Terpaksa Jodoh

Terpaksa Jodoh
It's Enough (2)


__ADS_3

Ruangan sepi itu mulai bersuara saat tim dokter datang memeriksa keadaan Tamara. Ada dua perawat perempuan dan dua dokter, masing-masing dokter umum dan psikolog. Dua dokter itu memperkenalkan diri dengan ramah dan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Mereka bergantian menjelaskan tentang gejala yang mungkin Tamara rasakan usai kehilangan banyak darah.


Alex sudah berdiri di samping ranjang Tamara. Mengurung semua tanya tentang keadaan sahabatnya itu. Entah kapan terakhir kali ia menghubungi perempuan yang kini terbaring itu. Mungkin saat Opa Surya meninggal. Ia tahu betul sifat Tamara. Di balik senyumya, ada banyak luka yang ia pendam. Di balik semua kesan sempurna yang ia miliki, ada banyak kekurangan yang coba ia tutupi.


Tamara adalah orang yang tertutup. Segala kesedihan biasanya ia simpan sendiri, hanya pada Alex ia seri g berbagi. Kadang, hanya dengan senyuman dan pelukan lelaki itu semua kegelisahannya bisa menguap.


"Alex!" panggil Tamara saat Alex hendak menutup pintu kamar yang tidak diutup rapat oleh tim dokter tadi. Langkah Alex terhenti dan kembali mendekat. Lelaki itu segera meraih tangan Tamara yang terangkat sedikit, seakan Ingin meraih. Ia menyentuh selembut mungkin, mengingat pergelangan tangan perempuan itu diperban setelah dokter melakukan prosedur operasi kecil.


"Jangan pergi!" lirih Tamara yang dibalas anggukan oleh Alex.


"Aku di sini." Alex mengelus pelan rambut Tamara. Tatapanya sendu pada perempuan yang tidak ingin melepas pandang darinya. Teringat olehnya emosi Richard saat ia hubungi semalam. Benaknya mulai menyambung rentetan peristiwa yang mungkin memantik derita dalam diri Tamara. Kematian Opa Surya dan mungkin juga ada masalah dengan hubungan Tamara dan Richard yang menjadi penyebab perempuan itu nekad mengiris nadinya.


"Aku benci sendiri, Al." Tetesan air keluar dari kedua mata Tamara.


Sangat jarang Tamara memanggil Alex dengan sebutan masa kecilnya, Al. Sejak mereka tumbuh dewasa dan berpisah jarak, perempuan itu memanggil Alex atau Lex, seperti orang lain.


Alex terdiam dan terus mengelus kepala Tamara. Ia mengerti bagaimana sepi yang mungkin Tamara rasakan setelah Opa Surya meninggal. Satu-satunya orang yang menyayangi Tamara di keluarganya hanya Opa Surya. Didikan keras yang kadang terkesan otoriter telah dirasakan perempuan itu sejak kecil, bahkan hingga kini. Aturan-aturan dari keluarganya harus ia ikuti.


"Kenapa, Tammy?" tanya Alex akhirnya. Ia melekatkan mata pada mata bening Tamara. "Kamu tau kan, aku sangat sayang sama kamu. Aku selalu ada di sisi kamu. Tapi, tapi, kenapa kamu mau pergi?"


Mata Alex mulai berkaca-kaca. Membayangkan kemungkinan Tamara tidak terselamatkan saja sudah membuat hatinya remuk. Terlambat sedikit saja, mungkin kini ia hanya bisa menangis di depan tubuh tak bernyawa perempuan itu.


Isakan tertahan terdengar dari mulut Tamara. Lelehan air matanya tampak tidak henti.


"Maaf, Al. Maafin aku," lirih Tamara diikuti Isak dari bibirnya.


Alex menggeleng. Merasa tidak pantas mendengar ucapan maaf dari Tamara. Perempuan itu harusnya meminta maaf pada dirinya sendiri.


"Aku tidak punya siapa-siapa, Al. Aku kesepian," ungkap Tamara.


"Ada aku, Tammy. Aku tidak pernah pergi," papar Alex meyakinkan.


"Kamu udah punya Ayu. Kamu udah lupa sama aku," timpal Tamara memalingkan wajah. Ia terus terisak, antara sedih dan bersalah.


Tamara benar. Sejak Alex menikah, ia tidak pernah meluangkan banyak waktu untuk sahabatnya itu. Dulu, apa pun yang terjadi, Tamara selalu menjadi prioritasnya. Namun, sebagai seorang suami, Alex tahu yang mana yang harus menjadi pusat rotasi, anak dan istrinya.

__ADS_1


Ingatan Alex seakan membawanya menuju semua hari yang telah ia lalui dalam hidupnya. Masa kecil yang ia lewati bersama Tamara, hingga kemarin saat ia berada di rumah orang tua Ayu. Semua masa berharga dengan orang-orang yang memberinya senyum. Dan dari semua hal itu, Aleeya dan Ayu adalah senyuman terindah yang pernah ia miliki.


"Kamu selalu punya tempat di sini, Tammy." Alex menunjuk dadanya. "Sebagai sahabat. Bukan hanya untuk aku, untuk Ayu juga."


Mata Tamara terpejam. Kerutan muncul di sekeliling matanya. Pun dengan air yang keluar menderas.


"Tidak, aku tidak mungkin bisa menatap Ayu," aku Tamara di tengah isakannya. "Aku bukan sahabat yang baik."


Alex mengerutkan kening. Lantas membelalak begitu mendengar Tamara melanjutkan.


"Aku cinta sama kamu, Al."


Kata cinta dari Tamara berputar-putar dalam kepala Alex. Telinganya seakan berdengung. Sesekali ia mengerjap, tidak percaya pada ungkapan yang baru ia dengar. Tangannya sontak melepas jemari perempuan itu. Ia mundur dua langkah dan menggeleng, mencoba menenangkan diri.


"Aku ... aku benci perasaan ini, Al. Aku tau kamu sudah bahagia dengan Ayu," Isak Tamara. "Aku tidak pantas hidup dengan perasaan bodoh ini, Al."


Alex mematung di tempatnya. Benak lelaki itu kembali menyambung umpatan yang ditujukan Richard padanya dan pengakuan Tamara barusan.


"Richard tau?"


Anggukan kecil Tamara menjawab pertanyaan Alex. Akhirnya, Alex paham mengapa lelaki dengan tutur lembut seperti Richard bisa mengumpat kasar. Ia menyeringai kecil. Merasa takdir begitu hebat dalam bermain. Bagaimana skenario ia atur dengan berbagai macam kejutan di dalamnya.


"Aku tidak seharusnya mencintaimu, Al," ucap Tamara lagi. Sesal dan sedih bercampur dalam isakannya.


Alex menggeleng dan membalas, "Aku juga cinta sama kamu, Tammy." Tatapannya dalam tertuju pada manik Tamara. Ia terdiam sejenak, masih mengelus pipi sahabat yang sangat ia cintai itu. "Tapi, hanya sebagai sahabat yang ingin aku jaga, ingin aku bahagiakan. Kamu punya tempat lain yang tidak mungkin digantikan siapa pun." Alex melanjutkan dalam hati, "Seperti tempat Ayu yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun juga."


Siapa bilang bahwa seorang lelaki tidak bisa mencintai dua perempuan yang berbeda? Alex bisa, bahkan ada tiga atau mungkin empat. Ayu, Aleeya, Tamara, dan Marissa. Keempatnya ada di hati Alex, menempati kotaknya masing-masing. Rasa sayang yang tidak beda, tetapi memiliki tingkat prioritas yang berbeda. Antar Alex dan Tamara ada cinta, tetapi bukan cinta yang menggelora seperti pasangan.


"Kamu berharga buat aku, Tammy. Buat keluarga kamu, buat teman-teman kamu. Kami semua sayang sama kamu. Kamu tidak sendiri." Alex berusaha meyakinkan Tamara. Tidak ingin sahabatnya itu merasa bersalah dan bertindak bodoh lagi.


"Tapi, aku ... aku berdosa, Al. Mana bisa aku menemui kami dan Ayu dengan perasaan ini." Nada frustrasi terdengar jelas diraungan Tamara.


***


Malam itu Richard ada di apartemen Tamara, berniat menemani tunangannya sepanjang malam. Tidak ada perayaan untuk ulang tahu Tanara tahun ini. Kata perempuan itu, ia hanya ingin berdua dengan Richard, duduk di balkon dan menyesap anggur yang nikmat.

__ADS_1


Saat itu mereka sedang berdiri di depan kaca yang menjadi pembatas balkon. Richard berdiri di belakang Tamara sambil melingkarkan lengan di pinggang kekasihnya itu. Mereka lama terdiam. Richard asyik menghidu aroma manis Perempuan yang berada di dekapannya. Sementara, Tamara sedang dilanda kegelisahan.


"Richie, I think I've fallen in love."


"I know, Babe, I know that you really love me."


Tamara menggeleng. "Aku mencintai Alex."


Pelukan Richard perlahan terlepas. Lelaki itu mundur beberapa langkah. Rahangnya mengeras menahan amarah. Ia sudah menebak sejak lama. Namun, benci jika harus berasumsi. Perubahan sikap Tamara sejak mengetahui pernikahan Alex menurut Richard memang kurang wajar. Perempuan itu tiba-tiba seakan menarik diri dari segala hal, lebih senang menghabiskan waktu sendiri. Setiap kali, Richard membahas mengenai persiapan untuk pernikahan mereka, Tamara selalu menghindar. Padahal, saat mereka pertama kali bertunangan, perempuan itu begitu antusias.


"Katakan kalau kamu bohong, Tamara. Ini cuma prank untuk hari ulang tahunmu, kan. Apa karena kejutanmu di ulang tahunku gagal, jadi kamu menyiapkan prank yang tidak lucu ini?"


Air mata Tamara mulai meleleh. "Aku ... aku juga berharap ini prank, Richie. Aku juga berharap kalau hatiku hanya kalut. Tapi, tidak! Aku memang cinta sama Alex," erang Tamara yang tubuhnya bersandar di pembatas balkon.


Richard berniat untuk menenangkan Tamara, tetapi urung. Ia hanya terpaku menatap cincin yang dulu ia sematkan di jari manis Tamara terlepas.


"Maaf, Richie," ucap Tamara menyodorkan cincin itu pada Richard. "Aku tidak mau terus melukaimu."


Richard meraih cincin itu, memggemgam erat hingga jemarinya memutih. Ia hanya diam saat Tamara memeluknya bersimbah air mata. Setelah berpikir bahwa pencariannya akan berhenti di Tamara, ia disuguhkan fakta menyakitkan.


Sungguh, Richard tidak berniat pergi malam itu. Ia ingin menghabiskan malam untuk menemani Tamara menanti hari jadinya. Namun, rasa sakit mendorongnya melempar asal cincin di jemarinya di udara. Membiarkan benda yang pernah mengikat jemari Tamara menghilang, seperti ikatan antara mereka yang juga hilang.


Tubuh Tamara luruh di lantai. Ia terus terisak. Merasa menyesal telah membiarkan Richard berlalu. Merasa bodoh karena mencintai Alex, sahabatnya sendiri. Bukan hanya sahabat, tetapi juga suami dari teman dekatnya. Ayah dari bayi selucu Aleeya.


Tamara termenung lama. Hingga akhirnya ia masuk, menatap semua sudut ruangan apartemennya. Tempat di mana ia dan Richard banyak menghabiskan waktu. Entah bagaimana bisa hatinya mengkhianati lelaki sebaik Richard.


Kedua tangan Tamara menutupi wajah. Bahunya naik turun dengan isakan dan lolongan pedih. Mengingat wajah Ayu, membuat hatinya makin teriris. Senyum temannya sejak di bangku kuliah itu seakan menancapkan duri di dalam jantungnya. Ia begitu berani mencinta suami perempuan yang selalu baik padanya. Bagaimana mungkin ia bisa menanggung beban itu?


Semua perasaan yang bercampur aduk itu mengantar Tamara pada satu titik, mati. Ia mencintai Alex, tetapi ia tidak mungkin menjadi perempuan hina yang merusak pernikahan sahabat sendiri.


Di pelukan Tamara adalah bingkai yang berisi foto dirinya dan Alex sewaktu kecil. Mungkin cinta dalam diri Tamara sudah ada sejak saat itu, tetapi tidak pernah ia sadari. Mungkin benar bahwa kadang arti kehadiran seseorang terasa saat telah kehilangan.


Bingkai kotak itu menabrak lantai dengan kasar begitu Tamara melemparnya. Kaca di bingkai itu pecah, tetapi untungnya tidak berserakan. Satu tangan Tamara meraih pecahan. Matanya terpejam saat ia mulai merasakan perih dan pusing. Tubuhnya mendadak hilang daya dan terjatuh. Ia ingin mati, mengunjungi kakeknya. Ia ingin mati, terkubur bersama rasa yang tidak sepantasnya ia rasakan.


***

__ADS_1


Kita nanjak terus, ya. Udah dekat end di season ini soalnya 😭


maaf, ya, saya selalu lupa UP 🙏


__ADS_2