
Tangan mungil Aleeya bergerak. Mata besarnya membuka, menampakkan warna biru yang seakan bersinar. Bulu matanya tebal dan lentik. Bibir merah bayi itu bergerak-gerak. Ia mulai merangkak keluar dari selimut.
Bayi yang sebentar lagi genap setahun itu memukul-mukul wajah Ayu yang masih pulas. Tawa riangnya memenuhi ruangan yang remang.
"Ma ma ma," racau Aleeya, tangannya masih terus memukul-mukul pipi Ayu. Seakan pipi ibunya bantal. Tawanya masih terdengar bersama panggilannya.
Ayu menggeliat di dalam selimut. Pelan, matanya membuka. Seketika senyum tersungging di bibirnya. Ia menarik tubuh kecil Aleeya dalam dekapannya.
"Anak cantik Mommy cepat benget bangunnya," ucap Ayu masih serak. Ia baru saja melihat jam dinding. Masih terlalu dini. Ia masih mengantuk, semalam ia lambat pulang karena toko sangat sibuk.
Ayu menguncir rambutnya setelah bangun dari ranjang. Aleeya sedang berdiri di atas ranjang dengan tangan terangkat menuju Ayu. Meminta untuk digendong.
"Tunggu, Sayang." Ayu hanya berkacak pinggang. "Kamu harus duduk dulu."
Aleeya menjatuhkan tubuh di ranjang dengan tawa yang masih terdengar. Bayi itu memang selalu bangun dengan ceria.
"Duduk, Sayang," pinta Ayu.
Bayi yang sedang berbaring itu memutar tubuhnya. Ia terus meracau sambil tertawa, membuat Ayu yang sedang berkacak pinggang luluh. Perempuan itu kembali ke ranjang, menyerang Aleeya dengan gelitikan. Tawa Aleeya nyaring memenuhi kamar.
Setelah bermain cukup lama di atas ranjang. Ayu membersihkan tubuh anaknya, mengganti popok juga pakaian. ASI-nya tidak begitu lancar sejak beberapa bulan yang lalu. Hingga Aleeya lebih banyak minum susu formula.
"Baik, ayo minum susu dulu."
Aleeya sudah dibaringkan di depan teve. Di sana ada karpet berbulu dan bantal kecil milik Aleeya. Juga kelinci kesayangan bayi kecil itu. Sebotol susu dipegang olehnya dengan kedua tangan.
Sementara itu, Ayu sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Aleeya. Pagi hari, biasanya ia menyiapkan buah untuk bayinya.
Saat Ayu sibuk menghaluskan pisang dan buah naga, Aleeya muncul dengan langkahnya yang pelan. Di tangan bayi itu ada boneka kelinci putih yang diseret.
"Ma-ma!" panggil Aleeya, lalu tersenyum menampakkan dua gigi atas dan satu gigi bawahnya. Mata besarnya menyipit.
__ADS_1
"Udah lapar, ya? Sabar, ya," ucap Ayu, tangannya masih terus menekan-nekan buah di dalam mangkuk.
Aleeya duduk di lantai, menarik bonekanya. Lalu menarik-narik kedua telinga boneka itu. Untuk ukuran anak dua belas bulan, ia termasuk kuat. Aleeya bahkan mulai berjalan di usia sepuluh bulan. Meski, bayi itu termasuk agak lambat berbicara. Sudah hampir setahun, dan baru bisa mengucapkan tiga kata, 'Ma-ma', 'Da-da' dan 'Ba-ba'.
Seingat Ayu, Zahra saat usia setahun, sudah bisa mengucapkan beberapa kata sederhana dalam sekali bicara. Meski tidak jelas, tetapi bisa dimengerti. Tidak apa-apa, tumbuh kembang setiap bayi tidak harus sama. Setidaknya, Aleeya tumbuh ceria dan sangat ekspresif.
"Bubu nangis kalo telinganya ditarik-tarik begitu," kata Ayu.
Aleeya tertawa dan langsung melepas bonekanya. Boneka itu tergeletak di lantai, sementara Aleeya berdiri lagi. Ia berjalan menuju tempat Ayu. Memeluk betis ibunya dengan senyum.
Suara deringan membuat Aleeya melepas pegangan di betis Ayu. Ia berjalan cepat, hingga kakinya tersandung oleh boneka. Baru saja Ayu berniat menghampiri bayinya, tetapi bayi itu sudah bangkit dengan senyum. Melanjutkan langkah menuju sumber deringan.
"Da-da, Da-da, Da-da," celoteh Aleeya saat tiba di samping meja, tempat ponsel Ayu berdering.
Di layar ponsel itu menunjukkan wajah Ayu dan Aleeya dengan nama 'Aleeya's Daddy'. Pertama kali nomor itu diberi nama 'Lelaki Berengsek'. Kedua, 'My Lovely Husband'. Ketiga, nama yang ada di layar sekarang. Untuk nama yang kedua, bukan Ayu yang mengganti, tetapi pemilik nomor itu sendiri.
Tangan Aleeya terangkat, ingin meraih benda pipih itu. Namun, ia terlalu pendek. Ayu yang sudah berada di belakang Aleeya, meraih ponsel. Begitu menerima panggilan video itu, Ayu mengarahkan layar dan kamera depan pada anaknya.
"Good morning, My dear!" Suara Alex dari ponsel masih terdengar serak, sepertinya baru bangun.
"Do you Miss me, My lil princess?" Alex bertanya yang langsung diangguki dengan ceria oleh Aleeya.
Meski belum bisa bicara, Aleeya seakan mengerti semua ucapan orang. Bisa merespon dengan baik.
"I Miss you more. Daddy Will come for your birthday, I promise!"
Ayu menyandarkan ponselnya di kaki meja, hingga Alex tetap bisa menatap Aleeya yang sedang disuapi oleh Ayu. Sejak memutuskan untuk hidup terpisah, meski tidak bercerai, mereka masih sering saling berkomunikasi. Minggu lalu, Alex bahkan menginap dua malam di rumah Ayu. Tidak sekamar tentunya.
Ayu bisa merasakan bagaimana Alex begitu peduli pada Aleeya. Setiap minggu, lelaki itu selalu menyempatkan diri untuk datang ke Jakarta demi bertemu dan bermain bersama anaknya. Aleeya tumbuh dengan ceria juga berkat Alex.
Kadang, Ayu berpikir bagaimana jadinya jika ia masih hidup bersama Alex. Aleeya-nya pasti akan lebih senang. Ia juga akan terbantu dengan adanya lelaki itu untuk membantu. Seperti, Sabtu lalu, saat Alex menginap di rumah itu.
__ADS_1
Lelaki itu bangun lebih awal, menyiapkan susu untuk Aleeya. Menyuapi bayi mereka, merawatnya dengan telaten. Mata Ayu memandang pada sofa, tempat Alex selalu duduk dengan kepala bersandar akibat kelelahan mengurusi Aleeya. Bayi itu terlalu aktif, hingga bermain dengannya butuh tenaga ekstra.
*.*.*.
Toko roti milik Ayu selalu ramai. Toko itu terletak di deretan ruko salah satu perumahan. Aleeya ikut dengannya hari itu. Ibunya sedang menghadiri undangan, sehingga ia tidak bisa menitipkan Aleeya ke sana. Marissa pun sedang ke luar negeri mengunjungi Rio.
Kemarin Ayu bertemu dengan Arum, dan ia sudah berjanji untuk berkunjung ke rumah ibu Arya itu. Ia memang kadang ke rumah Arum, kadang hanya untuk menemani perempuan itu saat sendiri. Saat Asih, perawat Arum, lkeluar.
Hari ini, pertama kali Ayu membawa serta Aleeya ke rumah Arum. Ayu sangat mengerti bahwa perempuan separuh baya itu butuh teman untuk berbagi. Setelah Arya menikah, ia pindah di rumah baru bersama istrinya. Sudah sering diajak untuk tinggal bersama, tetapi Arum terus menolak. Namun, Arya rutin menjenguk ibunya itu. Kadang juga, lelaki itu menjemput Arum untuk menginap di rumahnya beberapa hari. Saat sakit, Arum sepenuhnya tinggal bersama anak semata wayangnya.
"Cantik sekali," puji Arum yang sudah menggendong Aleeya. "Mirip sama kamu."
"Tante satu-satunya orang yang bilang kami mirip," sebut Ayu.
"Kalau dilihat satu-satu, memang tidak ada miripnya. Tapi kalo lebih diperhatikan, Aleeya sangat mirip sama kamu."
Ayu hanya tersenyum. Ia berjalan menuju setiap pigura yang menempel di dinding. Pun pada bingkai-bingkai yang tertata di atas bufet. Foto pernikahan Arya adalah yang paling besar di sana. Perempuan dengan kebaya putih dan siger perak tampak cantik dengan senyum yang sangat bahagia. Wajah mempelai lelaki di foto itu pun tidak kalah indah senyumnya.
Mata Ayu lalu tertuju pada bingkai yang ukurannya cukup besar tertempel di dinding atas teve. Itu adalah foto Ayu bersama Arum dan Arya. Foto itu diambil saat wisuda Arya bertahun-tahun yang lalu.
"Tante, tidak apa-apa fotoku di pasang di sini?" tanya Ayu saat pertama kali melihat foto itu masih ada di sana. Ada rasa tidak enak pada istri Arya jika foto itu masih dipajang di rumah itu.
"Tante suka foto itu." Arum menatap lama foto yang dimaksud Ayu.
"Aku cuma nggak enak sama istrinya Arya," jelas Ayu.
Arum tersenyum lebar. Ia menyentuh pundak Ayu dan berkata dengan lembut, "Kenapa tidak enak? Kalian sekarang sudah punya hidup masing-masing. Meski, Tante selalu berharap kami jadi menantu Tante, tapi jodoh di tangan Tuhan."
Banyak hal yang berubah oleh waktu. Cinta yang dulu disangka Ayu tidak akan pudar, luruh seiring berjalannya waktu. Sakit. Sejujurnya, masih ada sedikit luka jika mengingat bagaimana perpisahan mereka dulu. Namun, kejadian di masa lalu biarlah tetap di masanya. Ayu kini hanya ingin memusatkan pikirannya untuk berbenah diri demi putri cantiknya. Dunia perempuan itu kini hanya akan menjadi milik Aleeya.
*.*.*
__ADS_1
hai, ini novel keduaku, genre Komedi-romantis yang seru banget. Sila chat kalau berminat