
Sinar matahari pagi yang begitu cerah menyusup menembus dari celah jendela kaca yang sedikit merenggang gordennya. Veren mengerjapkan matanya, perlahan dia mulai membuka mata karena silaunya terpaan sinar matahari yang menerpa kulit wajahnya. Dia menarik nafas dalam seraya menggeliat seperti kebiasaannya setelah terbangun dari tidur.
Deg....!
Veren langsung terdiam membeku saat tubuhnya berbalik posisi, dia dengan sangat jelas melihat bagaimana wajah Alex saat tidur. Ingatan-ingatan tentang apa yang terjadi semalam mulai kembali menyusup satu persatu memenuhi kepalanya.
Ya ampun! kenapa rasanya sangat berbeda? awalnya aku berpikir kalau ini tidak akan mungkin terjadi, tapi siapa yang tahu kalau hatiku bisa berubah menjadi kacau begini.
Veren membenahi posisi kepalanya agar lebih nyaman untuk terus menatap wajah Alex. Pria yang kini terlelap ditempat tidurnya benar-benar sangat tampan, ditambah lagi bentuk tubuh yang berotot itu membuat dia semakin terlihat sempurna.
Padahal pendingin ruangan sudah enam belas derajat Celcius, kenapa masih bertelanjang dada?
Veren tersenyum, tanpa sadar dia tengah menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Alex. Eh?! cepat dia ingin menarik tangannya yang diluar kontrolnya itu.
Grep
Alex meraih tangan Veren, membawanya untuk menyentuh wajahnya. Setelah itu dia membuka mata dan menatap kedua bola mata Veren yang begitu tepat berada di hadapannya.
" Selamat pagi? "
Veren yang canggung dan gugup berusaha agar tetap tenang. Sejenak dia terdiam memandangi wajah Alex seolah dia benar-benar tidak gugup.
" Selamat pagi juga, suami. "
Alex tersenyum, dia memindahkan tangan Veren ke dalam selimut, lalu menempelkan ke dadanya. Dag dig dug, seperti itulah kira-kira getaran yang begitu terasa hebat di dada Alex. Pria itu tak bicara, tapi matanya terus menatap Veren. Entah apa yang coba dia cari dari mata Veren, tapi sepertinya Veren bisa merasakan jika Alex bukanlah manusia brengsek seperti yang dia pikirkan.
" Veren, aku begitu gugup bahkan hingga sekarang. Aku, juga merasa takut kalau sampai kau marah karena aku sudah memaksa mu. Sekarang, bisakah kau memberiku kesempatan untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai suami? aku tahu, pernikahan kita berawal dari keterpaksaan. Tapi hubungan pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan. "
Veren terdiam sesaat memikirkan bagaimana jika iya mengiyakan ucapan Alex? tapi bagaimana dengan Erick? pria itu juga tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Dan lagi, ada banyak hal yang membuatnya masih harus berpikir lagi.
" Bagaimana dengan Angel? dia pasti tidak akan menerimanya. "
Alex terdiam, bukanya tidak mau memperdulikan Angel lagi karena sudah memiliki Veren, tapi dia sungguh sangat lelah dengan hubungan pernikahan yang sangat rumit. Terlebih, dia tentu paham benar bagaimana perasaan yang ia miliki terhadap Angel.
" Kau dilema? " Tanya Veren.
__ADS_1
" Bukan dilema, tapi aku tidak tahu bagaimana mengakhiri semua ini. "
Veren mengeryit mendengar kalimat yang terucap dari bibir Alex.
" Maksudnya? "
Alex menghela nafasnya.
" Terlalu rumit, sangat panjang jika diceritakan. "
" Lalu, apa kau akan membagi waktu dengan dua istrimu? misalnya, tiga hari bersamaku, tiga hari bersama Angel, weekend kita tidur bertiga? "
Alex mendesah sebal. Sial! kenapa kesannya dia jadi seperti laki-laki buaya. Tapi kalau dipikir-pikir, memang benar sih, dua istri? hah! tapi kalau boleh memilih, satu saja sudah sangat cukup.
" Veren, andai saja kita bisa bertemu lebih awal. "
" Kita sudah bertemu beberapa tahun yang lalu. "
Alex kembali mengeryit bingung. Iya, dia sampai lupa kalau dia memiliki teka-teki yang yang belum terpecahkan.
" Bisakah memberitahuku sekarang? "
Alex mengangguk, dia semakin erat menahan tangan Veren untuk terus berada di dadanya. Sebenarnya Veren saat ingin melepaskan tangannya, dia juga begitu berdebar merasai otot dada Alex yang begitu terasa, bahkan daging di bagian dadanya seperti tumpukkan batu rasanya. Ya ampun, tubuh idaman seperti ini pasti sangat sulit di dapatkan.
" Sampai kapan kau akan terus seperti ini? kau tidak bekerja? "
" Sekarang pukul berapa? "
Angel meraih ponselnya, lalu menyalakan layar ponsel.
" Sudah hampir jam sepuluh pagi. "
Alex terpaku sejenak, jam sepuluh? benar-benar tidak disangka kalau dia akan bisa bangun se-siang ini.
" Baiklah, aku pergi mandi sekarang, mau mandi bersama? "
__ADS_1
Veren membalikkan tubuhnya cepat untuk membelakangi Alex.
" Jangan macam-macam! "
Alex tersenyum, di tatapnya lagi punggung Veren. Tidak perduli lagi bagaimana masa lalu Veren, sebesar apa kesalahan yang belum ia ketahui, tapi dia mulai bertekad kalau dia benar-benar akan menjadi suami yang baik untuk Veren.
Beberapa saat kemudian, Alex yang mandi kini harus masuk kedalam kamarnya bersama Angel untuk memakai baju kantornya.
" Kau masih ingat untuk datang ke kamar kita? " Alex terdiam, bukanya tidak mau menjawab, tapi dia sudah tahu kalau Angel pasti akan mengamuk seperti biasanya jika dia melakukan kesalahan. Kesalahan? maksudnya adalah hal yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Angel, entah itu salah atau benar, Alex akan selalu menjadi pihak yang bersalah di mata Angel.
" Alex! " Bentak Angel karena tak mendapat respon apapun dari Alex. Pria itu masih tak menjawab, dia memilih untuk langsung menuju lemari, dan mengambil baju untuknya pergi ke kantor.
Angel meraih lengan Alex, lalu membuat mereka berhadapan.
" Setega itu kau padaku?! dimana janjimu yang akan memenuhi semua keinginan ku?! "
Alex menatap kedua bola mata Angel yang kini membelalak tajam menatapnya. Dia menjauhkan lengan Angel yang semakin menekan kuat lengannya.
" Ini sudah tiga tahun, aku sudah berusaha semampuku untuk memenuhi setiap janjiku, memenuhi kewajibanku sebagai suamimu. " Alex menjeda ucapannya sebentar.
" Angel, kita menikah seperti keinginanmu meski keluarga kita menentang keras, aku mengikuti apa yang kau mau. Berpura-pura mencintaimu di depan umum, mengikuti kemana kau pergi saat kau memintanya, pernah kau tahu bagaimana kondisiku? setiap kali kau menghubungiku, kau selalu memintaku untuk datang secepat mungkin, padahal aku sedang rapat, kadang aku sedang makan, pernah juga aku sedang sakit, tapi aku berusaha datang. Dan kau tahu apa yang membuatku sedih? kau hanya ingin aku melihat bagaimana hebatnya dirimu dalam dunia model mu kan? "
" Alex, aku- "
" Angel, kau memintaku datang buru-buru hanya untuk duduk, lalu memamerkan kepada teman-teman mu tentang hubungan kita. Pernah kan kau memikirkan bagaimana keadaan ku saat itu? bahkan aku harus mencabut selang infus dan datang segera agar tidak perlu mendengar kau mengungkit soal sumpah ku dulu. Aku sudah mulai lelah, tolong jangan mengungkit tentang sumpah janjiku lagi. "
Angel mengepalkan kedua tangannya.
" kau, apa kau mulai jatuh cinta kepada Veren? "
Alex yang sudah hendak beranjak kembali memutar tubuhnya untuk menatap Angel. Cinta?
" Apa rasa itu juga sebuah kesalahan bagimu? "
" Alex, kau hanya boleh mencintaiku! "
__ADS_1
" Dulu sekali, aku pernah mengagumi mu. Tapi rasa itu kau sendiri yang menghilangkannya. " Setelah mengatakan itu, Alex pergi meninggalkan Angel yang masih berada di dalam kamar.
TBC