Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Debaran


__ADS_3

Veren mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum berhasil membukanya perlahan. Hah.... sungguh dia masih mengantuk, tapi dia juga tidak bisa lebih lama tidur karena harus segera pergi untuk melihat keadaan Denzo. Aneh kan? pulang kerumah suaminya hanya untuk menumpang tidur lalu pergi saat pagi. Tapi ya sudahlah, bagaimanapun penilaian orang, sungguh tidak akan bisa menggoyahkan hati seorang Veren.


" Sialan! kenapa matahari terik sekali pagi ini. " Protes Veren saat sinar matahari masuk kedalam kamarnya, mengenai wajahnya yang masih belum hilang rasa kantuknya. Veren perlahan bangkit dari posisinya, meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya.


" Jam tujuh? " Veren mendesah sebal. Padahal ini adalah rumah orang lain, bagaimana bisa dia tidur se nyenyak ini? dengan cepat Veren menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai, barulah dia memakai dress polos berwarna cream. Wajahnya ia poles dengan sapuan make up tipis, rambutnya ia biarkan saja tergerai indah. Memang hanya menemui Denzo, tapi Veren selalu ingin terlihat bahagia dan segar di depan putranya itu. Tujuannya tentu karena tidak ingin putranya khawatir dengannya. Maklum saja, Denzo adalah anak sekaligus saksi hidup bagaimana menderitanya sang Ibu. Pada akhirnya jadilah Denzo yang dewasa meski dia masih ingin dimanja, dia juga menjadi mudah mengkhawatirkan Ibunya setiap kali merasa Ibunya pucat atau bahkan sedikit murung.


Alex yang juga sudah bersiap kini langsung saja menuju parkiran. Tidak tahu mau sampai semua seperti ini, tiga tahun sudah dia sering kali bangun pagi tidak mendapati Angel dan malah selembar kertas bersisi pesan. Sayang, aku ada fashion show diluar kota. Sampai jumpa nanti ya? i love you. Tidak tahu lagi bagaimana caranya melarang Angel karena dari awal dia juga sudah berjanji tidak akan melarangnya. Memang pada nyatanya dia tetap melarang beberapa kali, tapi hasilnya tetap sama. Angel mungkin tidak akan bisa dipisahkan dengan dunia modelingnya.


Alex menghembuskan nafas kasarnya setelah duduk di dalam mobil, dia meraih sabuk pengaman lalu memasangnya, dan bersiap untuk menstater mobil.


" Veren? " Alex sontak melajukan mobilnya lalu menuju ke arah Veren. Tin! suara klakson mobil yang begitu nyaring sukses membuat Veren terkejut.


" Kau mau kemana? " Tanya Alex setelah menurunkan jendela kaca mobilnya.


" Ke apartemen seseorang. " Veren tersenyum setelahnya.


" Naiklah, aku akan mengantarmu sekalian jalan ke kantor. " Tadinya Veren ingin menolak, tapi melihat tatapan Alex yang seolah memaksa tiba-tiba membuatnya mengangguk setuju begitu saja. Veren memutar posisi lalu masuk kedalam mobil. Deg.... Debaran jantungnya tiba-tiba terasa begitu kencang saat wajah Alex begitu dekat dengannya. Awalnya dia ingin mendorong Alex, tapi saat melihat Alex tengah memasang sabuk pengaman, Veren hanya diam dan membiarkan saja Alex melakukanya.


Satu jam lebih Alex dan Veren berada didalam perjalanan, hingga sampailah mereka ke sebuah apartemen dimana Karina dan Denzo tinggal. Sungguh Veren ternganga karena merasa terkejut. Bagaimana tidak? Alex tahu kemana dia ingin pergi tanpa bertanya.


" Suami, dari mana kau tahu aku ingin kesini? dai tadi aku diam karena mengira jika kantormu searah dengan tujuan ku. Tapi kenapa bisa begitu pas sekali? "


Alex menelan salivanya sendiri. Sial! bagaimana dia bisa lupa dengan ini? sepanjang perjalanan dia hanya bisa menahan dirinya karena jantung yang begitu berdebar membuatnya tak bisa berkata-kata. Percaya atau tidak, Alex sedari tadi hanya sibuk mencuri pandang ke arah Veren.

__ADS_1


" Apa, apa ini tujuan mu? sebenarnya aku ingin berhenti sejenak untuk membeli kopi. " Hah! untung saja ada kafe diseberang jalan, batin Alex.


" Oh? mau aku temani? "


" Iya, baiklah. " Ya ampun! padahal Alex sama sekali tidak menyukai kopi. Tapi kalau sudah begini mana bisa dia mengelak? setelah memarkirkan mobilnya, kini Alex dan Veren masuk kedalam kafe untuk memesan minuman.


" Kopi yang mana kau mau, suami? " Tanya Veren setelah. mereka sudah berada di dalam.


" Apa saja. Aku suka semua jenis kopi. "


Veren tersenyum karena dia bisa tahu benar jika Alex tengah berbohong. Tapi ya sudahlah, tidak mungkin juga dia memojokkan Alex. Akhirnya Veren memesan dua kopi, satu untuknya dan satu lagi untuk Alex. Barulah setelah itu mereka kembali ke mobil yang diparkir di gedung apartemen dimana Karina dan Denzo tinggali.


" Jam berapa kau pulang nanti? " Tanya Alex seraya membuka pintu mobilnya.


" Jangan bicara yang aneh-aneh. "


" Lalu, kenapa kau bertanya seperti itu? "


" Publik tahunya kau adalah istriku. Jadi jangan terlalu membebaskan dirimu. " Ucap Alex.


" Baik. Kalau begitu, berikan aku ciuman. " Belum sempat Alex menjawab, Veren sudah lebih dulu menangkup wajah Alex dan memposisikan wajahnya agar lebih mudah untuk mencium bibirnya. Singkat, tapi mereka berdua merasakan keanehan yang sama. Alex berdehem beberapa kali untuk mengusir rasa canggungnya, lalu pamit untuk segera pergi ke kantor.


" Ada apa denganku? " Veren memegangi dadanya yang terasa berdebar tak karuan. Ini memang bukan untuk pertama kali dia berdebar karena Alex, tapi rasanya dia tidak menyukai perasaan yang tidak nyaman ini.

__ADS_1


***


" Sialan! jantungku kenapa berdebar begitu kuat? ini aku yang aneh, atau bagaimana? hanya sebuah kecupan kan? kenapa rasanya membuatku seperti ini? " Gumam Alex seraya mengemudikan mobilnya.


***


Hari sudah sore, tapi urusannya masih juga belum selesai. Ditambah lagi orang yang dia tugaskan mengirimnya photo Veren dan Alex yang sedang berciuman. Marah? iya! tentu saja dia marah. Angel membuang ponselnya ke sembarang arah karena tidak tahan lagi dengan semua ini.


" Veren! " Angel memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia bahkan sudah tidak tahu bagaimana caranya melampiaskan segala kekesalannya terhadap Veren.


" Angel, ada apa? " Tanya asisten Angel yang bernama Risa.


" Semuanya berantakan Risa, semuanya. Alex, dan semua ini sudah diluar kendaliku. " Angel menangis sesegukan, Risa yang tidak tega memeluk wanita yang selama ini sudah seperti saudara baginya.


" Angel, bukanya aku ingin mengalahkan mu, tapi apa yang kau jalani ini hanya akan menyakitimu. Lepaskan saja, hiduplah sebagai mana seharusnya. " Ucap Risa.


" Tidak bisa, Risa. Aku mencintai Alex, bahkan jika ada ungkapan yang lebih dari cinta, seperti itulah yang aku rasakan untuk Alex. Alu mengorbankan semua ini juga demi Alex. " Risa terdiam. Dia lebih memilih untuk diam dan menepuk punggung Angel pelan agar dia merasa lebih lega.


" Risa, bantu aku menyingkirkan wanita itu. Asal wanita itu pergi dari hidup kami, Alex pasti akan memilihku lagi. " Angel memegang kedua tangan Risa dengan tatapan memohon.


" Angel, walaupun tidak ada wanita itu di dalam pernikahan kalian, kalian juga tidak pernah bisa seperti pasangan suami istri seperti yang orang awam lihat. Kau tahu kan? dari awal Alex tidak, "


" Diam! Alex hanya mencintaiku, tidak ada yang lain. Hanya aku! dari awal hanya boleh aku. "

__ADS_1


TBC


__ADS_2