Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
A Daddy's Love


__ADS_3

***


Alex memasuki sebuah ruangan yang tadi ditunjukkan oleh Ayu. Perempuan itu hanya mengantarnya sampai depan pintu, selebihnya dia lah yang harus berusaha sendiri. Suasana mencekam di meja makan tadi masih terbayang oleh Alex, juga tatapan membunuh Pandu yang terus melekat padanya. Untunglah tadi, Bima cukup ramah padanya.


Ruangan berisi meja dan rak buku itu ditebak oleh Alex sebagai ruang kerja atau mertuanya, Dwiki. Tatapan Alex terkunci pada Dwiki yang sedang duduk membaca dengan kacamata bertengger di hidungnya.


Dwiki menutup dan meletakkan buku ke meja, begitu juga kacamatanya. Dia memperbaiki posisi duduknya, kemudian mempersilahkan Alex untuk duduk. Sejenak dia menatap Alex tanya erang tersenyum padanya. Dia mencoba membalas senyum itu dengan tulus, meski sangat susah.


Puteri kesayangannya menikah di belakangnya dengan lelaki yang sama sekali Dwiki tidak kenal. Dia kecewa, tentu saja. Ayu sejak kecil selalu menempel padanya. Apa pun yang terjadi pada Ayu, Ayu selalu memberitahu Dwiki terlebih dahulu daripada siapapun. Meski terkesan sangat manja, tetapi Dwiki justru senang karena merasa dibutuhkan oleh anak bungsunya itu.


Dwiki ingin memarahi Ayu, juga ingin   menunjukkan amarahnya pada Alex seperti Pandu. Dia hanya mencoba berkompromi pada diri sendiri karena tahu betapa terlukanya Ayu saat gagal menikah dulu. Dia juga terluka saat itu, Arya menantu idaman menurutnya. Ya, dia juga merasa dikhianati dan sakit hati, juga hilang muka.


Setelah Dwiki pikir lagi, Ayu benar bahwa Alex adalah lelaki yang berani mengambil tanggung jawab besar. Sangat berbeda dengan Arya. Dwiki hanya perlu memastikan dia tidak menyerahkan putrinya di tangan yang salah.


"Apa alasanmu menikahi Ayu?" tanya Dwiki dengan suara berat dan tatapan tajam pada Alex.


Alex menelan ludah, gugup, tidak tahu harus menjawab apa. Di saat genting seperti ini harusnya otaknya bisa lebih encer, tidak buntu seperti saat ini. Sebelum masuk dia sudah memprediksi pertanyaan itu akan diajukan oleh Dwiki. Sialnya, kini dia Tidka bisa mengingat satu pun rangkaian kata yang telah dia rancang.


Untuk meninggalkan kesan yang baik, Alex harus menjawab pertanyaan itu dengan baik. "Saya menikahi Ayu karena ...."


Belum selesai Alex menjawab Dwiki memotongnya. "Cukup! Saya tidak peduli alasan kamu menikahi Ayu sama sekali!"


Mata Alex membesar dan mulutnya yang tadi terbuka kecil mengatup. Dia diam menatap Dwiki yang tampak serius dengan perkataannya. Alex tak habis pikir dengan perkataan itu, bukankah bagi Ayah alsan seorang lelaki menikahi putrinya itu sangat penting?


"Bagi lelaki ada banyak alasan untuk menikahi seorang perempuan. Tapi, apa pun alasannya sama sekali tidak penting, selama kamu bisa membahagiakan dan memperlakukan Ayu dengan baik." Dwiki melanjutkan.


Alex menunduk sejenak. Dia setuju dengan Dwiki, alasan memang tidak selamanya penting. Jika memilih putri Alex juga akan melepas putrinya pada seorang lelaki yang bisa membahagiakan dan memperlakukannya dengan baik, bukan pada seorang lelaki yang hanya mencintainya.


"Saya janji akan berusaha untuk membahagiakan dan memperlakukan Ayu dengan baik," ungkap Alex mantap.


Dwiki menggeleng-geleng kecil. "Tidak, saya tidak butuh janji dan usahamu!"


Alex tercengang. Apa lagi maksudnya sekarang? Apa Dwiki ingin bukti? Bagaimana Alex membuktikan bahwa dia akan membahagiakan Ayu?


"Tapi kesanggupan kamu. Kalo kamu sanggup saya tidak akan menghalangi Ayu dan berusaha membatalkan pernikahan aneh kalian itu." Dwiki melanjutkan.


Alex mengangguk. "Saya sanggup."


Dwiki mencibir. "Sanggup? Bahagia itu relatif, bagaimana kamu tau kalo kamu sanggup."


Alex memutar otak untuk menjawab pertanyaan itu. Dwiki benar, baik menurut Alex belum tentu baik menurut Ayu. Alex benar-benar bingung menjawab pertanyaan yang menjebak itu.


"Karena saya akan memberikan yang terbaik untuk Ayu," jawabnya berusaha meyakinkan.


"Terbaik macam apa? Barang mahal, bermerek atau apa?"


Alex menggeleng. "bersama dalam suka dan duka, saling mendukung dan juga melindungi Ayu."


Dwiki mengangguk sekilas. "Ayu satu-satunya anak gadisku. Yang paling manja dan perhatian. Saya dan masnya menjaga Ayu dengan sangat baik. Saat dia minta satu saya selalu berusaha memberi dua. Saya mungkin terlalu memanjakan Ayu, itu karena dia sangat berharga."


Alex menyimak dengan baik. Hidup Ayu sejak kecil pastilah sangat menyenangkan, memiliki orang tua dan saudara yang sangat menyayanginya.


Dwiki melanjutkan "mungkin nanti kalian ada masalah, jangan biarkan Ayu menangis."


Dwiki berhenti sejenak dan tampak menghapus air matanya. "Tidak, tidak apa jika dia menangis, dia memang sangat mudah menangis untuk hal kecil. Biasanya saat dia sangat terluka justru jarang menangis."


Alex bisa melihat air mata yang terus menetes di wajah Dwiki. Entah itu air mata kesedihan atau bahagia. Orang tua, apalagi di pihak Ayah biasanya memang sangat susah untuk melepas putrinya dengan lelaki lain, karena Ayah terbiasa sebagai cinta pertama putrinya.


"Kalo suatu saat kamu merasa tidak sanggup membahagiakan putri saya, kembalikan dia dengan baik." Dwiki melanjutkan dengan suara yang mulai sesak.


Penglihatan Alex mengabur, ada rasa hangat di matanya. Dia menangis. Alex tidak suka menangis, menurutnya lelaki tidak boleh menangis. Karena air mata adalah simbol kelemahan, namun melihat Dwiki menangis membuat dia tersentuh hingga melelehkan air mata.


"Saya akan tetap menjaga Ayu tetap di sisiku apa pun yang terjadi!" ucap Alex setelah menghapus setetes air mata yang lolos di pelupuknya.


Dwiki tersenyum. Dia tidak mengenal Alex, tetapi dia yakin menantunya itu bukan lelaki jahat yang akan membuat Ayu menderita. Meski pun jalan yang mereka pilih menurut Dwiki salah, tetapi belum terlambat untuk memperbaikinya.


"Jadi, kamu serius akan menikahi Ayu?"


Kening Alex berkerut dan berkata dengan hati-hati,"Saya sudah menikahinya."


Dwiki berdecak kesal. "Menikah bagaimana? Itu hanya legal saja, tidak ada upacara."


Alex memilih mengatupkan kedua bibirnya. Dia tidak ingin mendebat mertua yang baru dia temui beberapa jam yang lalu dengan teori mereka yang bertentangan. Kalau nekat, bisa-bisa besok surat pembatalan pernikahannya dengan Ayu sudah di layangkan di pengadilan.

__ADS_1


"Apa alasan kalian sebenarnya menikah dengan hanya menandatangani surat?" tanya Dwiki dengan gelengan, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Ayu dan Alex.


"Karena menikah butuh komitmen nyata, bukan sekedar janji."


Dwiki menghembuskan nafas dengan kasar. "Pernikahan itu berarti ikatan. Dokumen negara itu hanya untuk melegakan saja, semacam ikatan yang menjerat tubuh. Sementara akad dan upacara itu sebagai bentuk ikatan jiwa, bukan hanya sekedar ucapan janji dan ritual tidak berarti, juga untuk mengikat dua keluarga menjadi satu. Menikah memang hanya perlu kedua mempelai, tapi kamu pikir Ayu lahir langsung seperti sekarang. Saya dan ibunya yang membesarkan dia. Lantas kamu begitu saja mengikatnya dengan tinta dan kertas."


Alex gugup lagi. dia merasa seolah seorang penjahat yang merebut Ayu dari keluarganya. Meski merasa tersudut, Alex tidak menampik bahwa perkataan Dwiki benar. Dia dan Ayu menikah begitu saja, mengingat keluarga Ayu masih memegang teguh prinsip timur dan orang yang memiliki agama, tentu saja mereka tidak membenarkan langkah yang ditempuh Alex.


"Saya merestui kalian, tetapi nikahi Ayu dengan cara keluargaku."


Alex mengangguk dan menyetujui keinginan Dwiki. Melakukan upacara pernikahan bukan hal yang sulit bagi Alex, dia hanya perlu melatih apa yang harus dia ucapkan.


"Ayu pernah gagal menikah, kamu tau kan?" Dwiki lanjut menginterogasi.


"Iya, dengan Arya itu kan?" jawab Alex agak ragu.


Untungnya tadi Ayu sempat menyebut nama lelaki itu, kalau tidak dia bisa saja mati kutu. Rasa menyesal juga melandanya saat mulai mengerti apa arti racauan Ayu saat mabuk dulu. Selama ini Alex terus menyangka Ayu dan Richard mengkhianati Tamara. Dia salah, dan dia harus segera minta maaf pada Ayu tentang kesalahpahamannya.


"Saya selalu merasa bersalah pada Ayu. Kalau bukan karena saya yang mendesak agar mereka menikah, mungkin Ayu tidak akan pernah terluka." Dwiki kembali mengingat masa saat dia sakit melihat Ayu terluka.


Dulu Dwiki tidak tahu bahwa Arya memiliki ketakutan pada pernikahan. Dia terlanjur menyukai lelaki itu, dan berharap bisa menyerahkan Ayu untuk dia jaga. Beberapa kali dia terang-terangan berkata pada Arya bahwa dia ingin lelaki itu menjadi menantunya. Rasa bersalah itu pula yang membuatnya tidak bisa menyalahkan Arya. Dia tidak mau menilai Arya sebagai pengecut, karena tidak ada yang tahu apa yang sudah dilalui oleh lelaki itu sehingga mengalami trauma mendalam pada pernikahan.


"Terimakasih karena kamu sudah bersedia menerima Ayu. Bahkan jika kamu tidak setuju dengan caraku, saya tidak mungkin membatalkan pernikahan putriku. Untuk kebahagiaan Ayu, saya rela melakukan apa pun."


Alex bisa melihat cinta di mata Dwiki. Sejenak rasa iri merasukinya, dia juga ingin cinta dan perhatian itu.


"Jadi, saya mohon jaga putriku dengan baik. Saya tau ini terdengar tidak tau malu, tapi saya ingin semua yang terbaik untuk putri saya di masa depan."


Alex merasakan pegangan erat di pundaknya. Dia menatap lelaki paruh baya di depannya dengan dalam. Dwiki tidak perlu memohon untuk hal itu, karena sejak memutuskan untuk menikahi Ayu, Alex sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan sellau menjaga dan memberikan Ayu semua yang terbaik. Dia tahu tidak ada rumah tangga yang benar-benar sempurna, tetapi dia akan membangun rumah tangga yang   nyaris sempurna untuk Ayu.


Ayu adalah orang asing di hidup Alex, begitupun sebaliknya. Mereka hanya dua musafir yang tidak sengaja berada di waktu dan tempat yang sama. Meski tanpa cinta, tetapi mereka memiliki benang merah yang saling terjalin di jari manis mereka. Alex tidak percaya pada benang merah dan takdir, tetapi Ayu datang dan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berkuasa untuk mengatur skenario hidup manusia.


***


Ayu mondar-mandir tidak jelas di samping tangga. Kedua tangannya saling meremas, mengkhawatirkan Alex yang bisa saja salah bicara pada Ayahnya. Kalau sampai rahasia Ayu terbongkar, tamatlah riwayatnya.


"Tenang, Yu, Ayah nggak bakal melahap suamimu itu," goda Bima yang duduk di anak tangga kedua.


Ayu tidak menggubris godaan Bima. Dia masih tahu terimakasih pada kakaknya itu, yang bersedia membelanya dan Alex dari amukan Pandu.


Tangan Ayu tiba-tiba mulai keringatan. Entah kenapa akhir-akhir ini Bima seperti paranormal, terkahir kali dia juga berhasil menebak bahwa Ayu sedang mengurus kelengkapan pernikahan di kelurahan. Sekarang, kakaknya itu juga nyaris bisa mencium kejanggalan pernikahan Ayu dengan Alex.


"Mas, bisa diam nggak!" Ayu membentak agar Bima berhenti mengorek informasi.


"Kemarin aku sama Ayah baru aja dari toko HP. Katanya kamu habis minta iPhone terbaru itu, kan."


Ayu yang tidak mau menggubris perkataan Bima, tiba-tiba tertarik dan mendekat ke anak tangga.


"Ayah udah beli, katanya mau dikasih ke kamu."


Mata Ayu melebar. "Mas bohong lagi, kan?"


Bima menggeleng. "Ta, Tata!" panggil Bima pada isterinya yang kebetulan lewat dengan sebotol susu di tangannya.


"Kemarin aku dan Ayah habis beli HP, kan?"


Dita mengangguk dan tiba-tiba menampilkan wajah kesal. "Ia, dia beli HP baru lagi. Hp yang lama masih bagus, dasar boros!"


"Ayah beli HP juga buat Ayu, kan?" tanya Bima lagi pada Dita


Dita mengangguk. "Emang belum di kasih ke kamu, Yu?"


Ayu menggeleng. Sementara Dita melenggang masuk saat mendengar jeritan bayinya.


"Nah, kata Ayah juga kamu minta dibeliin tas. Ruko Ayah yang dia bilang mau dijual itu udah laku, besok udah pelunasan, Ayah mau beli tas itu juga katanya." Bima memanas-manasi Ayu


"Mas bohong, kan!" Ayu memang tidak mudah percaya.


"Tanya sama Mbak Ira, Ayah nelepon Mbak Ira buat beliin jadi Ayah tinggal transfer uang katanya."


Ayu memajukan bibirnya. Harusnya dia mengundur pertemuan keluarganya dengan Alex, bisa-bisa Ayahnya batal memberi tas dan HP baru yang dia inginkan


"Suami kamu kan kaya, jadi kamu sekarang enak nggak perlu minta sama Ayah sama Mas Pandu sama aku juga."

__ADS_1


"Enak aja, beda dong Mas." Rasa kalut Ayu menghilang diganti semangat. Lagi pula Ayu Tidka mungkin minta uang pada Alex. Toh, Alex hanya suami sementaranya, hanya sampai bayinya lahir.


"Dasar, kalo ngomong barang aja kamu semangat. Suami kamu pasti sekarang sudah dikuliti sama Ayah."


Ayu mencibir ke arah Bima. "Nggak mungkin, Ayah itu marah saja nggak bisa, emangnya Mas!"


"Mas Pandu juga jarang marah, tapi liat tadi gimana? Justru orang sabar itu lebih brutal kalo marah, bisa jadi psikopat."


Ayu berpikir sejenak, dia setuju dengan perkataan Bima. Bagaimana kalau Alex salah bicara, dan Ayah tahu kebenarannya. Siapa yang tahu apa yang akan Ayahnya lakukan pada Alex? Terlepas dari kebrengsekan Alex, Ayu rasa Alex adalah lelaki yang baik.


"Mas, kok nakut-nakutin!"


"Siapa yang nakut-nakutin, aku cuma ngomong fakta."


Termakan oleh omongan Bima, Ayu langsung melangkah menuju ruang kerja Ayahnya. Awalnya hanya berniat menguping dengan menempelkan telinga di pintu, namun tidak ada suara apa pun. Sehingga, Ayu memutuskan untuk membuka pintu dengan pelan.


Ayu bisa melihat Alex dan Ayahnya yang duduk di sofa. Percakapan mereka tampaknya sangat serius sehingga tidak menyadari keberadaan Ayu di depan pintu. Di sana Ayu sudah bisa mendengar dengan jelas percakapan Alex dan Ayahnya.


"...Untuk kebahagiaan Ayu, saya rela melakukan apa pun."


Ayu hanya mematung mendengar perkataan Dwiki. Betapa menyesalnya dia telah mengecewakan Ayahnya.


"Jadi, saya mohon jaga putriku dengan baik. Saya tau ini terdengar tidak tau malu, tapi saya ingin semua yang terbaik untuk putri saya di masa depan."


Dada Ayu seperti dihantam oleh benda keras. Dia tidak mampu menahan air matanya mendengar permohonan Ayahnya pada lelaki asing yang bahkan baru Ayu kenal sekitar dua bulan. Ayu tidak akan merasa sangat sakit jika saja Ayahnya itu memaki dan memarahinya, karena Ayu pantas mendapatkan itu.


Melihat cinta Ayahnya, justru mengoyak hati Ayu. Dia tahu Dwiki sangat mencintainya, namun Ayu tidak pernah sadar bahwa cinta Dwiki lebih besar dari apa yang pernah Ayu bayangkan. Lelaki penyayang yang memberinya kehidupan yang sempurna, dia mengecewakannya untuk kesekian kali.


Pelan, Ayu membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu. Langkahnya sangat cepat karena dia tidak ingin ada anggota keluarganya yang melihat dia menangis. Dia juga tidak menggubris panggilan Bima saat dia hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ayu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di ranjang. Posisinya tengkurap dengan tubuh bergetar. Sesekali terdengar sisakan tertahan di tenggorokannya. Kedua tangannya meremas bed cover dengan erat. Rasa sesal, marah, dan benci pada dirinya sendiri membuat air matanya semakin mengalir.


Ketukan di pintu terdengar beberapa kali. Ayu menyahut singkat sebelum bangkit untuk membuka pintu. Dia membiarkan lampu tidak menyala agar siapapun yang datang tidak melihat bekas air matanya.


Ayu membuka pintu dan di sana Alex berdiri dengan wajah yang tidak terbaca oleh Ayu. Ayu segera mundur agar tidak terkena cahaya lampu di luar kamar, bahkan Alex tidak boleh tahu dia sedang menangis.


"Kamu tidur di kamar sebelah, Lex. Aku nggak mau Mas Pandu datang mendobrak pintu dan menyeretmu keluar."


"Kamu menangis?" tanya Alex tidak sinkron dengan perkataan Ayu.


Ayu menggeleng. Dia memilih diam dan menggigit bibir agar isakannya tidak lolos. Dia sudah mencoba menahan air matanya, namun tetap saja air itu meleleh.


Alex menarik pelan tubuh Ayu dalam dekapannya. Dia bisa merasakan pipi basah Ayu dan isakan kecil wanitanya itu.


"Tidak apa-apa, menangis saja!" kata Alex sambil mengelus rambut Ayu yang lembut.


'tapi hanya malam ini, karena aku akan meyakinkan bahwa ke depannya kamu hanya boleh menangis karena bahagia.' Alex menyambung kalimatnya dalam hati.


Ayu melepas diri dari dekapan Alex setelah air matanya reda. Alex menghapus sisa air mata Ayu di kedua pipinya.


"Maaf, aku harusnya berpikir lebih panjang malam itu, aku ...." ungkap Alex dengan nada berat, namun segera dibungkam oleh Ayu


Ayu menggeleng sambil menutup mulut Alex dengan jari. Dia tidak ingin mendengar permintaan maaf Alex, karena setiap kali Alex merasa bersalah, Ayu tidak pernah bisa menyalakan Alex. Dia selalu berkahir menyalahkan diri sendiri yang ceroboh dan bodoh. Ya, dia sadar bahwa apa yang menimpanya saat ini adalah buah kecerobohan dan kebodohannya yang tidak berpikir panjang dan meneguk alkohol yang tidak pernah dia cicipi sebelumnya.


Seperti kata Alex, masih beruntung Ayu berakhir dengannya, bukan lelaki yang jauh lebih kurang ajar. Meski hal itu Tidka membenarkan apa yang dilakukan oleh Alex juga.


"Aku mau tidur," kata Ayu.


Ayu berbalik dan menaiki ranjangnya, menarik selimut dengan harapan saat dia terbangun, malam telah mengambil semua kesedihannya.


***


☺️ Maaf telat UP. Masih kurang fit, dan meskipun lagi holiday tetap harus kerja...


Dan kini aku semakin sadar Cari uang susah (curhat terselubung)


Semoga kondisi tubuh bisa lebih bersahabat dan bisa UP sebelum tahun berganti 😊


Terimakasih untuk semua vote dan komen  para bala-bala penggemar Ayu dan Alex. Di ******* ini saya menulis banyak cerita, ada beberapa yang saya hentikan publikasinya dan beberapa yang saya hapus karena merasa tidak ada motivasi berupa dukungan.


Tapi melihat kisah Alex dan Ayu yang terus mendapat dukungan dari kalian semua membuat aku sangat terharu, rasanya ingin menangis 😭


Aku tidak tau bisa membalas dengan apa selain terus melanjutkan cerita ini sampai tamat.

__ADS_1


You guys always make my day, 🥰


__ADS_2