Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
This Is Enough


__ADS_3

Tatapan Marissa mengedar melihat apartemen Alex yang sebenarnya cukup mewah bagi beberapa orang, tetapi tidak dengannya. Keningnya mengerut beberapa kali, merasa bahwa ada beberapa kekurangan di sana.


"Apa Alex tidak bisa membeli rumah atau setidaknya penth house untuk kalian," ucap Marissa yang sudah duduk di sofa. "Bukan maksud apa-apa, tapi Mami bisa membantu."


Ayu hanya tersenyum kecil. Meski Alex tidak memiliki kekayaan melimpah seperti Marissa, tetapi dia yakin suaminya itu bisa membeli rumah seperti milik mertuanya itu. Namun, untuk apa rumah besar itu jika penghuninya merasa sepi.


Entah kenapa, ada rasa sesak di dada Ayu mendengar ucapan Marissa. Dia tahu bahwa ibu mertuanya itu bermaksud baik. Namun, dia seakan bisa merasakan perasaan Alex yang hanya dilimpahi kebutuhan akan barang, tidak dengan kasih sayang.


Bukan berarti Marissa tidak menyayangi Alex. Ayu tahu bahwa seperti ibu yang lain, Marissa juga menyayangi anak-anaknya. Hanya caranya saja yang berbeda dan tidak pas.


"Permisi." Bu Ina meletakkan dua teh chamomile seperti keinginan Marissa. "Neng, Pak Alex tadi minta ditelepon."


Ayu mengangguk pelan. "Bu Ina, istirahat saja, ya. Mumpung ada Mami yang temani di sini."


"Loh, kok Bu Ina-nya justru keluar?" tanya Marissa yang sudah meletakkan gelas teh di meja.


"Dia tinggal di lantai bawah."


Marissa menggeleng-geleng. "Kalau kalian tinggal di rumah yang lebih gede, ART kalian bisa tinggal bareng jadi bisa stand by, setiap saat."


"Bu Ina cuma bantu sampai aku lahiran, Mi. Alex tidak suka pake ART. Paling sewa jasa bebersih aja," balas Ayu mulai menjelaskan bahwa Alex juga tak suka privasinya diganggu. Selain itu, dia juga terus menajwab pertanyaan-pertanyaan dari Marissa.


"Alex bisa masak?" Marissa membelalak. Dia tidak menyangka anak sulungnya itu pandai memasak. Seingatnya, saat kecil Alex adalah anak manja yang tak bisa apa-apa.


"Dia 'kan dulu pernah jadi asisten koki di restoran Cina waktu kuliah," jelas Ayu.


Marissa membisu. Dia tidak pernah merasa Alex kekurangan uang sehingga harus bekerja saat kuliah. Semua biaya kuliah dan hidupnya selama di Amerika ditanggung olehnya dan juga ayah Alex. Selain itu, dia tidak pernah memberi uang sedikit untuk anaknya itu. Dia selalu memastikan bahwa uang yang dikirimnya lebih.


"Alex tidak pakai narkoba, 'kan?" tanya Marissa karena tidak tahu alasan apa lagi yang membuat Alex membutuhkan uang lebih.


Ayu tidak langsung menjawab. Dia sebenarnya tidak tahu jawaban dari pertanyaan Marissa. Namun, setahunya, Alex gila hidup sehat, mustahil dia memakai narkoba.


"Tidaklah, Mi," sangkalnya dan mengalihkan topik. "Nanti kalau Alex pulang, aku minta dia masak buat Mami. Masakannya tidak kalah sama chef," puji Ayu. Dia berniat ingin menahan Marissa setidaknya sampai Alex pulang. Dia ingin ibu dan anak itu memiliki hubungan seperti yang seharusnya.


Marissa hanya tersenyum tipis. Dia jadi ingat sejak Alex kecil, dia tidak sekali pun memasak untuknya. Saat usia Alex sebulan, karir bermusiknya menanjak, sehingga mau tidak mau dia harus meninggalkan bayinya pada pengasuh.


Itu cukup berat awalnya, dia kadang menangis merindukan bayinya. Namun, semakin lama makin terbiasa. Selain itu, Alex kecil juga tidak begitu rewel. Anak itu seperti sangat mengerti. Saat dia pulang, Alex berlari mencium pipinya, lantas pergi begitu ia minta.


"Alex memperlakukanmu dengan baik, 'kan?" tanya Marissa.


"Ya, aku pikir tidak bisa meminta lebih lagi. Dia baik, dewasa, penyayang, hampir sempurna kalau saja dia tidak usil," papar Ayu dengan senyum di wajah. Kadang, dia merasa sangat beruntung karena mendapatkan suami seperti Alex. Seandainya saja lelaki itu mencintainya, mungkin memang pernikahan mereka adalah satu-satunya pernikahan sempurna di dunia.

__ADS_1


Tangan Marissa menggenggam jemari Ayu. Perempuan itu menatap dalam pada menantunya. "Mami mau tau Alex seperti apa." Ada linangan air di pelupuknya. "Sejak hak asuh diambil Daddy-nya, aku sama sekali tidak mengenal Alex lagi."


Ayu pun mulai menceritakan hal yang sekiranya ia ketahui tentang Alex. Dia sendiri tidak begitu tahu kehidupan lelaki itu sebelum mereka menikah. Sejauh yang ia tahu, Alex suami siaga dan penuh tanggungjawab. Selain pintar memasak, dia juga pandai berbelanja. Di balik pakaian dan aksesoris-nya yang glamor, lelaki itu memiliki kehidupan yang sederhana.


"Hidupnya terdengar sangat baik," tutur Marissa.


Ayu mengangguk. Dia tersenyum tipis, mencoba menekan rasa sedihnya. Dia pernah melihat Alex menangis, saat lelaki itu menceritakan sakit hati akibat perceraian orang tuanya. Dia pernah melihat sisi rapuh lelaki yang ia kenal kuat saat bercerita tentang masa sunyi dan sepi yang ia lalui. Entah bagaimana jadinya, jika dia mengatakan bahwa berkat Marissa,  Alex rela terjebak dalam pernikahan yang tidak ia inginkan--karena benci pada perceraian.


"Aku senang Alex bisa menikah. Dia memiliki isteri yang mengurusnya," ungkap Marissa.


Ayu yang sedang menyeduh teh, langsung terbatuk.


"Astaga, kamu tidak apa-apa?"


Ayu meraih tisu yang ada di meja dan menyeka mulutnya. Dia juga menggeleng sebagai jawaban untuk Marissa. Wajahnya memerah seketika karena ungkapan ibu mertuanya itu, bukan dia yang mengurus Alex. Sebaliknya, dialah yang diurus oleh lelaki itu. Jika Marissa tahu, kira-kira bagaimana dia akan bereaksi.


"Waktu itu, Daddy-nya selingkuh," tutur Marissa yang membuat Ayu seketika membesarkan mata. "Bukan salahnya, aku yang terlalu sibuk. Kami jarang bertemu. Kadang dalam beberapa bulan hanya sekali, itu pun hanya untuk bertemu dengan Alex."


Ayu terdiam dan memilih untuk menjadi pendengar saja. Dia belum pernah dalam posisi seperti sekarang, mendengar ibu mertuanya mencurahkan isi hati.


"Hubungan kami memang sudah hancur sedikit demi sedikit, Alex adalah satu-satunya alasan kami tetap bersama. Tapi, mengetahui kalau lelaki yang pernah kucintai mendua, rasanya tetap sakit. Kami memutuskan untuk bercerai, demi kebaikan bersama. Kami tidak ingin Alex tumbuh dalam keluarga yang tak memiliki cinta sama sekali," papar Marissa dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. "Aku tau menurut Alex, itu egois. Tapi, kami benar-benar berpikir bahwa itulah satu-satunya jalan untuk menjaga Alex."


Ayu mengelus-elus lengan Marissa. Air mata juga mulai mengalir di pipinya.


***


Alex tadi menelepon Bu Ina karena Ayu tak mengangkat teleponnya. Dari Bu Ina, dia tahu bahwa ibunya bertandang ke apartemennya. Itu adalah kali pertama perempuan yang melahirkannya itu berkunjung. Sejak dikirim ke Melbourne untuk diasuh oleh neneknya, Marissa tidak pernah mengunjunginya. Jika ingin bertemu, Alex harus menunggu hingga libur sekolah dan datang ke Jakarta.


Setiap saat dia berharap hari libur segera tiba, hingga dia bisa menatap ibunya lagi--merasakan hangat pelukan yang ia rindukan. Namun, sering kali yang ia dapat adalah kecewa. Ibunya jarang menyempatkan waktu untuk sekadar bermain dengannya. Sudah ada balita dan bayi lucu yang memenuhi dunianya.


Bagaimana bisa Alex lupa, semua hari libur penuh kecewa yang ia miliki. Saat dia menginginkan kasih ibunya, perempuan itu justru lebih asyik bersama anaknya yang lain. Itu sebabnya, setiap kali berkunjung, dia selalu meminta diantar ke rumah Tamara. Setidaknya, di sana, dia memiliki teman bermain dan berkeluh-kesah. Ya, ada Tamara yang bersedia menampung air matanya.


Alex sebenarnya berniat pulang sore, tetapi urung karena kedatangan Marissa. Meski saat pesta pernikahannya dulu mereka sudah saling memeluk, masih ada sedikit canggung di dalam dirinya. Kalau saja Ayu tidak mengirim pesan yang memintanya pulang, dia masih akan terus duduk di kursi kerjanya.


Mata Alex hanya tertuju pada pintu unitnya. Sudah lima menit dia menatap kekosongan. Ada bimbang dalam hatinya. Namun, dia sudah janji akan memasak untuk Ayu melalui pesan tadi.


Sambil memejamkan mata, Alex mulai membuka pintu. Saat membuka mata, yang ia dapatkan adalah kekosongan. Dia mengalihkan pandangan pada dapur dan meja makan. Tidak ada orang di sana. Samar dia mendengar tawa. Lantas mendekat pada sumber tawa itu--di kamar calon bayinya.


"Alex itu bayi lelaki yang cantik. Setiap ada yang lihat, pasti mengira dai anak perempuan." Suara itu milik Marissa. Meski, jarang mendengar, tetapi Alex sangat hafal suara ibunya.


Tawa Ayu ikut terdengar. "Aku jadi penasaran, serewel apa Alex waktu bayi."

__ADS_1


"Mami tidak begitu tau, pengasuhnya tidak pernah mengeluh. Sepertinya, dia anteng," ucap Marissa dan melanjutkan, "kalau Reihan dulu tidak begitu rewel. Nah, si Reina baru super rewel."


Tangan Alex yang sudah berniat menekan gagang pintu langsung menjauh. Dia terdiam, ada rasa sesak di dadanya. Dia dibesarkan oleh pengasuh, bukan oleh ibunya.


Alex pun hanya berdiri di depan pintu. Dia tidak ingin masuk, tetapi tak punya kuasa untuk mundur dan menjauh. Pintu terbuka dan Alex masih di sana dengan tatapan kosong.


"Kamu sudah pulang ternyata." Marissa yang membuka pintu memberi senyum indah menyambut Alex. Namun, beku telah menguasai hati Alex.


Tatapan Alex beralih pada Ayu yang sedang berusaha berdiri. Perempuan hamil besar itu kesusahan.


"Misi, Mi," ucap Alex meminta jalan pada ibunya. Sigap dia meraih lengan Ayu dan satu tangan lagi menahan punggungnya.


"Terimakasih," ucap Ayu yang keningnya langsung dikecup oleh Alex. Hati remuk Alex membutuhkan obat, dan Ayu adalah obatnya.


***


Aroma daging steak yang dipanggang oleh Alex mulai menguar. Meski ada exhaust, aroma itu tetap bisa terhidu oleh indera Ayu dan Marissa. Marissa langsung setuju dan memuji kemampuan memasak Alex.


"Kamu tidak makan, Lex?" tanya Marissa setelah melihat Alex hanya menyajikan dua porsi steak, untuknya dan untuk Ayu.


"Aku sudah makan tadi, Mi," jawab Alex.


Ayu menatap wajah sendu suaminya. Dia tahu bahwa Alex sedang berbohong. Berbulan-bulan tinggal seatap, lelaki itu tidak pernah makan di luar. Kalaupun sudah makan malam karena menghadiri temu dengan klien, dia juga akan tetap makan untuk menemani Ayu.


"Wah, enak sekali," puji Marissa yang sudah menelan sepotong daging. "Mami tidak tahu kamu jago masak."


Alex menyeringai. "I'm sure, you don't know me at all."


Ayu yang mendengar ucapan sarkasme Alex langsung melotot tajam pada Alex. Dia tertawa kecil untuk meredakan kikuk di meja makan itu. "Iya, Mami juga tidak tau kalau kamu ini dulu bercita-cita jadi chef." Ayu mengalihkan pandangan pada Marissa yang terdiam. "Ayo Mi, makan lagi. Dia ini dulu ngebet mau belajar sama Gordon Ramsey, tapi ditolak." Dia berusaha terdengar ramah.


"Oh ya?" Marissa pura-pura bodoh. Dia datang untuk memulai hubungan baik dengan Alex. "Gordon pasti takut kalah saing. Masakan kamu enak sekali."


Ayu mengangguk dan mengungkapkan persetujuan dengan antusias. Dia juga menambahkan bahwa masakan Alex memang tidak ada duanya di dunia. Mereka terus memuji, meski yang dipuji tidak bereaksi sama sekali.


"Oh ya, kalian 'kan sebentar lagi punya anak. Mami ada rumah di Rubel Valley, kalian bisa tinggal di sana. Anggap saja hadiah pernikahan dari Mami," saran Marissa.


Rahang Alex mengeras. Entah sampai kapan ibunya itu selalu menjadikan uang dan barang sebagai bentuk kasih sayang. Dia menatap Ayu dan bertanya, "kamu bahagia di sini, Sayang?"


Ayu mengangguk kikuk. Dia tidak tahu bagaimana caranya agar bisa terlepas dari suasana beku itu.


"Aku bahagia dan Ayu juga bahagia tinggal di sini. That's the point. Rumah besar atau apartemen kecil buka ukuran keluarga bahagia. Untuk apa rumah besar kalau hanya ada sepi. I've learnt a lot from you that money can't buy us happiness," jelas Alex yang tak bisa menyembunyikan raut kecewa di wajahnya. Dia tidak peduli pada kaki Ayu yang sedari tadi menendang kakinya. Dia hanya ingin menyampaikan hal yang tak pernah bisa ia utarakan. Dia ingin Marissa tahu bahwa dia tidak butuh materi, melainkan kasih sayang.

__ADS_1


***


__ADS_2