
Alex mengulas senyum pada wajah cantik di layar. Sudah malam, tetapi dia memilih untuk tetap berada di ruangannya. Cleo sudah pamit pulang sejam yang lalu. Selain karena ada pekerjaan, dia juga ingin mengontrol hatinya agar tak terus melekatkan rasa pada Tamara.
Dia membalik arah tangkap kamera menuju pemandangan kota yang tampak indah dari ruangannya yang berada di lantai atas. Terdengar decak kagum dari Ayu melihat teluk Marina di kejauhan juga kerlipan lampu toko dan kendaraan.
"Cantik, 'kan?"
Dia melihat anggukan dan senyum manis dari wajah Ayu. Senyum itu semakin hari semakin menawan saja. Mata besar perempuan cantik itu tidak lagi menyimpan kesinisan. Ada hal lain yang di baca Alex dalam manik bening itu, sendu. Benarkah?
"Kamu pasti sangat merindukanku, Sayang?" ujar Alex setelah memunculkan wajahnya di layar. Dia yakin tatapan itu sendu karena Ayu sedang merindukannya.
Ayu mengangguk lagi--dengan senyum yang sama--membuat Alex ingin berteleportasi di sampingnya. Kalau saja perusahaan tempatnya bekerja adalah milik pribadi, maka tanpa pikir panjang, akan dia pindahkan kantornya ke Jakarta agar bisa tinggal dengan Ayu.
"Lex!" panggil Ayu dengan suara pelan dan lembut. Alex suka suara itu, lebih indah dari simfoni maestro. Katakanlah dia berlebihan, tetapi itulah kenyataannya.
"Oui, ma cheri," [Ya, Sayangku] desis Alex yang langsung membuat Ayu terkekeh. Bukan kekehan mengejek, justru terdengar sedang bahagia.
"Apa ... Tamara masih di sana?" Alex mendengar ada keraguan di dalam suara Ayu. Meskipun, dia tidak tahu kenapa harus ragu mempertanyakan hal itu. Lagipula, sebenarnya Ayu bisa menghubungi Tamara secara langsung kalau ingin mengetahui keberadaannya.
"Ya," jawab Alex disertai anggukan. "Dia pulang besok pagi kayaknya." Dia melanjutkan dengan satu alis terangkat.
Ayu hanya ber-oh pelan sebagai balasan. Perempuan itu hanya tersenyum sembari menatap ke layar. Alex tak tahu apa yang salah dengan isterinya itu. Dia menjadi lembut dan lebih tenang. Dia suka Ayu yang seperti ini, tidak mencak-mencak.
"Sayang!" ucap Alex memecah hening yang sempat bertahan semenit antara mereka, saling tersenyum dan memandang. Alex mencoba menggiring menuju topik yang memungkinkan untuk tidak membahas Tamara lagi.
Kedua alis Ayu terangkat sebagai respon pada panggilan Alex.
"Panggil aku Sayang!" pinta Alex.
Ayu pun langsung menurut begitu saja. "Sayang!"
Mata Alex membesar, tak menyangka Ayu akan menurut semudah itu. Padahal, dia sudah siap mendengar keluhan dan omelan sinis. Ridka ingin membuang kesempatan, dia meminta lagi, "kalau panggil Babe."
"Babe!" Ayu mengucapkan panggilan itu dengan lembut, lantas kedua sudut bibirnya langsung ditarik.
Alex kegirangan melihat tingkah manis Ayu. Jarang sekali perempuan itu menurut begini. Sayang, dia masih sibuk dua hari ke depan sehingga belum bisa pulang untuk menemui isterinya. Kalau Ayu terus bertingkah seperti ini, dia mungkin tidak akan bisa menahan jemarinya yang sudah gatal ingin memesan tiket pesawat.
"Ada apa Mon Amour?" [Ada apa, Cintaku?] tanya Ayu dengan mata menatap tajam ke layar. Tatapan dan suara itu membuat hormon Alex tak terkendali.
"Kami sedang menggodaku, Sayang?" Senyum Alex melebar, bisa dia rasakan otot-otot pipinya berkumpul mendorong kelopak mata bawahnya. Jika dua sudut bibir bisa menyentuh telinga, maka senyum Alex akan lebih lebar dari sekarang.
"Non, Mon cher mari," [tidak, suamiku sayang] sangkal Ayu.
Seketika Alex melempar kepalanya untuk bersandar di kepala empuk kursi kerjanya. Dia menatap dalam pada wajah di layar, lantas terkekeh menertawai dirinya sendiri yang mulai hilang kendali dan mencari cara agar bisa segera merengkuh tubuh Ayu dalam hangat pelukannya.
"Simpan panggilan manjamu itu untuk lusa, Sayang." Satu mata Alex mengedip pada Ayu.
Ayu mengangguk dan tertawa kecil. "Kamu tidak pulang?"
__ADS_1
"Baru mau siap-siap. Jangan dimatikan, okay!"
Alex meletakkan HP di penahan yanh ada di dashboard mobilnya. Dia membeli alat itu beberapa hari yang lalu, agar bisa melihat wajah Ayu sambil menyetir. Dia sesekali mendengar tawa Ayu saatvmereka terus mengobrol sementara pandangan Alex tertuju pada jalanan. Mengobrol seperti ini saja sudah membuat Alex sangat senang, dia jadi tidak perlu bertanya-tanya tentang keadaan Ayu dan janinnya.
"Kamu udah check-up, 'kan?"
"Udah, tapi bukan di Dokter Grace, kejauhan dari kantor," jawab Ayu yang sempat berpikir sejenak.
"Tidak apa-apa, dokternya perempuan, 'kan?"
Ayu mengangguk.
Alex bukannya ingin bersikap seksisme terhadap lelaki yang berprofesi sebagai Dokter kandungan. Namun, dia tidak mau Ayu disentuh lelaki lain.
"Apa kata dokternya?"
"Janinnya baik-baik saja. Dia kuat katanya," jawab Ayu.
Senyum sumringah melengkung di bibir Alex. Apa lagi yang lebih baik jika dia tahu bahwa anaknya kuat dan sehat di dalam perut Ayu.
"Jadi, bisa tidak kamu ambil cuti Minggu depan?" tanya Alex dengan mata yang tetap terfokus pada jalanan di depannya.
"Ya , mungkin," balas Ayu.
Alex tersenyum lebar saat melirik di layar HP. Ayu terlihat sedang berbaring di sofa. Rambut panjangnya terurai dan beberapa helai hinggap di pipi. Dia jadi semakin rindu saja.
Alex kini sudah memarkirkan mobil di basemen gedung apartemen. Dia meraih HP sebelum Ayu menjawab ajakannya. Kakinya mengambil langkah besar menuju lift yang akan membawa menuju unitnya.
"Ya, aku akan ajukan cuti, kalo di -ACC kita bisa pergi liburan."
Kalau memang Ayu tidak diberi izin, maka Alex berencana untuk meminta bantuan pada ayah tirinya. Kapan lagi Ayu mengiyakan permintaannya semudah ini. Perempuan itu sangat keras kalau sudah menolak, susah untuk dibujuk. Namun, dia juga memiliki magnet yang entah kenapa selalu membuat orang di sekitarnya mendekat dan terus mengitarinya. Gilanya, siapa pun tidak bisa menolak keinginan perempuan itu. Begitupun dengan Alex yang sepertinya rela melakukan apa pun untuknya.
"Ya, sudah, aku mau masuk ke kamar mandi dulu," ucap Ayu saat Alex sudah berada di depan pintu apartemen. Dia sudah memencet bel, dia tidak ingin langsung masuk sementara tahu bahwa Tamara ada di dalam sana.
"Nanti aku telepon lagi, ya?"
Ayu mengangguk.
"Panggilan sayangnya mana dulu," rengek Alex membuat Ayu cekikikan.
"Sayang!"
"Bukan yang itu, Sayang!" rutuk Alex.
"J' te aime, Mon cher mari." [Aku mencintaimu, suamiku sayang]
Alex ingin terbang mendengar ucapan Ayu itu.
__ADS_1
"I love you more." Alex membalas dengan rasa bahagia yang membuncah, tanpa sadar bahwa pintu di depannya sudah terbuka. Dia mengangkat wajah dan menekan layar HP untuk memutus sambungan.
Tamara berdiri dengan senyum. Alex langsung tersenyum, tetapi kaku. Dia tidak pernah merasa kikuk seperti ini dengan Tamara. Namun, akhir-akhir ini entah untuk alasan apa di merasa kaku dan bersalah setiap kali bertemu dengannya.
"Kamu udah makan?" tanya Tamara saat mereka masuk. "Aku bikin lasagna, mau?"
"Wah, aku langsung lapar." Mana bisa Alex menolak masakan Tamara. Perempuan itu sangat pandai memasak, enak dan sehat adalah kewajiban saat dia memasak.
"Ya udah, kamu mandi aja. Biar aku panasin dulu." Tamara melenggang menuju dapur, sementara Alex masuk ke dalam kamarnya.
Alex sedang menyantap lasagna buatan Tamara, saat bel berdering. Alex mengerutkan kening, karena tak merasa sedang menunggu tamu. Jangan sampai yang datang adalah teman pengganggunya, bisa-bisa mereka terus menggoda Alex karena mendapati Tamara di sini.
"Kamu makan aja, biar aku yang buka," ucap Tamara saat melihat Alex berniat untuk berdiri.
"Aku udah selesai, kok," kilah Alex yang langsung melangkah. Tamara mengikut di belakangnya.
Benar saja, Jonny muncul dengan seringai di wajahnya. Namun, dia tidak sendiri. Ada Richard yang berwajah dingin di belakangnya.
Dari penuturan Jonny, mereka bertemu di lobby dan sekalian naik bersama. Richard tak lama, dia hanya datang untuk menjemput Tamara. Ada rasa lega di hati Alex, karena akhirnya di bisa terlepas dari senyum Tamara yang kadang masih membuat dia menginginkan perempuan itu.
"Dasar gila!" Jonny meletakkan gelas wine di meja. Dia sedang menikmati salah satu koleksi anggur langka Alex setelah mengancam akan menghubungi Ayu dan berkata bahwa Alex tadi berduaan dengan Tamara. Alex sebenarnya tidak ingin ambil pusing, dia tahu bahwa Ayubtak akan termakan bualan Jonny. "Kamu ini kenapa sih, Bro?"
Alex hanya memberi tatapan tajam pada Jonny. Dia hanya ingin ketenangan malam ini; menelepon Ayu dan melihat perempuan itu pulas. Sesederhana itu. Sialnya, Jonny datang dan terus menggodanya karena kedatangan Tamara.
"Kalau aku jadi isterimu, aku pasti akan mengamuk. Ah, kamu bahkan lebih parah daripada Ben," ungkap Jonny yang sedang memutar-mutar wine dalam gelas.
"Jangan samakan aku dengan Ben! Tamara hanya datang, kami tidak berbuat apa pun."
Jonny tertawa, lantas berkata, "kamu ini bodoh atau apa. Jelas-jelas Ayu tahu kalau Tamara itu cinta pertamamu. Ben mungkin kadang main perempuan, but no Feeling involved. Clara still the one and only."
Alex mengambil tempat di samping Jonny. Dia ikut menuang wine di gelas dan menyesapnya pelan. Dia mencoba berpikir sejenak mengenai kemungkinan kebenaran ucapan Jonny. Tanpa sadar dia terus menuang dan menuang tanpa kata.
"Tidak, Ayu tidak mungkin salah paham," ujar Alex akhirnya setelah mengingat betapa manis Ayu di telepon tadi.
***
Ayu berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Sesekali dia melirik gawai yang ada di samping bantal. Sudah dua jam dia menunggu panggilan Alex. Dia ingin menelepon lelaki itu terlebih dahulu, tetapi takut kecewa jika ternyata Tamara yang mengangkat.
Dia masih ingat sebelum mengakhiri panggilan video dengan Alex tadi. Dia yakin Alex tak sengaja menekan pengalihan kamera belakang, sehingga dia melihat Tamara berdiri dengan senyum menyambut kedatangan Alex, seakan perempuan itu menyambut suaminya pulang.
Air mata Ayu menetes keluar dari kedua pelupuk. Tidak peduli ribuan panggilan sayang ataupun jutaan kata cinta yang diucap oleh Alex tak akan mengubah keadaan. Mulut bisa berkata, tetapi hati tak bisa berbohong. Selamanya, Ayu hanya akan menjadi tanggung jawab yang terpaksa dipikul oleh Alex. Dia tidak akan pernah bisa menggeser posisi Tamara yang sempurna dari hati lelaki itu.
Ayu berbalik memeluk guling dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Suara isakan dan getaran tubuh tampak jelas di selimut putih itu. Dia hanya bisa menangis dalam sepi dan sendiri.
***
Masih kurang, eeaa 🤭💜
__ADS_1