
Pintu rumah orang tua Ayu terbuka. Arini berdiri menyambut Ayu batu saja tiba.
"Kamu datang? Tumben?" tanya Arini.
Ayu cepat masuk tanpa menjawab pertanyaan Ibunya. Dwiki yang menatap juga tidak dia hiraukan dan langsung naik untuk menuju kamarnya.
"Anakmu kenapa, Bu?" tanya Dwiki pada Arini yang duduk di sampingnya, "sana tanya dulu Bu, dia sudah makan malam apa belum."
Arini membuang wajah dari suaminya itu. "Alah, udah gede kok, masa makan masih harus ditanyakan."
"Ibu 'kan tau gimana anak perempuan kita itu?"
Arini menggeleng. "Itu juga gara-gara Ayah yang manjain. Dia udah gede, udah nikah, jangan dimanjain kayak anak kecil."
"Mau Ayu nanti sudah punya cucu sekalipun, bagi Ayah dia tetap anak kecil," tegas Dwiki, "kamu ini memang tidak tau menunjukkan rasa sayang sama anak sendiri."
"Anak itu juga harus diajar mandiri. Lihat Pandu dan Bima, Ayah dulu ngajar mereka sangat keras!" protes Arini.
"Beda dong, Bu. Ayu itu perempuan, harus lembut. Mana pernah Ayah kasar sama Ibu," jelas Dwiki.
Berbeda dengan dua anaknya yang lain yang Dwiki didik keras dan disiplin. Dia masih ingat kadang Arini mengiba agar dia tidak terlalu keras pada Pandu dan Bima. Namun, menurutnya anak lelaki memang harus diajar tentang kehidupan yang keras. Berbeda dengan Ayu, sejak putrinya itu lahir dia menjadi sosok yang sangat penyayang. Dia akan marah besar jika mendengar Ayu menangis. Dia ingin semua yang terbaik untuk putri bungsunya itu.
"Terlalu dilembuti juga nggak baik, Yah. Lihat Ayu sekarang!"
"Memangnya Ayu kenapa? Dia masih seperti pertama kali Ayah melihatnya lahir." Dwiki masih ingat saat pertama kali melihat Ayu yang snaagt kecil dan sangat lemah karena kahir prematur. Betapa dia bahagia saat mengetahui bahwa putrinya itu berhasil berjuang melawan masa kritisnya. Jika mengingat saat itu, dia masih bisa merasakan sakit karena tidak bisa berbuat banyak untuk menghilangkan kesakitan bayi kecilnya.
Dwiki menyayangi Pandu dan Bima, tetapi sayangnya pada Ayu tentu lebih besar. Dia selalu merasa bahwa Ayu adalah putri yang harus selalu dilindungi. Dia sadar bahwa anak-anak lelakinya kelak bisa menjaga diri sendiri dan lebih kuat darinya. Sedangkan, Ayu hingga kapanpun tetap menjadi tanggung jawabnya.
"Yah! Kita sebagai orang tua harusnya ...." Arini mencoba memberi Dwiki pengertian, tetapi dipotong cepat oleh Dwiki, "cukup, Bu. Ayah tau maksud Ibu, tapi tetap, Ayah mau yang terbaik untuk Ayu."
Dwiki bangkit dan naik menuju kamar Ayu. Dia harus memastikan bahwa putrinya baik-baik saja. Tidak sering anak bungsunya itu pulang di hari kerja seperti ini sejak memilih berpisah rumah. Selain itu, setiap kali berkunjung Ayu selalu menyapa dan bermanja-manja padanya atau Arini. Kalau sampai anaknya terluka karena Alex, dia tidak akan segan untuk membuat mereka bercerai. Dia tidak akan menoleransi setitik air mata kesedihan yang menetes di pipi Ayu, apapun alasannya.
Dwiki mengetuk pintu, lantas masuk setelah terdengar suara Ayu yang mengizinkannya masuk. Dia duduk di bibir ranjang dan memperhatikan Ayu yang sedang menunduk. Dia bisa melihat bahu Ayu yang bergetar.
Berani sekali orang yang membuat putri kesayangannya menangis.
"Ada apa, Nak?"
Ayu menggeleng keras. "Ti-tidak apa-apa."
Mana mungkin ada yang percaya jika Ayu baik-baik saja, sementara suaranya parau. "Bilang sama Ayah, kamu kenapa? Berantem sama Alex?"
Ayu menggeleng lagi.
Dwiki mengelus rambut Ayu. "Tidak apa-apa, menangis saja dulu. Bicaranya nanti saja."
Dwiki sangat mengenal Ayu. Anak itu memang sering menolak untuk bercerai saat masih merasa emosional, tetapi akan mulai bicara saat sedikit tenang.
"Alex bilang dia tidak akan ke Singapura. Tapi, tadi siang saat habis antar Ayu, dia langsung pergi," ungkap Ayu yang berarti dia sudah mulai tenang.
"Dia 'kan kerja di sana, Nak." Dwiki menenangkan Ayu. Mendengar alasan Ayu menangis, dia jadi serba salah. Tentu saja Alex harus kembali ke Singapura untuk bekerja.
"Tapi, dia sudah janji."
"Kamu sudah bicara tidak? Mungkin ada urusan yang memang tidak bisa dia tinggalkan."
"Ayu nggak mau bicara sama Alex lagi!" pekik Ayu, "Ayu benci sama Alex!"
__ADS_1
"Eh, jangan bicara begitu! Alex suami kamu."
Ayu menyandarkan kepalanya di lengan Dwiki. Sampai kapanpun, satu-satunya lelaki yang selalu mengerti dan menyayanginya tanpa pamrih adalah ayahnya.
"Ayah bau!" Ayu langsung menjauh.
Dwiki mengendus tubuhnya sendiri. "Eh, ayah ini mandi dua kali sehari loh, Yu."
Ayu mengerucutkan bibirnya dan bergeser untuk memberi jarak dari ayahnya. "Yah, Ayu lapar."
Tebakan Dwiki benar, anaknya itu belum juga berubah. "Ya sudah, Ayah ambilkan makanan dulu."
"Manjain saja terus, Yah!" cibir Arini begitu melihat Dwiki beranjak naik di tangga dengan sepiring makanan.
"Ibu cemburu 'kan, hayo!" ejek Dwiki.
Arini mencibiri suaminya. "Dasar, anak sama Ayah sama saja!"
Akhirnya, Arini ikut naik bersama suaminya karena penasaran apa lagi yang membuat Ayu bersedih. Bagaimanapun, Ayu adalah putrinya dan dia juga tidak ingin dia bersedih. Namun, sampai kapanpun dia tidak akan setuju dengan cara didik suaminya yang terlalu memanjakan.
"Kamu kenapa sih, Yu!"
Dwiki mulai mnejalaskan perihal penyebab Ayu menangis.
"Oalah, kamu saja yang terlalu manja. Suamimu punya kerjaan di sana, bukan pergi liburan," rutuk Arini.
"Yah, Ibu kok lebih bela Alex!" erang Ayu.
"Ya, iya, punya suami baik begitu pake ngambek segala. Asal kamu tau, jarang loh lelaki seperti Alex. Dibluar pasti jadi rebutan," tukas Arini yang langsung membuat Ayu terisak.
"Sudah, Ibu mending turun saja. Kasihan Ayu!" suruh Dwiki.
Arini berkacak pinggang dan langsung berbalik untuk meninggalkan kamar Ayu. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Ayu bersikap kekanak-kanakan seperti itu, memalukan saja.
Setelah Ayu selesai makan, Dwiki turun untuk membiarkan putrinya itu beristirahat. Lagipula, Ayu mengaku tidak tahan dengan Dwiki yang berbau tidak sedap.
"Bu!"
Arini berbalik pada suaminya.
"Ayah bau, ya?"
Arini mengendus tubuh Dwiki. "Bau?"
"Ayah serius ini loh, Bu!"
"Baunya Ayah memang begini, memangnya kenapa? Jangan-janagn Ayah mulai bandel, ya!" Arini mulai curiga.
"Cemburumu itu tidak berubah juga!" Dwiki menggeleng-geleng mendengar kecurigaan Arini, "itu, Ayu kok bilang Ayah bau."
***
Alex memencet-mencet klakson saat lampuĀ sudah berwarna hijau dan mobil di depannya belum melaju. Dia tidak peduli dengan teriakan orang yang mengatainya. Dia sudah datang ke rumah Ayu dan tidak ada orang di sana. Meskipun lembut, Ayu harusnya sudah pulang sekarang mengingat sudah jam sepuluh malam.
Setelah menghubungi Ayu seharian dan teleponnya terus ditolak, bahkan dberkali-kali dialihkan pada operator, Alex memutuskan untuk mengambil penerbangan kembali ke Jakarta. Dia tidak ingin masalah mereka semakin runyam dan akan mengganggu kehamilan Ayu.
Kalau Ayu tidak ada di rumah, maka tempat yang dikunjungi isterinya biru pasti rumah Ayah. Di sana pasti merupakan tempat paling aman bagi Ayu. Namun, dia tidak bisa menekan rasa khawatirnya sedikit pun, sehingga jika ada kesempatan dia akan menyalip mobil yang menghalangi laju mobilnya.
__ADS_1
Setelah memarkir mobil, dia bergegas turun dan berlari untuk cepat masuk ke rumah orang tua Ayu. Dia harus memastikan bahwa Ayu ada di dalam sana dan baik-baik saja.
"Loh, Alex?" Dwiki keheranan melihat menantunya berdiri, "ayo masuk!"
"Ayu ada di dalam?" tanya Alex dengan napas memburu dan suara bergetar yang memperjelas rasa khawatirnya.
Dwiki mengangguk. "Dia istirahat di kamarnya."
Alex baru bisa bernapas lega. Dia memberi seulas senyum pada Dwiki. "Syukurlah!"
Alex ikut masuk dengan Dwiki.
"Duduk di sini!"
Arini yang masih menonton langsung mematikan teve begitu melihat Alex masuk.
"Eh, bukannya kamu ini di Singapura!" Arini sudah tahu mengenai hal yang membuat Ayu datang dan mengurung diri di kamar.
Alex hanya menunduk, tidak berani berucap. Dia merasa tidak enak karena sudah membuat Ayu bersedih, sementara dia sudah berjanji akan selalu membuat Ayu tersenyum.
"Lihat perbuatan kamu!" bentak Arini.
Awalnya, Alex kaget karena mengira bentakan itu untuknya. Namun, dia terbelalak saat mendengar Dwiki membuka mulut.
"Ayah salah, maaf!"
"Eh?" Alex hanya bisa keheranan melihat Dwiki yang meminta maaf pada Arini juga pada dirinya.
"Ini akibat kalo Ayah terlalu manjain anak. Sedikit-sedikit megambek, marah, nangis!" omel Arini, "ini juga buat kamu, Lex. Kalo Ayu minta sesuatu jangan langsung diiyakan, suruh usaha dulu. Lihat anak itu!" Arini menggeram.
"Ayu tidak apa-apa, 'kan?" Alex masih khawatir.
"Tidak apa-apa," jawab Ayah.
"Kamu baru tiba dari Singapura?" Tatapan Arini melembut pada Alex.
Alex mengangguk.
"Maaf ya, Ayu pasti sangat menyusahkan!" kata Arini, "ini semua karena Ayah. Baru tau sekarang akibat manjain anak tidak kenal batasan."
"Tidak, Bu. Aku yang salah," aku Alex yang sadar betul bahwa yang terjadi dengan Ayu sekarang karena perempuan itu sedang hamil dan tidak bisa berbagi pada siapapun karena harus tetap menjadi rahasia.
"Kamu ini, selalu begitu! Jangan bela isterimu terus, kalo dia salah ya salah saja," tegas Arini.
"Iya, Bu." Alex mencoba menurut, "aku bisa bertemu dengan Ayu?"
"Ya, dia di atas, kamu naik saja," suruh Ayah.
"Diketuk saja dulu, kalo dia tidak mau buka bilang sama Ibu," pungkas Arini.
Alex mengetuk pintu kamar Ayu berkali-kali, pintu itu terbuka setelah ketukan yang entah berapa kali. Ayu muncul dengan mata sembab. Alex dihantui rasa bersalah dan khawatir sepanjang hari dan perasaan itu menguap begitu saja setelah melihat Ayu berdiri di depannya. Dia segera menarik Ayu dalam pelukannya.
"Maaf," bisik Alex yang tidak dijawab oleh Ayu, tetapi dia bisa merasakan pelukan erat dari Ayu di pinggangnya.
"I Miss you!" ucap Ayu lembut dalam pelukan Alex.
***
__ADS_1