
"Ha-lo," ucap Ayu saat menerima telepon dari Marissa.
Dia merasa canggung saat menerima telepon pertama dari ibu mertuanya. Entah apa yang akan dikatakan oleh Marissa, sehingga menelepon tiba-tiba. Alex tidak menghubungi Marissa karena masalah semalam, 'kan?
"Kamu lagi kerja?" tanah Marissa dengan suara cerianya.
"I-iya," jawab Ayu.
Ayu sedang berada di sudut ruangan salah satu restoran yang dipimpinnya. Dia memilih untuk berkunjung ka toko karena tidak tahan di kantor dengan ledekan dan juga tingkah rekan kerjanya yang tiba-tiba berubah. Banyak rumor yang beredar tentangnya di kantor, seeprti rumor bahwa Ayu mulai sok berkuasa karena menikahi anak tiri pemilik perusahaan. Ah, dia merasa sangat tertekan karena hal itu. Masalah dengan teror telepon dari Alex telah selesai, dan dia harus menghadapi masalah yang lebih berat lagi.
"Ah, begitu." Suara Marissa terdengar kecewa, "kalo besok, kamu ada rencana?" tanyanya lagi.
"Tidak ada," jawab Ayu lagi, "tapi sepertinya Alex sudah datang dari Singapura."
Saat menelepon tadi pagi, Alex mengaku akan pulang malam ini setelah selesai bekerja. Dia tidak tahu untuk apa Marissa bertanya.
"Memangnya ada apa, Mi?" Ayu memanggil Marissa dengan panggilan Mami, seperti Alex, meskipun kedua saudara Alex yang lain memanggil Mama.
"Mami lagi bosan, mau keluar jalan sambil belanja, tapi tidak ada teman," ungkap Marissa yang tidak bisa menyembunyikan nada kecewa dari suaranya.
Sejenak Ayu berpikir, dia memang sedang butuh hiburan. Berbelanja terdengar sangat menghibur.
"Aku ada waktu setelah jam kerja," seru Ayu, "kali Mami mau, kita bisa jalan bareng."
"Tentu saja!" Suara Marissa kembali ceria, "ibu rumah tangga seperti Mami selalu punya waktu."
"Aku tunggu Mami di Mall saja kalo begitu," ucap Ayu.
"Iya," balas Marissa, "nanti Mami telepon lagi kalo sudah mau berangkat."
Setelah panggilan mereka terputus, Ayu melipat laptop dan masuk ke dalam dapur restoran. Untuk lebih mudah bertemu dengan Marissa, dia akan berkunjung ke toko yang berada dalam Mall yang kebetulan merupakan areanya, sekali menyelam minum air. Terkadang, dia merasa pekerjaannya sedikit lebih fleksibel.
"Bagaimana kabar Nanda, Pak?" tanya Ayu saat mengambil tasnya.
"Sudah baikan, Bu. Katanya lusa sudah bisa keluar dari rumah sakit," jawab Pak Bayu.
"Baguslah kalau begitu, semoga dia cepat pulih. Kasihan isterinya kan lagi hamil besar," ungkap Ayu, "oh iya, pertahankan hasil auditnya, udah bagus banget, tapi yang jadi temuan kemarin harus diperbaiki lagi, Pak."
__ADS_1
"Baik, Bu!"
"Aku duluan ya, Pak. Selamat siang!"
"Selamat siang, Bu!" Pak Bayu sedikit menundukkan kepala.
Ayu keluar dari toko itu setelah menyapa dan pamitan pada beberapa karyawan yang dia temui di sepanjang jalan. Kemudian melanjutkan langkah menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.
Mungkin karena sedang jam istirahat makan siang sehingga traffic cukup padat. Ini yang kadang membuat Ayu tidak suka menyetir, kalau saja ada Alex, dia hanya akan bersandar santai. Suara klakson sangat menggangu saat di lampu merah, pemilik kendaraan-kendaraan itu mungkin berpikir hanya mereka saja yang ingin melaju.
Ayu memasang earphone setelah mendapat telepon dari Alex. Sesuai kesepakatan, Alex bebas menelpon Ayu saat jam istirahat.
"Kamu di jalan?" tanya Alex. Ayu menebak bahwa suara riuh klakson dan kendaraan.
"Iya, lagi di jalan," jawab Ayu, "aku mau ketemu sama Mami di Mall, katanya dia mau ditemani belanja."
"Mami kalo belanja itu nggak kenal waktu, Sayang. Kamu yakin mau ikut?"
"Aku juga gitu kok. Namanya perempuan kalo lagi belanja pasti lama," balas Ayu.
"Kamu lagi hamil, nanti kamu nggak sadar jalan keliling mall terus kecapean, gimana?"
"Ya udah, tapi jangan kelamaan! Jangan sampai kamu lupa makan karena keasyikan belanja!"
"Siap, Sir!"
***
Mall yang didatangi oleh Ayu merupakan Mall kelas high end karena memang berisi toko brand premium. Mall itu termasuk mall tua yang tetap eksis dan berada di jantung kota Jakarta, meskipun di depannya merupakan area rawan macet. Saat berada di basemen, Ayu bisa mencium banyak aroma makanan dari banyaknya stan snack. Dulu dia selalu tertarik dan singgah untuk menikmati salah satu makanan di sana, tetapi karena kehamilannya, dia justru tidak suka aroma makanan enak itu.
Marissa datang tepat sekitar jam lima, Ayu pun segera meninggalkan toko dan berjalan menuju salah satu toko Fendi yang berada di mall itu. Dia berjalan dengan cepat setelah mengetahui bahwa ibu mertuanya itu sendiri di toko itu.
Saat Ayu sampai di toko itu, dia langsung melihat Marissa yang mengenakan shirtdress lengan panjang bergaris putih biru selutut, kra baju itu menonjolkan merek LV. Rambut panjang Marissa yang berwarna karamel dikuncir. Tas tangan berwarna biru dengan merek yang sama dengan baju yang dikenakan Marissa menambah kesan mewah dan elegan pada perempuan berusia emas itu.
Dalam hati Ayu jadi menciut melihat penampilan Marissa yang terlihat modis, sementara dia masih mengenakan pakaian kantor. Usia mereka mungkin berbeda jauh, tetapi jika berdekatan akan terlihat seperti kakak-adik. Dia menyesal mengajak mertuanya itu untuk jalan berdua, dia takut akan tampak seperti asisten rumah tangga di sampingnya.
"Ayu!" panggil Marissa dengan satu tangan melambai pada Ayu.
__ADS_1
Senyum kecil dan terpaksa muncul di wajah Ayu. Dia jadi minder berada di samping Marissa.
"Ayo sini!" panggil Marissa lagi, "rasanya senang bisa punya menantu," tambah Marissa dengan penuh antusias dan ceria.
Marissa menggamit lengan Ayu menuju sebuah Sling bag, varian baguette bag dari Fendi.
"Ini cantik, 'kan?" Marissa menunjuk tas kecil berwarna Lilac berbahan kulit dengan selempang perpaduan kulit dan rantai panjang berbahan emas.
Tas itu sangat cantik dan harganya juga sangat cantik, sekitar 2.100 dollar Amerika Serikat yang kalau dirupiahkan hampir 30 juta. Gaji Ayu sebulan saja tidak sampai, butuh menabung berapa bulan untuk membeli tas itu. Tas termahal yang dimiliki Ayu adalah tas yang merupakan hadiah ulang tahun dari ayahnya tahun lalu, sekitar belasan juta. Dia masih ingat harus memohon dan memasang wajah memelas cukup lama agar permintaannya dikabulkan.
"Dari awal, Mami udah jatuh hati sama tas ini," ungkap Marissa dmegan tatapan yang tidak terlepas dari tas kecil itu, "sekalian mau buat Reina. Anak itu tidak terlalu mengerti fashion."
"Yang pink ini cantik buat Reina," ucap Ayu.
"Iya juga, terkesan lebih muda." Marissa menyetujui.
Marissa akhirnya mengambil dua tas di toko itu, yang berwarna lilac untuk dirinya dan pink untuk Reina. Dia sempat memaksa Ayu untuk mengambil satu, tetapi Ayu mengaku tidak terlalu suka mengenakan mini Sling bag.
"Yang ini saja!" Ayu mendahului Marissa untuk mengeluarkan kartu. Dia akan menggunakan kartu kredit dari Alex, lagipula lelaki itu bilang bahwa dia bebas menggunakan kartu itu.
"Alex nggak salah pilih isteri. Perempuan itu memang harus pintar milih barang dan berbelanja." puji Marissa.
Ayu tersenyum simpul. Biasanya mertua akan memuji menantunya saat sang menantu pandai beberes dan memasak, tetapi Marissa berbeda, dia memuji Ayu karena pandai menghabiskan uang. Aneh, 'kan.
Usai membeli tas, mereka masuk ke salah satu toko pakaian. Sayang, di sana mereka hanya melihat-lihat karena tidak ada yang menarik menurut Marissa. Ayu sendiri memang tidak memiliki rencana untuk membeli satu barang pun. Namun, saat singgah di salah satu toko sepatu, dia tertarik pada salah satu flat shoes. Dia memang butuh sepatu tanpa heels, mengingat dia sedang mengandung.
Setelah berbelanja, mereka masuk ke salah satu restoran yang juga berada di lantai satu Mall itu. Dinding restoran itu didominasi warna putih, kursi dan Sofanya berwarna hitam dengan meja yang senada dengan warna dinding. Marissa mengambil tempat di ujung sofa dan Ayu duduk di kursi tepat di depan Marissa.
Mereka berbincang banyak, hampir semua pembahasan mereka adalah Alex. Marissa bercerita tentang masa kecil Alex, dia memang tidak mengasuh Alex sejak anaknya itu berusia dua belas tahun, sehingga hal yang bisa dia ceritakan hanya masa kecil Alex.
Dari perbincangan itu, Ayu juga tahu bahwa Alex tidak bisa berenang karena trauma usai tenggelam. Ternyata lelaki jahil itu punya banyak trauma.
"Sebelum aku dan Daddy-nya cerai, dia anak yang sangat ceria dan penyayang. Paling senang bermanja-manja sama Daddy-nya, sama aku juga. Setiap pulang show, dia selalu lari langsung meluk dan cium wajah Mami yang penuh makeup," cerita Marissa mengingat kembali masa bahagia yang dia lewatkan, "mungkin dia sangat terpukul sampai dia akhirnya kayak sekarang, sangat tertutup."
Ayu hanya merespon dengan senyum. Selama ini dia hidup dalam keluarga yang penuh cinta, dia tidak bisa membayangkan betapa sedih dan sepi kehidupan Alex kecil. Anak berusia tujuh tahun yang harus rela kehilangan keluarganya. Namun, ada satu hal yang tidak dimengerti Alex dari kecil hingga sekarang, kadang kala satu kebahagiaan didapat dengan mengorbankan kebahagiaan yang lain.
"Apa dia juga dingin dan tertutup sama kamu?"
__ADS_1
Ayu segera menggeleng. Sejauh yang diketahui oleh Ayu, Alex adalah lelaki yang sangat bawel. Dia juga awalnya heran, bagaimana bisa sikap Alex bisa berubah seratus delapan puluh derajat saat bersama dengan keluarganya. Setelah mengetahui kisah sedih Alex, dia mengerti bahwa lelaki itu masih menyimpan luka akibat perceraian orang tuanya. Tidak heran, lelaki itu sangat membenci perceraian dan berjanji untuk menjadi penganut monogami.
***