Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Hot Day


__ADS_3

" Bagus, teruskan seperti itu! " Erick menyenderkan tubuhnya menikmati apa yang tengah dilakukan Sofiana pada bagian bawahnya. Kegiatan ini awalnya Erick hanya berniat menggoda Sofiana yang nampak murung, tapi siapa yang tahu kalau dia benar-benar menuruti ucapan Erick.


" Ah..... " Semakin tak tahan lagi, Erick memundurkan tubuh Sofiana agar segera berhenti. Bukan tidak ingin melanjutkan apa yang sedang dilakukan, tapi dia baru sadar kalau mereka berada di balkon.


" Masuk ke dalam! " Erick meraih pergelangan tangan Sofiana, dan membawanya masuk ke ruang tengah. Sudah masa bodoh karena tidak mau lama menahannya lagi, Erick mulai menyergap bibir Sofiana seraya membuka dress tidur yang dikenakan istrinya itu.


" Giliran mu! " Ucap Erick untuk memberitahu Sofiana apa yang harus dia lakukan. Iya, hampir dua bulan mereka hidup bersama, urusan ranjang Sofiana benar-benar mengikuti semua yang di ajarkan oleh Erick. Tentu setelah Erick mengatakan itu, dia tahu bahwa harus membuka pengait celana Erick, dan membantu untuk membuka pakaiannya.


" Hah.... " Keluh Erick saat tangan Sofiana menyentuh bagian bawahnya. Mungkin terdengar memalukan, tapi keteguhan Sofiana yang tidak ingin bercerai saat menikah menjadikan dia mau melakukan apapun yang dikatakan suaminya. Memang awalnya Sofiana merasa geli dengan semua ini, tapi Erick adalah suaminya yang harus dia layani sepenuh hati, dan Erick juga bukan seperti laki-laki yang suka tidur dengan wanita sembarangan. Kegiatan seperti ini benar-benar sudah menjadi rutinitas mereka, hanya cukup buang rasa malu dan nikmati saja.


" Sekarang? " Tanya Sofiana yang merasa sudah cukup lama memijat bagian bawah Erick.


" Ini belum cukup untuk disebut pemanasan. " Erick mengubah posisi mereka menjadi Sofiana yang ada di bawah kungkungan nya. Dia mulai kembali membenamkan bibirnya, lalu menjalankan ke telinga, leher, dada, terus semakin ke bawah hingga ke bagian inti dari Sofiana.


" Ah! " Keluh Sofiana saat Erick memainkan bagian bawahnya menggunakan tangan dan juga lidahnya. Geli, bercampur rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata membuat tubuh Sofiana melengkung untuk merasainya. Jemarinya kuat meremas kain sprei yang melapisi tempat tidur mereka.


Panas, dan semakin panas menjalar ke seluruh bagian tubuh mengantarkan mereka menuju penyatuan.


Beberapa saat kemudian.


" Erick, pil pencegah kehamilan yang tadi aku minum adalah yang terakhir, bolehkah mulai besok tidak usah minum lagi? "


" Tidak! " Erick mengubah posisinya menjadi duduk menyender. Dia tahu kalau Sofiana kecewa dengan jawaban yang ia berikan. Tapi, situasi sekarang ini benar-benar belum bisa dibilang aman. Dan lagi, usia Sofiana yang masih sangat muda itu takutnya benar-benar belum siap dengan adanya anak.


" Jangan salah paham, aku tidak akan memintamu meminum pil penunda kehamilan selamanya. "

__ADS_1


Sofiana memaksakan senyumnya. Sebenarnya dia bertanya-tanya di dalam hati kenapa Erick masih saja belum ingin memiliki anak? Padahal dia juga sudah membaca banyak artikel tentang Ibu hamil, dia benar-benar sudah siap untuk memiliki anak. Ataukah, Erick tidak menginginkan anak darinya?


" Ayo kita mandi bersama! " Ajak Erick yang tak mau lagi melihat wajah aneh Sofiana yang bisa ia tebak sedang memikirkan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Sekarang percuma saja menjelaskan kalau Sofiana tidak melihat langsung situasinya.


" Baik. "


***


" Ibu mertua, bagaimana rasa pudingnya? " Tanya Veren lalu tersenyum setelahnya. Iya, Veren tidak bisa memasak sayuran, daging, dan semacamnya, tapi kalau membuat aneka kue, dia bisa dibilang ahli.


" Puding apanya? Kau ini sedang ingin meracuniku ya? Puding apa rasanya yang se-asam itu? " Gerutu Ibu Mila yang tak tahan lagi dengan makanan-makanan yang diberikan Veren hari ini. Tadinya dia sangat malas kalau harus berbicara, tapi kalau harus diam saat diberi makanan asam dan agak hambar, tentu saja dia marah.


" Ibu mertua lupa ya? Ibu mertua kan tidak boleh makan makanan yang manis dan asin. Jadi aku membuat puding dengan buah asli tanpa campuran gula. "


Ibu Mila melirik sinis tanpa bisa berkata-kata lagi. Sialan! Benar-benar menjengkelkan sekali memiliki darah tinggi dan gula darah naik, gerutunya di dalam hati.


Ibu Mila terperangah sebal, lagi-lagi makanan itu! Kalau tidak bubur hambar, ya sup telur dengan acar ketimun yang juga hambar. Ingin protes, tapi dia juga tidak ingin sakit. Ingin meminta makanan yang lain, tapi dia juga gengsi mengatakannya kepada Veren yang benar-benar menjaganya dari pagi sampai malam Alex pulang.


" Nenek! " Denzo berlari masuk ke dalam kamar Ibu Mila setelah kembali dari sekolahnya.


" Denzo? Dengan siapa pulangnya? " Tanya Ibu Mila dengan nada bicara yang lembut.


" Paman Dedi, Nenek. Nenek mau makan ya? " Tanya Denzo yang mendapati makanan di nampan yang masih utuh.


" Iya, tapi Nenek tidak suka rasa yang hambar seperti ini. "

__ADS_1


Denzo terkekeh seraya menutup bibirnya. Entahlah, segala yang dilakukan bocah itu terlihat menggemaskan di mata Ibu Mila. Dia dengan segera mengusap rambut Denzo dan menentukan kecupan sayang di pucuk kepalanya.


" Denzo, apa mau makan makanan yang sama dengan Nenek? " Tanya Veren.


" Iya, aku mau! "


Sebentar Veren mengambilkan menu makanan yang sama dengan Ibu Mila. Denzo memang tidak menyukai rasa hambar, tapi karena dia ingin mendapatkan hati sang nenek, dan juga ingin membantu Ibunya, maka dia harus berpura-pura menikmati makanan itu di depan Ibu Mila yang kini juga nampak menikmati makanan hambar nya.


" Kau pasti lelah ya? " Entah sajak kapan Alex berada di sana, tapi yang jelas dia melihat bagaimana Veren menghela nafas karena merasa sangat lelah.


" Suami? Kenapa sudah kembali di jam segini? Kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu? "


Alex tersenyum seraya melangkahkan kaki untuk memeluk Veren. Iya, dia tahu benar beberapa hari belakangan ini Veren selalu berusaha mendapatkan hati Ibunya. Meski sulit, tapi Veren benar-benar tidak menyerah. Kuku yang biasanya panjang dengan cat kuku dan gliter, kini dibiarkan saja rusak karena harus membuat kudapan untuk Ibunya.


" Mau aku pijit? " Bisik Alex sembari memeluk Veren.


Tentu saja Veren terperangah heran, bukannya sangat aneh sekali ya? Alex pulang di jam makan siang hanya untuk memijitnya?


" Kenapa aku malah berpikir lain? "


Alex terkekeh, lalu menjauhkan tubuhnya.


" Kalau begitu wujudkan saja apa yang kau pikirkan. " Alex meraih pergelangan tangan Veren, lalu menuntunnya untuk masuk ke kamar mereka.


" Em! " Veren tak memiliki kesempatan untuk bicara, padahal dia benar-benar ingin mengatakan bahwa Denzo dan Ibunya bisa saja mencarinya kan?

__ADS_1


" Sayang, kita jangan buang banyak waktu ya? Bahaya kalau Denzo mengganggu seperti semalam. " Tak menunggu jawaban Veren, Alex kembali menyergap bibir Veren yang begitu menggoda sembari melepas kancing kemejanya.


TBC


__ADS_2