
Dari kemarin Ayu memang sangat manja dan manis. Namun, sedetik yang lalu darah Alex mendidih mendengar pengakuan perempuan itu.
"Jangan berani kamu memberi nama anakku dengan nama itu!" ancam Alex.
Siapa yang akan senang jika anaknya diberi nama lelaki yang merupakan mantan kekasih isterinya. Baru saja Ayu mengaku ingin memberi nama anak lelakinya Arya. Perempuan itu beralasan ingin terdengar sama dengan pilihan Alex yaitu Aleeya.
Alex sebenarnya tahu bahwa kemungkinan besar Ayu hanya bercanda, apalagi setelah melihat perempuan itu tertawa. Namun, dia tidak bisa terima bahkan jika hanya sekedar candaan. Menurutnya, Ayu harus mencoba mengerti perasaan Alex sebagai ayah anaknya.
"Memangnya ada apa dengan nama Arya? Artinya bagus tau!"
Alex menatap Ayu dengan tajam. "Tidak! Untuk apa memberi nama anak kita dengan mantan kekasihmu itu?"
"Sekalian untuk mengenang masa lalu, 'kan?" ucap Ayu dengan santai. Dia tidak tahu saja bahwa Alex siap mencekik lelaki yang dimaksud Ayu jika saja lelaki itu ada di depannya.
Alex menarik Ayu dan melingkarkan tangannya di pinggang isterinya itu. "Sungguh! Kamu berani melakukannya?"
Ayu merasakan sentuhan bibir Alex di cekungan lehernya. Lelaki itu pasti sedang mempermainkannya.
"Kamu yakin akan kembali ke Singapura?" tanya Ayu yang mengelak dari ciuman Alex, "aku mungkin akan menemui Arya setelah kamu pergi."
Alex membalikkan tubuh Ayu menghadapnya. Dia menatap wajah yang sedang tersenyum penuh puas itu.
"Kamu akan menemuinya?"
Ayu mengangguk kecil. Dia sedang menikmati wajah cemburu Alex. Dia tidak menyangka bermain dengan Alex akan menyenangkan seperti ini.
"Ya, hanya menemuinya?" ucap Ayu santai.
Dia menekan pipi Ayu dengan satu tangan. "Kamu yakin, Sayangku?"
Ayu tertawa, meski tawanya tidak begitu jelas karena kedua pipinya tertekan sehingga mulutnya maju. Lantas, perempuan itu maju dan memeluk Alex.
"Makanya, tinggal di sini saja!" pinta Ayu dalam pelukan Alex.
Alex tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Ayu. Dia tersenyum, akhirnya permainan Ayu berakhir. Dia bisa memeluk perempuan itu sebelum berangkat ke bandara satu jam lagi. Kalau Hanau ingin melarang Alex pergi, harusnya Ayu tinggal bilang saja dan tidak perlu membuat Alex marah dulu.
"Aku juga tidak ingin pergi, tapi ada sedikit masalah yang ahrus kuurus," tutur Alex.
"Kalo aku mau makan siapa yang memasak? Aku mau pergi kerja, siapa yang antar?" keluh Ayu.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu mau aku tinggal sebagai suami, atau koki dan sopir?"
Ayu cengengesan, lalu membalas, "semuanya."
"Aku akan pulang begitu urusanku selesai," janji Alex.
Ayu mengangkat wajah menatap dagu Alex. "Beneran?"
Alex menaruh bibirnya di kening Ayu lama, dan berpindah di pipi perempuan itu.
"Ya, mungkin hanya tiga hari," balas Alex selesai mengecup kedua pipi Ayu.
"Tidak bisa sehari saja?" tawar Ayu.
Alex tertawa kecil, tangannya mengelus rambut panjang Ayu. "Makanya ikut saja denganku ke Singapura."
"Tuh, kan? Mulai lagi," keluh Ayu, "aku maunya kamu sehari di sana, selebihnya di sini."
"Aku bisa tinggal di sini sama kamu jadi bapak rumah tangga, tapi kita hidup dengan gajimu," ungkap Alex, "cukup, tidak?"
Ayu tidak perlu berpikir untuk menghitung gaji dan pengeluaran mereka. Dia langsung menggeleng.
Alex mencubit pipi Ayu lagi. "Kamu ini bicara apa? Kalo kita punya anak, itu berarti harus berpikir panjang mengenai keuangan. Lagipula, aku ingin punya anak minimal empat, itu berarti kita harus menyiapkan banyak uang untuk masa depan mereka."
Mulut Ayu terbuka begitupun dnegan matanya. "Empat anak? Kamu pikir aku sapi ternak!"
"Banyak anak, banyak rezeki, Sayang."
"Hamil sendiri!" bentak Ayu yang langsung mendorong Alex menjauh.
"Mana bisa aku hamil, Sayang?"
"Sebagai warga negara yang baik, kita harus mendukung program pemerintah, dua anak cukup!"
Alex menggeleng, impiannya yang lain adalah memiliki banyak anak. Saat kecil, dia tidak memiliki saudara sehingga tidak ada teman untuk bermain dan berbagi. Meskipun dia memiliki saudara tiri, tetapi itu berbeda, selain itu usia mereka terpaut jauh.
"Aku itu maunya kita punya anak yang usianya maksimal beda dia tahun," kata Alex seraya memikirkan ulang, "ah, setelah anak kita lahir dan berusia enam bulan. Kita harus program hamil lagi. Keren 'kan kalo punya anak yang bisa bermain bersama dan ke sekolah bareng."
Alex sudah merencanakan masa depan keluarganya dengan sangat baik. Dia bahkan sudah berpikir jika anak pertamanya perempuan maka, anak keduanya harus lelaki. Lantas, anak ke-tiga perempuan, anak ke-empat lelaki. Jadi, setiap anak memiliki teman untuk bermain. Menurutnya, itu sangat hebat.
__ADS_1
Tangan Ayu menghantam Akeb berkali-kali. Hanya pukulan kecil yang sama sekali tidak sakit.
"Kamu gila! Enak saja, aku bukan mesin anak!" protes Ayu.
Ayu tidak habis pikir bagaimana bisa Alex berpikir semudah itu. Lelaki itu pasti berpikir hamil itu gampang. Ayu memang tidak begitu rewel sejak hamil, dia sempat mengalami morning sickness, tetapi hanya di dua minggu awal. Hanau saja, swing mood, penciuman tetap tersiksa. Kalau masalah manja dan maka gerak, itu sebenarnya bukan pengaruh hamil, sejak kecil dia sudah seperti itu.
"Ya sudah, aku ikut maumu saja, Sayang!" Alex mengalah dan memeluk Ayu lagi. Dia tidak ingin pergi ke Singapura kalau saja bisa. Dia mau memeluk Ayu setiap hari, melihat senyum Ayu, banyak hal yang bisa dia lakukan dengan Ayu.
Ayu memukul dada Alex sekali. "Awas kalo kamu berpikir untuk punya anak lagi, hamil itu susah, belum lagi melahirkan!"
"Iya, iya, maaf!" ucap Alex. Dia mengalah bukan karena tidak ingin mewujudkan impiannya. Dia hanya merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas mengenai menambah anak. Mungkin setelah anak mereka lahir nanti.
Alex menyiapkan tas ransel yang dia bawa dari Singapura. Isinya tidak begitu banyak, hanya dompet dan beberapa alat elektronik. Untuk pakaian, dia punya banyak di rumah Ayu karena habis berbelanja.
Ayu sedang duduk di kursi depan ranjang sambil mengerucutkan bibir. Perempuan itu dari tadi merajuk, tidak ingin Alex pergi. Sesekali di bergumam tidak jelas. Selesai mengemas barang, Alex mendekat pada Ayu dan memegang pundaknya. Namun, perempuan itu gusar dan menghempas tangan Alex.
"Jangan begini, Sayang! Aku cuma sebentar, terus pulang ke sini lagi." Alex mencoba menenangkan Ayu. Dia seperti itu pasti karena pengaruh kehamilannya.
Sayang, Ayu justru menangis dan terisak-isak. Alex kebingungan harus bagaimana, dia harus segera berangkat kalau tidak ingin terlambat. Dia pun tidak tega jika harus meninggalkan Ayu saat sednag menangis seperti ini.
"Sayang!" Alex menempelkan bkwdua tangannya di pipi Ayu. Dia mengangkat wajah Ayu untuk menatapnya, tetapi perempuan biru melirik ke samping untuk menghindar.
Alex ada pertemuan dengan investor siang besok, dan itu tidak bisa ditunda. Di sisi lain, dia merasa berat meninggalkan Ayu dalam kondisi seperti ini.
"Ya sudah, aku tidak pergi malam ini," ucao Alex akhirnya. Dia akan mengatur jadwal penerbangannya besok pagi setelah Ayu berangkat bekerja. Tiketnya hangus begitu saja, karena dia tidak ada waktu untuk me-redeem.
"Beneran?" Ayu menatap Alex dengan senyum, meski sisa air mata masih ada di pipinya.
Alex mengangguk. "Apa sih yang tidak buat kamu, Sayang."
Ayu yang terlalu senang langsung melingkarkan tangannya di leher Alex.
"Sa-yang, se-sak na-pas!" protes Alex yang tercekik oleh pelukan Ayu.
"Maaf!" ucap Ayu yang langsung cengengesan, "aku mau minum susu, lalu tidur."
Alex mencubit hidung Ayu pelan. "Pantas saja kamu mau aku tinggal."
Banyak orang yang mungkin terganggu karena sikap manja Ayu, tetapi berbeda dengan Alex. Alex justru semakin senang melihat sikap manja isterinya itu. Dia harus segera menghubungi Cleo dan meminta sekretarisnya itu memesan tiket pesawat ulang.
__ADS_1
***