Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
The Boring Day


__ADS_3

Sehari, dua hari, Ayu merasa sangat nyaman. Dia hanya ongkang-ongkang kaki tak perlu memikirkan hal lain. Di minggu awal, dia ikut Alex ke kantor. Namun, dia merasa bosan dan memutuskan untuk tinggal di rumah saja di minggu ke dua hingga masuk bulan ke-tiga selama dia tinggal bersama Alex.


Perutnya sudah membesar, sehingga memutuskan untuk tidak pulang bertemu dengan orang tuanya. Dia takut jika usia kandungannya ketahuan. Tidak, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewa orang tuanya jika tahu kebenaran usia kehamilannya.


Di bulan awal, saat masih leluasa bergerak, dia keluar bersama dengan Clara. Perempuan itu sangat ramah, bahkan memberi beberapa kiat ibu hamil pada Ayu. Sekarang, dia merasa terkurung di rumah.


Kemarin, Ayu sebenarnya pergi ke Sentosa bersama Alex, atas permintaannya. Itu pun harus memohon. Dia menghela napas panjang dan mengembuskan kasar, mengingat pengalamannya kemarin. Dia Tidak menikmati satu hal pun, karena Alex terus melarang ini dan itu. Lelaki itu terlalu mengkhawatirkan kandungan Ayu.


Ayu terus mengganti channel teve tak tentu. Dia sedang tidak tertarik untuk menonton. Dia juga merasa bosan kalau hanya terus membaca. Tangannya kini meriah stoples dan mulai mencicipi camilan di dalamnya.


Usai menghabiskan setengah biskuit dengan taburan almond itu, mata Ayu membesar. Dia menyentuh kedua pipinya, lalu lengan dan perutnya. Semua mulai berisi. Dua hari yang lalu dia mengunjungi dokter dan sempat menimbang, jarum timbangan semakin bergeser ke kanan, 55kg. Padahal, sebelum hamil berat badannya hanya 49kg.


"Sayang, aku gendut?" tanya Ayu pada Alex yang baru saja masuk ke kamar. Wajah Ayu ditekuk sembari menekan pipi dengan kedua tangan. Dia mulai memanggil Alex dengan panggilan sayang sebulan yang lalu.


"Gendut apa nya? Aku justru merasa berat badanmu harusnya bertambah."


Bibir Ayu maju lantas meraih banyak untuk dipeluk. "Aku udah bulat begini masa harus naikin timbangan lagi."


"Mau gendut atau kurus, nggak penting. Lagian, kan kamu lagi mengandung, wajar kalau gendut." Alex naik ke ranjang di samping Ayu. Dia menarik selimut dan menyelimuti kakinya. Lantas, meringis pelan saat bantal mendarat kasar di wajahnya.


"Loh, tadi bilangnya aku tidak gendut. Sekarang bilang aku gendut, ihh!" pekik Ayu.


Ayu bersedekap, kepalanya tertunduk, dan bibir bawahnya dimajukan. Tidak lama bahu Ayu mulai naik turun dan terdengar isakan.


"Sayang, kenapa menangis?" Alex memegang kedua pundak Ayu.


"Kalo aku makin gendut dan jelek bagaimana?"


Alex menggeser tubuhnya untuk mendekat pada Ayu, lantas menarik perempuan itu dalam pelukannya. "Kamu ini bicara apa. Menurutku kamu semakin hari makin cantik, makin seksi," puji Alex dengan yang terus mengelus rambut Ayu.


"Bo-hong," bisin Ayu dengan satu isakan tertahan.


Alex menunduk dan mulai menghapus sisa air mata di pipi Ayu. "Kapan sih aku bohong. Bagiku sekarang kamu itu perempuan paling cantik."


Tangan Ayu memukul dada Alex. "Jelas, kan cuma ada aku di sini."


Tawa Alex mengudara. "Udah, ayo kita tidur dulu. Kamu harus istirahat banyak." Dia menuntun Ayu untuk mulai berbaring.


"Peluk," rintih Ayu.


" Tidak mau minta lebih, Yang?"


Ayu tidak menjawab, dia  menggumam gusar tak jelas di dalam pelukan Alex. Dia menyukai aroma tubuh suaminya itu. Tidur dalam hangat tubuh lelaki yang memeluknya, membuat tidur Ayu semakin nyenyak.


***


Suara bel berbunyi membuat Ayu yang sedang malas gerak, berjalan keluar. Alex sedang di kamar mandi, sehingga tidak ada pilihan lain. Mungkin yang datang adalah paket pesanan Alex lagi. Dari tadi siang, ada total tiga paketan yang diantar atas nama Alex, semua barang perlengkapan bayi.


Anehnya, barang itu didominasi warna pink pastel. Meski dari hasil USG belum bisa dipastikan karena janinnya malu-malu, Alex bersikukuh bahwa anak mereka berjenis kelamin perempuan. Ayu memilih mengalah, lagipula yang membeli barang itu Alex.


"Selamat malam," sapa Jonny yang kini berdiri di depan Ayu. Lelaki itu melengkungkan bibir. Dia pun langsung masuk tanpa dipersilahkan oleh Ayu.


"Alex di mana?" Pandangan Jonny mengedar ke segala penjuru.


"Di kamar mandi," jawab Ayu yang sudah duduk di sofa.


Suara Alex yang memanggil Ayu terdengar. Dia juga bertanya tentang orang yang membunyikan bel. Saat keluar di ruang tamu, dia bersungut kesal dengan kedatangan Jonny.


"Untuk apa kamu ke sini malam-malam?"


Jonny berjalan ke dekat Alex, lantas merangkul temannya itu. "Aku rindu, Sayang."

__ADS_1


Alex mendorong wajah Jonny yang seakan ingin mencium pipinya. "Menjijikkan!"


Melihat dua lelaki itu, Ayu langsung tertawa. Dia bahkan memegangi perutnya karena tak kuasa menahan tawanya.


"Sudah lama kita tidak bertemu," goda Jonny lagi yang membuat Alex mual sendiri.


"Menjauh, Jonny!" hardik Alex.


"Alex malu-malu kucing itu," timpal Ayu. "Kalau kalian butuh waktu berdua, aku bisa masuk ke kamar sekarang," lanjutnya sebelum tertawa lagi.


"Ayu memang pengertian," sahut Jonny.


Alex mendorong keras tubuh Jonny hingga lelaki itu terhentak.


"Ih, kamu jahat!" jerit Jonny hingga Alex bergidik ngeri. Sementara, Ayu semakin terbahak-bahak.


Mereka kini duduk di sofa, Jonny mengaku sedang suntuk. Dia sudah menghubungi Ben, tetapi lelaki itu mengaku sedang dikurung. Gio, lelaki gempal itu tidak di Singapura--sedang ingin menghibur diri di tempat casino yang lebih besar di Vegas. Selain itu dia juga mengajak Cleo untuk sekadar jalan keluar, perempuan itu sedang ada acara dengan teman kantor.


"Kalau saja kamu setuju menjadikan Cleo sebagai sekretaris-ku, aku tidak mungkin mengacau di rumahmu malam ini," ungkap Jonny menikmati gelas anggur.


"Jangan banyak bicara! Untuk apa dia menjadi sekretaris orang tak becus kerja sepertimu," balas Alex sembari menggoyangkan gelas berisi cairan kemerahan.


"Memangnya kenapa harus Cleo?" tanya Ayu yang sedang bersandar manja di pundak Alex.


Alex meletakkan gelas dan meninju lengan Jonny. "Kenapa kamu tidak menikah saja?" sungut Alex. "Lihat--" dia menggenggam jemari Ayu dan mengangkatnya, "aku tidak pernah suntuk di rumah."


Jonny meneguk anggur-nya lagi. Satu alisni terangkat mencoba memikirkan saran Alex yang mungkin hanya kelakar biasa.


"Kalau aku ajak Cleo menikah, di mau tidak?"


Ayu dan Alex saling menatap. Bibir atas Ayu terangkat menatap alis Alex yang saling bertautan.


Alex menyeringai. Dia tidak akan membiarkan Jonny mengganggu malamnya dengan Ayu. Jika diusir secara langsung, temannya itu mustahil bergeming.


"Kenapa tidak kami coba saja?" saran Alex. "Aku dengar, Cleo sudah diteror ibunya agar segera menikah," ucap Alex tak sepenuhnya berbohong. Dia mengetahui hal itu berkat tak sengaja mendengar percakapan Cleo di telepon.


Ayu memukul pelan lengan Alex. Namun, lelaki itu hanya mengedipkan satu mata pada isterinya itu. Dia melepas pegangan pada Ayu, lantas beringsut mendekat pada Jonny yang tampak masih ragu.


"Begini saja--" tangan Alex menepuk pundak Jonny, "aku akan menelepon Cleo sekarang, kamu sebut saja di mana kamu mau ketemu."


Jonny mendelik, satu alisnya terangkat tinggi. "Untuk apa?"


"Kamu temui dia sekarang, terserah mau diapakan?" pungkas Alex asal. Memangnya apa yang Jonny bisa lakukan pada Cleo. Selain terampil dalam pekerjaannya, Cleo juga menguasai taekwondo. Jonny yang lemah, mana bisa melawannya.


"Sudahlah, berhenti berpikir. Kamu bukannya suka dengan Cleo?"


"Bukan suka yang seperti itu, Bro. Dia itu cuma seru kalau dibawa," sangkal Jonny.


Dari tadi Ayu menendang kaki Alex. Dia sudah mengantuk dan Alex belum bisa membuat Jonny pergi.


"Ya, aku dengar dia akan dijodohkan. Keluarganya masih kolot," tambah Alex yang mulai menangkap raut Jonny meragu. "Kalau dia sudah menikah, mana mau dia jadi pasangan bayaran lagi."


Merasa dongkol, Ayu pun bangkit. "Aku ngantuk, jangan lupa buatin susu!"


Alex terus mengumpat dalam hati. Bingung bagaimana cara melempar Jonny sesegera mungkin.


"Mau tidak? Aku mau nyusul Ayu, kamu tau 'kan hormon perempuan hamil."


Jonny acuh dan terus menuang isi botol ke gelas, lantas berakhir di kerongkongannya. Sesekali dia tampak menimbang.


"Should I?" tanya Jonny.

__ADS_1


"Terserah kamu, aku hanya memberi saran dan mungkin membantu sedikit." Dalam hati Alex mengungkap betapa dia tak peduli apa yang akan dilakukan oleh Jonny, yang dia mau temannya itu segera angkat kaki. Baru saja dia berniat ingin berlama-lama duduk dan mengobrol dengan bayi dalam perut Ayu, Jonny justru datang mengganggu.


"Baiklah, akan kulakukan!" tegas Jonny. Alex mengembuskan napas lega.


Jonny yang sudah berniat berdiri duduk lagi. "Ah, tidak, tidak bisa."


Rahang Alex mengeras, kedua tangannya menggosok paha gusar. "Sejak kapan kau jadi pengecut begini?"


Jonny menggaruk kepalanya, lantas bersandar di bahu sofa. "Ah, aku butuh teman. Cleo sepertinya cukup sempurna."


"Ya, ya, ya," kata Alex dan menyambung dalam hati, "cepatlah pergi!"


"Aku akan datang ke apartemennya kalau begitu," ucap Jonny yang kemudian menyeringai. "Aku bisa sekalian tidur di sana."


"Ya, terserah kamu saja. Tapi, jangan terlalu mengganggu Cleo, dia butuh istirahat."


Jonny meraih jas yang tersampir di lengan sofa. Dia melambai singkat pada Alex sebelum menghilang di balik pintu.


Denagn segelas susu hangat, Alex masuk ke dalam kamar dan mendapati Ayu yang sedang bersedekap menatapnya dengan mata memicing. Dia mengulas senyum dan mengedipkan satu mata pada perempuan itu.


"Apa Jonny tidak punya rumah, selalu saja datang ke sini!" protes Ayu begitu menghabiskan susunya.


"Rumahnya seperti istana," jawab Alex. "Dia hanya bosan, memang seperti itu."


"Wah!" ucap Ayu takjub dengan kedu tangan di perutnya. "Dedenya nendang."


Alex yang tadi masih berdiri langsung berjongkok di samping ranjang. Dia menyentuh perut Ayu dan bisa merasakan gerakan di dalan sana. Mata mereka bertemu dengan senyuman lebar.


"Dia mungkin mau jadi pemain bola," kekeh Ayu.


"Dia ini cewek, Sayangku!"


"Perempuan juga ada yang main bola, kok," sanggah Ayu.


Alex bangkit dan menggeser Ayu, lantas menarik perempuan itu dalam pelukan. Satu tangannya mengelus perut buncit Ayu.


"Masa kamu tega liat anak kita jadi pemain bola. Kamu capek mengandung, anaknya jadi orang bodoh yang mengejar bola di lapangan," jelas Alex.


Ayu terkekeh dan berpikir sejenak. "Benar juga," putus Ayu. "Tapi, kamu memang tidak suka nonton bola?"


"Untuk apa menonton pertandingan bodoh seperti itu?"


"Kamu tidak seru," ejek Ayu. "Dia nendang lagi."


Alex menyingkap baju Ayu setengah, melihat perut Ayu. Dia menyentuh sedikit dan langsung membuat Ayu terperanjat karena bayi dalam rahimnya menendang lagi. Setiap kali Alex menyentuh perut buncit Ayu, setiap itu pula Ayu merasakan tendangan keras.


"Dia pasti tau kalo yang pegang, ayahnya," cicit Alex.


"Biasanya dia cuma gerak-gerak kecil," tukas Ayu. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak menyangka hatinya akan sebahagia itu Hanau karena tahu bahwa anaknya bergerak lincah di dalam sana.


"Kenapa menangis?" Alex mulai mengusap air mata di pipi Ayu.


"Aku nggak nyangka sebentar lagi bisa jadi ibu," ungkap Ayu dengan suara bergetar. "Beberapa bulan dia cuma diam di dalam. Sekarang, dia sudah gerak terus," tambah Ayu yang tak lagi bisa membendung tangisnya. Dia memeluk Alex dengan erat.


"Dia pasti sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantikmu, Sayang," tutur Alex mengelus rambut Ayu lembut. Dia juga mengecup kening Ayu lama. Dia semakin tidak sabar menanti kelahiran anaknya, Aleeya-nya yang cantik. Tanpa alasan pasti, tetapi dia yakin bahwa anaknya adalah perempuan.


"Mama juga tidak sabar." Ayu berbicara pada perutnya. "Tapi, Dede harus sabar, tiga bulan lagi kita ketemu, ya."


Alex terenyuh mendengar perkataan Ayu. Dia langsung menarik kepala Ayu menuju dada bidangnya. Ada taman luas dalam hatinya buang tiba-tiba dipenuhi boleh bunga. Ada titik kecil yang mengembang menjadi ruang di dalam dadanya. Dia bahagia, sangat bahagia.


***

__ADS_1


__ADS_2