Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
First Day


__ADS_3

Ayu bergerak gelisah. Dia menggeliat dan mulai meraba-raba ke samping--mencari keberadaan Alex. Matanya langsung terbuka begitu menyadari bahwa tak ada orang di sampingnya.


Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan langsung bangun. Dia mencari dengan mata yang mengedar ke mana-mana. Dia pun mulai beringsut turun, kakinya bergerak untuk menggapai sandal rumah. Langkahnya pelan dan agak sempoyongan, satu tangan menggosok-gosok mata menuju kamar mandi. Di sana dia mencuci muka dengan air hangat.


Rambut panjangnya yang ikal, dia gelung sebelum keluar dari kamar dan mencari keberadaan suaminya. Dia bersandar dengan senyum di samping kulkas menatap Alex yang sudah siap dengan kemeja celana bahannya, sembari mengoles selai ke roti.


"Tidurmu nyenyak, Sayang?" Mata Alex terangkat menatap Ayu, bibirnya melengkung indah pada perempuan itu.


"Kenapa tidak dibangunin?" protes Ayu yang kini sudah berada di samping Alex. Kedua tangannya memegang meja putih yang berupa meja bar terhubung langsung dengan kursi sebagai meja makan.


Alex meletakkan piring ke depan. Tangannya yang sudah bebas dari kegiatan mempersiapkan sarapan melingkar di pinggang Ayu. Di juga memberi kecupan kecil pelipis Ayu, lalu membisik ucapan selamat pagi.


Kedua tangan Alex naik dibpundak Ayu. Dia menuntun perempuan itu menuju sisi meja yang lain. Lantas menarik satu kursi untuk Ayu. "Aku sudah siapin susu sama sarapan. Makan dulu, ya."


Ayu berbalik menolak untuk duduk. Matanya tertuju pada dasi yang bertengger di kedua pundak Alex. "Mau aku pasangin?"


Tidak menunggu jawaban, Ayu meraih dua sisi dasi sutera berwarna biru tua dengan motif kotak hijau armi di dalamnya.  Terlihat cocok dengan kemeja biru langit muda yang dikenakan oleh Alex.


Mata Alex terkunci pada wajah Ayu yang berkonsentrasi memasang dasi. Sesekali dia tersenyum saat alis Ayu mengernyit, bingung cara memasang dasi dengan baik. Suara embusan gusar perempuan itu terdengar hingga Alex tertawa kecil.


"Biar aku sendiri saja kalau begitu," ucap Alex merasa kasihan pada Ayu yang tampak frustasi.


Ayu menghempas dasi di tangannya dengan kasar. "Dasimu terlalu licin, jadi gitu."


"Tidak apa-apa, Sayang." Alex mengecup puncak kepala Ayu. "Aku mengajakmu tinggal di sini bukan untuk masangin dasi." Kali ini dia mencubit pelan pipi Ayu.


Ayu mengambil tempat di kursi yang baru saja ditarik oleh Alex. Di depannya ada roti isi selai dan omelet. Entah, tapi mungkin ini sarapan wajib Alex. Seingatnya tidak pernah sekalipun lelaki itu membuat sarapan lain selain roti dan telur.


"Kamu makan dulu, ya. Aku mau siap-siap," kata Alex mengelus kepala Ayu.


Belum sempat dijawab oleh Ayu, Alex sudah melenggang meninggalkan tempat itu. Ayu pun memutuskan untuk mulai meminum jus yang ada di depannya. Setelah itu mulai melahap dua lapis roti juga telur gulung di piringnya. Dia tidak tahu kenapa, nafsu makannya meningkat setiap memakan masakan Alex.


Dia berbalik setelah mendengar ketuk sepatu dengan lantai. Di belakangnya ada Alex yang sudah siap dengan setelan jas biru gelap yang senada dengan celananya. Dasi yang tadi juga sudah terpasang rapih dengan pin penjepit emas.


"Kamu tidak sarapan?" tanya Ayu.


"Aku minta disuapi," pinta Alex yang kini duduk di kursi di samping Ayu.


Ayu pun mulai memotong sebagian roti yang tersisa di piring dan menyuapinya pada Alex.


"Kamu mau minum susu ini juga?" Ayu menawarkan susu ibu hamilnya pada Alex.


"Boleh."


Sambil tertawa, Ayu memberi gelas susunya yang masih ada setengah pada Alex.

__ADS_1


"Rasa susu biasa. Kukira ada yang beda," rutuk Alex.


Ayu tertawa lagi. "Ya jelas rasa susu, masa iya rasa kopi. Gimana, sih." Dia melanjutkan, "bukannya kamu bilang aku boleh ikut ke kantor."


Alex meraih tisu dan menyeka mulutnya sebelum menjawab, "iya, aku ada meeting dulu. Nanti aku jemput kalo sudah selesai."


Ayu mengangguk pelan, lagipula dia masih ingin istirahat sedikit. Akhir-akhir ini dia menjadi lebih malas dari biasanya, lebih suka berdiam diri di kasur--rebahan.


"Kamu memangnya tidak ada sopir, Lex?" tanya Ayu setelah mengingat Alex ke mana-mana menyetir sendiri. Selain itu, saat mereka ingin mendaftarkan pernikahan, Alex juga meminta Jonny yang menjemput.


"Aku tidak suka pake sopir, Yang. Lebih hemat, lebih mandiri juga."


Ayu mengangguk lagi. Di balik kesan mewah yang dimiliki oleh Alex, lelaki itu juga pandai berhemat. Lihat saja unit apartemen yang dia miliki, meski perabotnya mewah, tetapi unitnya hanya unit studio yang tidak begitu luas. Saat tidak sibuk, lelaki itu juga beberes sendiri. Menyewa pembersih hanya beberapa kali seminggu.


"Aku pergi dulu," pamit Alex. Dia memberi kecupan lagi di kening Ayu. "Sebelum jam makan siang aku jemput, jadi bisa makan siang bareng sekalian."


"Okay," balas Ayu lantas menyunggingkan senyum sebelum melambai pada Alex yang mulai berjalan.


"I love you!" teriak Alex setelah membuka pintu.


Ayu berbalik dan melihat pintu telah tertutup. Dia hanya tersenyum kecil, pipinya ranum seperti tomat masak.


Usai membersihkan alat makan yang dia gunakan, Ayu masuk ke dalam kamar untuk mengambil gawainya yang tergeletak di nakas. Dia menjatuhkan diri di ranjang sembari berselancar di sosial media. Dia tersenyum puas, merasakan kebebasan dari beban kerja. Tidak perlu lagi khawatir tentang sales dan transaksi. Dia pengangguran yang digaji tinggi sekarang.


Sambil bersenandung, dia muali menengok akun instagramnya. Dia tidak aktif di jejaring yang satu itu, sehingga notifikasinya tidak aktif. Matanya membelalak melihat pemberitahuan di sana menumpuk.


Pantas saja banyak komentar yang masuk di foto-fotonya. Padahal, selama ini dia masih bisa hidup tenang karena tidak satu pun netizen gila urusan yang tahu akunnya.  Kini, dia bahkan memiliki penambahan pengikut lebih dari seribu pasca membuka kuncian akunnya.


Ayu mulai menggerutu karena lagi-lagi banyak komentar yang membandingkannya dengan salah seorang aktris yang merupakan mantan Alex. Dasar penggemar garis keras yang sok tahu. Lihat saja apa yang akan Ayu lakukan untuk membalas mereka.


***


Alex memarkir mobil, lalu naik lift menuju unit apartemennya. Dia membawa bahan masakan yang akan dia buat untuk Ayu.  Tadi dia sudah menelepon karena sedikit terlambat, meminta Ayu memilih tempat makan siang. Namun, perempuan itu berkata ingin memakan masakan Alex saja.


Sesampainya Alex di atas, dia disambut dengan senyum Ayu. Perempuan itu langsung meraih belanjaan di tangan Alex dan membawanya menuju dapur. Sayuran dan juga ayam itu dikeluarkan boleh Ayu dan mulai dibersihkan satu persatu.


"Biar aku yang masak, Sayang."


"Aku bantu, kamu pasti capek. Masih harus balik kerja lagi, 'kan?"


"Ya udah, kamu potong-potong aja sayurannya!"


"Memangnya mau buat apa?"


"Aku mau makan salad ayam. Kamu mau tumis buncis, 'kan?"

__ADS_1


Ayu hanya mengangguk, lantas melanjutkan kerjaannya. Mereka memasak bersama sembari sesekali melempar canda. Ayu merasa senang pindah bersama Alex, dia tidak lagi kesepian dan khawatir di hatinya.


"Lex, ini loh!" Ayu menunjukkan semua komentar yang masuk di foto-foto Instagram-nya. "Kamu sih pake tag aku segala," rutuk Ayu kesal saat mereka sudah berjalan menuju parkiran.


"Tidak usah dipikirin, Sayang. Mereka juga bukan siapa-siapa," pinta Alex.


"Mana bisa nggak dipikir kalau kayak gini." Ayu terus menggulir setiap komentar yang masuk. "Nih, katanya aku gendut, jelek, item."


Tawa Alex mengudara. Dia menelungkup kedua pipi Ayu dan tersenyum pada perempuan itu. "Mereka itu fans gila-nya Stella, jangan ditanggapi. Kamu emang merasa gendut, jelek, item, gitu?"


Ayu menggeleng-geleng. "Tapi, aku emang agak gendutan, 'kan?"


"Itu pengaruh Dede Bayinya, Sayang," ucap Alex. Dia meraih tangan Ayu dan menggandengnya.


"Lex, cium sini!" Ayu menunjuk pipi kanannya. Alex melepas seat belt yang sudah terpasang dan mengecup singkat pipi Ayu. Suara jepretan kamera terdengar. "Udah, udah," seloroh Ayu.


"Kamu benar-benar mau memancing mereka?" cetus Alex saat melihat Ayu tersenyum menang.


"Mereka berani mulai war sama aku," gumam Ayu dengan tangan yang tersu menari di atas layar. "Lagian aku butuh hiburan." Ayu lantas cekikikan.


"Ya udah, tidak apa-apa. Tapi, ingat, kata dokter kamu tidak boleh banyak pikiran."


Ayu mengangguk pelan. Dia memperlihatkan gambar yang tadi dia ambil serta caption singkat di bawahnya, 'Mine ... Mine ... Mine'.


***


"Selamat siang!" sapa Cleo meyambut kedatangan Alex dan Ayu. Ayu menyapa balik, tetapi Alex langsung masuk begitu saja ke ruangannya.


Mata Ayu mengedar pada ruangan Alex. Dia berjalan mendekat ke arah kaca untuk melihat keindahan teluk Singapura dari ketinggian. Kantor Alex berada di lantai 50 dan menyuguhkan panorama kota yang indah. Dia suka berada di ruangan itu.


"Kalau kamu capek, kamu bisa masuk di ruangan itu. Di sana juga ada buku yang bisa kamu baca."


"Aku di sini saja dulu," ucap Ayu yang betah dengan pemandangan di depannya.


Ayu kini duduk di sofa dengan teh lemin yang tadi dibawa oleh Cleo. Di menyesap teh dan sesekali melirik Alex yang sedang membincangkan sesuatu dengan Cleo, urusan pekerjaan tentunya.


Merasa bosan, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke ruang istirahat Alex. Ruangan itu tak begitu luas, ada sofa lipat yang berfungsi sebagai tempat berbaring atau sekedar bersantai. Ada rak-rak yang berisi banyak buku, membuktikan betapa gila Alex pada bundelan berisi kertas dan tulisan itu.


Namun, ada beberapa pigura yang tertempel di dinding yang menarik perhatian Ayu. Ada tiga pigura yang saling berdempetan; yang pertama berisi gambar anak lelaki dan perempuan yang sedang tersenyum sambil berpegangan tangan, yang kedua adalah dua remaja yang sedang saking merangkul, dan yang terakhir adalah sosok dewasa yang saling menempelkan pipi dengan wajah berisi coretan krim di depan kue cokelat.


Tiga pigura berbeda yang berisi dua orang yang sama, Alex dan Tamara. Tiga gambar yang diambil di waktu yang berbeda, tetapi dengan senyum yang sama. Ayu semakin sadar betapa Tamara sangat berarti di hidup Alex.


Ayu mengambil satu pigura yang dia tebak diambil saat Tamara masih kuliah. Jika melihat tampilan rambut perempuan itu, maka itu adalah gambar ulang tahun Tamara yang ke-20. Saat itu dia tidak datang karena ada acara keluarga.


Jemari Satu mengusap gambar dua orang itu. Dia terpaku pada senyum indah di dalam sana. Mereka terlihat sangat bahagia. Entah kenapa ada bimbang dalam dirinya. Tanpa alasan dia tiba-tiba merasa seakan menjadi penghalang senyum di kedua wajah itu.

__ADS_1


***


__ADS_2