
Ibu Mila mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur dengan perasaan kesal. Belum juga menemukan cara untuk mengatasi anak laki-laki yang katanya anak dari Nyonya Nehra dan Tuan Haris, sekarang Veren sudah mulai mendekatkan diri dengan mereka. Tentu saja Ibu Mila jadi pusing memikirkan apa yang sedang direncanakan oleh mereka. Entah itu tentang harta warisan, atau mungkin tentang Alex dan Veren.
Di bukanya gorden jendela kaca yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. Dia membiarkan saja sinar matahari menyusup menerangi kamarnya. Sudah dua puluh tahun lebih dia hidup tanpa sosok suami, tentu bukan hal mudah, tapi apapun itu dia selalu mengutamakan anaknya di banding hal apapun.
" Tidak ada yang lebih berhak kecuali anak-anak ku. Apalagi dia hanyalah anak dari wanita itu, tentu saja tidak boleh menyaingi anak-anakku. " Ucap Ibu Mila sembari memandangi taman rumahnya.
" Aku harus mencari tahu dulu, kalau sampai anak itu mendapat harta warisan juga, maka aku perlu bertindak tegas demi anak-anakku. "
***
Seharian Alex memfokuskan dirinya untuk bekerja, dia benar-benar tidak membuang-buang waktu hari ini. Tujuannya tentu agar bisa pulang tepat waktu, dan bisa menjemput Veren yang sampai saat ini masih berada di rumah Ayahnya.
Tok Tok
" Masuk! " Ucap Alex saat pintu ruang kerjanya di ketuk oleh seseorang.
" Tuan, ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan anda. " Ucap Seli yang kini sudah berada di seberang meja Alex.
" Taruh saja dulu, nanti akan ku hubungi saat sudah di tanda tangani. " Ucap Alex.
Seli mematung sejenak memandangi Alex yang begitu fokus bekerja hari ini. Bahkan saat bicara barusan saja, Alex sama sekali tidak menatap Seli barang sedetik pun. Tidak tahu apa yang membuat Alex begitu fokus, tapi sungguh hari ini justru Seli yang tidak fokus karena melihat tanda merah di leher Alex.
" Masih ada lagi? " Tanya Alex yang tentu saja tahu kalau Seli belum beranjak dari tempatnya.
" Ti tidak ada lagi, Tuan. " Setelah mengatakan itu, Seli bergegas keluar dari ruangan kerja Alex.
Sejenak dia terdiam saat pintu ruangan Alex sudah tertutup. Sungguh sakit sekali melihat tanda merah itu. Tapi mau bagaimana lagi? dia juga tidak berhak bertanya, juga tidak berhak keberatan.
***
Sudah hampir pukul delapan belas, hari juga sudah akan malam. Sungguh tidak terasa jika waktu akan berlalu dengan begitu cepat. Sebenarnya hari ini Erick menghubunginya dan meminta untuk bertemu, tapi karena kegiatan bersama Denzo sangat menyenangkan, Veren dengan lembut menolak ajakan untuk bertemu Erick. Tidak tahu seberapa kecewanya Erick, tapi saat mengingat lagi, entah mengapa cara bicara Erick sangat dingin seolah ada sesuatu yang salah sedang terjadi.
Veren menghela nafasnya. Lelah juga menunggu Alex, dia memutuskan untuk pulang menggunakan taksi saja.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Denzo, Tuan Haris, Nyonya Nehra dan Sofiana, sekarang dia berjalan ke luar gerbang agar bisa mendapatkan taksi. Sebenarnya bukanya Tuan Haris tidak memerintahkan penjaga atau sopirnya untuk mengantar Veren pulang, hanya saja Veren tidak ingin menghadapi mulut busuk Ibunya Alex, karena kalau sudah cemburu, bicaranya sama sekali tidak kenal kontrol dan mengada-ada sendiri.
Veren berdiri sembari menunggu taksi yang lewat. Sepuluh menit sudah dia berdiri disana.
" Kenapa perasaan ku tidak enak? apa kejadian waktu itu, " Veren menggelengkan kepalanya kuat. Dia tidak ingin berpikir negatif, dan malah dia sendiri yang akan ketakutan tidak jelas.
" Tidak! mungkin saja memang mulai sepi karena ini menjelang malam. " Gumam Veren.
Baru saja Veren akan menoleh, sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Veren yang tengah berdiri di pinggir jalan. Terkejut, tapi dia juga merasa sudah tidak sempat lagi menghindar.
" Veren! "
Bruk...
" Aw! " Veren memekik saat seorang pria memeluk lalu membawanya jauh dari mobil yang jelas sekali mengincarnya.
" Kau baik-baik saja? "
" Alex? "
Veren melerai tubuhnya yang dipeluk oleh Alex sembari berbaring tak jauh dari trotoar jalan raya.
" Alex, apa kau baik-baik saja? "
Veren membantu Alex untuk bangkit. Awalnya terlihat tidak apa-apa, tapi saat melihat bagian tubuh Alex yang membentur jalanan, Veren begitu terkejut. Ternyata banyak sekali lecet pada kulitnya.
" Alex, lengan mu terluka. "
" Aku tidak apa-apa. " Ujar Alex. Iya, luka itu sama sekali bukan apa-apa baginya, karena kalau sampai Veren tertabrak mobil tadi, dia bahkan tidak tahu akan jadi segila apa dia nantinya.
" Tidak apa-apa bagaimana?! kau tidak bisa melihat banyaknya lecet di lengan mu?! lihatlah, bajumu sampai koyak! " Kesal Veren, situasi ini mengingatkan dia dengan kejadian masa lalu hingga tanpa sadar dia membentak sembari menangis.
Tidak tahulah, melihat Veren seperti ini malah membuatnya sakit. Alex mengusap wajah Veren, menghapus air mata yang tanpa di sadari jatuh bercucuran.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, karena kalau sampai kau yang terluka, aku juga akan lebih menderita kan? "
Veren menatap mata Alex yang begitu penuh kasih saat menatanya. Niat awal yang hanyalah balas dendam kini semakin goyah. Entah bagaimana, tapi tatapan itu benar-benar membuatnya merasa nyaman meski otaknya masih ingin menyangkal.
" Alex, kenapa kau begitu baik padaku? "
Alex terdiam, matanya juga masih terus menatap Veren.
" Karena aku tidak mau menjadi duda. "
Veren berdecih sebal, duda apanya?! bukanya istri ada dua? hah! istri dua? mengingat itu kenapa juga dia menjadi kesal.
" Kita kerumah sakit saja dulu, nanti kau boleh meneruskan gombalan mu itu. " Alex tersenyum dan mengangguk.
Satu jam lebih waktu berlalu, kini Alex sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena luka di lengan Alex, Veren memutuskan untuk dia sendiri yang mengendari mobilnya.
" Alex? "
" Suami! biasanya kau memanggilku begitu kan? " Protes Alex.
" Eh? baiklah, suami. Kenapa kau ada disana tadi? " Tanya Veren sembari fokus mengemudi.
" Tadinya aku ingin langsung menjemputmu, tapi aku ingat kalau kau kan tidak mau makan dirumah, jadi aku membeli makanan dulu. Saat aku sedang menunggu makanan itu, aku tidak sengaja melihatmu, tadinya aku ingin mengagetkan mu, tapi sebuah mobil berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Jelas sekali kalau dia menargetkan mu. "
Veren terdiam sembari berpikir. Kenapa dia mengalami hal yang hampir sama? jika yang kemarin adalah ulah Angel, apa sekarang juga ulah Angel?
" Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi ini bukan ulahnya Angel. Aku akui, Angel memang memiliki rencana untuk kita berdua, tapi dia tidak berencana membunuhmu. "
" Siapa? kecuali Angel, aku tidak memiliki pembenci. " ibumu juga termasuk loh.
" Ponsel Angel sudah di retas, dengan siapa dia berbicara dan saking mengirim pesan, tentu saja aku tahu. "
TBC
__ADS_1