
Ayu hanya bisa menatap takjub pada rumah yang menyerupai kastil itu, belum lagi mobil-mobil mewah yang terparkir di halaman dan garasi yang terbuka. Juga dengan interior rumah yang sangat menakjubkan.
Mata Ayu tertuju pada foto keluarga yang terbingkai dengan bingkai emas besar. Dia mengenal sosok di bingkai itu. Pantas saja tadi saat Ayu mengatakan tidak bisa lama-lama, Alex berkata dengan santai bahwa tidak apa-apa.
"Lihat, kan. Siapa yang akan marah kalo kamu tidak masuk kerja hari ini."
Ayu hanya tersenyum sekilas. Potret keluarga bahagia itu adalah potret owner perusahaan tempat Ayu bekerja, Pak Yunus Barata. Meskipun tidak menjabat sebagai CEO, Pak Barata adalah pemegang saham tertinggi di perusahaan yang bergerak di bidang kuliner itu.
Ayu sama sekali tidak tahu apa hubungan Pak Barata dengan Alex. Yang pasti bukan anak dan ayah, karena setahunya ayah Alex adalah orang Australia. Dia menebak bahwa mungkin saja ibu Alex adalah saudara atau masih keluarga dekat Pak Yunus.
"Ngapain kita di sini?" tanya Ayu bingung, karena jika memang ingin bertemu dengan ibunya Alex, bukankah seharusnya dia mengunjungi kediamannya secara langsung?
"Untuk ketemu Mami, kan."
"Ia, tapi kenapa di rumah Pak Barata?"
Tangan Ayu yang digandeng oleh Alex tersentak pelan, saat lelaki itu tiba-tiba berhenti sementara Ayu terus melangkah.
"Kamu kenal Marissa Helena?" Alex balik bertanya.
Ayu mengangguk pelan. Tentu saja dia mengenal Marissa Helena, penyanyi dengan suara merdu dan sangat Ayu kagumi kecantikannya. Selain itu, dia juga adalah isteri Pak Barata, Bos besar Ayu di perusahaan.
"Nah, dia yang akan kita temui," kata Alex membuat Ayu tercengang.
***
Tatapan Ayu belum bisa beralih dari sosok wanita yang duduk di depannya. Dia Marissa Helena, idola sejak tahun 80-an yang masih memesona di usia yang sudah menginjak setengah abad. Tidak heran kenapa wajah Alex tampak sangat rupawan.
"Aku tidak tau harus berkata apa, Alex tidak pernah mengenalkan satu perempuan pun, dan tiba-tiba dia bawa pulang isteri," ungkap Marissa dengan senyum kecil di kedua sudut bibirnya.
Tadi Ayu berkenalan dengan canggung pada mertua perempuannya itu. Mereka hanya saling mengucapkan nama masing-masing.
"Kamu sudah pernah bertemu dengan ayahnya Alex?" Marissa bertanya pada Ayu.
"Yang mana? Pak Bara?" Ayu balik bertanya dengan ragu.
Ayu melirik sekilas pada Alex yang hanya duduk seakan tidak peduli pada percakapan dirinya dan Marissa.
Suara lelehan kecil Marissa membuat Ayu terpusat pada perempuan itu. "Maksudku Daddy-nya." Marissa kemudian membetulkan, "atau keduanya aja."
__ADS_1
Ayu mengangguk sekilas. " Kalo Pak Bara pernah. Saya AM di restoran Pizza Pak Yunus. Kalo Mr. Jones belum pernah."
Marissa mencibir pada Alex. "Dia bahkan tidak mengenakkanmu lebih dulu padaku, mustahil dia juga memberitahu Daddy-nya," sindir Marissa.
"Bukan salah Alex, itu keputusan kami juga." Ayu menjawab dengan ramah.
"Tetap saja, restu orang tua itu penting." Marissa menegaskan.
Senyum Ayu perlahan hilang. Hatinya mencelos mendengar perkataan Marissa. Dia menarik kesimpulan bahwa Marissa tidak merestui pernikahannya dengan Alex. Meski menikah dengan Alex karena terpaksa, dia merasa terluka mendengar pengakuan Marissa.
"Mami!" tegur Alex seketika melihat mimik Ayu berubah.
Marissa yang tersadar telah membuat Ayu berkecil hati langsung meralat, tangannya bergoyang-goyang di udara. "Tidak! Itu bukan berarti Mami tidak merestui kalian."
Marissa meraih tangan Ayu yang berada di meja. " Cantik, tentu saja aku menyukaimu sebagai mantuku. Alex tipe pemilih, apalagi kalo masalah isteri, aku percaya pilihan Alex tidak pernah salah."
Ayu membalas senyum Marissa, sementara dalam hati dia merasa bersalah. Ayu bukan pilihan Alex, dia hanya kebetulan membuat Alex terjebak tanpa ada pilihan lain.
"Apa kalian akan mengadakan resepsi?" Marissa terus bertanya.
Ayu yang bingung tidak tau menjawab apa hanya terdiam. Diam-diam dia menginjak kaki Alex sebagai isyarat agar lelaki itu membantunya menjawab.
Marissa menggeleng-geleng pelan, tak percaya pada pendengarannya.
"Ayu, kamu punya kakak lelaki?"
"Iya, ada," jawab Ayu sambil mengangguk.
"Mami nggak keberatan kalo Alex dipukuli sampai babak belur nanti malam," kata Marissa geram.
Ayu dan Marissa terkekeh pelan.
Mereka berlanjut di meja makan untuk menyantap makan siang. Di meja itu juga ikut Reina dan Reihan.
Ayu mulai mengamati satu persatu anggota keluarga Alex. Reihan dan Reina termasuk anak ceria dan penyayang keluarga, bisa Ayu lihat dari bagaimana kedua anak itu mencium pipi Marissa. Mereka juga mengobrol dengan santai, tetapi tidak dengan Alex.
Tatapan Ayu beralih pada Alex yang duduk di sampingnya. Wajah Alex sangat berbeda dengan biasanya. Alex yang selalu jahil dan tersenyum seakan hilang. Meski kadang bibirnya menyungging saat menjawab pertanyaan Reina atau Reihan, tetapi senyumnya berbeda, rahangnya tampak mengeras sehingga lebih kaku. Seakan dia menahan sesuatu yang berat.
"Aku sering liat foto Kak Ayu di Instagram Kak Tamara," ucap Reina bersemangat, "aku selalu bilang kalo Kak Ayu itu cantik, ternyata jadi kakak iparku." Reina melanjutkan.
__ADS_1
Marissa mengalihkan pandangan dari piring pada Ayu. "oh, jadi kamu temannya Tamara juga?"
Ayu mengangguk dan mengiyakan. Perkenalan di ruang tengah tadi memang tidak detail, sehingga dia dan Alex memang tidak pernah menyebut nama Tamara yang sedikit banyak memiliki andil dalam pertemuannya dengan Alex.
"Kami teman kampus," jawab Ayu.
"Astaga, yang temanan sama Karin juga?" tanya Marissa namun tidak mengharap jawaban, "aku sering liat foto kalian bertiga, tapi pangling liat aslinya." Marissa memuji.
Reina menambahkan, "ia, kak Ayu cantik sekali aslinya."
Reihan menggerling ke arah Alex. "cocok sama Kak Alex, kan."
Wajah Ayu bersemu mendengar pujian yang dilontarkan untuknya. Namun, dia tidak bisa tersenyum seperti biasa. Ayu merasa sedih setiap kali melihat raut muka Alex.
***
Ayu kembali pada rutinitas di ruangan kerjanya. Dia kembali ke kantor sepulangnya dari rumah Marissa, ibu Alex. Sepanjang jalan Alex lebih banyak diam dan bicara seperlunya saja saat di mobil tadi. Hal itu membuat Ayu kepikiran. Sebelum mereka ke rumah itu, Alex baik-baik saja. Tiba-tiba lelaki itu menjadi murung.
Sialnya, kemurungan Alex mempengaruhi Ayu. Dia tidak bisa berkonsentrasi dan terus berpikir tentang keadaan Alex. Dia terus menatap HP dan berpikir untuk menghubungi lelaki itu, namun gengsi menahannya. Tentu saja, apa yang akan dia katakan kalau dia menelepon Alex, yang ada Alex akan menggodanya.
Dengan tidak sabar Ayu menunggu jarum pendek jam menunjuk ke angka 5. Sebenarnya Ayu tidak pernah pulang tepat waktu, dia selalu lembur beberapa jam. Paling cepat dia pulang jam 7 malam. Karena harus mengurus pernikahannya dengan Alex, untuk seminggu ini dia akan selalu pulang lebih awal.
Ayu meraih HP dan menghubungi Alex karena merasa sudah ada alasan untuk menelepon lelaki itu.
"Kamu udah jalan, kan?" tanya Ayu.
"Ia, ini udah ada di cafe bawah."
"Okay, tunggu! Aku turun sekarang."
Ayu berlari kecil menuju lift setelah melihat angka di layar kecil lift yang sudah hampir mencapai lantai tempat dia berada. Tidak sabar dia memencet tombol panah bawah. Sayang, lift itu harus mengantar naik dulu, sehingga dia harus menunggu lagi. Padahal, dia tidak sabar untuk turun ke bawah dan memastikan Alex baik-baik saja.
Mendengar dari jawaban Alex di HP tadi, suaranya belum seriang biasanya. Dia baru mengenal Alex, tetapi mungkin karena Ayu memang peka atau pembawaan bayi yang sedang dia kandung sehingga Ayu tahu kalau Alex sedang tidak baik-baik saja.
****
Aku datang lagi 😊
Part ini agak pendek, soalnya minta next jadi seadanya aja, ya. Miyanhaeyo! 🤩
__ADS_1