
Sesuai rencana, Alex akan kembali ke Jakarta bersama Ayu. Dia berencana akan tinggal selama seminggu di sana, menyelesaikan semua urusan dengan keluarganya dan keluarga Ayu dalam seminggu itu.
Setelah melakukan check-in, Alex dan Ayu memilih menunggu di salah satu kedai kopi ternama sampai gerbang keberangkatan terbuka. Alex duduk sendiri di ujung ruangan sambil menunggu pesanannya datang, juga Ayu yang belum kembali dari toilet.
Segelas Freshly Brewed Coffe dan Signature Hot Chocolate tersaji di depan Alex. Dua gelas minuman itu diantar oleh seorang waitress yang tersenyum ramah pada Alex.
Alex menyesap cairan kental berwarna hitam dari gelasnya. Tangannya yang terbebas memainkan layar gawai. Dia tertawa melihat banyaknya pesan yang masuk dikirim ke beberapa aplikasi media sosial dan messenger-nya. Beberapa dari mereka mengucapkan selamat dengan gambar dirinya bersama Ayu sedang berdiri dikelilingi lilin.
Alex memilah-milah pesan itu dan membalasnya dengan terima kasih. Kemudian memainkan jemarinya di layar HP, membuka story media sosial teman-temannyabyang memasang gambar juga video suprise party pernikahannya di Instagram. Juga beberapa akun yang menandainya di beberapa kolom komentar.
Karena lingkungan Alex yang berorientasi dengan publik figur, bahkan beberapa kali mengencani selebriti wanita, membuat dia memiliki nama diantara fandom selebriti-selebriti itu. Tidak heran jika hanya dalam beberapa jam, gambar dan videonya tersebar dengan cepat, dikomentari oleh banyak orang.
Komentar-komentar mereka sangat beragam; ada yang mengaku patah hati, ada yang ikut senang dan mengucapkan selamat, namun sebagian besar sepertinya membandingkan Ayu dengan mantan Alex sebelumnya. Kebanyakan membandingkan dengan Stella, artis yang memang tengah naik daun dan juga akan segera menikah.
Stella memang cantik, tetapi menurut Alex Ayu jauh lebih menarik daripada aktris itu.
Derik kursi yang ditarik mengalihkan pandangan Alex. Ayu datang dengan wajah masih setengah basah. Sepertinya perempuan itu habis mencuci wajah. Dia duduk di kursi di samping Alex di mana di depannya tersaji cokelat panas.
"Mengantuk?" tanya Alex melihat wajah lelah Ayu meski sudah mencuci wajah.
"Ya, sedikit." Ayu menjawab setelah meneguk cokelatnya.
"Masih ada setengah jam sebelum open gate, mau istirahat dulu."
Ayu menggeleng menolak. Dia meraih tasnya, kemudian mengambil HP untuk mengecek pesan di grup kerjanya. Matanya membesar setelah melihat daya HP-nya habis. Pantas saja dari tadi tidak ada dering atau getar dari layar persegi itu
"Bawa charger?" tanya Ayu.
"Tunggu!" Alex membuka ransel kecil yang dia bawa. "Ini!" Dia menyodorkan charger pada Ayu.
"Aku mau ke sudut sana, di sini tidak ada colokan." Ayu bangkit dan membawa tasnya ke meja lain.
Ditinggal sendiri, Alex memilih untuk memasang airpod dan mendengarkan musik untuk mengusir jenuh. Dia sudah bosan dengan membaca komentar-komentar para penggemar Stella yang mulai memenuhi beranda sosial medianya. Lagipula, untuk apa mereka begitu memusingi kehidupannya.
Dari Ipod-nya Alex mendengar sebuah instrumen piano. Dia langsung teringat saat dia gagal memainkan lagu Moonlight Sonata untuk Ayu di Restoran tadi. Dengan sigap dia bangkit -- meminta tolong pada seorang pramusaji yang kebetulan ada di sampingnya untuk membantu membawa kopinya ke meja Ayu. Sementara dia membawa ransel dan Ipod.
Alex menggeser kursi tepat di samping Ayu. Dia duduk dan langsung mengerutkan kening saat mendengar Ayu menggerutu.
"Ada apa?"
Ayu menggeleng dengan wajah cemberut. Perempuan itu terus terpaku pada layar HP-nya, jemarinya menari dengan lincah di layar persegi itu. Sedikit Alex bisa membaca beberapa kata yang diketik oleh Ayu.
Dari nama dan logo yang muncul di grup WhatsApp itu Alex bisa menebak bahwa Ayu sedang gusar karena pekerjaan.
"Ada komplain?" tanya Alex bermodalkan beberapa kata yang sempat dia curi-lihat diketikan Ayu.
Perempuan itu mendesah kasar. "Ya, dan sudah beberapa kali untuk alasan yang sama. Mereka kerja ato tidur sebenarnya!" omel Ayu.
"Resiko kerja di bagian pelayanan memang gitu!" Alex mencoba menenangkan.
Ayu mencibir dan terus mengomel pada Alex yang sama sekali tak tahu apa-apa. "orang yang cuma tinggal duduk nunggu bola kayak kamu tahu apa tentang pusingnya bawahan yang harus banting tulang dan putar otak untuk Sales dan *****-bengeknya." Kemudian melanjutkan, "kamu tau nasib karyawan itu bisa tamat hanya karena komplain yang kadang disebabkan keisengan customer."
Alex mengerutkan kening, padahal dia hanya berniat membantu Ayu agar bisa lebih tenang. Justru dia terjebak menjadi santapan amarah perempuan itu.
Ayu menatap tajam ke arah Alex dan membentak, "dasar kapitalis! Enak saja mau untung banyak tapi tidak mau effort lebih. Yang kerja keras akhirnya karyawan juga, kan!"
"Bos-nya kamu kan bukan aku. Kenapa marahnya sekarang sama aku. Kan bingung!" kata Alex.
"Iya, tapi kalian kan sama saja, Kapitalis!" bentak Ayu lagi. " See, semua barangmu branded dan harganya bukan main. Bisa ada yang seharga gedung, kerjamu cuma duduk menerima laporan. Laporannya bagus pun tidak akan pernah puas, maunya lebih baik lagi, lebih tinggi lagi. Nah, kalo kurang memuaskan bisa mampus yang di bawah," lanjutnya tidak bisa menyembunyikan rasa jengahnya.
Alex menelan ludah melihat Ayu yang membara mengomelinya untuk hal yang tidak dia lakukan sama sekali. Dia menggeser kursinya lebih dekat lagi pada Ayu.
__ADS_1
"Itu bukan kapitalis, Yu! Tapi, kerja cerdas, bagaimana mengelolah waktu dan source yang mininal untuk menghasilkan untung yang lebih maksimal. Kamu tau kan teorinya, kerja 20% dengan hasil 80%." Alex menjelaskan.
Ayu memutar bola matanya. " Teori itu cuma berlaku untuk orang dengan jabatan tinggi, tau! Beberapa toko mulai mengeluh karena pengurangan karyawan dan permintaan dari atas yang sangat tinggi!"
" Loh, Sales yang anjlok, tidak meningkat, sementara cost untuk bahan baku dan gaji yang semakin meningkat setiap tahun bisa jadi penyebab utama pengurangannya, kan. Perusahaan itu bukan badan amal, ada perjanjian terikat mengenai hak dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh pekerja dan pemberi kerja." Alex menjelaskan dengan menggebu, berusaha membuat Ayu mengerti meskipun dia tahu bahwa perempuan itu sebenarnya sudah paham tanpa harus dijelaskan.
Suara geraman Ayu menggema. "Aku tau!"
Ayu membuang wajah dan meraih cokelatnya yang mulai mendingin. Dia meneguknya beberapa kali dengan harapan bisa lebih tenang.
"Kamu berbicara seakan-akan kamu ini bukan atasan." Alex balas mencibir.
Ayu hanya melirik tajam sekilas pada Alex dengan bibir maju ke depan. Itu dia yang membuat Ayu kesal, karena kesalahan di beberapa toko dia harus membuat laporan pertanggungjawaban untuk hal yang tidak dia lakukan. Tetapi, itu sudah resiko menjadi atasan.
"Seperti yang kamu bilang tadi, pemimpin sebuah perusahaan itu ibarat gawang yang tinggal menunggu bola. Saat pemain penyerang dan pertahanan berlarian di lapangan, gawang yang berdiri menjaga agar tidak kebobolan. Tapi, coba deh bayangin kalo gawang tidak ada, hancur kan?" Alex memberi pengertian. "Itu namanya kerja sama tim. Setiap divisi udah ada tugas masing-masing. Saat divisi operasional pusing mengejar sales, beberapa divisi lain pusing memikirkan strategi pasar untuk membantu."
Ayu menjatuhkan wajahnya di meja, membiarkan pipi kanannya menempel di meja, sementara tatapannya tertuju pada Alex.
"Aku tau!" kata Ayu setelah lebih tenang. "Aku emang kadang marah-marah tidak jelas kalo lagi jengkel." Ayu mengaku dengan tatapan masih menempel pada Alex.
Selama ini Ayu memang sering mengomel tidak jelas, tetapi tidak pernah menunjukkannya di depan orang lain. Dia lebih sering menggerutu dan mengomel sendirian. Kadang memarahi boneka atau bantal yang ada di kamarnya. Juga pernah melempar beberapa benda saat dia sangat marah, namun tidak bisa melampiaskannya pada seseorang.
Sebagai pribadi yang dikenal ceria dan manja, sikap tempramental Ayu tidak diketahui oleh siapapun selain dirinya sendiri. Bukan karena Ayu sengaja menyembunyikannya, melainkan karena dia tidak tahu cara mengekspresikan amarahnya pada orang lain tanpa meneteskan air mata.
Alex ikut menjatuhkan kepalanya di meja, menempelkan pipi kanannya dan menatap ke depan.
"Tidak apa-apa. Daripada dipendam jadi penyakit."
Mereka saling menatap dalam. Alex suka menatap wajah Ayu yang sedang tersenyum. Saat kedua bibir wanita itu tertarik ke samping, seluruh daging pipinya seakan menyatu tepat di tulang pipi dan matanya akan mengecil.
"Aku selalu mengimpikan sebuah pernikahan dan anak." Alex keluar dari pembahasan mengenai pekerjaan Ayu.
"Itu impian hampir semua orang." Ayu menimpali.
"Ya, tapi aku sudah merancang segalanya, bahkan sebelum orang seusiaku berpikir tentang sekedar memiliki pacar." Tambah Alex.
Mata Ayu membesar dan keningnya berkerut. "Emang umur berapa?"
Alex tersenyum kecil dan menjawab, "12 tahun."
"Pantas saja kamu mesum. Baru bocah udah pikirin nikah!" Tuding Ayu sambil mencibir.
Alex mencubit pipi Ayu dan tertawa kecik. "Dasar otak dangkal! Memangnya menikah itu mesum."
Alex mengingat kembali impian masa kecilnya. Dia ingin cepat dewasa agar bisa menikahi Tamara. Sehingga dia bisa memenuhi keinginan perempuan itu untuk menjadi Ibu yang baik. Setelah menikah dia akan menjadikan Tamara sebagai perempuan yang paling berbahagia. Mereka akan membentuk sebuah keluarga kecil yang tidak terpisahkan -- bermain dan bercanda bersama.
"Apa lagi yang bisa kamu pikirkan kalo bukan hal mesum!" bibir Ayu.
"Ah, sudahlah, otakmu tidak sampai juga!" ejek Alex.
"Otak-ku masih bersih, tidak kotor kayak kamu."
"Ia, ia, isteriku yang polos dan selalu berpikiran bersih tapi curiga terus."
Ayu mengangkat kepalanya dari meja. Dia meregangkan leher sejenak, kemudian berlipat tangan menatap Alex dengan tajam.
"Aku juga punya pernikahan impian asal kamu tau. Kamu merusak segalanya!" ucap Ayu dengan nada kesal.
Alex ikut mengangkat kepala dan menatap Ayu dengan satu alis terangkat. Dalam hati dia mencoba menebak pernikahan impian yang dimaksud oleh Ayu. Apalagi, kalau bukan pernikahan perempuan itu dengan Richard.
Masih Alex ingat bagaimana khawatirnya Richard saat Ayu sakit. Melihat kedekatan Ayu dan Tamara, rasanya susah dipercaya bahwa Ayu mengkhianati sahabatnya sendiri. Menurut Alex, Ayu harus berterimakasih padanya karena dia telah menyelamatkan perempuan itu dari cinta yang salah.
__ADS_1
"Kamu masih menginginkan lelaki itu?" tanya Alex.
Mulut Ayu membuka sedikit lalu tertutup lagi. Mana mungkin Alex tahu tentang masa lalunya. Ah, mungkin saja Tamara pernah bercerita tentang dirinya dan Arya.
Lama menunggu, tidak ada jawaban sama sekali dari Ayu. "Tidak apa-apa kalo tidak mau cerita." Alex mengalah dan melanjutkan setelah menatap jam tangannya. "Ayo! Sudah open gate."
Alex berdiri mengambil barang-barangnya dan menjulurkan tangan pada Ayu. Dengan cepat Ayu menyambut tangan Alex, meski masih dengan senyum getir.
Mereka berjalan dalam diam sambil berpegangan tangan -- membiarkan kata-kata tergantung di tenggorokan mereka.
***
Ayu menyandarkan kepala dengan nyaman begitu duduk. Sudah tengah malam, dia sangat lelah seharian ini. Dua jam penerbangan bisa dimanfaatkan untuk beristirahat.
"Capek?" tanya Alex yang duduk di samping Ayu.
Ayu hanya mengangguk pelan.
"Ini, coba dengar!" Alex memberi satu airpod-nya pada Ayu
Ayu meraih benda kecil berwarna putih itu dan memasangnya di telinga. Dia memejamkan mata dan bersandar dengan nyaman.
Alunan piano itu sangat indah, seperti membawa Ayu ke sebuah taman yang sejuk, penuh bunga dengan rumput hijau yang menggelitik di kakinya. Perasaan bahagia, seperti cinta yang tersambut, kupu-kupu beterbangan.
Ayu membuka mata setelah alunan piano itu selesai. Dia berbalik ke arah Alex sambil tersenyum.
"Suka?" tanya Alex
Ayu mengangguk antusias. "Gubahan siapa?"
"Paul de Senneville, judulnya Marriage d'Amor." Alex menjelaskan.
Ayu mengangguk lagi, meski sebenarnya tidak begitu paham. Tetapi, dia tetap mendengar kan penjelasan Alex yang sangat panjang.
Lelaki itu menjelaskan bahwa lagu yang didengar oleh Ayu barusan adalah versi George Davidson yang sedikit berbeda dengan versi aslinya.
"Kamu tau, banyak yang salah kaprah kalo lagu itu adalah gubahan Chopin dengan judul Spring Waltz. Itu semua berkat YouTube!" Alex lanjut menjelaskan dengan nada gusar.
"Kenapa bisa?" Ayu bertanya meskipun sedikit tidak tertarik dengan pembahasan Alex. Dia memang suka musik klasik, tetapi memang hanya suka mendengar, tidak terlalu mengikuti perkembangannya.
"Orang yang tidak bertanggungjawab meng-upload dengan judul sesat, hoax gitu."
"Ah, sudah biasa, untuk konten juga apa aja dilakuin. Aku milih-milih kalo soal channel YouTube." Ayu mencibir, kali ini bukan untuk Alex.
"Istri cerdas!" puji Alex. " Aku lebih sering dengar Channel Podcast, tapi seringnya sih di Spotify ato iTunes."
Mereka lanjut mendengar musik klasik. Alex menjelaskan setiap lagu yang didengar oleh Ayu, seakan memamerkan pengetahuannya.
"Dengar kamu biacara tentang musik klasik ngingetin aku sama Tamara. Dia juga sangat suka musik klasik, bukan cuma musik, tari dan teater juga." Ayu tersenyum geli, tidak heran kedua orang itu sahabat sejak kecil.
Sementara Ayu tersenyum, Alex kehilangan senyum dan antusiasnya menjelaskan. Tamara -- perempuan itu yang membuatnya jatuh cinta dengan musik klasik -- membuat dia belajar memainkan beberapa instrumen seperti piano dan biola. Ya, dia melakukan banyak hal yang perempuan itu gemari untuk menarik perhatiannya.
Alex tersenyum getir. "Kamu capek, kan? Istirahat saja, nanti aku bangunin kalo udah mau Landing."
***
😍Maaf Singkat, ya!
Up-nya juga lama.
Jangan bosan-bosan 😘
__ADS_1