Terpaksa Menikahi Wanita Malam

Terpaksa Menikahi Wanita Malam
Kembali Kerumah Lama


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di makan Deniza, Alex meminta sopir yang mengantar mereka ke makan untuk menuju ke apartment yang beberapa tahun lalu dia beli sebagai investasi. Sepanjang perjalanan Alex lebih banyak diam sembari mendekap tubuh Denzo yang kini tertidur di pelukannya. Pikirannya kembali teringat saat dia akan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sang putri, dia sempat menoleh sebentar dan tak sengaja melihat seorang anak perempuan memakai dress putih, seluruh tubuhnya dikelilingi sinar transparan yang bercahaya. Wajahnya sangat cantik, dia juga mirip sekali dengan Denzo. Bibirnya tersenyum bahagia, tatapannya juga terlihat begitu polos.


" Veren, apakah Deniza sangat mirip dengan Denzo? " Tanya Alex yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Veren tersenyum lalu mengangguk.


" Iya, dia juga mirip sekali denganmu. Cara dia tersenyum, dia juga gadis yang lembut dan hangat, sifatnya sama sepertimu. "


Alex tersenyum meski lagi-lagi genangan air mata menumpuk di pelupuk matanya.


" Apakah rambutnya panjang? dia memiliki mata sepertimu, dia juga memiliki lesung pipi? "


Veren menatap Alex bingung.


" Dari mana kau tahu? "


Alex tersenyum bahagia dibarengi dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


" I see, aku sungguh melihatnya tadi. Dia tersenyum kepadaku, dia bahkan melambaikan tangan saat kita mulai berjalan pergi tadi. "


Veren menyeka air matanya, lalu juga menyeka air mata Alex. Dia menangkup wajah Alex, lalu lekat menatapnya.


" Dia tersenyum, itu berarti dia benar-benar bahagia karena bertemu dengan mu. Mulai sekarang, kita akan sering datang kesana bersama-sama. "


Alex tersenyum, mengganggukkan kepala karena dia sangat setuju dengan apa yang di usulkan Veren.


" Oh iya, bolehkah kita mampir ke rumah orang tuaku dulu? ada beberapa barang yang ingin aku ambil. " Ajak Veren.


" Tentu saja. Kita bisa pergi kesana. " Alex nampak semangat dengan ajakan Veren. Dia merasa perlu juga mengetahui dimana dan seperti apa kehidupan anak dan istrinya dulu.


Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah sampai di pelataran rumah sederhana yang nampak sangat sunyi. Baru saja mereka turun dari mobil, para tetangga kini mulai berdatangan melihat siapa yang datang kerumah wanita yang selama ini mereka anggap hina dan murahan. Sejenak mereka memang terlihat terkejut melihat wajah Alex yang sangat miring dengan wajah Denzo dan Deniza. Tentu saja bisik-bisik gosip mulai terdengar mesti samar-samar. Veren yang sudah biasa dengan para tetangga yang selalu saja ingin tahu, tapi kemudian menyimpulkan sendiri pendapat mereka, dan ujungnya, Veren lagi yang akan menjadi korban sindiran dan kata-kata pedas dari mereka.


" Kenapa mereka menatap kita seperti itu? " Tanya Alex yang merasa risih dengan tatapan aneh para tetangga. Padahal, saat mereka berhenti beberapa detik lalu, suasananya masih sangat sepi. Kenapa tiba-tiba bergerombolan seperti itu? batin Alex.


" Tidak apa-apa, biarkan saja. Ini adalah kebiasaan mereka yang sulit dihilangkan. " Ujar Veren. Dia mengarahkan kedua tangannya untuk mengambil alih tubuh Denzo yang ada di gendongan Alex.


" Biar aku saja. " Ucap Alex yang tak mengizinkan Veren menggendong Denzo.

__ADS_1


" Tapi tanganmu, "


" Tidak apa-apa. Ini sudah tidak sakit lagi. "


Veren menghela nafasnya, ternyata Alex keras kepala juga, sama seperti Deniza.


" Baiklah, Ayo masuk. "


Setelah mereka sampai di dalam, Veren membersihkan sofa yang sedikit berdebu, barulah dia merebahkan tubuh Denzo disana.


" Aku ke kamarku dulu untuk mengambil barang-barang. " Alex mengangguk, tapi saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar, dia meminta sopirnya untuk menjaga Denzo, sedangkan dia menyusul Veren agar bisa membantu Veren mengemas barangnya.


" Butuh bantuan ku? " Tanya Alex saat pintu kamar Veren berhasil ia buka.


" Ada apa? " Tanya Alex saat melihat Veren menangis memeng sebuah kotak kayu berwarna coklat.


Veren menyeka air matanya, dia tersenyum seraya menatap Alex.


" Kau lihat gelang ini? " Veren menunjukkan gelang handmade yang selalu ia kenakan.


" Iya. "


" Boleh aku memakainya juga? " Tanya Alex.


" Tentu saja, tapi apa kau tidak masalah? bentuknya sedikit kuno, aku takut kau tidak akan percaya diri saat bertemu orang banyak nantinya. "


" Kuno? bukankah ini yang dinamakan klasik? "


Veren terkekeh mendengar ucapan Alex.


" Jawaban itu juga sama seperti Deniza. Dia akan cemberut saat aku mengatakan gelangnya agak kuno. Tapi dia akan berkata dengan semangat bahwa ini adalah gelang dengan gaya klasik. "


Alex memberikan pergelangan tangannya agar Veren memakaikan gelang itu padanya. Tak menunggu lama, akhirnya gelang itu berhasil menghiasi pergelangan tangannya.


Terimakasih untuk hadiah indah ini, nak. Sampai bertemu di surga nanti ya? Ayah akan mengucapkan secara langsung padamu apa yang Ayah rasakan untukmu.


" Hanya gelang ini, dan album photo saja yang ingin aku ambil, Selebihnya tidak perlu lagi. "

__ADS_1


Alex mengeryit bingung.


" Bagaimana dengan rumah ini? kau akan membiarkan saja? "


Veren menghela nafas.


" Lalu mau bagaimana lagi? kondisi tidak memungkinkan untuk tinggal disini, aku tidak ingin lagi Denzo terganggu dengan mulut tetangga yang biasa mengejek kami. "


Alex terdiam. Jujur dia lagi-lagi merasa bersalah mendengar kata-kata Veren. Sudah jelas sekali kalau bukan karena dia, mana mungkin akan seperti ini. Yang mereka tahu adalah Denzo dan Deniza memang tidak memiliki Ayah sejak lahir kan?


" Veren, kita menginap disini saja, besok baru kembali bagaimana? "


" Kenapa? "


" Aku ingin saja. Boleh? "


Veren nampak berpikir sejenak, tapi dia mengangguk setuju setelahnya. Karena telah setuju untuk menginap, maka Veren dan Alex mulai membersihkan kamar untuk mereka tiduri malam ini. Tak lupa juga kamar untuk Denzo, dan sopir.


" Ah, akhirnya selesai juga. " Ucap Veren sembari merebahkan tubuhnya ditempat tidur lamanya. Dia memejamkan mata menikmati empuknya ranjang tidur yang kini ditimpa tubuhnya. Untung saja sebelum pindah dia sempat mengganti tempat tidur yang lebih luas, kalau tidak terpaksa sekali harus berhimpitan nantinya.


" Mau aku pijit? "


Veren membuka matanya menatap Alex yang terlihat seperti bersungguh-sungguh.


" Tidak, hanya sedikit pegal saja. Tapi kalau kau bersungguh-sungguh ingin memijit pinggang ku, maka sembuhkan dulu tanganmu. "


Alex tersenyum, dia mulai berjalan mendekati Veren, mengusap rambutnya pelan.


" Baik, apapun yang kau katakan, aku tidak akan pernah membantahnya. "


Veren terdiam tak menjawab untuk sesaat. Hingga pada akhirnya, dia memiringkan posisi tubuhnya, menyangga kepalanya dengan satu tangannya sembari menatap Alex.


" Kau sebaik ini karena rasa bersalah, atau karena perasaan yang lain? "


Alex terdiam, tapi tak lama dia tersenyum seraya mengikuti bagaimana posisi Veren saat ini dan berhadapan dengan jarak yang dekat.


" Bagaimana kalau keduanya? "

__ADS_1


" Rakus! "


TBC


__ADS_2