
Alex duduk di sofa dengan kacamata dan buku. Dia tidak membaca sama sekali. Mencebik sesekali atau mencoba mencuri dengar percakapan di kamar Aleeya. Ibu dan ibu mertuanya datang pagi tadi. Sejak saat itu, dia tidak kebagian sedikit pun waktu bersama dengan anaknya.
Hari Minggu adalah saatnya Alex menghabiskan waktu dengan Aleeya. Namun, bayi itu beralih dari tangan satu nenek ke nenek yang satu. Namun, ada baiknya Arini dan Marissa teralihkan oleh kelucuan Aleeya, sehingga mereka tidak perlu bertanya mengenai waktu dan lain-lain.
Suara tawa dari kamar membuat Alex mendengkus kesal. Bukannya dia tidak mau ada yang mengunjungi puterinya, tetapi dia juga ingin punya waktu. Sementara, sejak pagi tadi dia selalu sisihkan. Suara bel berbunyi, hingga dia mengangkat pantat untuk membuka pintu.
Alex mengulas senyum paksa melihat beberapa orang yang datang. Ada Ben beserta anak dan isterinya, juga Gio. Saat Ben dan keluarganya masuk, Alex berdiri tepat di depan Gio untuk menghalau lelaki itu.
"Jangan masuk!" larang Alex.
"Pelit banget, Lex! Aku cuma mau menjenguk Aleeya," ucap Gio. Dia mengangkat paperbag. "Ini ada kado buat keponakan."
Alex mengambil paperbag itu untuk melihat isinya. Dia memeriksa merek baju bayi itu lagi. Satu alisnya terangkat dan mengangguk pelan.
"Masuk!" suruh Alex dengan suara garang. "Ingat, boleh lihat, jangan sentuh!"
Gio mengangguk setuju, tidak peduli. Alex ikut masuk dan melihat kamar Aleeya yang sudah dipenuhi boleh orang. Dia menatap Ayu yang terlihat terus melekatkan mata pada Aleeya yang kini ada digendongan Clara, sementara si kembar di kedua sisi mencium bayi itu. Aleeya yang tidak biasa dengan keramaian dan orang baru, terdengar rengekan kecil.
Awalnya, Alex ingin pergi. Namun, melihat wajah khawatir Ayu, dia masuk ke ruangan itu. Dia merangkul pundak isterinya itu dengan seulas senyum. Perempuan itu sangat protektif jika menyangkut Aleeya, dia pasti merasa tak nyaman dengan orang-orang yang terus menggendong bayinya.
"Lucu sekali," puji Clara.
"Mommy, Jessy mau adik lucu," ungkap Jessy yang membuat orang-orang di tempat itu tertawa.
"Jessy sama Josh usia berapa?" tanya Arini.
"Tiga bulan lagi lima tahun," balas Clara.
"Lebih tua Lara sama Tara ya, Yu?" Arini beralih pada Ayu.
Ayu mengangguk dan terus menatap bayinya.
"Iya juga, anak Pandu juga kembar cewek-cowok," timpal Marissa.
Dari rengekan, Aleeya mulai meraung. Hingga bayi yang berada di pangkuan Marissa segera diraih oleh Alex. Bayi itu tidak diam juga.
"Dia capek. Udah ngantuk," kata Clara yang diangguki oleh Alex.
***
Alex terus menggendong Aleeya yang mulai rewel. Sejak tadi siang dia rewel dan terus menangis. Padahal, Ayu sudah berusaha untuk menyusui bayi itu, tetapi ditolak.
Kebingungan, Ayu duduk dan mulai menangis. Hal itu juga yang membuat Alex pusing. Setiap kali Aleeya rewel, Ayu juga ikut menangis. Perempuan itu kadang berkata tak bisa menjadi ibu yang baik karena tak bisa menenangkan Aleeya.
"Aleeya cuma capek, seharian diajak main terus." Alex mencoba menenangkan Ayu dengan Aleeya masih meraung.
Ayu mengusap air matanya. Dia mendongak menatap Alex dan mulai menahan isakan. "Sini, biar aku yang gendong."
"Dia sepertinya tidak biasa ramai. Besok pagi, kita bawa keluar di taman, ya?" saran Alex yang diangguki oleh Ayu.
Aleeya sudah mulai tenang. Hanya tersisa rengekan-rengekan kecil, begitu disusui bayi itu pun terdiam.
"Dia sangat lapar," ucap Alex menatap Aleeya lahap mengisap sari makanan.
"Kasian Aleeya," lirih Ayu. "Dari pagi diajak main terus. Dioper ke sana-sini, dia pasti capek sekali."
__ADS_1
Alex mengangguk. "Mereka cuma ikut bahagia karena kelahiran Aleeya. Besok, dia akan istirahat. Jangan terima tamu dulu!"
Ayu mengangguk setuju. Mungkin seperti ini rasanya jadi orang tua, penuh khawatir pada anak. Dia bisa mengerti mengapa orang tuanya kadang terkesan over protective.
Setelah Aleeya tertidur, Ayu meregangkan tubuh. Dia sangat lelah. Untungnya, ibu dan mertuanya tidak menginap. Dia tadi berbasa-basi meminta keduanya agar menginap, tetapi ibunya memang tidak bisa meninggalkan ayahnya sendiri.
"Kamu istirahat dulu, biar aku yang jaga Aleeya," ucap Alex memberi kecupan singkat di kening Ayu.
"Kamu harus kerja besok. Biar aku yang jaga Aleeya," tolak Ayu.
"Ya sudah, tunggu di sini!"
Alex masuk ke dalam kamar. Tak lama, dia datang dengan dua banyak dan selimut. Dia menata alat tidur itu di atas karpet bulu di samping box Aleeya.
"Kita tidur di sini saja kalau begitu," ucap Alex.
Tangan Alex melingkar di pinggang Ayu. Sesekali dia kecup, tak peduli perempuan itu protes.
"Sayang, apa kita pindahkan Aleeya ke sebelah saja. Daripada tidur di lantai kayak gini," saran Alex.
"Bukannya kamu sendiri yang mau Aleeya ditempatkan di ruang terpisah?"
"Iya, tapi tidak tega juga kalau dia nangis tidak ada yang dengar."
"Mana yang baik menurut kamu, aku ikut aja."
Pelukan Alex mengerat. Dia mencium lama pundak Ayu sambil berbisik cinta pada isterinya itu.
***
Dia sudah mencoba membangunkan Ayu untuk menyusui Aleeya setelah mengganti popoknya. Namun, perempuan itu kelewat pulas. Ayu hanya melenguh pelan dan melanjutkan tidur.
Melihat kondisi Ayu, Alex membawa Aleeya keluar. Dia meletakan bayi itu di sofa yang sudah dia satukan dengan meja untuk menjaga agar tidak terjatuh. Aleeya semakin menjerit, sementara Alex berlomba dengan waktu membuat susu formula untuk anaknya.
Tidak sampai di situ, Aleeya yang tak terbiasa dengan dot sempat menolak. Untunglah, setelah terus disodorkan bayinya mulai mengisap susu formulanya. Setelah minum susu pun, dia tidak langsung tidur. Bayi dua minggu itu terus merengek dan kadang membuat suara lenguhan khas bayi.
Alex pun mau tak mau terjaga hingga subuh untuk menemani Aleeya. Baru dua minggu saja, bayi itu sudah kuat begadang. Bagiamana jika sudah menginjak beberapa bulan.
"Wah, tumben Aleeya tidak bangun tengah malam," ucap Ayu saat Alex sudah selesai mencuci wajah di pagi hari. "Matamu bengkak, mungkin karena tidur terlalu lama."
Alex tersenyum kecil. Dalam hati dia merutuki Ayu, tetapi tidak berani mengucapkan secara langsung. Dia tahu perempuan itu akan merajuk. Belum lagi kondisi emosi Ayu yang kurang stabil pasca melahirkan. Dia tidak mau mencari masalah dan justru membangunkan singa yang sedang tidur.
"Kamu mau bawa Aleeya ke taman, 'kan?" tanya Ayu.
Alex masih mengantuk. Dia bahkan berencana melewatkan olahraga pagi.
"Aku harus berangkat kerja awal, Sayang. Ada meeting pagi-pagi banget," alasan Alex.
Ayu hanya mengangguk dan mulai menyambut Aleeya yang sudah membuka mata.
"Anak Mommy tersayang sudah bangun," ucap Ayu mencium pipi Aleeya. "Ngerti banget sih kalau Mommy lagi capek. Nggak rewel. lapar, ya, Sayang?"
Alex mengembuskan napas kasar sebelum melangkah menuju kamar mandi. Dia akan berangkat kerja jauh lebih awal.
***
__ADS_1
Alex membiarkan ruangannya gelap. Seluruh gorden, dibiarkan menutupi jendela. Baru jam 6 pagi dan dia sudah berada di ruangan kerjanya. Dia sempat tidur di ruang istirahat, tetapi keluar untuk tidur di sofa depan meja kerjanya. Dia memasang musik piano untuk menemani tidurnya.
Sekitar lima belas menit terjaga, Alex terlonjak kaget setelah mendengar teriakan kencang. Dia terbangun tiba-tiba dengan gerakan meraba-raba ke udara.
"Ah, Cleo! Mengganggu saja," rutuk Alex menggosok rambutnya kasar.
Cleo menyalahkan penerangan. Dia mengembuskan napas lega. Dia berpikir bahwa ada hantu di ruangan Alex.
"Pak Bos kenapa tidur di sofa?" tanya Cleo. "Ini juga masih sangat pagi."
"Aku butuh istirahat, Cleo," ucap Alex. "Kamu tidak mengerti susahnya punya bayi," keluhnya.
Cleo hanya menggaruk tengkuk. Dia tidak pernah mendapati Alex dengan kondisi mengenaskan seperti sekarang. Kemejanya tidak masuk di dalam celana, tidak ada dasi pula. Rambut yang selalu tertata rapih pun tampak berantakan, sangat berantakan.
"Kosongkan jadwal pagi ini! Aku mau tidur." Alex bangkit dan memilih untuk masuk di ruang istirahatnya tanpa menunggu balasan Cleo.
Cleo mengernyitkan kening. Lantas dia kembali menuju mejanya di luar. Sekitar dua jam duduk di kursi, barulah dia mendapat telepon dari Alex untuk masuk dan membacakan jadwal hariannya.
Alex sudah sedikit lebih segar, meski kurang semangat. Dia memijat jembatan hidungnya, merasa lelah membaca berkas yang harus dia tandatangani. Dia memang tak suka asal tandatangan, meski berkas itu sudah dibaca oleh Cleo, dia merasa perlu memeriksa kata demi kata.
"Hai, Bro!"
Alex melempar map yanh dipegangnya pelan di meja. Satu pengganggu lagi. Dia butuh sehari saja untuk hidup tenang. Dia menikmati pernikahannya, tetapi dia kadang merindukan masa lajangnya. Di mana dia bebas melakukan apa saja, termasuk tidur. Kini, sejak kelahiran Aleeya, dia tidak bisa tidur nyenyak. Telinganya selalu awas, untuk sekedar rengekan kecil.
"Untuk apa kamu ke sini?"
Jonny duduk di kursi depan Alex. "Aku sedang rindu saja."
"Berengsek!" umpat Alex. "Menjijikkan!"
"Merindukan Cleo, bukan kamu. Jangan ge-er!"
Alex memutar bola mata. Dia memasang kacamata yang sempat dibuka. Kerjaannya dia lanjutkan, tidak peduli pada Jonny yang bersiul. Dia juga sedang sibuk, sehingga tidak akan sempat memberi Jonny pelajaran berkat nama Aleeya dua malam lalu.
"Bro, kamu kacau sekali. Ada apa?" tanya Jonny melihat kondisi Alex.
Alex tidak menjawab sama sekali. Satu-satunya kalimat yang ingin keluar dari mulutnya adalah perintah agar Jonny segera keluar.
"Kamu sariawan?" Jonny tak berhenti mengganggu.
Masih tidak dibalas. Alex berusaha untuk menahan diri dan fokus pada laporan di depannya.
"Aku mau adain pesta nanti malam, banyak hiburan. Mau ikut tidak? Biar suntukmu hilang," tambah Jonny. Dia sebenarnya tidak memiliki acara apa pun malam ini. Namun, setelah mendengar keadaan Alex dari Cleo, dia merasa perlu untuk menghiburnya.
Mata Alex kini beralih pada Jonny. Dia menaikkan satu alis, terlihat berpikir. Mungkin memang benar kalau dia membutuhkan sedikit hiburan. Namun, apa alasannya pada Ayu. Ketahuan berbohong, pasti perempuan itu akan mengamuk.
Alex menggeleng-geleng memikirkan amukan Ayu. Bisa saja perempuan itu tidak mengamuk, justru merajuk dan memilih mendiaminya selama berhari-hari.
"Keluar, Jonny! Atau kupanggilkan security!" ancam Alex.
"Kamu sangat kacau, Lex. Liat dirimu, aku tidak pernah melihatmu seperti ini. Mending ikut aku untuk menghibur diri!" ajak Jonny tak menyerah.
"Aku bilang keluar!" Suara Alex mulai meninggi.
"Baiklah, aku keluar. Hubungi aku kalau kamu berubah pikiran!" Jonny mengedipkan satu mata pada Alex sebelum meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
***