
Ayu menatap Aleeya yang sudah pulas di ranjang. Dia masih duduk di depan bangku rias, sedangkan Alex duduk di sampingnya setelah menarik kursi yang berada di depan meja kerja Ayu.
"Aku minta maaf," ucap Alex menggenggam jemari Ayu.
Ayu diam. Dia menunduk menatap jemarinya yang penuh hangat dalam genggaman Alex. Entah bagaimana caranya agar dia bisa berterus terang pada lelaki itu, bahwa dia cemburu. Dia menggeleng cepat begitu menyadari pikirannya. Tidak, dia tidak akan pernah mengatakannya.
"Aku capek, Lex," keluh Ayu. "Setiap hari aku hanya di rumah, menjaga Aleeya. Menggendong, menimang, menyusui, kadang aku bahkan tidak bisa mandi dengan baik. Saat di toilet saja, aku harus cepat-cepat karena dia menangis," tambah Ayu mulai terisak.
Alex terdiam, tatapannya terus tertuju pada Ayu. Dia tak pernah tabu bahwa Ayu tersiksa selama beberapa bulan ini.
"Aku bukannya tidak senang merawat Aleeya. Tapi, ini berat Lex. Aku ...," ungkap Ayu yang terpotong karena tangisnya. Dia menggigit bibir. Benar, dia memang kadang lelah mengurus Aleeya. Dia kadang merindukan hidup bebasnya saat masih gadis. Namun, dia menangis dan memotong ucapannya, karena dia takut justru akan mengungkapkan bahwa dia tak ingin Alex bertemu dengan Tamara.
Alex beringsut dari kursi. Dia berlutut dan berucap lirih, "maaf, Sayang."
Alex merasa bersalah. Bagaimanapun juga, kehamilan Ayu sangat tiba-tiba. Selama ini, dia sangat egois. Dia memaksa Ayu untuk terjebak dalam kehidupannya yang sepi. Dia membuat Ayu meninggalkan kehangatan keluarganya. Dia juga yang membuat Ayu harus merawat bayi saat perempuan itu belum siap sama sekali.
Alex mencium tangan Ayu beberapa kali. Air mata mulai menetes di pipinya. Ayu adalah perempuan yang selalu berada dalam dekapan hangat keluarganya. Perempuan itu selalu hidup penuh cinta dan perhatian. Dengan tega, Alex memaksanya masuk ke dalam dunianya yang sepi, dunianya yang dingin.
Dalam lubuk hatinya, Alex tahu bahwa sebanyak apa pun cinta dan perhatian yang dia berikan, itu tidak akan pernah menggantikan apa yang pernah Ayu dapat di keluarganya.
Memiliki Ayu dan Aleeya adalah oasis bagi Alex. Dia terlalu bahagia, dan lupa bahwa Ayu melepas oasisnya untuk dirinya.
"Aku bukan suami yang baik, maaf," ucap Alex lagi membuat Ayu menggeleng.
"Tidak," Isak Ayu. "Kamu baik, sangat baik."
Ayu melingkarkan tangannya di punggung Alex saat lelaki itu memeluknya. Alex sangat baik padanya, tetapi kadang dia ingin lebih dari sekadar perhatian. Dia ingin lebih dari pelukan. Dia menginginkan Alex, benar-benar Alex.
Jika pernikahan hanya tentang baik atau tidaknya pasangan, maka bagi Ayu, Alex adalah sosok tanpa cela. Lelaki itu memiliki semau material dari suami idaman. Namun, bukan itu yang penting. Mungkin bagi Alex cinta dalam pernikahan itu bukan sesuatu yang penting. Terdengar klise, tetapi bagi Ayu cinta adalah hal yang utama. Menurut Ayu, cinta adalah roda yang menggerakkan pernikahan.
"Aku akan berusaha untuk lebih baik lagi, Sayang. Aku akan mencoba membagi waktu untuk kamu dan Aleeya."
Ayu terdiam. Bukan itu yang dia inginkan. Dia hanya ingin hati Alex, utuh untuknya dan Aleeya. Namun, dia tahu bahwa hal itu mustahil, karena di hati Alex hanya akan ada Tamara, selalu Tamara.
"Kamu baik Alex. Aku tidak bisa meminta yang lebih baik lagi. Aku hanya tidak suka kamu bohong. Aku tahu kami bosan, kamu butuh hiburan. Aku juga begitu, aku juga kadang lelah. Aku mau menghabiskan waktu sendiri." Biarlah Ayu menumpahkan kesalnya yang lain, sedangkan perihal Tamara akan dia simpan sendiri. Dia juga yakin Tanar tidak mungkin memiliki ketertarikan pada Alex. Perempuan itu memiliki Richard.
"Kalau begitu, aku akan menjaga Aleeya seharian di hari Minggu. Kamu bisa berlibur hari itu, bagaimana?"
Menjadi ibu adalah pekerjaan 24/7, tidak ada libur bahkan sedetik pun. Alex mungkin bekerja, tetapi dia memiliki waktu istirahat, waktu libur, cuti, bahkan bisa atur jadwal. Sementara, Ayu yang menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya berada di rumah.
Rasa bersalah menyerang Alex. Hanya karena sehari begadang semalaman, dia langsung suntuk dan memilih berbohong untuk pergi ke tempat hiburan malam. Bagaimana dengan Ayu, yang selama sembilan bulan tersiksa karena hamil dan mengandung. Dia juga masih ingat saat perempuan itu kesakitan saat melahirkan. Dia egois, sangat egois.
Selama tiga bulan Aleeya lahir, dia sering membantu Ayu. Dia merasa cukup dengan itu. Dia salah, apa pun yang dia lakukan tidak akan pernah cukup jika dibandingkan dengan pengorbanan Ayu.
__ADS_1
"Kalau nanti kamu merasa sebal dengan tingkahku, bilang, ya? Aku tidak sempurna, Sayang. Tapi, aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kamu dan Aleeya," ucap Alex seraya mengecup kening Ayu lama. "Kamu dan Aleeya adalah segalanya bagiku."
Ayu mengangguk pelan. Dia berusaha melupakan semua kebimbangan di hatinya. Sudah hampir setahun dia mengenal Alex, tidak sekali pun lelaki itu tidak menurut inginnya.
***
Alex melingkarkan tangan di pinggang Ayu. Istrinya itu sudah lelap setelah menangis sekitar setengah jam. Sebenarnya dia takut tangis Ayu terdengar di kamar sebelah, di mana Pandu serta anak dan istrinya tidur. Tadi, keluarga Pandu dan Bima datang. Bima pulang, sementara Pandu memilih menginap dan pulang di pagi hari.
Alex masih ada urusan kerjaan di Singapura. Dia akan pulang siang besok, entah Ayu mau ikut atau tidak. Setidaknya, kini masalah mereka sudah selesai. Mereka tadi bicara cukup lama. Dia akan memberikan waktu lebih banyak untuk Ayu bersama keluarganya. Jika Ayu dan Aleeya di Jakarta, banyak orang yang akan membantu istrinya itu mengurus Aleeya.
Sebelum terlelap, Alex sempat menengok Aleeya yang juga sudah pulas. Bayi itu berada di sisi Ayu dan dikelilingi bantal.
Pagi-pagi, Ayu sudah bangun karena mendengar gumaman Aleeya. Bayinya tidak langsung menangis, tidak seperti biasanya. Dia langsung mengajak Aleeya bicara seakan bayi itu mengerti, atau mungkin dia mengerti, entah.
"Lagi senang, ya?" tanya Ayu menepuk-nepuk paha anaknya. Aleeya langsung tertawa dengan menggerakkan semua anggota geraknya.
Alex menggeliat kecil di samping Ayu. Dia melirik sekilas dan tersenyum kecil. Pagi yang menyenangkan, dia terbangun di samping dua orang yang sangat dia cintai. Ah, sejak kapan dia mencintai Alex. Bukankah dulu dia membenci lelaki itu. Bohong, mana bisa dia menghindar dari panah sang Cupid jika lelaki itu Alex, sosok penyayang yang penuh kasih dan tanggung jawab.
Aleeya terus menggumam, tatapannya tertuju pada ibunya. Gusinya yang belum ditumbuhi gigi terlihat menggemaskan dengan pipi yang gembul. Seluruh yang dia miliki menggoda Ayu untuk menciuminya.
"Sayangnya Mommy menggemaskan sekali." Ayu mencium kedua pipi Aleeya bergantian. "Lapar ya, Nak? Oh, Sayang." Dia mengangkat Aleeya dalam gendongannya, menimang lama. Senyum merekah di wajahnya, bersama hatinya yang menghangat.
Alex terbangun. Matanya membuka pelan, lantas terenyuh melihat Ayu yang sedang menggendong Aleeya sambil mengobrol. Dia angaky badan sedikit dan melingkarkan tangan di pinggang Ayu, menyusupkan kepala untuk mencium Aleeya.
"Good morning, Kesayangan Daddy," ucap Alex dengan suara serak khas orang baru bangun.
Alex mencium Aleeya hingga bayi itu terkekeh. Dia sangat merindukan bayinya, rindu berbincang, mendengar tawanya, juga aroma bayi bercampur minyak telon. Dia mencintai Aleeya, cinta yang jelas berbeda dengan cinta yang pernah dia rasakan.
Dia menatap Aleeya lagi. Dia sering menggendong bayi, dia bahkan sudah menggendong Reyhan sejak dia kecil. Adiknya, Michele yang sudah setahun bulan juga pernah ia gendong. Namun, dari seluruh bayi, Aleeya adalah yang paling lucu, menyenangkan, dan menggemaskan.
"Anak Mommy lapar," ucap Ayu beringsut menaiki ranjang. Dia meraih Aleeya, membiarkan Alex untuk membersihkan diri, sementara dia sendiri menyusui Aleeya.
***
"Kamu tidak kerja?" tanya Pandu begitu ikut duduk bersama Alex di ruang tengah. Alex sedang bermain dengan si kembar juga Aleeya di depan teve.
"Nanti siang baru balik."
Pandu tersenyum kecil. "Ayu merepotkan, ya."
Alex menggeleng-geleng. "Tidak!"
Pandu menepuk pundak Alex pelan sebelum mangajak anak kembarnya untuk segera diantar ke sekolah.
__ADS_1
"Aku masih mau main sama Dedek Aleeya," rengek Lara.
"Nanti pulang sekolah baru main lagi," kata Pandu.
"Dedek Aleeya sudah mau pulang nanti siang," kata Tara.
Lara mencium Aleeya keras hingga bayi itu tak nyaman.
"Nanti Dedek Aleeya datang lagi, kok," ujar Alex. Dia mengelus betis Aleeya berharap bayi itu tidak menangis karena ciuman ganas si kembar bergantian.
"Ayo, Nak. Ayah juga harus pergi kerja," bujuk Pandu. "Bunda marah loh kalau tunggu lama."
Anak kembar itu pun melambai pada Alex juga pada Aleeya.
"Sayang, jangan nangis!" hibur Alex menimang Aleeya yang mulai merengek. "Kakaknya cuma gemas sama Aleeya, seperti Daddy." Alex mencium Aleeya pelan.
Ayu baru selesai mandi, dia menghampiri Alex dan Aleeya.
"Mama minta kita ke rumah siang nanti," kaya Ayu meletakkan dagu di bahu Alex.
"Aku harus pulang siang ini, Sayang."
"Kamu tidak mau ke rumah Mama?"
"Bukan tidak mau, tapi aku harus kerja."
Ayu mencebik. "Ngapain ke sini kalau begitu?"
Alex tertawa kecil. "Kamu 'kan lagi ngambek--" dia mencubit hidung Ayu, "Kalau aku tidak datang, kamu pasti marah."
Ayu cekikikan dan memeluk Alex. Dia sangat bahagia, bisa berada di rumah orang tuanya, rumah hangat yang selalu dia rindukan bersama dengan Alex dan Aleeya. Hidupnya yang sudah lengkap, semakin sempurna. Entah kebaikan apa yang pernah dia lakukan, hingga bisa mendapatkan hidup seindah saat ini.
"Kamu pulang sendiri? Aku dan Aleeya bagaimana?"
"Besok aku ke sini lagi untuk menjemput."
"Dasar boros!"Buang uang bayar tiket pesawat. Uangnya bisa dipake untuk tabungan Aleeya."
Aleeya bergumam di gendongan Alex.
"Nah, kan, Aleeya saja setuju," ucap Ayu mengelus pipi Aleeya.
"Sifatnya gak jauh-jauh dari kamu kalo masalah uang, Sayang."
__ADS_1
Ayu terkekeh mendengar ucapan Alex. "Harus, anakku harus realistis, uang itu penting. Iya 'kan, Nak."
***