Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
Moment of Memories


__ADS_3

...Moment of Memories...


 


...“Even When I close my eyes, there’s an image of your face. Once again I come to realise you’re a loss I can’t replace.”...


...Westlife ~ Soledad...


 


...*.*.*....


 


Musik berdentum kencang. Laser menyala berkedap-kedip. Orang-orang banyak yang memilih turun di lantai dansa, baik sendiri atau berpasangan, ada juga yang baru menemukan rekan.


Alex duduk ditemani seorang perempuan di sofa. Sudah satu jam, dan yang ditunggu belum datang juga. Alex bersumpah kalau lima menit lagi temannya itu belum datang, ia akan pergi. Tidak peduli bahwa itu pertama kalinya bertemu setelah satu tahun.


“Drink, Babe!” tawar perempuan yang duduk di samping Alex.


Alex tersenyum kecil, menatap ponselnya. Tidak peduli pada perempuan yang namanya ia lupa. Mereka bertemu tadi, mendadak akrab dan mungkin cocok menjadi teman Alex melewati malam.


Perempuan dengan rambu merah itu mengangkat gelas berisi cairan bening yang di dalamnya ada buah zaitun. Gelas itu disodorkan pada Alex.


“Terima kasih,” ucap Alex, balik menatap ponsel setelah meneguk minumannya.


“Hai, Bro!” Seorang lelaki menepuk pundak Alex. “I miss you!” Lelaki itu menggeser Alex merapat pada perempuan yang ada di dekatnya untuk mendapatkan tempat.


“Jauh-jauh!” Alex mendorong Jonny menjauh.


“Segitu dendamnya dirimu kepadaku, Sayang!” Jonny bersandar di bahu Alex, hingga Alex bergidik ngeri.


Alex berpindah tempat, membiarkan Jonny berdekatan dengan perempuan yang entah siapa namanya. Sontak Jonny berdiri, seakan takut pada perempuan tadi.


“Kamu takut perempuan sekarang?” cecar Alex.


Jonny menggeleng. Ia Mengambil tempat di sore depan Alex. Dengan lambaian, ia memanggil seorang pramusaji. Memesan sebotol wiski dan es batu.


“Cleo rindu. Dia minta aku mengundangmu makan malam,” cerita Jonny.


Alex menyesap minumannya hingga tandas. Ia menggeram kesal.


“Dia selalu peduli padamu lebih dari suaminya sendiri. Sial sekali.” Jonny mencurahkan kekesalannya.


Alex tidak peduli pada perkataan Jonny. Hidupnya sudah cukup berat dua tahun terakhir, bukan hanya terpisah dari Ayu dan Aleeya. Ia juga harus kehilangan sekretaris yang biasa mengurus segala kebutuhannya. Sudah tiga sekretaris yang mengganti Cleo. Siang tadi, ada sekretaris baru, entah berapa lama sekretaris barunya itu bertahan.


“Dia siapa?” tanya Jonny yang sudah berpindah ke samping Alex. Ia menatap punggung perempuan yang tadi minta izin ke toilet.


“Ketemu di luar. Kamu datang lama, aku butuh teman.”


Jonny menuang minuman ke gelasnya diikuti satu es batu. Ia minum isi gelas itu satu tegukan.


“Jadi, bagaimana?”

__ADS_1


Alex mengerutkan kening. “Bagaimana apanya?”


“Kamu tidak berniat untuk menjenguk Aleeya. Aku yang bukan siapa-siapa saja sangat rindu pada anakmu itu.”


 


Alex terdiam. Memori tentang tawa dan tangis bayinya yang lucu kembali terputar. Kalau saja tidak malu, ia mungkin sudah meneteskan air mata. Rindu, tentu saja.


Tubuh merah Aleeya yang dipenuhi bercak darah. Tangis pertamanya yang entah kenapa membuat Alex menangis bahagia. Pertama kali bayi cantiknya mengembuskan napas, kali itu pula Alex jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya cinta.


“Kalau cinta, kenapa menyerah seperti ini. Aku sudah cukup gila melihat tingkahku selama ini.” Jonny terus berbicara.


Alex tidak tahan dengan sesak. Ia butuh pelampiasan. Jonny melanjutkan perkataannya, berkata bahwa seharusnya Alex terus berusaha, memasang muka tembok demi anaknya. Melawan ego.


Alex menarik kerah kemeja Jonny. “Kamu pikir apa yang kulakukan selama ini!”


Jonny terkesiap. Ia tidak bisa menahan saat tubuhnya ditarik begitu saja oleh Alex. “Wow, easy, Bro!”


Perempuan yang menemani Alex sudah datang dari toilet. Ia menarik lengan Alex. Meminta agar tidak membuat keributan. Namun, lelaki itu butuh pelampiasan. Ia marah pada dirinya, pada segalanya.


“Go away!” bentak Alex. Perempuan itu mundur, mengambil tasnya di sofa, lantas menjauh. Ia tidak mau mencari masalah hingga keanggotaannya dicabut. Di mana lagi ia bisa menggaet lelaki berduit.


Jonny hanya diam. Tidak berniat untuk melawan, atau memancing amarah temannya itu. Ia sudah mengenal Alex sejak kuliah. Saat lelaki itu emosi, ia sering mencari masalah agar dipukuli.


“Kenapa diam saja, Berengsek!” pekik Alex. Mata-mata di ruangan itu mulai memandang ke arah mereka.


“Apa kamu benar-benat ingin dipukuli?”


Alex hanya menyeringai. “Kami cari mati?”


Alex berdiri. Melayangkan satu tinjunya di wajah Jonny, hingga Jonny terhuyung jatuh ke sofa. Tidak mau kalah, Jonny berdiri lalu meninju balik rahang Alex. Darah mulai keluar dari arah bibir Alex, mungkin karena tergigit atau memang buku jari Jonny pas menghantam di tempat itu.


Alex berniat untuk membalas. Namun, tubuhnya ditahan oleh lelaki berbadan besar. Ia menyiku bagian keamanan club itu. Menurutnya security itu adalah sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalan. Ia mendorong, kemudian meninju perut lelaki berseragam hitam itu.


Melihat itu, Jonny segera menarik Alex yang sudah menjatuhkan security berbadan tambun. Mereka akan dapat masalah besar kalau sampai melukai petugas keamanan itu.


“Cukup, Bro! Kamu mau berurusan sama polisi!” Jonny menyeret Alex yang seperti kesetanan ingin memukul lelaki tadi.


Jonny dan Alex sudah keluar dari club itu. Berjalan menuju valley boy yang sudah menyiapkan mobil masing-masing.


“Kamu bisa pulang sendiri?” Jonny agak ragu.


Alex mengelak saat Jonny hendak meraih pundaknya. Meraih kunci mobil, lalu memasuki mobil menuju kursi kemudi.


Deru mesin mobil sedan asal Eropa itu terdengar. Kaca mobil yang terbuka membuat angin berembus kencang menerpa wajah Alex. Mungkin ada sekitar lima menit, sebelum kaca mobil dinaikkan. Mobil-mobil melaju santai di jalanan lengang, tidak seperti Alex yang tancap gas seakan memiliki dua nyawa.


*.*.*.


Ringisan pelan lolos dari bibir Alex. Ia mulai membasuh luka di sudut bibirnya. Tangan yang ia gunakan untuk meninju pun masih terasa pegal. Tinggal tunggu surat tuntutan dari pihak club itu. Ia bisa saja langsung menghubungi pengelolanya dan menyelesaikan kasus itu secara damai. Namun, entah kenapa ia begitu mencintai masalah akhir-akhir ini.


Bel berbunyi, dan Alex tahu siapa yang berani bertamu di tengah malam seperti itu. Lelaki yang tadi dipukul oleh Alex berdiri di balik pintu. Ia bergeser memberi jalan. Kadang kedatangan Jonny membuatnya kesal, tetapi hanya lelaki itu yang berkunjung ke rumahnya. Setelah setahun terakhir Jonny sibuk dengan urusan pribadinya, lelaki itu datang lagi. Mungkin mulut cerewetnya akan merecoki Alex, tetapi mungkin itu juga yang dibutuhkan oleh Alex kini.


“Aku sudah membereskan masalah di club tadi. Untungnya luka lelaki gendut itu tidak parah. Dasar gila!” racau Jonny mengikuti langkah Alex yang berjalan menuju lemari di mana banyak botol alkohol.

__ADS_1


Alex menuju piano, meletakkan segelas brendi yang sudah dibuka tutupnya. Meminum langsung dari botol. Jemarinya menari di atas piano, memainkan nada yang tidak jelas. Melompat dari lagu satu ke lagu lain.


Jonny hanya menatap lama. Ia menarik botol yang berada di tangan Alex saat botol itu hanya tersisa setengah.


“Sampai kapan kamu bodoh seperti ini?”


Alex tertawa, menggeleng. “Kamu tidak mengerti. Tidak akan mengerti!”


“Gila! Tentu saja, aku mengerti. Sangat mengerti kalau kamu pecundang besar yang bodoh!” tekan Jonny, tidak tahan melihat Alex yang hancur sedikit demi sedikit. Ia menggosok tukang pipinya yang tadi ditinju oleh Alex. “Harusnya lelaki berengsek itu yang kamu tinju, bukan aku. Ah, Cleo pasti akan cerewet melihat wajah suaminya hancur begini.”


Alex terdiam. Melekatkan mata pada jemari yang masih berada di atas piano. Ia menekan keras dan lama, hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.


“Aku sudah melakukan semuanya. Aku kalah. Kalah oleh lelaki pengecut sepertinya.” Alex merujuk pada Arya.


Jonny mendengkus. Menatap Alex sambil menggeleng-geleng. “Apa kamu tidak sadar, kami sama pengecutnya!”


Alex mendongak, memicingkan mata pada Jonny yang tampak tidak takut jika akan diserang lagi oleh Alex.


“Kalau saja aku jadi kamu, aku akan keluar dari taksi, memberi pelajaran pada ... Ar ... ah, entah siapa namanya.”


Seringai tajam dipasang oleh Alex. “Kalau aku pukul, apa yang akan terjadi?”


“Setidaknya kamu bisa memberi peringatan bahwa kamu tidak hanya akan memukul, tapi juga membunuh lelaki yang berani mengganggu anak dan istrimu,” balas Jonny. Ia meminum dari botol yang sama dengan Alex. “Dan aku tau, kamu pasti bisa membunuhnya kalau mau.”


Alex merebut minumannya kembali,b berkata sebelum menenggak, “Aku pun bisa membunuhmu kalau mau.” Alex meletakkan botol kasar di atas piano. “Aku sudah berusaha, Jon. Ayu mungkin memang tidak bisa mencintaiku.”


“Really! Kamu tidak terdengar seperti Alex yang selalu bilang ‘usaha tanpa hasil bukan usaha’. Semangat, dong!”


Alex mengusap kasar wajahnya. “Aku merindukan Aleeya lebih dari segalanya. Ayu juga, tentu saja.”


“Ya, sudah. Pulang sana, mereka rumahmu.”


“Tapi, aku bukan rumahnya. Aku tidak pernah bisa menjadi rumah bagi Ayu.”


******* kasar berembus dari mulut Jonny. Tidak tahu bagaimana lagi agar si Alex yang bodoh bisa mengerti.


“Kamu punya Aleeya. Dia senjata yang bagus, asal kau tahu.”


 


“Diam! Urus saja istrimu, Berengsek!” Alex berdiri. Meninggalkan Jonny menuju kamarnya. Pintu kamar itu dibanting keras hingga menimbulkan suara yang membuat Jonny tersentak.


Alex memegang ponselnya. Menatap lama wajah Aleeya yang dibagikan oleh Ayu di media sosialnya. Anaknya itu tumbuh dengan sangat baik. Senyumnya terlihat sangat manis, cantik, dan menjadi alasan kewarasan Alex.


Matanya terpejam. Berusaha menghilangkan bayangan Ayu dan Aleeya di kamarnya. Namun, semua seperti terjadi sedetik yang lalu. Terekam jelas dalam ingatannya. Hari-hari bahagia yang sempat mereka lalui bersama di kamar itu. Seperti kebiasaan Ayu berbincang sebelum tertidur. Aleeya yang sering mengganggu saat ia dan Ayu ingin berduaan.


Kotak bayi Aleeya masih ada di samping ranjang. Sengaja tidak ia bersihkan. Masih kadang ia beri minyak telon agar aromanya terus memenuhi ruangan. Pakaian bayi Aleeya, juga kamarnya di sebelah masih ada. Saat Alex tidak tahan dengan rindu yang mendera, ia akan bergeming di atas karpet sambil memeluk baju-baju kecil itu.


Pecundang. Alex rela dikenang dengan kata itu demi kebahagiaan anak dan istrinya. Bukan berarti ia tidak sayang. Ia sangat menyayangi anak dan istrinya. Namun, ia tidak mau memaksakan sesuatu yang tidak bisa.


Mungkin nanti, saat ia merasa siap menerima kekalahan. Ia akan berkunjung. Memberanikan diri muncul di depan wajah anaknya. Jujur saja, ia takut menatap Aleeya. Takut mendapati bahwa anaknya memiliki keluarga seperti miliknya.


*.*.*.

__ADS_1


 


 


__ADS_2