, satu-satunya orang yang mengetahui kehamilan Ayu adalah Alex. Ayu tidak mungkin menghubungi orang lain. Namun, itu juga alasan dia sangat khawatir, tidak ada yang bisa membantu Ayu, sementara dia sendiri berada jauh.


Alex berdiri di dekat kaca kantornya. Dia memasukkan kedua tangan di saku depan celananya. Dia harus lembur karena ada data dari tim audit tentang kemungkinan kecurangan yang terjadi dalam internal perusahaannya.


Sejak kembali dari Jakarta, Alex sangat sibuk, tetapi tetap meluangkan waktu untuk terus berkabar. Sungguh, dia tidak menyangka perhatiannya justru menjadi penyebab Ayu bersedih. Bagaimanapun juga Ayu sedang hamil, mungkin hal itu yang menyebabkan dia menjadi sangat sensitif.


Alex tidak pernah memberi perhatian dan diperhatikan. Sepanjang tinggal sendiri, hanya ada dirinya. Dia kira dengan terus menghubungi Ayu akan membaut perempuan itu bahagia. Sepertinya dia masih haru belajar banyak untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk anaknya kelak.


***

__ADS_1


__ADS_2