Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
One Last Time


__ADS_3

Alex membuka pintu mobil untuk Ayu. Ia membawanya ke rumah Dwiki atas permintaan istrinya itu. Alex harus pulang ke Singapura karena ada kerjaan. Sedangkan, Ayu memilih untuk tetap bercerai dan ingin menetap sementara di rumah orang tuanya. Setidaknya, sampai Aleeya benar-benar sembuh.


Aleeya berada dalam gendongan Alex. Bayi itu seakan tahu bahwa ayahnya akan pergi. Ia begitu rewel, merengek dan menangis. Hanya Alex yang bisa menenangkannya. Seperti sekarang. Ayu sudah mencoba untuk mengambil bayi itu, tetapi terus ditolak, selalu saja menangis.


Tatapan Alex hanya tertuju pada bayi yang tenang di dalam dekapannya. Aleeya tidak tidur, tetapi terdiam. Hanya tangan dan kakinya yang sesekali bergerak, meninju atau menendang. Ia tidak ingin melepaskan Ayu yang berarti ikut terpisah dengan bayinya. Ia rela melakukan apa pun agar perempuan itu tetap di sampingnya.


Satu tangan Alex menyentuh pipi putrinya. Ia ingin bersama Aleeya, menyaksikan setiap tumbuh kembang bayi cantiknya. Membayangkan bagaimana Aleeya saat mulai berdiri, berjalan, dan memanggilnya Daddy. Ia ingin melihat rambut cokelat anaknya dikuncir dengan pita atau jepitan. Tidak, ia tidak mau melepaskan sumber bahagianya.


Alex berbalik menatap Ayu yang sedang duduk diam di bibir ranjang. Sisa air mata masih ada di pipi perempuan itu. Semua hari yang telah ia lalui dengan Ayu adalah saat yang paling membahagiakan baginya. Melepas Ayu berarti melepas bahagia itu sendiri. Namun, ia bingung bagaimana cara untuk menahan perempuan itu. Kalau saja hanya dengan berlutut, ia bahkan akan bersujud. Perempuan itu keras, lebih keras dari tekadnya untuk bertahan.


Selain itu, Alex juga sadar bahwa pernikahan mereka bukan ikatan tulus, melainkan ikatan di atas keterpaksaan. Sejak awal mereka telah berdiri di atas lapisan es yang tipis, hanya menunggu waktu hingga mereka terjatuh dan beku dalam kesakitan.


Ciuman lembut Alex daratkan di pipi Aleeya berkali-kali. Ada senyum di wajah bayi itu membuat senyum terulas di wajah Alex, meski masih ada air mata di pipinya. Satu tangan Aleeya yang mengepal memukul-mukul pipi Alex.


Alex tidak pernah secengeng saat ini. Setiap kali terluka, ia lebih senang memendam dan tersenyum. Namun, membayangkan bahwa dua cahaya di hidupnya akan pergi membuat ia tak kuasa menahan tangis.


"Daddy sayang Aleeya," bisik Alex saat mencium pipi bayi itu. Terdengar gumaman tak jelas dari Aleeya, membuat air mata Alex makin menetes. Tawa mulai lolos dari bibir bayi itu, entah apa yang membuatnya ceria setelah diam beberapa saat.


Gumaman-gumaman terus diucapkan oleh Aleeya. Ia mulai bergerak lincah, menendang-nendang keras.


"Daddy sayang Aleeya," ucap Alex lagi. Tawa Aleeya menggema lagi dan lagi. Alex awalnya mengernyitkan kening, kali ikut tertawa. Jika memang ia akan berpisah dengan Ayu, ia ingin sehari saja untuk melupakan kenyataan itu. Biarkan hari itu berlalu hanya dengan tawa.


"Ayu," panggil Alex yang langsung disahuti. Alex duduk di samping Ayu dengan satu tangan memegang ponsel. Ia membuka aplikasi kamera. "Ayo foto bareng!"


Ayu hanya mengangguk setuju. Mulai memasang senyum kaku pada kamera. Alex mengangkat Aleeya agak tinggi. Sebelum menangkap gambar, ia mengecup pipi Ayu.


"Cantik," puji Alex. "Lihat, kita tampak sempurna, Sayang. Kenapa harus cerai?"


Ayu menatap lama gambar itu. Kalau saja bisa memilih, ia ingin menetap di dalam hidup Alex selamanya. Namun, cinta lelaki itu untuk perempuan lain. Tidak ada pasangan yang bisa hidup bersama tanpa cinta.


"Ini yang tampak, Lex," sebut Ayu. Ia tersenyum kecil meski matanya sayu. "Hati orang tidak ada yang tau, kan."

__ADS_1


Alex terdiam. Ia asyik menatap Aleeya yang sudah memejamkan mata. Pelan ia letakkan anaknya itu di atas ranjang. Ia elus pelan kepalanya yang mulai ditumbuhi rambut yang agak lebat.


Ayu terkesiap saat Alex duduk di lantai tepat di depannya. Lelaki itu berlutut meraih jemari Ayu. Tatapan mereka bertemu, dalam dan berkaca-kaca.


"Bilang, Yu, aku harus melakukan apa agar kamu bisa tetap di sampingku? Bilang apa yang kurang dan akan aku coba untuk penuhi."


Ayu membuang muka. Ia menggeleng, "Kamu tidak kurang apa pun, Lex. Ini bukan salah kamu. Aku ... aku yang salah." Ya, perpisahan itu adalah salah Ayu, karena tidak mampu mengganti tempat Tamara di hati Alex.


"Aku boleh minta satu hari ini bersamamu. Satu hari saja lagi, pura-pura bahwa kamu mencintaiku," pinta Alex.


***


Ayu berdiri di samping jendela kaca yang besar. Ia menatap kejauhan, pada lampu-lampu kota yang berkerlip. Alex sedang berada di kamar mandi, mengganti popok Aleeya.


"Mommy, mommy, mommy." Suara itu mengalihkan pandangan Ayu. Dari arah kamar mandi lelaki itu berlari kecil sambil menimang Aleeya yang tertawa bahagia.


Dada Ayu seakan dihantam benda berat. Ia berbalik pada jendela, tidak tahan dengan sesak dan hangat di matanya. Bagaimana bisa ia melepas Alex saat senyum saja bisa membuat hati Ayu menghangat.


Ayu berbalik. Tangannya terjulur untuk meraih Aleeya. Bayi itu meronta, tangannya bergoyang-goyang ke arah Alex. Tidak ingin berjauhan dari ayahnya itu.


"Daddy di sini," ujar Alex, ia mengecup dua pipi Aleeya membuat bayi itu terkekeh lagi.


Aleeya mendadak tidur saat masih disusui. Ia diletakkan di ranjang, tepat di samping gelas dan botol anggur. Mata Satu menatap benda itu.


"Aku sebenarnya mau datang berdua dengan kamu," ungkap Alex, "tapi kasian Aleeya kalo ditinggal."


Suara botol yang terbuka mengalihkan pandangan Ayu. Botol anggur yang dulu diberikan Gio sebagai hadiah telah terbuka, dituanh oleh Alex di salah satu gelas.


"Mau?" tawar Alex yang dibalas Ayu, "Aku tidak minum alkohol."


Alex mengangguk, menggoyangkan gelas pelan dan menghirup aroma dari gelas itu. Satu tegukan minuman berusia puluhan tahun itu melewati kerongkongannya.

__ADS_1


"Setahun yang lalu, kita di kamar ini," tutur Alex getir. Ia mengembuskan napas kasar, tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia meneguk minuman lagi, menuang dan meminum beberapa kali. Sialnya, sebanyak apa pun yang ia minum, tidak akan mabuk.


"Apa kamu masih menyesal karena malam itu?" tanya Alex menatap Ayu yang menunduk.


Angan Ayu melambung jauh. Jika pertanyaan Alex ditujukan pada Ayu sebelum mereka memulai rumah tangga, tentu ia menyesal, amat menyesal. Namun, dengan segala perhatian yang diberikan oleh lelaki itu, mana mungkin Ayu menyesal. Kehadiran Alex dan Aleeya adalah hal ajaib yang pernah hadir di dalam hidup Ayu.


Ayu terbiasa dengan cinta dan perhatian sejak kecil, tetapi Alex datang membawa cinta di hati Ayu dalam bentuk yang berbeda. Lebih besar dan menyenangkan, hingga kecewa yang ditimbulkan pun lebih dalam. Kalau saja perempuan itu bukan Tamara, Ayu akan memasang muka tembok, pura-pura tidak tahu dan menahan Alex di sisinya selamanya.


"Ya, aku menyesal. Kalau bukan karena malam itu, aku masih dengan kehidupan bebasku," ungkap Ayu berbohong. Ia menahan aliran air mata yang mendesak untuk keluar. Semakin ia berbohong, semakin ia sesak.


"Aku tidak menyesal, Yu. Tidak akan pernah. Bahkan jika harus diulang, aku akan mengulanginya lagi dan lagi, kalau itu akan menahanmu," balas Alex, lalu meneguk habis anggur di gelasnya. Tangannya yang memegang gelas kosong menggantung di udara. Rencananya sebelum meninggalkan Singapura sangat sempurna. Menghabiskan hari bersama Ayu mengenang malam yang penuh dosa tetapi disyukurinya.


"Sesuatu yang dimulai dari kesalahan tidak akan berakhir baik, Lex. Seperti kita. Malam itu kesalahan. Aku bahagia memiliki Aleeya, tapi kalau bisa memilih aku mau memiliki Aleeya dari hubungan yang benar," ungkap Ayu masih berusaha menahan desakan air matanya.


"Kesalahan harusnya diperbaiki, Sayang. Bukan diakhiri dengan kesalahan lain," papar Alex. Ia meraih tangan Ayu, menggenggamnya erat. "Kamu tidak kasihan dengan Aleeya. Kamu tega memisahkan aku dan Aleeya."


Ayu menggeleng menyanggah, "Aku lebih kasihan pada Aleeya kalau di harus tumbuh di tengah orang tua yang tidak memiliki cinta."


"Aku mencintaimu," ungkap Alex dalam hati. Dulu, kaya cinta itu mudah keluar dari bibirnya. Namun, malam ini ada sesuatu yang menahannya, ketakutan akan penolakan dari Ayu.


"Bercerai pun, kami tetap ayahnya Aleeya. Kami tetap bisa bermain dan bertemu Aleeya kapan pun kamu mau."


Alex tahu hal itu, hubungannya dengan Aleeya tetap ayah dan anak hingga kapan pun. Namun, situasi mereka tidak akan lagi sama. Akan ada sekat yang memisahkan mereka. Bayangan akan dirinya di masa lalu kembali menghantui. Saat ia menangis dalam sepi dan sendiri.


"Setelah kita bercerai, kamu mungkin akan memulai hidup baru. Bagaimana dengan Aleeya, terlantar dan kamu lupakan?" Air mata Alex menetes lagi. Ia tidak akan sanggup membiarkan anaknya yang sangat ia sayangi mengalami masa sulit sepertinya.


Ayu bergeser mendekat pada Alex. Bibirnya mulai menyusuri garis rahang lelaki itu, mundur di samping telinga dan berbisik, "Bukannya kita ke sini untuk melupakan perceraian."


Gelas yang tadi masih ada di satu tangan Alex jatuh di karpet begitu saja. Lelaki meletakkan kedua tangannya di pipi Ayu. Ia menempelkan keningnya lama di kening perempuan itu sambil memejamkan mata.


Benar, mereka ke tempat itu untuk menyembunyikan luka yang tercipta. Berpura-pura bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Bahwa makan itu akan menjadi malam panjang yang tidak berakhir. Namun, semakin kulit mereka menyatu, semakin sakit pula jarum itu menusuk hati masing-masing. Dua hati yang berdarah menyembunyikan cinta yang sama.

__ADS_1


***


__ADS_2