Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
From Nothing to Something


__ADS_3

Hari ini semua seakan berkonspirasi untuk menghancurkan mood Ayu; menabrak mobil lelaki tempramen tadi, bertemu dengan Arya, Alex yang ternyata membiarkan Tamara menginap di apartemennya, juga Pak Kurniawan yang habis mencecar Ayu atas kegagalan salah satu tokonya untuk mempertahankan nilai audit kemarin.


"Pak Kurniawan pasti nggak berani marah sama Bu Ayu, menantunya Pak Bos. Mau dipecat, iya kan Bu?"


Ayu tidak merespon dan memilih langsung masuk dalam ruangannya. Dia benci jika harus disangkutpautkan pada keluarga Barata, owner perusahaannya. Alex saja tidak pernah bergantung pada ayah tirinya itu. Siapa Ayu sehingga berani menempel pada keluarga tiri Alex itu. Lagipula, Alex kini pasti sedang bersenang-senang dengan perempuan yang ia cintai.


Entah kenapa, Ayu merasa ada yang aneh dengan perutnya. Dari tadi dia merasa mulas dan keram, hampir mirip saat PMS. Dia harap tak terjadi apa-apa dengan janin di dalam sana.


[Bu Anti, sebenarnya di store anak-anak kerja atau cuma tidur. Masa iya cuma karena lupa prosedur kecil dan audit gagal. Lupa atau memang SOP tidak pernah dijalankan!]


Emosi Ayu sedang di ubun-ubun. Dia marah pada Alex, pada si lelaki tempramen, pada Arya, pada Pak Kurniawan yang meragukan kemampuannya, juga pada rekan yang mengungkapkan kata sarkasme padanya. Saat butuh pelampiasan, dia memilih Bu Anti, seorang Manajer di toko yang ia bawahi.


Sebenarnya, dia tidak bermaksud sekadar itu. Namun, tidak ada pelampiasan lain. Ayu membaca pesan balasan dari Bu Anti yang berisi bahwa lain kali akan diperbaiki dan dia juga berjanji akan menjaga agar tokonya tetap konsisten menjalankan SOP.


[Ditunggu ya, Bu. Pak Kurniawan sudah memberi ultimatum PHK buat kru yang bersangkutan.]


Ayu meletakkan HP di meja dan menyandarkan kepala di kepala kursi. Tangannya memijat-mijat kening, sesekali dia meringis. Air mata mulai meleleh di pipinya. Ada rasa sakit di dalam hatinya setiap kali mengingat suara ceria Tamara di HP Alex tadi.


Tadi, Ayu memang berpesan pada Tamara agar memberitahu Alex bahwa kalau ingin menelepon di jam makan siang saja karena akan ada rapat di kantor. Namun, dia tidak ingin berbohong bahwa dia mau Alex meneleponnya meskipun dilarang. Terlebih saat tahu bahwa Tamara di sana.


Ketukan di pintu membuat Ayu menghapus jejak air mata di pipinya. Dia melangkah dan mulai membuka pintu. Salim sedang berdiri di sana.


"Ada orang bengkel di bawah, Bu. Katanya karyawan Pak Arya." Salim memberitahu dengan hati-hati karena melihat mata sembab atasannya itu.


Ayu tidak menjawab dan kembali ke meja kerja untuk merogoh kunci mobil di tas. Dia kembali pada Salim dan memberi kunci berwarna hitam itu.


"Ini, Lim. Kasi langsung aja, ya."


Salim hanya mengangguk, tidak berniat menimpali. Meskipun, sebenarnya dia ingin Ayu memastikan terlebih dahulu bahwa orang di bawah itu memang benar orang bengkel. Bagiamana coba kalau mobilnya di bawah lari. Setahu Salim mobil itu adalah keluaran baru yang harganya cukup fantastis. OB itu langsung menggeleng mencoba menghapus pikiran buruknya. Dia juga tahu bahwa Ayu sudah menikah dengan anak tiri Pak Barata, mobil hilang satu  masih ada yang lain.


Salim berhenti sejenak. Dia ingat sekali nama Arya. Dia sudah bekerja selama tujuh tahun di kantor itu. Dia masih ingat saat pertama kali Ayu masuk banyak desas-desus tentang kegagalan pernikahannya dengan lelaki bernama Arya. Ah, Salim melanjutkan langkah setelah mengingat bahwa nama Arya itu pasaran, anak tetangganya saja ada yang bernama Arya, belum lagi adik iparnya. Di bahkan berencana memberi nama Arya pada anak yang dikandung isterinya kalau ternyata itu lelaki. Iya, pasaran.


Salim berjalan menuju lelaki yang berdiri di samping mobil Ayu. Lelaki itu tidak tampak seperti montir; kemeja putih dengan garis biru tua, celana bahan kain, sepatu pantofel, dan rambut yang disisir rapi ke belakang. Dia menjadi ragu menyerahkan kunci mobil Ayu pada lelaki itu.


"Bapak bini beneran orang bengkel?" Salim mencoba memastikan.


Lelaki berkemeja itu mengeluarkan dompet dan menyodorkan KTP pada Salim. "Kebetulan aku tidak bawa kartu nama. Adanya KTP, mau difoto dulu."


"Arya Eka Wiguna," ucap Salim membaca nama di KTP itu.


Arya tersenyum simpul pada Salim. "Sekalian di foto, Pak, kalo memanh ragu."


Salim mengangguk dan langsung meraih ponsel di sakunya. Dia mengambil gambar KTP Arya untuk berjaga-jaga.


"Oh iya, Pak. Aku boleh minta nomor Bu Ayu, nanti kalo mau diantar mobilnya harus dihubungi dulu."


Salim mengangguk dan langsung memberi nomor kartu pada Arya. Dengan modal KTP itu, Salin sudah percaya sepenuhnya pada Arya.


"Terimakasih, ya, Pak. Permisi," pamit Arya sebelum masuk ke dalam mobil Ayu dan melajukannya menjauh.

__ADS_1


***


"Siapa yang nelpon?" tanya Karin setelah Ayu selesai bercakap dengan seseorang di HP.


"Ini, dari bengkel. Mau antar mobil," jawab Ayu tak sepenuhnya berbohong. Sebenarnya, dia maish kaget karena tiba-tiba bisa ditelepon oleh Arya. Padahal, lelaki itu seharusnya tidak tahu nomor ponselnya.


Ayu dan Karin sedang berada di sebuah Coffe shop. Mereka sedang menikmati kopi. Ayu jarang minum kopi, hanya saat Kepalanya sedang mumet saja.


"Lagi ada masalah?" tanya Karin melihat Ayu begitu tenang meminum segelas espresso. Perempuan itu bahkan anti dengan cappucino, kini dia meminum kopi pekat seakan itu air putih.


"Ya, di kantor. Audit, ah, biasalah," jawab Ayu yang sudah menghabiskan minumannya.


"Udah dibilang, mending ikut Alex. Kalo emang mau kerja, cari kerja di sana aja."


Ayu menatap gelas kosongnya. Dia sedang hamil, tidak seharusnya minum kopi. Namun, dia butuh sesuatu agar kepalanya tidak pecah. Banyak pikiran yang kini mengganggunya. Berbicara dengan Arya lagi membuat dia membayangkan bagaimana hidupnya jika dia menikah dengan lelaki itu, bukan dengan Alex.


Arya selalu memperhatikannya, tidak sekali pun dia menatap perempuan lain. Bukan hanya itu, Arya tidak akan pernah meminta Ayu untuk ikut, tetapi dialah yang akan ikut.


Tujuh tahun, tentu saja tidak mungkin dihapus dengan mudah oleh Ayu. Dia kembali berandai kalau saja saat itu dia terus membujuk keluarganya agar menerima Arya kembali, pastilah Ayu tidak akan semenderita saat ini.


"Aku senang di sini, Karin," ucap Ayu.


"Kamu nggak takut suamimu diembat pelakor. Apalagi, pergaulan Alex itu luas, teman-temannya gila perempuan. Beneran!" jelas Karin yang sudah terbiasa dengan lingkungan bebas Alex.


"Alex nggak gitu, kok." Ayu pura-pura membela, meskipun dia ragu pada Alex. Bukan pada perempuan-perempuan yang mencoba merayu suaminya itu, tetapi pada satu-satunya cinta dalam hati lelaki itu, Tamara.


"Tamara kabarnya gimana, ya? Udah lama kita nggak kumpul bareng. Dia pasti masih berkabung."


"Kapan-kapan kita liburan bertiga, yuk!"


"Nanti aku bilang ke Alex dulu."


"Alah, Alex sih gampang. Biasanya kalo Tamara yg minta dia nggak akan nolak."


Tenggorokan Ayu tercekat. Dia langsung berpikir bagaimana jika Tamara meminta Alex untuk menceraikannya, apa lelaki itu akan menurut juga?


***


Ayu tadi meminta Karin agar menginap dengannya. Namun, perempuan itu harus terbang ke Jogjakarta untuk sebuah pemotretan. Karin hanya akan mengantar Ayu. Namun, perempuan itu langsung turun di mobil saat melihat lelaki yang sedang berdiri di depan rumah Ayu.


"Ah, ngapain kamu di sini!" bentak Karin pada Arya yang sedang bersandar di mobil Ayu.


"Oh, hai Karin. Lama nggak ketemu." Arya berbasa-basi.


"Udah deh, sana pergi! Liat mukamu bikin gedek!"


"Aku ke sini buat ketemu Ayu, kok." Ada senyum di wajah Arya.


"Karin, udah." Ayu datang menengahi mereka.

__ADS_1


Karin berbalik pada Ayu untuk meminta penjelasan akan keberadaan Arya di depan rumahnya.


"Dia cuma bantu karena tadi aku nabrak mobil orang."


"Paling modus. Lelaki nggak jelas kayak di itu paling suka modusin orang."


"Makasih ya, Ar." Ayu beralih pada Arya dan meriah kunci mobilnya. Dia mengabaikan Karin yang terus mengomel karena sikap Ayu yang dia anggap egois.


"Udah, kan? Sana pulang!" usir Karin yang berlagak jadi pemilik rumah.


Ayu sebenarnya tidak menyangka yang mengantarkan mobilnya adalah Arya. Selain itu, tadi dia sudah berpesan agar mobil itu langsung saja di simpan di depan garasi. Entah kenapa lelaki itu justru tinggal menunggu di sini.


Arya memegang HP dan mengarahkan layar itu pada Karin. Dia sudah memesan kendaraan online untuk dia tumpangi pulang.


"Ayu, aku duluan. Telepon langsung kalo si Berengsek ini berani macam-macam." Karin melempar tatapan tajam pada Arya sebelum masuk ke mobilnya.


Ayu menggeleng sekilas. Dia ragu kalau Arya berani kurang ajar padanya. Tujuh tahun pacaran, tidak pernah lelaki itu memperlakukan Ayu seperti perempuan murahan. Justru, Arya selalu menjaganya, menyayangi, juga mencintaimu. Di mata elang itu, Ayu selat menemukan ketulusan.


"Kamu tidak takut kalau ternyata Karin benar?" tanya Arya yang langsung dibalas tawa oleh Ayu.


"Aku kenal kamu dengan baik, Arya."


"Bagaimana kalau ternyata ada sisi gelap yang sebenarnya tidak kamu tau, Ay?" Suara lelaki itu bergetar seakan menahan sesuatu.


Aku menggeleng. "Kamu tetap orang baik bagiku, Ar. Tidak peduli pada sisi yang kamu bilang itu."


Tatapan Arya tajam mengarah pada Ayu. "Kalau aku baik, kenapa kamu tidak ingin kembali padaku saat itu."


Ayu kembali mengingat saat Arya datang dan memohon agar ayu kembali padanya. Memintanya untuk bersabar sampai Arya siap untuk melangkah, mungkin sampai dia bisa berdamai dengan monster dalan dirinya. Entah monster apa yang dimaksud Arya, karena bagi Ayu jika malaikat menjelma manusia, dialah Arya.


"Mungkin kita memang tidak jodoh, Arya."


"Dan dia jodohmu. Lelaki yang pulang -pergi, bukannya menjagamu."


"Dia suamiku, Ar!" Ayu menegaskan. "Itu pasti penjemputmu," ucap Ayu cepat setelah melihat mobil yang berhenti di jalan depan rumahnya.


"Bagaimana kalau aku bilang, aku masih mencintaimu, Ay?"


"Cinta tidak ada artinya tanpa bukti, Ar. Lagipula, aku bahagia dengan pernikahanku. Kami saling mencintai." Ayu mengejek dirinya sendiri dalam hati karena piawai berbohong. Saling mencintai, ya, saling mencintai orang lain.


"Aku duluan kalau begitu, Ay. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan telepon aku," pamit Arya setelah HP-nya bergetar-getar.


Setelah Arya pergi, Ayu masuk ke dalam rumahnya. Di saat seperti ini dia membutuhkan sandaran, dia ingin Alex ada di sisinya. Namun, lelaki itu pasti sedang bergembira karena kedatangan Tamara.


Jika Arya bukan jodohnya, maka apa Alex adalah jodohnya--jodoh yang dipaksa oleh keadaan. Dia mengelus pelan perutnya. Janin itu adalah ikatannya dengan Alex. Meskipun, tanpa cinta, tetapi Ayu menyayangi calon bayinya. Dia yakin Alex pun begitu.


Dia masih ingat bahwa ada janji temu dengan dokter malam ini, tetapi dia terlalu malas untuk menemui dokter kandungannya. Saat Alex menelepon dan bertanya tentay keadaan janinnya, dia hanya harus berbohong dan berkata bahwa semau baik-baik saja.


***

__ADS_1


Banyak typo dan nggak nge-feel. Maaf 🤭💜


__ADS_2