Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
A heart beat


__ADS_3

Alex mengambil kunci mobil sambil bersiul. Dia masih harus mengurus banyak hal untuk resepsinya nanti malam.


"Mau kemana, Lex?" tanya Marissa yang sedang duduk di ruang tengah.


Alex berbalik menatap Ibunya. "Ada urusan, Mi."


"Ma, liat deh!" Reina datang setengah berlari.


Marissa mengalihkan pandangan pada Reina yang merentangkan dress yang dikenakannya.


"Cantik, kan?" Reina meminta pendapat.


Marissa mengangguk.


"Ini tuh dari kak Alex, pas banget!" ucap Reina. "Makasih Kak Alex." Lanjut Reina memandang Alex dengan senyum cerianya.


"Aku pergi dulu," pamit Alex.


Marissa menahan Alex. "Alex, nanti malam resepsi kamu loh."


"Aku tau, aku mau ke hotel sekarang untuk pantau persiapan." Balas Alex.


"Kan ada WO, untuk apa bayar kalo mesti dipantau lagi. Mereka pasti udah planning dan prepare dengan baik." Marissa terus mencegah Alex agar tidak berangkat sendiri.


Alex bersikeras. "Aku harus liat sendiri, Mi."


Marissa hanya menghela napas, percuma melarang Alex. Anak sulungnya itu tidak pernah mendengarnya.


Alex berjalan keluar, namun berbalik lagi setelah seseorang memanggilnya.


"Bro, aku ikut!" teriak Reihan yang berlari turun dari tangga.


"Yakin, mau ikut?"


Reihan mengangguk. "Aku nggak mau bareng Nana soalnya."


Reihan sangat tahu kalau dia berangkat ke hotel nanti malam, maka secara otomatis Reina akan merengek ikut bersamanya. Reihan tidak suka berdua di mobil dengan Reina, karena adiknya itu sangat berisik.


"Ya udah, ayo!"


"Tunggu, aku ambil barang dulu."


"Aku tunggu lima menit di mobil, kalo lewat aku tinggalkan."


Sementara Reihan tergesa-gesa berlari menuju kamarnya, Alex keluar menuju mobil. Dia duduk di kursi pengemudi sambil memegang kemudi. Matanya tertuju pada cincin di jari manisnya. Baginya semua seperti mimpi, dia telah menikah dan kini akan menjadi ayah.


Sekarang dia sepertinya mengerti bagaimana tertekannya Arya saat akan menikahi Ayu dulu. Sekarang dia berpikiran yang sama, pertanyaan yang meragukan diri sendiri mulai menghantuinya. Bagaimana jika dia berakhir seperti orang tuanya? Bagaimana jika anaknya hidup seperti dirinya?


Alex mengelus cincinnya. Tidak, dia tidak akan membiarkan anaknya kelak merasakan kesepian dan kedinginan yang dia rasakan di rumahnya dulu. Anaknya akan hidup dengan kedua orangtua yang penuh  kehangatan dan kasih sayang.


Suara ketukan membuyarkan lamunan Alex. Dia berbalik ke kaca mobil dan melihat Reihan yang terus mengetuk. Alex membuka kuncian mobil.


"Ngelamunin apa sih, Bro? ," tanya Reihan setelah duduk di samping Alex. "Nggak sabar nunggu malam, ya?" Lanjut Reihan.


Alex hanya merespon dengan senyum. Dia melajukan mobil tanpa menjawab satu pun pertanyaan Reihan.


****


Reihan dan Alex memasuki lift pribadi yang disiapkan oleh hotel. Mereka menuju ke lantai 37, di mana resepsi Alex akan diadakan. Setelah keluar dari lift mereka di sambut dengan suasana hijau pepohonan, tanaman menjalar, serta banyak pot dengan berbagai jenis tanaman tergantung. Tampak beberapa orang sudah memulai dekorasi.


"Rootop party?" tanya Reihan setelah melihat pemandangan di depannya.


Alex mengangguk. "Di depan sana ada kamar, kamu bisa istirahat di sana."


"Okay, aku cuma mau simpan barang. Siapa yang mau  membuang momen langka seperti ini," kata Reihan.


Reihan menuju ke kamar yang dimaksud oleh Alex. Dia menatap living room dan masuk ke kamar yang luasnya hampir mengalahkan luas kamarnya. Mata Reihan tertuju pada lemari yang terbuka, di lemari itu ada sepasang tuksedo yang tergantung.


Di luar, Alex berkeliling menatap persiapan untuk resepsinya. Dia menghampiri seorang perempuan yang sedang memberi beberapa arahan.


"Selamat siang," sapa Alex.


Perempuan itu berbalik. "Oh, selamat siang Alex."


Perempuan bertubuh berisi itu adalah, Rina, Wedding organizer yang disewa oleh Alex.


"Yang ini tempat untuk musik, kan?" tanya Alex menunjuk tempat Rina berdiri.


Rina menganggukdan mulai menjelaskan. "Ya, pianonya di sini, cello dan pemain biola ada di sini. Seperti yang Anda minta, kami tidak menyiapkan kursi pelaminan. Jadi, di tengah sana kami set dance floor yang di sekelilingnya ada lampu."  


Rina berjalan cepat dan diikuti oleh Alex. Mereka berhenti di depan railing yang dan menatap kota di ketinggian.


"Nah, di sini seperti yang kemarin kita sepakati, ada mini stage dengan pohon di setiap sisi dan dekorasi kain dan beberapa pot bunga." Rina lanjut menjelaskan.


"Okay, great!" puji Alex.


"Untuk minum tersedia di bar, dan stall makanan ada di ujung samping bar. Tidak ada server untuk food stall as you ask."


Alex mengangguk lagi. "Bunganya?"


"Kami pakai peony dan baby breath. semua dalam pot, jadi masih hidup dan tidak akan terbuang seperti yang Anda minta juga."


Alex tersenyum. Dia memang khusus meminta tidak ada bunga yang dipetik, apalagi kelopak yang disebar hanya untuk diinjak-injak. Alex memiliki filosofi tersendiri tentang bunga. Mungkin itu sebabnya dia tidak suka memberi bucket bunga untuk siapapun untuk mengekspresikan perasaan. Jika diharuskan memberi bunga, maka dia akan memberi bunga beserta pohon dan potnya, lebih esensial.


"Di depan sana ada red carpet dan photo booth berlatar tanaman rambat, beberapa bunga kristal."


Alex terus mengangguk. Dia cukup puas dengan dekorasi yang dibuat oleh Rina.


"Ya, kalo bisa spot di tengah sana agak dibuka sedikit, biar pemandangan kota lebih menonjol."


Rina mengangguk. "Yang itu, gampanglah."


"Baiklah, silahkan dilanjutkan."


Rina dan Alex bersalaman singkat, kemudian Alex berkeliling sebentar sebelum menyusul Reihan di kamar.


"Tidak keluar?" tanya Alex saat masuk dan mendapati Reihan sedang duduk di sofa sambil bermain game di hp.


"Tadinya mau, tapi masih ngedekor. Nanti sore aja," jawab Reihan tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP.


Tidak tahu harus berbuat apa, Alex pun ikut bermain dengan Reihan. Mereka cukup asyik bermain salah satu game online. Di tengah permainan, Reihan hanya bisa mengumpat kecil saat Alex tiba-tiba berhenti karena harus mengangkat telepon yang masuk.


"Yah, nggak seru! Bentar lagi udah menang ini!" protes Reihan.


Alex hanya memberi senyum tipis pada Reihan, dan berlalu menjauh dengan HP di genggamannya.

__ADS_1


"Hai, Sam!" sapa Alex via telepon.


"Maaf, aku tidak sempat datang di pernikahanmu!" ucap Sam, ayah Alex.


Alih-alih memanggil Daddy, Alex kadang lebih nyaman memanggil ayahnya dengan nama.


"Tidak apa-apa." Balas Alex dan melanjutkan. "Hanya pernikahan, bukan apa-apa."


"Kamu tau kalau Ayahmu ini sangat ingin hadir, tapi Jess baru saja melahirkan adikmu." Sam memberi alasan.


Alex menarik satu sudut bibirnya. Selalu saja ada alasan, waktu orang tuanya selalu saja terkuras untuk keluarganya yang lain, seakan Alex bukan keluarga mereka. Bukan hanya kali ini, sejak kecil dia sudah terbiasa tanpa orang tuanya.


Maaf, kata itu tidak lagi memiliki arti bagi Alex. Dia masih ingat bahwa setiap kelulusannya tidak ada orang  tua di sampingnya. Saat Alex mendapat rekognisi atas pencapaiannya di usia yang masih sangat muda,  dia juga hanya melangkah sendiri.


Sibuk, pekerjaan, tidak sempat, itu semua hanya alasan palsu untuk menutupi kenyataan bahwa mereka lebih memilih keluarga mereka yang baru. Menurut Alex waktu tidak akan menjadi alasan untuk orang yang dikasihi. Kalau memang dia berarti bagi mereka, harusnya tidak menunggu sampai ada kesempatan, melainkan membuat kesempatan itu ada. Kalau memang mereka mencintai Alex seperti anak-anak mereka yang lain, seharusnya mereka masih bisa bersama sebagai satu keluarga.


"Ya, aku tau, Sam. Selamat untuk Jess, aku punya adik baru lagi," ucap Alex datar.


"Jess titip salam. Aku harap kamu bisa berkunjung untuk melihat adikmu, sekalian membawa isteri cantikmu."


Alex terdiam sejenak. "Aku cukup sibuk, Ayu juga. Aku tidak yakin punya waktu untuk berkunjung sampai akhir tahun ini."


"Baiklah, aku akan lihat apa aku dan Jess punya waktu untuk ke Jakarta."


Alex tertawa sarkastik. "Aku bahkan tidak pernah menetap di Jakarta, Daddy."


"Ah, kalian akan menetap di Singapura?" tanya Sam.


Alex memilih terdiam. Dia kembali mengingat saat dia tinggal bersama neneknya di New Zealand, sering kali dia duduk lama di samping telepon dengan harapan telepon itu berdering. Kadang orang tuanya berjanji akan menelepon lagi, sehingga Alex sering begadang untuk menunggu deringan telepon itu, menunggu untuk sekedar mendengar suara dua orang yang sangat dia sayangi. Sering, sudah sering, dan setiap kali Alex menelan pil pahit.


Dikecewakan oleh orang tuanya bukan hal baru untuk Alex, sehingga dia sama sekali tidak mengharapkan apa-apa lagi dari mereka. Sudah lama dia tidak peduli akan kehadiran mereka dalam hari pentingnya sekalipun.


"Ya, tidak usah dipaksana Sam. Aku tau kamu dan Jess sangat sibuk, apalagi harus mengurus adik-adikku."


"Selamat, Nak. Doa terbaik untuk pernikahanmu."


"Terimakasih," balas Alex singkat.


"Baiklah, sampai jumpa!" kata Sam.


"Ya," balas Alex dingin.


Alex mengantongi HP-nya. Dia menyandarkan satu lengan di tembok. Kalau saja bukan untuk keluarga Ayu, dia tidak akan pernah melaksanakan resepsi di Jakarta. Dia tidak berharap orang tuanya hadir di pernikahannya, namun ada sedikit rasa kecewa di hatinya.


"Rei, aku mau keluar sebentar. Kamu sendiri dulu, tidak apa-apa?"


Reihan yang asyik bermain game hanya mengangguk-angguk tanpa melihat Alex.


Alex duduk di dalam mobil. Dia membiarkan mesin mobil menyala, sementara dirinya hanya bersandar di jok mobil dengan segala pikirannya. Sudah dua dekade dan luka itu masih saja menganga.


Sekali lagi tekad untuk tidak berakhir buruk seperti orang tuanya menyatu di seluruh pikiran Alex. Akan sedikit susah memang, mengingat Ayu yang tampaknya agak susah untuk ditaklukkan.


Alex melajukan mobilnya, meski masih bingung harus mengarahkannya ke mana. Dia hanya butuh menenangkan pikiran untuk meluapkan kekesalan dan kecewanya.


Awalnya Alex hanya berencana berputar-putar dan kembali setelah merasa sedikit tenang. Ide gila terlintas di benaknya saat bosan karena terhalang macet.


Setelah sekitar 40 menit di jalan, Alex mengentikan mobil. Dia meraih HP-nya dan menghubungi salah satu nomor dengan satu sisi bibir.


"Halo Sayang!" sapa Alex saat nomor yang dihubunginya mengangkat telepon.


***


"Jadi gimana, Minggu nanti kamu bisa nggak jaga Zahra?" tanya Bima.


Ayu yang sedang rebahan, hanya mengangguk singkat.


"Yakin? Suamimu nggak bakal marah karena terganggu?" Bima yang ikut berbaring di samping Ayu bertanya lagi.


"Marah apaan," ucap Ayu sinis.


"Lah, siapa tau suamimu pengen jatah malah terganggu sama Zahra. Mas-mu ini pernah jadi pengantin baru juga, tau."


Ayu melirik tajam ke arah Bima. "Pikiranmu itu loh Mas, selalu dangkal."


Bima tertawa singkat. "Nggak usah berlagak malu. Udah resmi juga, kan."


"Udah yah, Mas. Pokoknya aku bakal tetap jaga Zahra untuk Mas dan Mbak Dita. Kalian pokoknya bebas seharian, semalaman, ato se-apapun juga!" tegas Ayu, dan menambahkan. "bahkan kalo Mas mau semalaman berusaha ngasih adek buat Zahra juga boleh banget. Sekalian ngulang masa pengantin baru, okay!"


Ayu tentu saja tidak akan menolak untuk menjaga Zahra. Minggu lalu dia sudah berjanji, dan janji harus ditunaikan, dia juga tidak mau jika harus mengembalikan sepatu yang telah Bima berikan padanya sebagai bayaran. Selain itu, dia juga bisa menghindar dari Alex.


"Deal yah, aku nggak terima refund lagi." Bima mengingatkan.


Ayu bengun dan memutar matanya stelah menatap Bima. "Udah bilang iya, iya juga. Aku cancel loh ini lama-lama."


"Iya, iya, maaf adikku yang paling cantik dan baik hati," ucap Bima.


"Aku minta bayaran ekstra loh, Mas. Aku mungkin harus mengalah dengan kebutuhanku sendiri demi Zahra. You know what I mean, aku kan pengantin baru."


Ayu memulai melancarkan serangan mautnya. Biasanya serangan itu sellau berhasil menerbangkan lembaran-lembaran di dompet Bima.


"Eh, kan udah deal cuma sepatu, Yu."


"Itu dulu, waktu aku nggak sibuk. Sekarang kan aku udah punya suami yang harus diurus kebutuhannya. Gimana kalo ternyata nanti aku sibuk ngurus Zahra dan Alex ngambek. Alex itu susah ditenangkan kalo lagi ngambek soalnya."


Dalam hati Ayu mengumpati perkataannya. Tentu saja dia tidak peduli pada Alex, dia hanya perlu berbohong sedikit untuk mendapatkan barang yang diinginkannya melalui uang Bima.


"Kamu kan udah punya suami kaya, kalo mau sesuatu tinggal minta. Kamu kan emang tukang minta-minta."


Ayu langsung protes. "aku tuh cuma minta sama keluarga aja, nggak sama orang lain."


Bima langsung berbalik dan melempar bantal yang dia pake pada Ayu. "Memangnya suamimu itu bukan keluarga."


Ayu menelan ludah setelah menyadari dia telah salah bicara.


"A-Alex bukan keluargaku," kata Ayu terbata-bata, kemudian melanjutkan,  "Dia belahan jiwaku, Love of my life."


Bima bergidik menatap wajah Ayu yang sedang mesem- mesem, "Udah gila kamu, Yu. Kayak baru dapat lelaki saja."


"Mas kira aku lupa gimana dulu Mas waktu masih pacaran sama Mbak Dita, bucin gila!" ejek Ayu.


Ayu melempar bantal balik pada Bima.


Mereka berpaling ke arah pintu setelah pintu terbuka dan suara gaduh dari dua orang yang masuk ke dalam kamar.


"Ayu!"

__ADS_1


Ayu yang sedang duduk langsung turun dari ranjang, begitupun dengan Bima yang tadi berbaring.


Karin dan Tamara bergantian memberi pelukan pada Ayu yang masih heran dengan kedatangan keduanya.


"Aku tidak kebagian?" tanya Bima merentangkan tangan.


"Dita ada di bawah loh." Tamara mengingatkan.


"Masih aja jelalatan, nggak berubah!" ucap Karin menggeleng-gelengkan kepala.


"Mataku emang jelalatan, kadang-kadang, tapi hatiku cuma buat Dita seorang."


Ayu memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan Bima. Sementara Karin mencibiri pengakuan lelaki itu. Mereka tentu saja tahu bagaimana Bima sebelum menikah dulu, untungnya dia sudah sedikit berubah sekarang.


Tamara tersenyum kecil dan berkata, "Alex juga pernah bilang kayak gitu."


"Oh ya?" tanya Bima, "see, lelaki yang kamu bilang belahan jiwamu saja setuju." Bima melanjutkan.


"Kalo Alex suka jelalatan kayak Mas Bima gimana, Yu?" tanya Tamara dengan senyum manisnya.


Ayu mengedip-ngedipkan matanya, mencoba mencerna perkataan Tamara. Dia tentu saja mengerti arti pertanyaan Tamara, yang Tidka dia sangka adalah Pertanyaan semacam itu akan keluar dari mulut Tamara yang selalu Ayu kenal sebagai sosok manis dan positif. Kalau Karin yang mengajukan pertanyaan itu, maka Ayu tidak akan heran sama sekali.


"Aku akan melakukan hal yang sama. Karena kita perempuan buka berarti tidak bisa melirik sana-sini, kan." Ayu menjawab setelah berpikir sejenak.


Karin berdecak kagum. "Nggak salah aku didik kamu selama ini, Yu."


"Berhenti merecoki Ayu dengan paham feminis gilamu itu, Rin. Kalo Ibu tau, ngamuk dia." Bima mengingatkan. "Kalian lanjut aja, aku turun dulu, kangen sama isteri tercinta."


Karin dan Ayu saling menatap dengan ekspresi muak mendengar ungkapan Bima. Sementara Tamara tertawa kecil, dan menaikkan satu jempolnya pada Bima.


Setelah Bima keluar, ketiga wanita itu lanjut bergosip ria di atas ranjang. Karin mengaku baru saja tiba dari bandara dan meminta Tamara dan Richard menjemputnya di Bandara. Sementara, Tamara tidak sempat datang di akad nikahnya karena ada meeting di kantor.


Ayu mengerti dengan keadaan kedua temannya. Mereka sibuk dengan jadwal masing-masing, dan acara Ayu memang sangat dadakan.


"Jadi, kamu mau re-sign dari kantor dan ikut Alex ke Singapura?" tanya Karin.


Ayu menggeleng.


"Apa iya Alex mau ninggalin kerjaannya di sana?"


"Alex tetap di Singapura," jawab Ayu.


Tamara yang tadi hanya diam ikut bicara. "Kalian LDR-an?"


Ayu hanya mengangguk. Dia tidak banyak menjawab, karena takut salah bicara. Dia bahkan belum tahu rencana ke depannya bagaimana.


"Jadi, kalian nikah diam-diam, dadakan, cuma untuk LDR-an!" pekik Karin. "Apa enaknya sudah nikah tapi nggak seranjang," cibir Karin.


"Aku bukannya mau ikut campur sama rumah tangga kalian, aku sangat menyayangi kamu dan Alex," ungkap Tamara dengan suara lembut. " Aku kenal Alex dari kecil dan yang sangat dia inginkan adalah keluarga. Dia selalu merasa kesepian karena tinggal sendiri. Imajinasinya tentang pernikahan sangat sempurna, apa kamu nggak sebaiknya ikut dia ke Singapura?" Tamara melanjutkan dengan berhati-hati.


Ayu mengelola mendengar perkataan Tamara, seandainya saja temannya itu tahu alasan pernikahan Ayu. Ayu sangat mengerti maksud Tamara, Alex juga sudah sering kali menggambarkan bagaimana pernikahan yang dia inginkan. Dia pun menginginkan pernikahan seperti yang Alex inginkan, namun keadaan mereka berbeda.


Kalau saja Ayu menikah dengan Alex bukan karena keterpaksaan, maka dia dengan senang hati mengikuti Alex di manapun lelaki itu memutuskan untuk menetap. Wanita bodoh macam apa yang tak akan suka dengan Alex yang nyaris memiliki segalanya yang dibutuhkan oleh wanita. Tetapi Ayu selalu sadar tempatnya bukan di samping Alex.


"Entahlah Tam, aku kayaknya nggak bisa tinggal jauh dari Ayah sama Ibu."


"Jarak Jakarta sama Singapura cuma dua jam penerbangan, Yu!" ketus Karin.


Ayu terdiam, dia tidak tahu harus menjawab. Untungnya dia diselamatkan oleh deringan HP-nya.


"Tunggu!" Cegat Karin, "siapa yang nelpon?" tanyanya.


"Ini Alex," jawab Ayu lega karena tidak harus melanjutkan percakapan tadi.


Ayu mengangkat pantat dan berniat menjauh dari temannya, namun segera ditahan oleh Karin.


"Di sini aja," kata Karin meraih HP yang digenggam oleh Ayu.


Karin mengusap layar untuk menerima panggilan Alex dan memilih pilihan speaker. Lantas meletakkan HP itu di ranjang, sementara satu telunjuknya di bibir mengarah pada Tamara sebagai pertanda agar perempuan itu diam.


"Hai, Sayang!" Suara Alex terdengar melalui HP.


Ayu melirik Karin dan Tamara sekilas karena bingung harus menjawab apa.  Karin menyukai pelan Ayu agar dia cepat bicara.


"Oh, hai Sayang!" Balas Ayu, "ada apa, kangen ya?" Lanjutnya dengan suara lembut dan terdengar manja.


Untuk beberapa detik tidak ada balasan dari Alex. Mungkin lelaki itu kena serangan jantung karena Ayu yang selalu jutek saat ditelepon berubah menjadi sangat manis.


"Iya nih, kangen banget."


Ayu melirik lagi ke arah Karin yang sedang menahan tawa. Sementara Tamara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Karin.


"Jadi cuma mau bilang kangen aja?" tanya Ayu masih berusaha terdengar manis.


"Tidak, aku ada di depan rumah kamu."


Mata Ayu membulat. Ketiga wanita di ranjang itu saling menatap penuh tanya.


"Loh, ngapain?"


"Aku datang untuk menjemput pengantinku, kan udah kangen."


Ayu tertawa kikuk. "Kamu udah gila, ya? Ibu tidak akan setuju."


"Kalo Ibu setuju, kamu mau ikut sama aku?"


"Iya dong, aku kan juga kangen."


Ayu merasa jijik dengan perkataannya sendiri. Kalau bukan karena Karin dan Tamara yang ada di dekatnya, dia tidak Sudi mengeluarkan kata-kata terlarang itu pada Alex.


"Okay, Sayangku, aku datang."


Suara Alex yang penuh yakin menjatuhkan rasa percaya diri Ayu yang tadi menganggap Alex Tidka akan berani masuk ke rumah dan menjemputnya. Seharusnya dia tadi menyebut nama Pandu sehingga Alex menciut.


****


Wow, setelah sekian lama akhirnya bisa UP part baru.


Semoga para reader yang Budiman selalu dalam lindungan Tuhan dan terhindar dari Corona yang sangat meresahkan.


Saat orang lain di rumah dan berkumpul dengan keluarga, aku masih harus bekerja. Rasanya sedih banget karena omset  yang ngejungkal berkali-kali lipat dari biasanya. Kadang rasnya seperti mimpi liat jalan kota yang selalu macet tiba-tiba sepi.


Meskipun sedih, aku harap kalian tetap taat pada aturan pemerintah untuk menjalankan Social Distancing demi keselamatan kita bersama.


Semoga pandemic ini segera berlalu sehingga kita dan kerabat yang lain bisa berkumpul dan tertawa kembali tanpa bayangan gelap covid-19.

__ADS_1


Stay positive and keep healthy everyone, 😘


__ADS_2