
Alex mencium kening Aleeya yang sedang digendong oleh Arini. Setiba dari Singapura dia memang langsung datang ke rumah mertuanya itu. Mobil Ayu yang akan dia gunakan ada di sana. Sekalian membawa Aleeya bertemu kakek dan neneknya.
"Bayi campuran memang beda, ya," sebut Bima yang menggendong Zahra. Meski, Arini memiliki darah Belanda dari neneknya, tetapi wajah gadis Jawa yang manis lebih kental di wajahnya.
"Aleeya kok tidak ceria kayak biasa?" tanya Dwiki, dia memerhatikan cucu bungsunya yang wajahnya tampak datar.
"Kecapean mungkin, Yah. Tadi di pesawat dia rewel, mungkin tidak biasa ramai," jawab Alex. Dia mengikuti langkah ayah mertuanya yang memanggil untuk ke teras belakang. Papan catur ada di meja yang diapit dua kursi terbuat dari jati dengan ukiran Jepara.
Alex tidak tahu rasanya bercakap dengan ayah, dan semua dia dapatkan dari Dwiki. Sambil menjalankan anak catur, mereka saling berbincang. Dwiki banyak memberi cara untuk menyenangkan Ayu.
"Dari kecil, ayah ini pawangnya Ayu." Dwiki menunjuk dada dengan bangga. "Kalau ngambek, cuma mau dihibur sama Ayah."
Alex mendengar dengan tekun. Dia ingin menjadi ayah seperti Dwiki, penuh kasih dan sayang. Bahkan jika Aleeya tumbuh manja seperti Ayu tidak apa, dia hanya ingin melimpahkan cintanya pada anaknya.
"Ayah hebat, sangat dekat dengan keluarga," puji Alex. Bidak caturnya mulai bergerak.
Dwiki menggeleng. "Dulu ayah sama ibu juga sibuk bekerja. Hasilnya Pandu lebih mandiri dan dewasa. Kalo Bima dia usil, bandel, selalu cari perhatian. Waktu kecil, Ayu sering dijaga sama neneknya dibantu Pandu."
Alex terus mendengar mengenai cerita masa kecil Ayu yang katanya setiap kali Dwiki pulang selalu berlari memeluk dan mencium. Saat Dwiki diharuskan untuk keluar kota, Ayu selalu menangis mencari.
"Pernah Ayah keluar kota seminggu. Waktu itu hadiah Ayu terlupa di hotel. Ayah kira dia ngambek, ternyata dia justru bilang kalau dia tidak mau hadiah yang penting ayah pulang ...." Ingatan Dwiki kembali mengembara ke masa kecil anak-anaknya. Ada senyum mengembang di wajah lelaki paruh baya itu. "Anak perempuan memang lebih penyayang. Itu sebabnya Ayah senang bisa memiliki Ayu."
Alex mengulas senyum. Dia membayangkan dirinya di posisi Dwiki. Saat ia pergi dan pulang bekerja ada Aleeya yang akan memeluk dan menciumnya.
"Aku jadi tidak sabar Aleeya tumbuh besar," ungkap Ayu.
"Jangan cepat-cepat! Kalau anak perempuan sudah pintar pacaran, kamu bakal dilupa." Dwiki menggoyangkan tangannya di udara.
Mendadak jiwa protektif Alex bangkit. Membayangkan anak kesayangannya akan digandeng oleh lelaki lain membuatnya tidak rela. Dia mengepalkan tangan dan berkata dengan yakin, "Aleeya tidak boleh punya pacar."
Tawa Dwiki menggema. Ia mengerti perasaan Alex. Bahkan hingga kini, ia masih tidak rela anak perempuannya berada jauh di negara orang.
"Aku mau punya keluarga seperti keluarga Ayah. Kompak," ungkap Alex lagi.
Dwiki menggeleng. Ia mengingat saat usianya masih muda. Posisi tinggi yang ia miliki membuat ia sering kali tidak memiliki waktu untuk keluarga. Bertahun-tahun lebih dekat dengan berkas daripada anak sendiri menimbulkan rasa bersalah.
"Tidak ada rumah tangga yang sempurna, Lex. Kalo kamu menganggap rumah tangga ayah dan ibu tidak memiliki masalah, kamu salah. Dulu kami juga kadang egois. Tapi dalam hubungan harus ada kompromi," jelas Dwiki. Ia menggeser anak catur lagi. Kemudian beralih menatap Alex. "Saat ada masalah, ingat kebaikan pasangan. Jangan keburukannya!"
Alex mengangguk. Ia ingin bertanya lagi, tetapi tertahan saat wajah cemberut Ayu tiba-tiba datang. Di gendongan perempuan itu ada Aleeya yang tertidur.
"Kamu kok di sini? Katanya mau jaga Aleeya," protes Ayu.
__ADS_1
"Ayah yang ajak, Yu," bela Ayah.
"Ih, Aleeya dari tadi rewel."
"Itu udah tidur." Mata Alex mengekor pada Aleeya yang matanya terpejam dan mulut sedikit terbuka.
"Kalo digendong. Tapi, pas diturunkan langsung nangis."
Alex bangkit ke dekat Ayu. Meminta izin pada Dwiki untuk masuk terlebih dahulu. Mereka menaiki tangga dan terus berjalan masuk ke kamar Ayu. Aleeya bergerak-gerak saat tubuh mungilnya berpindah di gendongan Alex.
Satu tangan Alex menempel di kening Aleeya. Mencoba merasakan suhu anaknya itu. Siapa tahu bayi itu ternyata demam hingga serewel itu.
"Nanti malam kita nginap di rumah, ya," pinta Alex. "Besok Aleeya kita titip sama ibu."
Ayu membaringkan diri. Pegal setelah menggendong Aleeya cukup lama. "Untuk ala titip Aleeya."
"Aku ada rencana untuk besok," jawab Alex ikut duduk di ranjang. Ia mengangkat satu persatu kakinya perlahan dan tetap menimang Aleeya yang mulai bergerak gelisah.
***
"Sayang, aku keluar sebentar, ya. Aku janji tidak lama," mohon Alex saat mereka sudah tiba di rumah Ayu.
"Aku pergi." Alex mencium kening Ayu yang sebelumnya sempat mengecup pipi Aleeya yang pulas di ranjang.
Mobil yang dikendarai Alex melaju sedang membela jalan ibu kota. Ia berbelok di salah satu hotel mewah dengan gedung yang tinggi. Sebelumnya, ia sudah membuat reservasi di sana. Kartu akses sudah berpindah di tangannya. Berjalan santai memasuki lift yang akan mengantarnya di lantai tujuh. Langkahnya menyusuri koridor dengan alas karpet empuk meredam suara injakan sepatutnya. Lampu-lampu keemasan sebagai penerang menampakkan remang. Di tangannya ada paperbag yang ditenteng.
Alex hafal betul kamar itu. Kamar yang pernah ia tempati sebelumnya. Pintu cokelat mengkilap dengan angka 306 tepat di depannya. Pintu itu terbuka setelah Alex menempelkan kartu akses.
Begitu lampu menyala, Alex melangkah dan mengedarkan pandangan. Di sampingnya adalah kamar mandi yang dinding di samping pintunya ada cermin. Bukan suite yang mewah, hanya kamar biasa. Alasannya, ia hanya menggunakannya tidur sebentar sebelum kembali ke Singapura.
Ranjang dengan seprei putih masih sama seperti ingatan Alex. Di tempat itu ia melempar Ayu yang mabuk. Ingatan membawanya mengembara pada malam penuh dosa yang tidak mungkin ia sesali.
Senyum Alex mengembang saat mulai duduk di bibir ranjang. Mulai mengingat bagaimana Ayu yang sedang menangis memeluknya. Alex menahan diri demi sedikit rasa kemanusiaan yang ada di hatinya. Memanfaatkan perempuan yang sedang mabuk akan merusak reputasinya. Namun, perempuan yang berbau alkohol dan muntah itu jutru mengeratkan pelukan. Mulai mencium pipi hingga bibir Alex.
Tubuh Alex kini telentang di atas ranjang. Tawanya mulai terdengar, membayangkan bagaimana raut Ayu saat mendengar cerita tentang malam itu. Pada dasarnya, bukan Alex yang memanfaatkan Ayu. Perempuan itulah yang memanfaatkannya.
Semua sudah disiapkan oleh Alex. Tempat itu akan menjadi tujuan terakhir yang akan dituju Alex dan Ayu. Waktunya pun harus tepat, jam sepuluh malam. Usai berbaring, ia mulai menata seprei baik-baik. Mengeluarkan barang yang ada di paperbag yang ia bawa. Red wine pemberian Gio yang seumuran dengan tahun kemerdekaan Indonesia. Membaringkan botol itu di tengah dua gelas bening.
Lantas meraih kotak biru berbahan beludru. Membiarkan kotak itu terbuka berdekatan dengan botol. Benda berkilauan tampak di kotak tadi. Satu setel perhiasan yah terbuat dari berlian ada di sana. Siap sudah. Menyenangkan Ayu adalah kesenangan baginya. Membayangkan betapa bahagia Ayu dengan kejutan yang ia siapkan membuat Alex tersenyum bahagia.
Lelaki itu keluar dengan rasa bahagia. Ia mengangkat tangan untuk melihat jam. Masih ada satu jam hingga hari berlalu. Ia masih memiliki waktu untuk membuat kejutan yang lain.
__ADS_1
***
Di tangan Alex sudah ada kotak berisi kue. Kue khusus yang ia pesan untuk Tamara. Hiasannya terbuat dari berbagai jenis buah. Ia menekan bel berkali-kali, tetapi tidak ada tanda-tanda orang di dalam sana. Padahal, ia sempat menelepon Tamara sore tadi. Bertanya di mana perempuan itu, dan dijawab di apartemennya. Mungkin Tamara sedang keluar bersama Richard.
"Untuk apa menghubungiku Berengsek!" Umpatan itu yang pertama kali didapat oleh Alex saat menghubungi Richard. Amarah terdengar dari tunangan sahabatnya itu.
"Aku mencari Tamara. Apa dia bersamamu?" Kening Alex mengerut saat menanyakan hal itu.
"Mind your own business, *******!" Umpatan itu mengakhiri panggilan telepon Alex dan Richard.
Alex selalu menyukai sikap tenang Richard. Setidaknya, dari seluruh kekasih Tamara yang pernah ia temui, Richard adalah satu-satunya lelaki yang menurutnya bisa menjaga perempuan itu. Alex yang selalu penuh rasa percaya diri, bahkan kadang merasa bukan apa-apa jika dibandingkan lelaki itu. Namun, entah apa yang telah menyulut emosi Richard.
Peringatan baterai di ponsel Alex muncul. Daya ponselnya sekarat. Namun, ia memutuskan untuk tetap menggunakan ponsel itu menelepon Tamara. Tidak ada jawaban. Jantung Alex berdetak kencang. Tangannya tiba-tiba dingin. Ia meletakkan kotak kue di lantai tepat di depan pintu. Mengambil langkah besar menuju resepsionis. Lantas kembali berjalan bersama seorang petugas perawatan apartemen. Mulai membuka akses pintu apartemen Tamara.
Awalnya, pihak pengelola gedung itu menolak. Namun, Alex terus memaksa karena khawatir. Untung saja, Alex mengenal anak pemilik gedung apartemen itu, Jonny.
Saat pintu terbuka, Alex masuk menjelajahi ruangan. Petugas tadi sempat berbisik menganggap Alex terlalu berlebihan. Ini sudah larut malam, wajar jika seseorang sudah tidak menerima tamu atau panggilan telepon.
Alex terbelalak melihat tubuh yang berbaring di lantai kamar Tamara. Ia segera berlari diikuti petugas apartemen tadi.
"Tammy!" panggil Alex panik. Tatapannya tertuju pada pergelangan tangan Tamara yang dialiri darah. Tanpa pikir panjang, ia segera mengangkat tubuh lemah itu. Membopongnya untuk dibawa ke rumah sakit.
Alex mondar-mandir di depan ruang IGD. Ia samar mendengar suara Ayu bersama tangisan bayi mirip Aleeya. Ia menggeleng, pasti hanya salah dengar. Seketika ia mengingat bahwa belum menghubungi Ayu. Saat merabah saku, ia tidak mendapati ponselnya. Barulah Alex ingat bahwa benda itu tadi ia letakkan begitu saja di lantai saat akan mengangkat tubuh Tamara.
Alex tertidur di kursi tunggu, tepat di depan ruang IGD. Pagi-pagi Alex terbangun saat seorang perawat membangunkannya. Memberitahu bahwa Tamara telah dibawa di ruang perawatan.
Dengan menggunakan telepon rumah sakit, Alex menghubungi telepon Cleo. Meminta perempuan itu menghubungi Ayu dan keluarga Tamara. Sementara, ia akan menjaga Tamara hingga ada yang menggantikan. Padahal, ada rencana indah yang sudah Alex susun untuk memperingati hari di mana ia pertama kali bertemu dengan Ayu.
Alex mengikuti perawat yang membangunkannya tadi menuju kamar perawatan Tamara. Selang infus terpasang di lengan Tamara yang tidak dibalut perban. Mata perempuan itu masih terpejam. Menurut si perawat, efek obat bius sebentar lagi hilang. Saat itu Tamara akan mulai sadar.
Karena masih lelah, Alex memutuskan untuk berbaring di sofa. Entah berapa lama ia tertidur di sana. Namun, saat ia bangun. Mata Tamara sudah membuka. Perempuan itu tampak menatap kosong ke langit-langit kamar. Alex segera bangkit dan berjalan mendekat.
"Tamara," sebut Alex yang sudah berdiri di samping ranjang Tamara. Ia menatap lekat-lekat pada perempuan yang juga menatapnya. Mulut perempuan itu bergerak, meski tanpa suara Alex tahu bahwa perempuan yang terbaring lemah itu menyebut namanya.
Ingin Alex bertanya alasan hingga Tamara berbuat sebodoh itu. Namun, kondisinya belum stabil.
"Kamu sudah sadar?" tanya Alex kaku. Entah sejak kapan rasa canggung itu menjadi sekat antara dirinya dan Tamara.
Tamara hanya mengerjap sebagai balasan. Ada air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Untuk waktu yang lama, ruangan itu hanya diisi bisu. Sesekali Alex menatap jam tangan. Berharap Ayu tidak mencekiknya begitu sampai di rumah.
***
__ADS_1