
Alex sudah berdiri di samping pintu mobil menunggu Ayu. Perempuan itu muncul di balik pintu dengan senyum sambil berlari-lari, membuat Alex sangat khawatir dan segera mendekat.
"Kamu sangat senang, huh?" tanya Alex mengehentikan langkah Ayu.
Ayu terus memasang senyum cerahnya. "Ya, sangat senang."
Katanya senyum itu mudah menular, mungkin dengan tersenyum Ayu bisa menularkan bahagia pada Alex. Orang ceria saat bersedih sangat memilukan.
"Aku senang kalo kamu senang, Yang. Tapi, hati-hati kan lagi hamil."
Mata Ayu membesar. Dia benar-benar lupa kalau dia sedang hamil, pasalnya hari ini dia tidak mengalami mual sama sekali. Hanya sekali, saat dia di toko dan ada parfum yang sangat menyengat indera penciumannya.
Mereka melangkah menuju mobil. Ayu masuk setelah Alex membuka pintu untuknya. Mobil itu melaju pelan karena lajunya dihambat oleh kendaraan yang padat di jalan.
"Mau dengar musik?" tanya Alex.
"Ya, boleh." Ayu menjawab dengan canggung karena melihat Alex yang masih seperti sebelumnya.
Tangan Alex mulai bermain pada layar monitor ukuran sekitar 7 inci. Musik mulai mengalun pelan, menutupi keheningan yang bertahan untuk waktu yang lama di dalam mobil itu.
Suara Amy Lee menggema membawakan lagu andalannya yang bertajuk My Immortal. Ayu sangat akrab dengan lagu itu karena Mas Pandu dulu dering memutarnya di rumah.
"... When you cried I'd wipe away all of your tears. When you Scream I'd fight away all of your fears...." Ayu ikut bersenandung di bagian chorus lagu itu. Namun, berhenti saat HP-nya terus bergetar.
Dia menerima sebuah panggilan dari Karin.
"Bilang kalo itu nggak bener!" pekik suara dari telepon.
Ayu menjauhkan sebenatr HP-nya dari telinga.
"Kamu menikah dengan Alex?" tanya Karin lagi masih dengan suara memekik.
Ayu melirik sekilas pada Alex. Tempatnya lelaki itu sedang terfokus pada jalanan dan tidak memperhatikan Ayu yang sedang menerima telepon.
"Aku lagi di jalan, aku hubungi nanti, ya." Ayu mencoba untuk mengakhiri sambungan telepon.
Karin Tidka menyerah dan terus mencecar Ayu. "No way! Jangan mengelak, Yu. Aku udah telepon Tamara tadi, dan dia bilang Alex belum ada kabar." Dia melanjutkan, " aku kenal sama Armita, dia bilang nama isteri Alex itu Ayu. Itu kamu, kan? Atau kamu lagi bareng Alex sekarang?"
Ayu menyerah, tidak ada gunanya menyembunyikan pernikahannya. Lagipula, pernikahan biru memang dilakukan agar semua orang tahu dan tidak ada masalah jika perut Ayu mulai membesar nanti. Ayu menolak memberitahu Karin bukan karena dia ingin merahasiakan kabar itu. Dia hanya ingin menunggu saat yang tepat agar bisa menjelaskan dengan baik.
"Iya, itu aku. Nanti aku telepon lagi, ya!" Ayu membalas dengan suara kecil.
Tanpa menunggu balasan Karin, Ayu mengakhiri panggilan. Dia melirik lagi pada Alex yang menampilkan wajah tenang dan tatapan lurus ke luar di jalanan.
Suara Amy Lee telah digantikan dengan suara Marion dan Marit dalam lagu The day you went away. Dahi Ayu mengerut mendengar lagu itu, dua lagu yang diputar oleh Alex adalah lagu dengan lirik dalam tentang perpisahan. Dengan iseng, Ayu membuka folder yang berisi lagu di touchscreen mobil. Hampir keseluruhan lagu di folder itu adalah lagu era awal 2000-an, dan genre balada.
Ayu memutuskan untuk mematikan musik itu. Mendengar lirik menyedihkan dalam suasana hening hanya membuat Ayu semakin sedih. Melihat Alex yang tidak bereaksi dengan musik yang berhenti, membuat Ayu menunduk. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan sikap Alex sekarang.
__ADS_1
Kemarin Ayu selalu berharap Alex bisa diam dan berhenti menjahilinya, namun melihat lelaki itu benar-benar diam justru membuat Ayu frustrasi. Meski terkesan tenang, tetapi Ayu bisa melihat bertapa berat tekanan yang sedang dirasakan oleh Alex.
Sejenak Ayu berpikir tentang hak yang mengganggu pikiran Alex. Pun mulai menyimpulkan bahwa mungkin pernikahan mereka lah yang membuat Alex sangat tertekan. Ya, bukankah Alex pernah mengatakan bahwa dia adalah penganut monogami? Terjebak dalam pernikahan yang tidak dia inginkan seumur hidup tentu sanagt menyiksanya.
"Yu, Hp kamu dari tadi bergetar terus."
Ayu memalingkan wajah ke arah Alex. Kapan terkahir kali dia mendengar suara lelaki itu? Sebenarnya baru beberapa menit yang lalu, namun hening dan sepi membuat Ayu merasa seakan ribuan tahun tidak mendengarnya.
Ayu beralih pada HP-nya. Dia mendengar dan merasakan getaran HP itu, dia hanya terlalu asyik dengan pikirannya sehingga mengenyampingkan getaran itu. Lagipula, itu hanya tanda pesan WhatsApp yang masuk berkali-kali, bisabajdi pesan di grup pekerjaan.
Beberapa pesan memang masuk dari grup pekerjaan, namun sebagian besar dari pesan itu berasal dari grup keluarganya. Dalam Grup dengan nama FamSquad ada sekitar 59 pesan yang belum dibaca oleh Ayu, sepertinya sudah terakumulasi dengan pesan dari sore tadi.
Ayu mulai memanjat hingga pesan teratas. Matanya membulat saat melihat isi pesan yang semua membahas tentang dirinya. Itu semua karena screenshot dari akun gosip yang dikirim oleh Mbak Dita.
Mbak Ira: ih, mirip banget sama Ayu.
Ibu: Adekmu itu?
Mas Bima: bukan, Bu! Cuma mirip (emoji ketawa)
Mbak Dita: kayak kembar, ya. Jangan-jangan dia kembaran Ayu yang hilang.
Mas Pandu: Kok ya, mirip banget?
Ibu: Ayah mu marah, adekmu jangan di-bully katanya.
"Alex, aku mau pulang ke rumah aja," ungkap Ayu.
"Bukannya kita mau ke rumah orang tua kamu."
Ayu menggeleng dan terdiam.
***
Ayu melempar tasnya asal di ranjang. Kemudian menjatuhkan pantat di sudut ranjang. Kepalanya menunduk dan kedua tangannya meremas bedcover erat. Bahunya mulai bergetar, disertai isakan kecil. Dalam hati dia mulai mengeluh lagi, menyesali kesalahan bodohnya.
Sementara Alex sejak memasuki rumah hanya duduk di sofa sambil bersandar dengan kedua tangan direntangkan di lengan sofa. Dia masih terus dihantui oleh perasaan tak berharga, terabaikan, dan kesepian. Masa kecil yang suram itu tidak ingin Alex rasakan lagi.
Ya, Alex tidak akan menjadi anak kesepian itu lagi. Alex memiliki Ayu, perempuan yang akan selalu menemaninya-- menghapus rasa sepinya.
Alex bangkit, dia harus menemui Ayu sekarang. Namun, dia menunggu lama untuk mendekat pada Ayu. Alex memilih berdiri di depan pintu yang terbuka, saat melihat Ayu tertunduk sambil terisak. Perasaan bersalah menyerang Alex, dia telah membuat Ayu menangis lagi dan lagi, padahal dia sudah berjanji tidak akan membuat perempuan itu bersedih.
Ayu menghapus air matanya, kemudian mendongak. Dia mendapati Alex berdiri di pintu masuk. Mata mereka beradu singkat sebelum Ayu memalingkan wajah.
Kini Alex mendekat dan ikut duduk di samping Ayu. Tadu sebelum menyusul, dia sudah merancang beberapa kata untuk dikatakan pada Ayu. Tetapi, tiba-tiba dia kehilangan semua kata itu, sehingga dia hanya diam.
"Lex!"
__ADS_1
Alex hanya ber-ehm pelan.
Ayu diam sejenak, dan menarik napas panjang. "sebaiknya kita pikirkan lagi, pernikahan kita."
Mulut Alex terbuka sedikit, kemudian menarik kedua sudut bibirnya ke samping. Dia tidak mengerti dengan maksud Ayu.
"Pikirkan bagaimana?"
Ayu menenangkan diri sedikit sebelum menjawab. "aku bisa memendarkan anakku sendiri, Lex. Masalah ibu tunggal, aku pikir aku bisa mengatasinya juga."
Dada Alex bergemuruh, dia tidka menyangka Ayu akan mengatakan hal gila yang tidak pernah terpikir kan sedikit pun oleh Alex. "Kamu pikir aku lelaki yang suka lari dari tanggung jawab?"
"Tidak, Lex! Aku cuma tidak mau kamu terbebani dengan pernikahan yang tidak kamu inginkan." Ayu menjelaskan kemudian melanjutkan, "dan juga tidak kuinginkan."
Ayu menggigiti bibirnya. Tentu saja dia tahu konsekuensi dengan menjadi ibu tunggal. Membesarkan anak tanpa suami, secara finansial dan dukungan lainnya tidak menjadi masalah bagian Ayu. Dia hanya menakutkan perasaan keluarganya dan juga anaknya, namun dia akan melawan semuanya. Dia tidak harus membuat Alex terjebak demi filosofi hidupnya.
Untuk keluarganya, Ayu yakin mereka bisa memaafkan Ayu. Mungkin mereka akan kecewa, tetapi mengingat bagaimana Ayah memanjakan dan menyayanginya; Ibu yang kadang mengomel, namun kadang lembut padanya; Mas Pandu yang selalu bijaksana; Mas Bima yang memang sering kali mengganggunya, tetapi dia juga orang yang sama yang rela babak belur untuk membela Ayu. Mereka keluarganya, dan mereka Tidka mungkin mengabaikan Ayu karena kesalahan yang sudah dia perbuat, meski itu akan menjadi aib keluarganya.
"Aku tidak menganggap anakku beban Sam sekali, Yu!" ungkap Alex dengan suara lebih keras.
"Tapi aku dan anak ini hanya akan menghancurkan pernikahan impian kamu!"
Alex mengacak rambutnya frustrasi. Dia tidak menyangka Ayu masih memikirkan hal itu. Meskipun Ayu tidak pernah masuk dalam rencana masa depannya dulu, tetapi gambaran masa depannya saat ini hanya Ayu dan anaknya.
Setelah terdiam beberapa menit, Alex mulai berbicara. "Kamu tau apa yang paling berharga di dunia ini, Yu."
Ayu hanya menatap Alex, tanpa menjawab.
"Bukan harta atau kekuasaan, tetapi keluarga." Alex melanjutkan.
Ayu setuju dengan hal itu. Dia semakin merasa bersalah pada keluarganya, mereka adalah milik Ayu yang sangat berharga.
"Aku punya dua ibu dan dua ayah, dua saudara dari ibu yang berbeda dan dua saudara dari ayah yang berbeda," ungkap Alex dengan senyum getir, "jumlah yang sanagt besar dari orang lain. Tapi, tidak membuat aku lebih bahagia dari orang lain."
Ayu menangkap kesedihan yang sama saat Alex di rumah Marissa tadi. Mungkin dia salah paham mengenai kesedihan Alex.
"Aku memiliki banyak anggota keluarga, tapi lebih sering merasa tidak memiki keluarga sama sekali. Sejak kecil selalu merasa terabaikan." Alex menambahkan.
Wajah Alex berubah lebih berseri saat meraih tangan Ayu. " Mengingat bahwa kita sudah menikah dan akan memiliki bayi yang lucu membuat aku merasa memiliki keluarga yang utuh, Yu."
Pipi Ayu memerah, matanya terus tertuju pada lelaki Yang sedang menggenggam jemarinya. Sekarang Ayu mengerti dengan ekspresi Alex siang tadi, kenapa lelaki itu terlihat sangat berbeda di tengah keluarganya sendiri. Alex adalah lelaki kesepian meski memiliki segalanya.
"Aku mau kamu jadi keluargaku, menjadi harta yang paling berharga yang selalu berada di sisiku."
Ayu senang mendengar hal itu, di terenyuh dan mulai menangis. Alex yang jahil dan selalu Ayu panggil brengsek, selain memiliki sisi manis, juga memiliki sisi kelam.
***
__ADS_1
part sebelumnya ada kesalahan penulisan part 😁