
Seharian sudah Veren berada di dalam kamar. Yang ia lakukan hanyalah melakukan panggilan video bersama dengan Denzo, mendengarkan segala cerita Denzo tentang sahabat-sahabatnya. Inilah kebahagian seorang veren, perubahan putranya sekarang ini benar-benar membuatnya merasa begitu bahagia, bisa melihat senyum Denzo yang tidak dipaksakan seperti dulu, semangat sekolahnya juga sangat tinggi, bahkan dia juga lebih giat belajar karena ingin menjadi lebih pintar agar bisa membanggakan Ibu dan orang-irang yang menyayanginya. Sebenarnya, ada hal lain juga yang membuat Veren khawatir. Yaitu, ketakutan kalau saja keberadaan Denzo disadari lebih cepat dari perkiraannya.
" Denzo, maaf karena Ibu akan semakin membelenggu mu. "
Veren meraih kembali ponselnya, dia memegang erat-erat ponsel itu sebelum menghubungi seseorang. Setelah dia merasa lebih tenang, maka dia kembali mencoba untuk menghubungi pria yang selama ini melindunginya.
" Erick? " Ucap Veren setelah sambungan telepon terhubung.
Vero? kau ada dimana? jelaskan padaku, apa yang kau lakukan? kenapa kau menikah? apa kau anggap aku sudah mati?!
" Akan aku jelaskan, bisa kita bertemu? kau ada dimana? "
Baiklah, aku tahu kau memiliki alasan. Aku ada di apartemen yang baru dibeli. Aku kirim alamatnya padamu.
" Iya, aku siap-siap sekarang. "
Aku tunggu, Vero ku.
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Veren sigap bersiap-siap untuk menemui Erick yang sudah pasti sangat kesal dan kecewa karena tiba-tiba saja Veren menikah. Padahal, Erick adalah satu-satunya pria yang memperlakukan Veren sebagai istri. Mulai dari segi materi, ataupun batin. Bukan tidak ingin menikahi Veren, hanya saja ada suatu hal yang belum bisa bereskan, begitu juga dengan Veren yang masih belum siap untuk menikah.
" Apa harus memakai ini? " Veren mengangkat tinggi baju dress warna peach kesukaan Erick. Setelah cukup lama berpikir, Veren akhirnya menjauhkan dress itu dan memilih setelan jeans dan kaos agar lebih santai. Setelah semuanya selesai, barulah Veren keluar dari kamar.
__ADS_1
" Akhirnya aku bisa makan juga. " Gumam Veren karena seharian ini dia tidak makan apapun, dan lagi, dia juga malas kalau harus berdebat dengan Ibu mertua yang katanya sangat lemah lembut itu.
" Mau kemana? " Tanya Alex saat Veren melewati Alex dan Ibu Mila yang sedang menikmati makan malam. Apes! batin Veren. Mulanya dia hanya ingin melihat-lihat sebentar karena lupa pintu utama rumah itu. Tidak disangka, orang yang dihindari malah tanpa sengaja ia datangi.
" Mau, minum. " Alasan Veren karena tidak mungkin juga menjawab dengan jujur pertanyaan Alex.
" Makanlah. Seharian ini kau belum makan. " Titah Alex tanpa menatap Veren.
" Makanlah, aku sudah memasukkan banyak racun di makanan mu. " Timpal Ibu Mila yang tentu saja membuat Veren kesal. Tapi ya biarkan saja lah. Toh, Ibu-ibu tua itu biasanya memang cerewet.
" Oh, tidak perlu. Aku akan makan dan minum diluar, jadi jangan terlalu garang begitu, Ibu mertua. " Veren tersenyum miring lalu membalikkan tubuhnya karena sudah pasti itu bukan jalan menuju pintu utama.
" Tidak mau, suamiku. Meskipun aku sangat kelaparan, aku tidak akan mungkin bisa menelan makanan dihadapan Ibumu yang kemah lembut, dan lemah gemulai ini. " Lagi-lagi Veren tersenyum tapi tak mau kalau sampai terlihat mengejek, dia lebih memilih menutupinya dengan senyum lalu membuang pandangan ke arah lain.
" Wanita, jangan memantik api. Makan dan kembalilah ke kamar mu. " Titah Alex lagi.
" Wanita? suami, apa kau tidak mengingat namaku? " Veren berjalan mendekati Alex lalu memeluk pundak nya. Tentulah Alex merasa kaget, tapi dia juga tidak bisa mendorong tubuh Veren karena tidak mau menyakitinya.
" Namaku, Veronika. Kau bisa memanggil ku Veren seperti kebanyakan orang. " Veren tersenyum setelah membuat wajah mereka saling menatap. Iya, Alex memang tidak terlihat ingin menjawab. Laki-laki itu hanya terdiam setelah menelan salivanya beberapa kali.
" Aku ada urusan penting yang harus diselesaikan, jadi aku makan di luar saja. Untuk selanjutnya, aku juga akan makan diluar. Jangan menungguku, dan jangan merindukan aku saat aku pergi sebentar ya, suamiku. " Veren mengecup pipi kanan Alex dan langsung saja pergi tanpa mau melihat bagaimana wajah Alex dan Ibu mertuanya itu. Sesampainya dia dipintu keluar, Veren mengeluarkan tisu dari tasnya, lalu menyeka bibir yang masih saja terasa bagaimana kulit Alex menempel di sana.
__ADS_1
" Sialan! kenapa aku harus mencium pipinya sih?! " Veren membuang jauh ke sembarang arah tisu yang ia gunakan untuk menyeka bibirnya. Setelah itu dia kembali bergegas untuk menemui Erick.
Kembali di meja makan.
Setelah kepergian Veren tadi, Ibu Mila benar-benar terlihat sangat kesal. Tentu dia paham jika Veren sengaja melakukan itu untuk mengingatkan dirinya, bahwa Veren adalah istri dari Alex, yang tentunya juga adalah menantunya. Apalagi melihat Alex yang sama sekali tidak terlihat menolak, rasanya dia benar-benar jadi tambah kesal sendiri.
" Ibu, berhentilah menatapku seperti itu. Aku tahu Ibu marah, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun. " Alex meraih gelas yang ada di dekatnya lalu menenggak habis isi dari gelas itu.
" Kalau Angel melihat apa yang terjadi barusan, apakah kau bisa setenang ini?! Alex, kau menikahi wanita itu hanya untuk mendapatkan warisan mu! fokus dengan itu, dan jangan sampai kau membuat Angel patah hati. Lagi pula, wanita itu pasti sudah dibayar banyak oleh Ayahmu, tentu saja dia tidak akan rugi apapun. "
Alex menyudahi kegiatan makan malamnya. Dia menghela nafas lalu menatap Ibunya yang terlihat kesal.
" Ibu, jika Ibu mendengarkan ku waktu itu, jika Ibu tidak selalu memikirkan tentang harta warisan, semua juga tidak akan seperti ini. Aku masih bisa menghasilkan uang dengan usahaku sendiri. Aku masih bisa menghidupi Angel dan Ibu tanpa harta warisan itu. Semuanya sudah terjadi Ibu, tolong jangan seperti ini. Jangan membuatku melihat bagaimana Ayah dan Ibu bertengkar hanya karena uang itu. "
" Delapan ratus dua puluh satu miliar, Alex! bayangkan saja, jika kau tidak mengambil uang itu dan membiarkan orang lain mendapatkannya, apa kau rela jika uang itu diberikan kepada Sofiana anak sialan itu?! " Ibu Mila membanting sendok dan garpu karena tidak tahan dengan apa yang terjadi ini.
" Ibu, tolong jangan memanggilnya anak sialan. Anak itu tidak tahu apa-apa, Ibu. Dia juga tidak bisa memilih dari rahim siapa dia akan dilahirkan, jika Ibu membenci Ibunya, maka benci saja Ibunya dan jangan anaknya juga. " Alex kembali mengusap wajahnya karena sudah mulai sulit menahan kesal. Ibunya memang selalu saja kehilangan kontrol jika sudah membahas soal warisan, tapi Alex yang menjadi korban sesungguhnya juga sudah mulai tidak tahan lagi.
" Alex, bagaimana kalau kita kirim dia keluar negeri? "
TBC
__ADS_1