
Mata Ayu mengedar menatap ruangan hotel yang luas itu. Terdapat ruang tamu yang dilengkapi dengan grand piano, tepat di sebelahnya ada ruang keluarga dan TV. Butuh menabung berbulan-bulan bagi Ayu untuk bisa menyewa kamar yang harga sewanya semalam mencapai puluhan juta. Untung saja dia dapat gratisan dari Karin.
Sesuai rencana, Ayu akan pergi bersama Tamara untuk menonton Opera. Menjadi obat nyamuk Richard dan Tamara adalah hal biasa baginya setahun terakhir ini. Lagipula, Tamara-lah yang mengajak Ayu untuk ikut. Dia sudah menolak, namun dia juga butuh pengalih perhatian mengingat hari itu adalah hari pernikahan Arya.
Sayangnya, sejak berada di pesawat, Ayu merasa tidak enak badan. Beberapa hari terakhir memang dia gampang lelah, namun kali ini semakin parah. Dia merasa pusing dan mual.
"Kamu pucat banget, Yu." Tamara terdengar khawatir.
"Hanya kecapean, mungkin juga masih jetlag."
"Jetlag? Ini cuma ke Singapura, Yu." Karin mengerutkan kening.
"Aku nggak apa-apa, aku cuma butuh istirahat."
"Ya udah, kamu baik-baik. Aku pergi dulu." Karin melambai sekilas setelah memonyongkan bibirnya pada Ayu.
Tamara berbaring di ranjangnya, sementara Ayu berbaring di ranjang sebelah. Mereka masing-masing memiliki ranjang Queen size.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Tamara setelah membalikkan badannya ke arah Ayu.
"Iya, kamu tenang aja. Aku bisa tinggal sendiri."
"Tidak! Aku punya teman, dia pasti mau jaga kamu."
"Aku bukan anak kecil, Tam ...." Belum selesai berbicara, Ayu tiba-tiba bangkit.
Wanita itu berjalan pelan menuju westafle yang ada di dalam kamar mandi. Dia menyalakan keran air dan mulai mengeluarkan isi perutnya.
Tamara yang panik langsung mengikuti temannya itu.
"Lihat! Kamu nggak baik-baik aja," kata Tamara membantu Ayu dengan mengelus-elus tengkuk wanita yang sedang muntah itu.
***
Perut Ayu mulai mual lagi setelah Richard masuk menemaninya di kamar. Bau parfum lelaki itu tidak enak, sangat menyengat indra penciuman Ayu.
"Butuh sesuatu, Yu?" Richard duduk di samping Ayu sambil mengamati wanita yang pucat itu.
Ayu hanya menggeleng.
Sebuah deringan mengalihkan pandangan Richard. "Aku angkat telepon dulu, Ya?"
Ayu mengangguk pelan. Dia memang berharap Richard cepat keluar karena tak tahan dengan aroma parfumnya. Setelah Richard keluar, Ayu mulai mengatur napas. Dia mulai bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Dia menjadi lebih peka terhadap bau harum yang biasanya baik-baik saja.
Tentu saja karena kelelahan. Sudah dua minggu, Ayu tidak pernah libur. Dia bekerja tiada henti; berkunjung ke toko yang satu ke toko yang lain, mengerjakan laporan, dan banyak lagi kerjaan lain. Semua itu dia lakukan untuk menyamarkan luka di hatinya. Dia harus tetap sibuk agak tidak meratapi hidupnya.
Sekarang dia harus terbaring lemah, sementara dia berniat untuk liburan.
"Hai, mau minum?" Richard yang tiba-tiba datan mengagetkan Ayu.
"Tidak."
"Wajahmu pucat sekali."
"Aku nggak apa-apa."
"Kamu harus ke rumah sakit."
Ayu memaksakan seluas senyum. "Lebay, aku cuma butuh tidur."
"Aku akan panggil dokter kalo begitu."
"Tidak u ...," kata Ayu, namun dipotong oleh Richard. "Jangan rewel, nanti aku yang kena marah."
Lelaki itu tersenyum, kemudian berbalik dan mulai meletakkan telepon selularnya di telinga. Bisa Ayu dengar percakapan Richard itu berlangsung dengan seorang dokter. Kemudian beralih pada telepon hotel dan menekan satu angka yang menghubungkannya dengan Resepsionis.
"Dokternya akan sampai sekitar 30 menit, katanya," kata Richard pada Ayu.
__ADS_1
"Tubuh itu butuh istirahat juga, Yu. Jangan kerja terus, kan sakit jadinya." Richard tiba-tiba jadi cerewet.
"Kamu udah kayak Ibuku saja, Richie!" Ayu masih sempat mencibir.
"Itu berarti aku perhatian dan sayang sama kamu."
"Iya, iya, tau kakak!" Ayu berusaha terdengar ceria, meskipun suaranya lemah.
Richard memang sangat menyayangi Ayu, sebagai adik tentunya. Dulu Richard memiliki adik sepupu yang wajahnya memiliki kemiripan dengan Ayu, namun sepupunya itu telah menghadap Tuhan setelah berjuang bertahun-tahun melawan kanker. Tania namanya, dan Richard sangat menyayanginya.
"Sepertinya Tamara udah datang." Ayu menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara dari luar.
"Ya, temannya akan menjaga kamu. Dia baik, tidak menggigit," canda Richard.
"Jangan bilang yang akan menjagaku, Bruno!" kata Ayu dengan mata membulat.
Bruno adalah Anjing siberian husky milik Richard. Anjing itu memang baik dan setiap, tapi bagi Ayu bagaimanapun tetap saja Anjing.
"Hampir mirip, tapi yang ini berkaki dua, hahaha!" tambah Alex tertawa.
"Setidaknya dia tidak menjulurkan lidah." Alex menambahkan lagi dengan satu Alis naik.
"Selama bukan Bruno, dia suka menjilat."
"Aku akan bilang sama Tamara kalo kamu menghina Mr. Bruno."
"Sana, nanti telat!" usir Ayu, "lagian baumu aneh, bikin mual." Ayu melanjutkan.
Richard mengendus-endus tubuhnya. "Dan sekarang kamu menghina Tunangannya."
Ayu hanya tertawa kecil.
"Aku pergi dulu!" pamit Alex dengan mengedipkan satu matanya.
Beberapa menit setelah Richard keluar, Tamara masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
"Apaan, ini cuma karena kecapean. Jangan lebay!"
"Temenku di luar, kalo butuh apa-apa kamu suruh-suruh aja."
"Dia teman atau pembantumu?"
"Teman serbabisa," jawab Tamara lalu tertawa.
"Aku pergi dulu, ya. Cepet sembuh! Nggak enak kalo kamu sakit, nggak bisa bercanda."
Ayu tersenyum kecil sambil membalas lambaian kecil temannya itu.
***
Suara pintu terbuka membuat Ayu membuka mata. Dari tadi dia sudah berusaha untuk tertidur, namun gagal. Suaranya bukan seperti langkah perempuan, itu terdengar seperti sepatu lelaki.
"Richard?" Ayu berbalik menatap lelaki yang baru saja masuk.
Mata Ayu terbelalak, sama halnya dengan lelaki itu yang juga kaget. Ayu kini berharap teman yang menjaganya adalah Bruno, atau apapun yang penting bukan lelaki itu. Di memang tidak menggigit, namun lebih parah dari itu.
"Akhirnya kita ketemu," kata lelaki itu lega, setelah kekagetannya hilang.
Ayu bergidik ngeri melihat sunggingan tipis di bibir lelaki yang dia tahu bernama Alex itu.
"Dokter ada di luar, kita bisa ngobrol setelah dokternya pergi." Alex terlihat santai, bahkan terkesan menggoda dengan satu mata mengedip nakal.
'Ya Tuhan! Kenapa harus lelaki mesum itu?' Ayu hanya bisa membatin.
Seorang wanita berambut sebahu masuk di belakang Alex. Itu sudah pasti dokter yang Alex sebut tadi. Dokter itu mengambil tempat di samping ranjang. Dia mengeluarkan stetoskop dan sfigmomanometer digital, dan mulai menghitung denyut nadi juga mengukur tekanan darah Ayu.
Kegiatan pemeriksaan itu setidaknya mengalihkan pikiran Ayu tentang lelaki brengsek yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Dokter yang mengenalkan namanya sebagai Katrina itu tersenyum.
"Anda sering olahraga?" tanya dokter Katrina.
"Tidak juga, hanya sekali-kali."
"Biasanya denyut nadi normal Anda berapa?"
"Sekitar 70 bpm, terakhir cek di smartwatch."
Sang Dokter mengangguk sekilas.
"Tekanan darah Anda rendah, hanya 80/60," kata Dokter Katrina dan melanjutkan, "istirahat yang cukup dan perbanyak minum air putih. Nanti saya akan resepkan vitamin."
"Terimakasih, Dok."
"Itu sudah tugas saya."
Pandangan Dokter Katrina beralih pada Alex yang anteng berdiri.
"Bisa bicara di luar, Pak?"
Alex mengangguk menyanggupi permintaan sang Dokter.
Dengan rasa penasaran, mata Ayu mengekor pada dua orang yang melangkah keluar dari kamarnya. Katanya hanya anemia, kenapa harus bicara berdua di luar? Ayu segera menggeleng, tidak mau berpikir apa pun tentang Alex.
***
"Bu Ayu -- isteri atau pacar Anda?" tanya Dokter Katrina hati-hati pada Alex.
Kening Alex mengerut sebentar, tampak berpikir. Lalu tersenyum sekilas setelah mendapatkan ide yang datang begitu saja.
"Oh, kami sedang honeymoon di sini." Alex menjawab dengan santai.
"Sepertinya Bu Ayu sedang hamil, denyut nadinya lebih cepat dari biasanya. Sekitar 80 bpm."
Senyum Alex menghilang. Dia harap Dokter ini punya selera humor sepertinya.
"Ini baru diagnosa awal. Untuk lebih pasti, Anda bisa cek ke dokter kandungan. Denyut nadi cepat juga bisa karena Bu Ayu sedang mengalami hypotensi." Dokter Katrina menjelaskan lagi.
Alex mengangguk mengerti. Bisa saja memang karena anemia yang diderita oleh Ayu.
"Terimakasih, Dok!" ucap Alex pada Dokter Katrina saat mengantar Dokter itu keluar dari residennya.
Tatapan Alex tertuju pada pintu kamar Ayu. Dia mengantongi kedua tangannya di dalam saku celana sambil meringis. Sekali lagi merutuki kecerobohannya malam itu. Kalau sampai Ayu hamil, maka kemungkinan besar itu anaknya, mengingat dialah yang memecah hymen wanita itu.
"Hai!" sapa Alex pada Ayu setelah memberanikan diri bertemu dengan wanita itu.
Alex seakan bisa melihat bara kebencian dari sorot mata Ayu.
"Keluar!" suruh Ayu dengan suara ditekan.
"Kita harus bicara." Alex bersikeras.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku tidak mengenalmu!"
"Sebagai Ayah dari calon bayimu, kamu harus mengenalku mulai sekarang."
Sebenarnya Alex tidak begitu yakin Ayu hamil atau tidak, namun sikap jahil yang merupakan peranti bawaannya tidak bisa dihilangkan. Mengerjai Ayu menurut Alex sangat menyenangkan. Melihat wajah lugu dna manis itu marah, entah kenapa membuat Alex bahagia.
"Ayah? Calon bayi?" Mata Ayu membesar. Dia menggeleng-geleng berusaha mengembalikan kesadarannya, berharap apa yang dia dengar salah.
Rahang Ayu mengeras dan kedua tangannya menggenggam erat selimut. Lelaki itu bisa-bisanya tampak santai, sementara Ayu seakan disambar petir di siang bolong.
***
Tbc 😘
__ADS_1